Sesaat Ibra terdiam, mendengar permintaan wanita yang kini berada di hadapannya. Helaan nafas berat di lontarkan, ingin sekali dia menolak keinginan wanita cantik di hadapannya. Betul sekali, Ibra selalu menganggap Izma adalah yang tercantik, walaupun kini wajah itu bahkan babak belur berwarna biru karena luka-luka yang terjadi akibat benturan di tangga.
Walaupun rambut hitam yang lebat itu kini sudah tak ada lagi, karena operasi membuat dia mengharuskan memotong seluruh rambutnya. Bagi Ibra, Izma malah tetap yang tercantik. Rasanya sangat berat untuk mengikuti semuanya, tetapi apalah daya, senyum Izma adalah yang utama bagi Ibra.
Walaupun pertemuan Izma dan suaminya menyisakan luka untuknya, tetapi Ibra akan kuat jika itu demi kebahagiaan Izma. Ibra menorehkan senyuman manis untuk wanita yang kini sedang menatapnya dengan mata yang basah. Sebenarnya begitu berat namun dia harus bisa.
"Baiklah jika itu maumu, dan itu bisa membuat kamu tersenyum, maka aku akan mencari suamimu dan membawanya ke sini!" Sebenarnya hati Ibra begitu sakit harus berkata seperti itu kepada wanitanya, tapi apalah daya dia bukanlah siapa-siapanya. Dia hanyalah pengagumnya Izma yang hanya bisa melindungi Izma dari belakang saja.
Kembali wanita itu meneteskan air mata, dia menorehkan sedikit senyum yang manis kalau rasanya senyum itu sangat sulit, karena sudut bibirnya pun bahkan kaku karena luka yang mengering.
"Te-rima-kasih Ib-ra!" Izma berkata dengan agak gagap. Karena kini sesak nafasnya tiba-tiba saja datang menjelma.
"Kamu kenapa?" Ibra mulai merasakan keanehan melihat Izma kesulitan bernapas seperti itu. Lalu Ibra Melambaikan tangan pada perawat yang sedang duduk di seberang tempat tidur Izma.
"Kenapa ada apa?" Perawat itu bertanya kepada Ibra lalu dengan segera memeriksa kondisi Izma.
"Sepertinya dia kesulitan bernafas, Suster tolonglah, aku takut terjadi sesuatu hal kepadanya, tolong selamatkan wanita malang ini!" Ibra berharap dengan sangat, Suster tersebut mau menyelamatkan Izma, karena entah apa yang akan terjadi pada hidupnya, jika sampai terjadi sesuatu hal kepada wanita Pujaan hatinya.
"Hah hah hah hah Sus... Sus-ter, se-sak," Izma terlihat begitu kesusahan. Dia bernafas begitu berat. Terlihat dari dadanya seolah-olah menyempit, dan bagaikan ada batu yang menghimpit sehingga nafasnya tersengal-sengal seperti itu.
"Sabar Nyonya, akan saya pasangkan alat." Suster tersebut Lalu memasangkan alat bantu nafas untuk Izma sehingga kini Izma berusaha bernafas dengan lega, walau masih terasa begitu berat. Suster dengan segera memanggil Dokter untuk mengatasi keluhan yang di rasakan pasien. Sedangkan Ibra sendiri di persilahkan untuk menunggu di luar ruangan, selama Dokter memeriksa kondisi Izma,"
Sementara Dokter memeriksa keadaan Izma. Ibra hanya bisa melihat dari jendela kaca, yang kontras jelas melihat kondisi Izma di dalam. Tubuh pria itu bergetar begitu hebat wajahnya pucat dan keringat dingin mulai mengucur dari seluruh tubuhnya. Pria tersebut begitu ketakutan, karena melihat wanita yang sangat dia cintai tersiksa seperti itu.
Izma kesulitan bernapas, entah apa yang terjadi padanya, bahkan Dokter masih berada di dalam untuk membantu mengurangi kesakitan Izma. Tanpa terasa pria itu kini meneteskan air matanya. Sungguh tak sanggup dia hanya bisa menjadi penonton untuk wanita yang kini begitu menderita di dalam sana.
