34. Di Ambang Kematian

2030 Kata

“Hidup memanglah singkat. Terkadang terasa berjalan begitu tersendat-sendat sehingga kita merasa penat. Tanpa kita ketahui, itulah cara sang pencipta memberikan kesempatan bertaubat.” ➖➖➖➖➖ Tubuh Hans menegang. Matanya menatap kosong pada lantai yang mereka pijak saat ini. Dinginnya ruangan semakin mendukung suasana. Jawaban dokter jaga itu berhasil membuatnya tak berkutik. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Benar-benar tidak bisa. Hanya Keyla dan Keyla yang berada di dalam pikirannya. Mulutnya terkatup rapat seolah enggan merespon ucapan sang dokter yang kini kembali disibukkan dengan pasiennya. Hikmah memejamkan matanya. Air mata yang semula sempat surut itu kembali menggenang di pelupuk matanya dan luruh begitu saja. Batinnya terlalu nyeri saat mendengar jawaban singkat dokter

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN