#Novel_Ari_dan_Lia
Penulis Cerita: Jakaria
Bab 19: Cahaya yang Mulai Redup
Ari duduk di teras rumahnya, menatap langit yang mulai gelap. Secangkir kopi hitam di tangannya sudah mulai dingin, tapi pikirannya masih terus berkelana. Hari-hari belakangan ini terasa semakin berat. Hubungannya dengan Lia seperti berjalan di atas benang tipis, bisa putus kapan saja.
Lia belum menghubunginya sejak pertemuan terakhir mereka. Ari memahami dilema yang dihadapi Lia, tapi ketidakpastian ini menyiksa. Setiap malam, ia bertanya-tanya, apakah ia harus tetap bertahan atau perlahan melepaskan?
Malam itu, ponselnya bergetar. Nama Lia tertera di layar. Dengan hati-hati, Ari mengangkat panggilan itu.
"Ari…" Suara Lia terdengar lirih, seperti menahan isak.
"Ya, aku di sini," jawab Ari, berusaha menenangkan.
"Aku lelah… Aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
Ari menahan napas. Ia tahu, ini adalah momen di mana keputusan harus dibuat.
"Kamu ingin kita berhenti?" tanyanya pelan.
Hening di seberang sana. Beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
"Aku mencintaimu, Ari. Tapi aku juga mencintai anak-anakku. Aku tidak bisa kehilangan mereka," kata Lia akhirnya.
Ari menutup matanya, merasakan sakit yang merayap ke dalam dadanya. Ia ingin marah, ingin menolak kenyataan ini, tapi ia juga tahu bahwa ia tidak berhak meminta Lia untuk memilihnya di atas segalanya.
"Aku mengerti, Lia. Jika ini keputusanmu, aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin kamu bahagia," ucap Ari dengan suara yang bergetar.
Lia terisak. "Maafkan aku…"
Ari tersenyum pahit, meski Lia tidak bisa melihatnya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku berterima kasih karena kita pernah berbagi kebahagiaan, meski hanya sebentar."
Malam itu, panggilan berakhir dengan keheningan yang panjang. Ari menatap langit, menyadari bahwa mungkin ini adalah akhirnya. Namun, di dalam hatinya, ia masih berharap bahwa takdir akan memberikan mereka jalan yang lebih baik suatu hari nanti.
(Bersambung ke bab selanjutnya...)
#Quote
"Di antara kebimbangan dan harapan, ada hati yang bertahan meski retak. Cinta bukan hanya tentang memiliki, tapi juga merelakan dengan keikhlasan yang paling dalam."
#Puisi
DEDAUNAN GUGUR DALAM SENYAP
(Jakaria)
Dalam senyap kutitipkan harap,
Di bawah langit yang semakin gelap,
Rindu mengalir tanpa lelap,
Hati bergetar namun tetap mantap.
Luka menggores tanpa ampun,
Kenangan berbisik lirih di kabut embun,
Waktu berjalan tanpa menunggu pun,
Cinta bertahan meski terhalang temurun.
Langkah gontai menelusuri jalan,
Dedaunan gugur tanpa angan,
Malam menyelimuti penuh beban,
Hatiku terjerat dalam kenangan.
Kita berjumpa di tepian mimpi,
Berbisik mesra dalam ilusi,
Takdir memisah tanpa kompromi,
Namun cinta tetap abadi.
Bogor, 9 Maret 2025
#CintaDiAntaraTakMungkin #AriDanLia #LukaDalamCinta #TakdirAtauPilihan #RinduDalamDiam #JalanTerjalCinta #MelepasDenganIkhlas