Enam puluh menit, Sasfa, Andra dan seorang sopir mengitari lantai 2 Mentari Mall, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh Sasfa sebelumnya. Ia lebih mirip seorang pengasuh, menemani suaminya dari satu outlet ke outlet lain demi mencari barang incarannya.
"Ndraaa, ini udah banyak banget, kakiku rasanya gempor tau ga!!" langkah Sasfa terhenti, menghela napas panjang juga menyesap air dingin dari botol.
"Satu lagi Fa, janji habis itu pulang," Andra menarik lengannya, memaksa Sasfa melanjutkan rute.
Keberadaanya semakin tidak berkutik, ikatan pernikahan keduanya sah, justru menjadi belenggu bagi Sasfa, hatinya lelah, setiap hari harus patuh terhadap perintah mama mertua.
Pandangan Sasfa menerawang jauh, di depan sana sekumpulan gadis-gadis cantik bercengkrama hangat sambil berbincang, terdiri dari 4 orang duduk melingkar di sebuah tenant penjual makanan siap saji.
"MATI AKU!!!" gumam Sasfa kedua matanya membola. Bagaimana tidak, para gadis itu merupakan sahabat Sasfa, jika keberadaanya bersama Andra diketahui, alangkah malunya Sasfa saat itu.
Ia pun buru-buru mendorong Andra supaya turun bersama pak sopir. "Kamu pulang duluan, aku ada urusan mendadak!!" titahnya tergesa.
Awalnya Andra menolak, namun Sasfa bersikeras supaya pemuda itu patuh.
"Pokoknya ada BAHAYA!! kamu percaya padaku kan? sekarang pulang, nanti ku belikan apa yang kamu mau, oke?"
"Janji yaaaa...." tuntut Andra bersedia.
"Iya janji!!"
Pak sopir menuntun Andra ke arah berlawanan, dengan demikian Sasfa bisa bernapas lega.
Kaki jenjangnya mengayun pelan, bibirnya ia lenturkan, bersiap mengulas senyum paling manis menyambut perjumpaan yang bersama para sahabat.
Keempat gadis hampir menjerit, sejak pernikahan Sasfa hari itu, mereka sangat sulit untuk saling bertemu sapa.
"Ya ampun, yang udah jadi Nyonya besar, keknya super sibuk. Ga bisa kongkow bareng kita lagi," celetuk Sella menyindir.
Begitupun yang lain, mereka kompak, memindai tampilan Sasfa dari ujung kaki hingga kepala. Semua yang melekat di tubuhnya merupakan barang branded.
"Kami ga akan meminta uangku Fa, tapi kenapa sih, sombong banget sekarang, apa suamimu melarang keluar rumah?" imbuh Evi. Matanya menatap iri, benaknya diselimuti rasa penasaran mengenai sosok suami Sasfa.
"Iya, jadi mana suamimu? apa kamu kemari sendirian? ayo kenalkan pada kami, jangan pelit!" gerutu Windi ikut bersuara.
Sasfa duduk paling ujung, mengumbar senyum palsu, sedang batinnya gusar.
"Mereka pikir kehidupan rumah tanggaku sempurna. Jika mereka tau yang sebenarnya, maka aku yakin, nasib tragis ini akan menjadi bahan olok-olokan," ucap batinnya.
Mencoba santai, Sasfa meneguk segelas air jeruk yang disodorkan di depannya.
"Begini ya teman-teman, suamiku itu sangat sibuk, mana mungkin dia ada waktu menemaniku bermain-main. Tadi aku kemari bersama mama, tapi beliau pulang dulu sebab ada acara penting." Kilahnya berdusta. Ekspresinya nampak bingung, Sasfa takut andai kebenaran terbongkar di depan para rekan.
"Oh, siapa namanya? aku lupa?" timpal Sella.
"Nama? eu.... itu... eummm... Bastian Hartawan. Nah iya, bagus kan? dia juga tampan dan sangat baik, paling penting, bodynya... uhh.... kekar... bikin meleleh pokoknya," ucapnya sambil tertawa kecil.
