Malam pernikahan berlangsung mengecewakan, Sasfa mondar-mandir di depan pintu kamar yang terkunci. Sesekali tatapannya menoleh pada Andra, pria dewasa yang tengah mengamati buku dongeng dengan ekspresi antusias.
"Tadi siang dia terlihat banyak diam, ku kira karena dia memang pemalu, namun sekarang? ku pikir akan diunboxing melalui pergulatan panas. Sampai pukul sembilan malam, Andra masih sibuk dengan buku cerita anak-anak?"
Benaknya gelisah, Sasfa memegang jabatan Asisten Manager, mendapat tawaran pernikahan bersama putra bos besar.
Sasfa mengiyakan penuh semangat, pikirnya terus terbayang sosok atasan nan tampan, tak lain putra sulung keluarga Hartawan.
Namun, pada prosesi akad nikah, yang duduk di sebelahnya adalah Andra, bukan Bastian.
Mengambil tempat di sisi ranjang, mata lentik Sasfa menelisik tampilan Andra yang nampak normal. Jarak mereka hanya satu meter, atensi Andra pun teralihkan.
"Mau mimik susyu," pintanya manja.
"Hah? pria segede kamu masih butuh s**u?" mendelik heran, dari tatapan Andra yang santai cenderung cuek, memantik penasaran dalam benak Sasfa. Jelas ada yang tidak beres.
Tiba-tiba Andra menyingkirkan buku yang ada di pangkuannya itu, ia pindah ke atas nakas.
Andra menyergapnya, kedua tangan mencekal bahu Sasfa kuat.
"Pokoknya mau susyu!!" sentaknya. Tatapan Andra memicing di depan dad4 istrinya.
"Dasar ga sopan!!! begini caramu memperlakukan wanita?" tanya Sasfa balik.
Pikirnya, Andra sungguh kelewatan, mereka baru bertemu hari ini, mestinya bertutur manis dulu, merayu, bukannya langsung ke inti tanpa basa-basi seperti ini."
Andra melompat dari atas ranjang, duduk di lantai sambil merengek keras. Rupanya ia tak terima karena dimarahi oleh Sasfa.
"Pokoknya mau itu, mau itu, ga mau yang lain....." kali ini lebih mirip balita yang sedang tantrum.
"Hah??" kening Sasfa berkerut. Sikap Andra benar-benar di luar dugaan. Padahal tampilannya macho, tubuhnya atletis, tapi sikap manjanya seperti anak kecil.
Langkah Sasfa mengayun cepat
BRRAAAAKH!!!
Pintu dibanting keras, ia mencari sosok ibu mertua guna mencari penjelasan.
Bangunan mewah terdiri dari dua lantai, ada banyak kamar luas dengan fasilitas lengkap.
"Ma, apa yang terjadi sebenarnya?"
Barulah mama Lusi mengungkap kenyataan pahit.
"Maaf Nak, tadinya Mama tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi suamiku bersikeras, segala macam usaha telah kami tempuh. Dari terapi juga obat-obatan, tapi Andra belum menampilkan kemajuan yang signifikan. Lalu munculah ide menikahkan kalian."
Wanita 40 an dengan rambut sebahu menekuk wajahnya, menyembunyikan rasa bersalah atas sikap yang tidak adil ini.
"Jadi.... suamiku bukan pria normal?" sudut netra Sasfa menghangat. Kecewa dengan kebohongan teramat besar.
"Nak, suamiku bilang, kamu adalah wanita tangguh, dan memiliki kesabaran seluas samudra. Itu terlihat dari dedikasi dan kinerjamu di perusahaan selama ini."
Bangkit dari kursinya, impian Sasfa akan kesempurnaan pernikahan runtuh sudah. Lututnya gemetar, ia memang terlahir dari keluarga sederhana, namun perlakuan dari keluarga konglomerat sungguh memukul harga dirinya hingga jatuh ke dasar jurang.