"Sungguh tega, dia yang telah membuat dirimu menderita seperti ini, aku pasti akan membalaskan semua kesakitanmu. Setiap nafas berat yang kamu lontarkan, pasti dia akan merasakan semuanya. Izma, aku akan membantumu membuat orang yang telah menindasmu seperti ini, merasakan apa yang kamu rasakan!" Pria itu mengepalkan tangan, suara hatinya benar-benar terasa begitu keras, menyerukan semua apa yang dia rasakan, dia benar-benar menginginkan kesehatan Izma tak sanggup jika dia harus merasakan kesakitan seperti itu.
Dokter dan Suster masih berada di dalam untuk memantau kondisi Izma, sedangkan Ibra langsung berlari menuju keluar rumah sakit, dia menelepon seseorang untuk menyiapkan tempat agar dia bisa berjumpa dengan Azam secepatnya. Ibra takut keinginan untuk bertemu Azam adalah keinginan Izma yang terakhir, karena itu Ibra dengan segera memenuhi semua keinginan wanita yang sangat dia cintai, walaupun itu teramat sakit dia rasakan.
Setelah menelepon, Ibra pun kembali ke ruangan Intensive Care Unit, dia masih belum di perbolehkan masuk. Dokter dan Suster masih memantau kondisi Izma di dalam ruangan. Rasa cemas sudah tak bisa terbayangkan lagi, semua kesedihan sudah tak bisa di katakan lagi. Yang ada hanya rasa sakit melihat wanita yang dia cintai menderita seperti itu.
Tetapi siang ini Ibra hendak bertemu dengan seseorang yang sangat penting di hati Izma. Pria itu menyiapkan diri untuk membentengi diri dari rasa sakit hati. Dia hanya ingin yang terbaik untuk Izma biarpun dia yang harus menderita itu tidak apa-apa.
"Suster bisakah kita bicara!" Ibra memanggil salah satu Suster tersebut.
"Baiklah Pak apa ada yang perlu di tanyakan?" Suster itu tersenyum begitu manis sambil menatap Ibra.
"Apa yang terjadi? Bagaimana kondisi Izma. Kenapa tiba-tiba dia merasakan sesak nafas seperti itu?" Ibra menatap Suster dengan tatapan yang pilu. Namun dia sungguh berharap Suster tersebut memberikan jawaban yang nyata dan fakta, tidak melebihkan atau tidak mengurangi.
"Istri anda benar-benar shock dengan keadaannya, karena itu membuat dadanya terasa sesak, itu tidak apa-apa Dokter sudah menanganinya. Sesak nafas di timbulkan oleh rasa sakit yang dia rasakan. Dia baru saja siuman setelah beberapa hari. Jadi wajar saja jika dia mendapat tekanan seberat itu, pastilah akan merasa shok," tutur Suster tersebut dengan senyuman.
"Jelas saja dia shok, dia sudah kehilangan bayinya, bagaimana dia tidak shok?" Ibra kembali menundukkan wajahnya, lalu memejamkan matanya, dia benar-benar menyesal karena tidak bisa menolong buah hatinya Izma.
"Baiklah Pak, saya permisi dulu," Suster tersebut langsung pergi meninggalkan Ibra dan Ibra hanya mengangguk saja, dia benar-benar tak bisa berkata apapun lagi, hatinya begitu sakit dan terasa panas, dia pendam rasa marah terhadap orang yang sudah membuat Izma menderita.
Dia berjanji dalam dirinya bahwa dia tidak akan pernah memaafkan orang tersebut. Jika suatu hari nanti dia bertemu dengan orang itu, Ibra yakin bahwa dia pasti akan dapat menghancurkan orang itu dengan satu lentikan jari.
Dia tidak akan memperdulikan apapun, dia punya kekuasaan serta uang yang begitu banyak, dia akan mengalahkan orang jahat sekalipun, karena dia sendiri pun punya banyak penjahat yang bisa di bayar untuk membunuh semua orang yang menyakiti Izma. Tentu saja semua itu harus seijin Izma, dan harus sesuai dengan keinginan Izma. Ibra tidak akan mungkin berbuat tanpa izin dari wanitanya.
Lihatlah betapa pedihnya menjadi Izma.