Keempat teman Sasfa ikut bahagia, ya
setidaknya itulah yang kelihatan dari mimik wajah mereka.
*****
Benak Sasfa dipenuhi rasa penyesalan, pertama, ia sampai meminta Andra serta sopir pulang duluan, setelahnya, Sasfa mengakui Bastian sebagai suami. Keberaniannya menciut, tidak sanggup jika harus berkata jujur.
"Berhenti di depan Pak," pintanya kepada sang sopir taksi. Kakinya turun, langkahnya sedikit ragu andai nanti bu Lusi memergokinya pulang terpisah. Pastinya Sasfa harus menyiapkan kebohongan demi menutupi aksinya.
Helaan napasnya lega, ketika menyaksikan Andra terlelap di depan ruang tv, menyumpal mulutnya dengan jempol, kebiasaan yang melekat pada dirinya.
Si bibi mendekat, berbisik sembari melapor kepadanya. "Tadi Andra belum mau makan, katanya mau nungguin Non Sasfa," ungkapnya pelan.
"Ya udah Bi, nanti biar ku siapkan. Mama kemana?"
"Beliau pergi ke Bandung, nenek Andra sakit keras."
"Oh, menginap dong kalau begitu?" kening Sasfa mengernyit, batinnya lega, dengan begitu ia punya sedikit kebebasan.
"Tapi Nyonya ga bilang, soalnya nenek Andra dibawa ke rumah sakit, entah untuk berapa lama."
Sasfa tersenyum simpul, lalu mengambil tempat duduk di atas permukaan sofa. Si bibi pergi, untuk melanjutkan tugasnya kembali.
Benak Sasfa terngiang momen mesra bersama Bastian pagi itu, namun dalam sekejap ingatan indah berganti dengan kekecewaan.
"Kak Bastian sudah bertunangan, itu artinya aku telah dilupakan. Dasar pria kaya, seharusnya aku tidak berharap terlalu banyak. Mana mungkin dia menyukaiku? yang keluar dari mulutnya hanyalah bualan semata."
Memeriksa aplikasi chat, ia sempat mengirim foto selfie ketika berada di Mall. Namun pesan itu hanya bercentang hitam, pikirnya mengira-ngira, apakah Bastian memang sangat sibuk, hingga tidak sempat membaca pesannya?
Diam-diam, Sasfa mulai terperdaya oleh rayuan sang kakak ipar, padahal niat Bastian sama sekali tidak tulus. Mengacaukan kedekatan Andra dan istrinya merupakan misi utama. Bastian tidak ingin adiknya sembuh. Andra harus tetap seperti itu agar masa depan Bastian cerah. Harta dan kekuasaan akan bertahan di dalam genggaman. Tahta 'The Luxury Corporation' akan menjadi milik Bastian sepenuhnya.
Beberapa menit berikutnya, hari hampir sore ketika Sasfa membuka mata, rupanya ia tertidur sambil menunggu Andra yang sibuk dengan mainan barunya.
Hembusan hangat napas seseorang menyapu parasnya yang cantik, jemari kekar bergerak pelan, bergesekan dengan permukaan pipi saat helaian rambut juga disingkap secara perlahan.
"Kak Bas?" decak Sasfa terkejut. Refleks ia menggeser tubuhnya agar menjauh.
Bibir Bastian sudah sangat dekat, padahal mereka sedang berada di dalam rumah. Sasfa gusar seketika.
"Nyenyak banget tidurmu, kasihan, pasti lelah menjaga adikku," Bastian tidak menyerah melayangkan rayuan, ia lebih maju, meraih dagu Sasfa untuk mendaratkan ciuman pada bibirnya.
"Jangan Kak," elak Sasfa sembari mendorongnya. "Kalau Andra lihat dia pasti marah."
Tawa Bastian menguar, "Dia sedang beli jajan, keluar diantar sopir," imbuhnya santai. Agak kecewa, daya tarik Sasfa membuat Bastian tidak bisa mengontrol diri. Itu berbeda dengan Vivian, tunangan Bastian. Mereka memiliki kecantikan masing-masing.
"Hanya berdua? kenapa Andra tidak membangunkanku tadi? bagaimana kalau dia hilang?" paniknya.
"Bertiga, ada bibi juga. Kamu konyol banget sih, Andra selalu memakai jam dengan GPS di dalamnya. Kenapa cemas?"
Barulah gadis berlesung pipi itu menghembus napas lega. "Oh, aku baru tahu. Kakak baru pulang? kenapa masih di sini? mau aku ambilkan makanan?"
Lama kelamaan, tatapan Bastian membuatnya risih, lembut namun penuh keinginan, seperti hendak menerkam.
"Aku ingin kamu...."
"Eh, Kakak udah punya Vivian sekarang. Kita kena teguran mama gara-gara pergi ke taman pagi itu kan? lebih baik...." Sasfa menggantung kalimatnya, hendak mengambil jarak namun menatap wajah tampan nan maskulin di depannya, membuat nyalinya melemah.
"Kenapa Fa? aku dan Vivian memang bertunangan, aku memilih dia karena popularitas. Tidak lebih," meraih jemari Sasfa, lalu ia letakkan di depan dad4nya yang bidang.
Debaran jantungnya kuat, gemuruhnya kencang seolah Bastian siap berperang melawan apapun di dunia ini.
Itu sebatas kamuflase, Bastian tidak memiliki cinta dan kasih sayang, yang ia lakukan semata-mata demi karir dan masa depan.
"Tolong berhenti Kak, meski tekadmu kuat, aku dan Andra sudah menikah."
Tidak sanggup menahan getaran dalam dirinya, wajah Sasfa berpaling ke arah lain.
"Lalu bagaimana dengan ciuman kita? kamu bilang aku yang pertama? apakah semudah itu kamu melupakanku Fa?"
Berniat menuntut si adik ipar, Bastian duduk bersimpuh di depan kakinya.
"Lihat aku Fa? setip kita bersentuhan aku merasakan energi lain. Bukan hanya aku, tapi kamu juga menikmati, ya kan? kamu bisa berbohong kepada semua orang. Tapi tidak di depanku."
Bastian memiliki beragam cara, usahanya baru dimulai, ia tak akan menyerah sebelum berhasil mendapat kemenangan.
"Aku takut Kak, rasa bersalah mengikuti setiap langkahku. Kamu benar, aku memang mengagumimu sejak lama. Tapi, menduakan Andra....entahlah......" sinar di wajahnya redup, apa yang keluar dari mulut Sasfa merupakan keputusan yang terbaik versi dirinya. Belum pasti, kapan hatinya dan Andra akan bersatu, namun menjalin hubungan diam-diam di belakang suaminya membuat Sasfa dirundung rasa malu.
"Kamu yakin? adikku tidak akan pernah sembuh Fa! kamu rela menghabiskan sisa umurmu mengabdi kepada pria abnormal semacam dia???" mata Andra melotot hampir tidak percaya.
Lagi-lagi Sasfa menggeleng, "Nuraniku berkata, lebih baik mengalah daripada harus berkhianat. Rencananya aku akan menuntut cerai, tapi masalahnya, uang mahar 2M sudah habis guna membayar hutang. Aku takut, jika papa dan mama marah lalu menuntut uang itu dikembalikan. Entahlah... aku bingung Kak. Sepertinya aku harus menabung dulu. Ya kan?"
Tak habis pikir, Bastian lalu bangkit, meremas rambutnya yang acak.
"2M? harus dikembalikan semua?" pekiknya heran.
"Mungkin," wajah cantik menunduk, kondisi ini membuat Sasfa terpojok, ia tak punya kekuatan untuk memperoleh uang sebanyak itu di dalam waktu yang terlalu singkat.