12. Pilihan Kedua

2655 Kata
"KENAPA HANS!!" Tiara berteriak keras di depan Hans. Deg! Jantung Hans berhenti seketika saat itu juga rasanya, matanya berkaca-kaca mendengar ucapan ibunya. Dengan perlahan ia mendongak, Hans menatap takut dan bersalah wajah ibunya yang kini dibanjiri air mata. Sekarang Hans sadar bahwa ia memang bersalah, bukan karena ia memang berbuat m***m, tetapi karena dengan bodohnya ia menyakiti perasaan ibu yang telah berjuang membesarkannya selama ini. Ia gagal menjaga ibunya, ia gagal menepati janji-janjinya pada sang Ibu yang mengatakan bahwa akan membantu ibunya lupa dengan masa lalunya. Namun, dengan teganya ia justru mengingatkan sang ibu akan luka dan perlakuan b******k lelaki di masa lalunya, yang sayangnya merupakan ayah kandungnya sendiri. "Mama," gumam Hans pelan, sangat pelan. Seisi ruangan terkejut bukan main, termasuk Juno, Nina, dan Hikmah yang tak menduga semua ini akan terjadi. Mereka pikir Hans akan dibebaskan begitu ibunya tiba karena latar belakang Hans yang berasal dari keluarga kaya memungkinkan semuanya terjadi, bisa saja mereka membayar polisi dan kasus tuntas seketika. Namun nyatanya, semua tidak sesuai ekspetasi mereka. "KENAPA? KENAPA KAMU SEPERTI INI HANS? KENAPA?! JAWAB MAMA!!" Tiara sudah berteriak histeris, hatinya teramat sakit mendapati fakta baru tentang perilaku anaknya, ia marah dan kecewa. Andai ada kata yang lebih dari itu, ia pasti akan menggunakannya. Hatinya merasakan lebih dari kecewa. "Mah, Hans ngga mela—" Plak! Plak! Bugh! Bugh! Tiara membabi buta, ia terus menampar dan memukul Hans dengan brutal tanpa peduli pada wajah anaknya yang mungkin saja akan rusak setelah tamparan bertubi-tubi yang ia layangkan. Melihat hal itu, para polisi segera bertindak memisahkan pasangan ibu dan anak itu. Bruk! Terlambat, Hans sudah jatuh ke lantai saking keras dan brutalnya pukulan yang Tiara layangkan. Tanpa jeda dan tanpa memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan, Tiara terus saja memukulinya, mengabaikan bahwa Hans adalah anak yang dulu selalu ia peluk dalam dekapan kasih sayang, anak yang selalu ia utamakan meski masalah rumah tangga menimpanya bertubi-tubi. Semua kenangan indah itu seakan lenyap dalam sekejap membuat Tiara tidak pandang bulu pada remaja lelaki yang terjatuh di depannya. Hans terdiam, sama sekali tidak melawan. Namun, raut wajahnya menunjukkan sakit dan penyesalan yang teramat dalam. Juno bahkan sampai terperangah melihatnya, Hans yang sejak ia datang terus melakukan pemberontakkan pada aparat polisi dan selalu berkata sombong itu sama sekali tak berkutik saat ibunya memukulinya dengan brutal. Padahal Juno yakin pasti itu jauh lebih sakit dibanding dipukul polisi. Hatinya sedikit tergugah karena melihat betapa menyesal dan sedihnya Hans serta kasih sayangnya pada sang ibu yang mampu dirasakan oleh Juno. Hans sangat menyayangi ibunya hingga dia rela tetap diam dan sama sekali tak mengelak saat tamparan ibunya kembali mendarat untuk yang kesekian kalinya di wajah tampannya. Ia tetap diam dengan mata yang berkaca-kaca serta napas yang tak karuan, kondisi semakin memanas hingga akhirnya beberapa orang polisi berhasil memisahkan mereka. Hans dibantu untuk bangun dan kembali duduk, sementara Tiara dipisahkan dengan duduk bersebrangan bersama seorang polisi wanita yang memegangi tangannya. "Mamah, maafin Hans, Mah. Hans enggak salah, ini salah paham, salah paham," mohon Hans sambil berjalan pelan dan