"Aku pikir, dipilih pak Hartawan karena dianggap pantas menjadi menantu keluarga kalian. Ternyata aku hanya dijadikan pelayan," rintihnya diiringi airmata berjatuhan.
"Nak," bu Lusi meraih genggaman tangannya. "Andra dan Bastian mendapat hak yang sama sebagai putra kami. Yang artinya, kamu akan memegang kendali untuk semua aset milik Andra," imbuhnya meluluhkan emosi Sasfa.
"Tapi tetap saja Ma, aku harus menghabiskan sisa hidupku bersama pria berkebutuhan khusus. Teganya kalian!"
Menepis sentuhan lembut mama mertua, rasanya wajar jika Sasfa meluapkan amarahnya.
Langkahnya berbalik, meninggalkan kamar bu Lusi, pikir Sasfa menjadi kacau.
"Aku memang miskin, tapi aku tak akan menjual diri pada keluarga ini. Harusnya mereka jujur sejak awal. AKU TIDAK SUDI!!"
Menaiki anak tangga dengan geram, Sasfa memutuskan untuk minggat sebelum hubungan mereka semakin jauh.
Sampai di dalam kamar utama, lirikan sinis ia tujukan kepada Andra. Pemuda itu tengah menikmati ice cream rasa coklat dengan polosnya.
"Aku tak punya hutang pada kalian kan? menyerahkan hidupku adalah keputusan paling bodoh seumur hidup."
Berganti pakaian dengan cepat, Sasfa juga menyimpan semua perintilan kecil ke dalam tas miliknya, termasuk ponsel, charger juga beberapa alat makeup.
Andra yang sejak tadi mengamati, pun menjadi penasaran. Mengikis jarak di antara keduanya, memasang wajah melas di depan Sasfa.
"Kamu mau kemana? kita kan sudah menikah?" tanyanya tanpa rasa bersalah. Lidahnya terus menjilat potongan ice cream.
Entah kenapa, bagi Sasfa, kalimat itu terdengar menjijikkan. "Menikah katamu?mereka menjebakku untuk menjadi pengasuhmu! bukan istrimu!"
"Ta--tapi, kalau kamu pergi, aku ga punya teman lagi. Ku mohon Fa.. . . jangan pergi, aku janji ga akan nakal," Andra bersimpuh, memeluk satu kakinya.
"Andraaa, lepassssss!!" geram Sasfa bercampur jijik.
"Fa.. aku kesepian, kata papa kamu temanku. Tolong jangan pergi," lagi-lagi pemuda dengan piyama warna merah muda merengek, tangisnya hampir pecah.
Sasfa segera mundur, tanpa sengaja ia sampai menendang kedua tangan Andra supaya mau lepas.
"Yang dikatakan papamu tidak benar, oke??" telunjuk Sasfa mengarah di depan wajah Andra. Tatapannya tajam dengan otot wajahnya mengeras.
"Aku tegaskan padamu! aku ga sanggup menerima tanggung jawab ini, meski aku harus dipecat dari kantor. Hidup sebagai orang miskin jauh lebih baik. Jiwamu masih kekanakan, tidak akan mampu memberiku kebahagiaan. PAHAM??!!"
"Ta--tapi Fa...aku butuh kamu," lirih Andra memelas, seolah Sasfa adalah dunianya.
"Itu namanya egois ANDRA!! aku wanita normal, hubungan pernikahan tidak sesimpel itu, aku tidak bisa....."
SUNYI
Hentakan kakinya nyaring selaras dengan derai airmata yang menetes. Kekecewaan hatinya mendalam membuat Sasfa enggan menoleh ke belakang. Andra terus menyeru namanya, memohon supaya Sasfa tetap tinggal, akan tetapi Sasfa membuat pilihan untuk hidupnya sendiri. Melalui sebuah akad sakral, ia telah dijerumuskan pada hubungan sepihak dari keluarga Andra.
"Cukup sudah! lebih baik hidup miskin, daripada harus menjadi pelayan Andra seumur hidup."