langsung terduduk dengan tangan yang memeluk kaki ibunya. "Mamah harus apa, Hans?" isak Tiara sedih. Ia merasakan kakinya basah, itu pasti air mata Hans. Sungguh, sekarang ia sudah sadar bahwa tadi ia memukuli anaknya dengan brutal dan barulah rasa sesal itu datang, bagaimana jika anaknya meregang nyawa karena dirinya? Bodoh, satu kata yang Tiara ucapkan pada dirinya sendiri. Dia boleh marah,  tetapi jangan sampai ia membuat Hans dalam keadaan celaka. Hatinya tergores sakit saat mendengar isakan kecil Hans, bertahun-tahun anaknya itu sama sekali tidak pernah menangis walau luka dan masalab terus mendatangi mereka. Anak itu selalu berusaha untuk tidak menangis apa pun penyebabnya. Meski waktu itu ayahnya telah tiada, Hans tetap tidak melanggar perinsipnya. Tiara tetap diam saat Hans mengusap tangannya dan menciumi punggung tangannya sambil mengucap maaf, bibirnya kelu untuk berkata. "Mah, maafkan Hans, apa pun akan Hans lakukan asal Mama bersedia memaafkan Hans. Maafkan Hans yang melanggar janji Hans, Mah. Maaf," sesal Hans yang menangis sesenggukan sambil mencium kaki ibunya. Ia sangat tidak bisa hidup jika ibunya tidak memaafkan kesalahannya, selama ini ia selalu menutupi keburukannya agar sang ibu tetap bahagia, tetapi sekarang? Saat ia tak berbuat kesalahan apapun, ibunya justru kecewa karena kesalah pahaman. "Kenapa kamu seperti ini, Hans? Kenapa kamu langgar janji yang kamu buat? Kenapa kamu bersikap seperti b******n, mana Hans kecil Mama yang selalu menghormati wanita? Mana Hans kecil Mama yang selalu menggenggam tangan Mama? Mana Hans? Mana?!" "Mama sudah terlalu jauh melepaskan tanganmu, Nak. Terlalu jauh hingga Mama sudah tak dapat menggapainya lagi." Tiara berujar sambil menatap kosong lantai di bawahnya, hatinya teramat ngilu hingga untuk menatap wajah anaknya saja ia tak mampu. "Mama," tangis Hans semakin keras, hatinya seperti dihujam ribuan duri hingga sakitnya bukan main saat mendengar ibunya mengatakan hal itu, ia lalu bangkit berdiri dan memeluk ibunya tanpa perduli keadaan badannya yang kini sakit di mana-mana. "Mah, maafkan Hans! Maafkan Hans, Hans enggak mampu hidup tanpa Mama, Hans ingin Mama selalu ada bersama Hans, Hans selalu ingin Mama memeluk Hans. Bukan Mama yang salah, tapi Hans karena sudah mengecewakan Mama teramat sangat." Hans memeluk ibunya erat sambil meminta maaf dan mengecup pipi tirus ibunya. Sungguh, ibu adalah sosok paling berharga dalam hidupnya. Tiara balas memeluk anaknya, mengusap sayang kepala yang dulu selalu berada dalam pangkuannya. Semua orang terenyuh, hanyut akan suasana haru dan sedih yang tercipta tanpa sengaja, menyaksikan pasangan ibu dan anak yang saling meluapkan tangis penuh kesakitan. Juno menitihkan air mata, ia memandang Hikmah yang semakin menangis terisak, hatinya tersayat saat menyadari anaknya sangat membutuhkan dirinya. Namun, ia tahan segalanya dan membiarkan Nina saja yang merengkuh Hikmah, rasa gagal menjadi pemimpin mencekiknya saat ini. Ia kemudian mengambil langkah, meminta agar pak RT kembali melanjutkan penjelasannya. "Pak, untuk mempersingkat waktu, bisa Bapak jelaskan sekarang?" tanya Juno membuat Tiara tersadar, ia lalu menatap dengan penuh tanya. "Saya Juno, Ayah dari Hikmah, gadis yang ditemukan bersama anak Ibu tadi, dan di depan saya adalah Pak RT yang akan menjelaskan segalanya, Ibu mau bergabung?" jelas Juno seakan paham akan raut wajah Tiara yang tampak kebingungan. Seolah sadar, Tiara mengangguk cepat lalu melepaskan pelukan Hans membuat Hans merasakan kehilangan seketika. Tiara dan Juno kemudian mendengarkan dengan baik dari awal hingga cerita itu berakhir dan menimbulkan kecewa yang semakin dalam mereka rasakan. Juno menatap pada Hikmah yang terus menunduk di pelukan ibunya. Jika biasanya saat takut Hikmah akan memeluknya, maka tidak kali ini, ia hanya diam menunggu kemarahan sang ayah meluap padanya. "Lalu, apa langkah selanjutnya, Pak Polisi?" tanya Juno berusaha tegar, jika memang anaknya akan menjadi penghuni jeruji besi, maka ia harus siap meski dalam hati ia sadar bahwa anaknya tak bersalah, namun fakta dan hukum menyatakan sebaliknya. "Mereka akan masuk perjara sesuai pas—" "Saya serahkan semuanya pada Bapak," potong Tiara cepat membuat Hans melotot kaget, ibunya ingin melihatnya masuk penjara, benarkah? "Ma," gumam Hans tidak percaya, ia kembali mendekat pada sang ibu, tetapi segera dihindari oleh Tiara. Tanpa menatap anaknya Tiara berkata, "Saya serahkan semuanya, terserah anak saya ingin dihukum seperti apa karena itu hak Bapak, anak saya memang salah! Saya juga salah karena gagal mendidiknya, karena itu silahkan beri dia hukuman yang akan membuatnya jera!" putus Tiara sambil berusaha menahan tangisnya, ia tidak boleh menangis lagi. Cukup. Juno terdiam, hati kecilnya menolak dengan keras saat melihat dua remaja yang terjebak fitnah di depannya. Mendengar penjelasan pak RT dan pembelaan yang dilakukan kedua pihak seakan menyadarkannya bahwa memang ini hanyalah kesalah pahaman yang didukung bukti mengarah dan memojokkan anaknya. Ia kemudian menatap sendu pada Hikmah dan Hans yang tampak sangat berantakan, tak tega membiarkan orang yang tak bersalah dihukum begitu saja. Ia akan mengajukan negosiasi. "Apa tidak bisa kita bernegosiasi? " tanya Juno pelan membuat polisi itu mengernyit heran. "Apa maksud Bapak?" tanyanya. Juno menghela napas. "Apa tidak ada hukuman lain selain penjara? Apa tidak bisa kasus ini ditutup saja? Saya yakin ini hanya kesalah pahaman dan bukan maksud saya membela anak saya, tapi karena memang saya rasa ada kejanggalan dalam kasus ini." Polisi itu menghela napas, bukti sudah tertuju pada dua anak muda itu dan akan sulit untuk bebas dengan mudah. "Kasus ini hanya bisa ditutup bila yang bersangkutan bersedia menutupnya," jelasnya pelan. Juno menatap Pak RT dengan ragu, lalu ia mengajaknya untuk berbicara empat mata. "Boleh saya berbicara dengan Bapak?" tanyanya yang langsung diangguki Pak RT. Mereka pun berlalu keluar, berbicara empat mata. "Maafkan saya jika lancang, Pak. Tapi saya hanya ingin bernegosiasi, mereka masih terlalu kecil dan tidak mungkin melakukan hal biadab itu, bahkan anak saya baru saja lulus sekolah dan menyecap bangku kuliah. Anak saya anak yang baik, saya yakin itu, anak saya memang bilang akan kerja kelompok di rumah temannya dan menurut perkiraan saya anak saya mengalami ini semua setelah selesai kerja kelompok." "Penjelasan Bapak juga janggal, apa tidak bisa menarik laporannya?" tutup Juno menatap gagah pada Pak RT yang hanya terdiam. "Saya juga kasihan pada mereka, Pak, tapi saya kan hanya menentukan dan menghukum pelaku pencemar daerah kami, ini sudah kesepakatan kami agar mereka dihukum atas tindakan mereka," finalnya membuat Juno menghela napas namun tak menyerah. "Apa tidak bisa Bapak diskusikan dulu dengan para warga hukuman selain penjara? Saya mohon, Pak. Saya akan sangat berterima kasih jika Bapak bersedia melakukannya." mohon Juno membuat Pak RT menghela napas, dengan berat hati ia mengangguk lalu berbicara dengan para warga untuk mencari jalan yang terbaik, sementara itu Juno kembali masuk dan meminta kedua anak muda itu menjelaskan kronologinya. "Kemari." Juno berucap pelan meminta mereka mendekat, Hikmah dan Hans mendekat dengan cepat, berharap besar masalah ini segera selesai. Juno tetap diam, mengabaikan tatapan memohon istrinya yang kini duduk bersebrangan dengannya, membiarkan Hikmah mendekat pada Ayahnya. "Saya sudah coba diskusi dengan beliau dan beliau bersedia melakukan negosiasi dengan warga. Jadi, sebagai gantinya kalian harus siap untuk melakukan apa pun, kalian bersedia?" tanya Juno dingin dan tegas. Hikmah seketika merasa sakit saat mendengar ayahnya mengatakan 'saya' dan bukan Ayah seperti biasanya, ia hanya bisa menunduk dalam kendati hatinya ingin sekali berontak dan memeluk Ayahnya. "Kalian tidak bersedia? Kalau begitu akan saya panggil pak RT dan menyerahkan kalian ke polisi," pancing Juno membuat Hans dan Hikmah yang tadi hanya terdiam bingung mendadak gelagapan, dengan cepat menganggukkan kepala berkali-kali sebagai tanda setuju. "Ja—jangan A—ayah, Hikmah siap!" cegah Hikmah sambil menyentuh permukaan tangannya, matanya terpejam dan air mata langsung keluar tanpa diminta saat dengan penuh hati dan cinta ia menyentuh pahlawan dalam hidupnya itu. Rasa sesal kembali mendatanginya, meski ia tak melakukan hal itu, rasa bersalah dan menyesal itu tetap ada. "Saya bersedia, Pak. Selagi itu bisa menebus dosa saya pada Mama saya, saya ingin dia memaafkan saya," ucap Hans lirih sambil melirik pada Tiara yang kini duduk tak jauh darinya dan sedang menatapnya sendu, hatinya kembali dihujani ribuan penyesalan. "Baik." Tak ada pembicaraan, hanya ada helaan napas dan Hikmah yang terus menerus menangis sesenggukan sambil mengusap permukaan tangan ayahnya. Dengan berani ia memeluk ayahnya seerat dan sedalam yang ia bisa. Tanpa perduli amarah ayahnya yang mungkin saja akan meluap, ia tetap ingin memeluk ayahnya barang sekejap saja. "Izinkan Adek untuk memeluk Ayah, sebentar saja," mohon Hikmah sambil berbisik pada ayahnya yang saat ini tengah berusaha sekuat tenaga untuk tidak lemah dan menangis menumpahkan beban dan lara yang dirasa, ia tidak ingin terlihat lemah dan karena itu ia harus bersikap dingin untuk sementara waktu. Terkadang, dingin bukan berarti menandakan bahwa manusia itu bebas luka, tawa juga tidak melambangkan bahwa selalu bahagia. Semua berbeda, berada pada ranahnya masing-masing. Dingin terkadang menjadi perisai agar luka tak menguap ke permukaan dan tawa terkadang hanya ilusi semata, karena nyatanya hati tengah meronta-ronta kesakitan. Manusia yang dingin itu memiliki hati, tetap merasa sakit saat digores luka dan manusia penuh tawa itu selalu berusaha untuk mengobati luka tanpa melukai orang lain. "Maafkan Adek, maafkan segala kesalahan Adek pada Ayah hingga detik ini, apapun yang Ayah minta akan Adek lakukan, meski itu melukai hati Adek sekalipun, akan tetap Adek lakukan jika memang dengan hal itu Adek bisa mendapatkan Ayah kembali." bisik Hikmah berjanji pada Juno yang kini matanya memerah, ucapan anaknya begitu dalam hingga membuat batinnya menangis tersengguk. "I Love You, Ayah!" tutup Hikmah dan tak lama Pak RT datang dengan tergesa-gesa. "Kami sudah melakukan kesepakatan, Pak. Ada jalan lain yang akan kami berikan selain penjara," jelasnya membuat senyum semua orang yang menghuni ruangan itu terbit, tak terkecuali Juno. "Apa itu?" tanya Juno tak sabar. Anaknya akan segera bebas. "Menikah." Deg! Jantung Hikmah dan Hans berhenti saat itu juga, rasanya mereka sudah tak dapat lagi merasakan darah yang mengalir di sekujur tubuh, suhu ruangan mendadak dingin hingga membuat tubuh menggigil. Apa tadi, menikah? Benarkah? Tidak, ini tidak bisa terjadi. Juno tergagap seketika, ia memandang ke arah Nina dan Tiara yang kini kembali menangis pilu. Bukan ini yang mereka inginkan, bukan memaksakan dua hati untuk menyatu. Bukan, ia harus berbicara empat mata lagi. "Bisa saya berbicara lagi dengan Bapak? Saya mohon," Juno memohon dengan sangat, hingga membuat Pak RT mau tak mau mengangguk pasrah. Lama mereka berdiskusi hingga akhirnya Juno kembali dengan wajah yang frustrasi, tidak bisa ditawar lagi dan tidak bisa dinegosiasi lagi. Mereka tidak ingin memberikan jalur ketiga sebagai alternatif penyelesaian dan jika tidak setuju dengan jalur kedua, maka mereka enggan mencabut tuntutan. Juno bahkan sudah mengajukan visum, tapi ditolak keras, bagaimana pun yang mereka tangkap saat ini adalah Hikmah dan Hans yang telah mencemari nama mereka. Hikmah dan Hans menanti dengan harap-harap cemas, mata mereka saling melirik dalam dekapan ibu masing-masing, merasakan kehangan yang membalut tubuh mereka dalam kekalutan. "Hikmah, tenang ya, Sayang, Ayah lagi usaha lagi," ucap Nina pelan sambil mengusap pucuk kepala putrinya. Dirinya kaget luar biasa saat mendengar jalur kedua, tak menyangka bahwa hal itu yang akan diajukan sebagai pengganti masuk penjara. Anaknya tidak salah dan seharusnya tidak perlu dihukum! "Gimana, Mas?" tanya Nina saat melihat suaminya telah kembali. Juno menghela napas lalu menatap pada Tiara dan Nina bergantian, kepalanya didera pusing berat. "Mereka tidak ingin memberikan keringanan lagi, mereka hanya akan memberikan dua jalur, penjara atau menikah. Dan kita harus menetapkan keputusan akhir secepatnya atau mereka enggan mencabut tuntutan selamanya." Juno mengakhiri ucapannya dengan helaan napas yang panjang, sesak seketika merajam dirinya untuk kesekian kalinya. Matanya melirik pada Hikmah yang kembali menangis sesenggukan, ia tahu perasaan anaknya, paham akan keinginan anaknya, sayangnya dia sendiri tak bisa berbuat apa-apa. "Apa yang akan Ayah lakukan sekarang? Hikmah ngga mungkin di penjara, Yah. Ibu yakin Hikmah ngga salah." Nina berujar masih sambil memeluk anak semata wayangnya yang kini badannya melemas. "Ayo kita berunding, Bu. Bu Tiara, mari kita berunding juga. Kita orang tua mereka dan hanya kita yang bisa menjadi penengah mereka," ajak Juno yang langsung diikuti oleh Nina dan Tiara. Sebelum beranjak pergi, Nina menyempatkan diri untuk melihat ke arah Hikmah yang kini menatapnya dengan penuh air mata dan harapan. Setelah ditinggalkan oleh orang tua mereka, Hans menatap Hikmah dengan pandangan yang tidak terbaca, matanya menelisik tubuh dari atas hingga bawah dan berhenti tepat di bagian wajah, dalam hati ia menggeram marah karena nasib hidupnya berada di ujung tanduk dan semua ini terjadi karena Hikmah. Sementara itu, suasana yang meliputi tiga orang tua yang tengah berunding itu sangat dingin dan menusuk. Masih belum ada pembicaraan karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, memikirkan keputusan yang tepat untuk anak mereka, keputusan di antara dua jalan itu tentu akan mengubah hidup anak mereka. Tidak ada yang menguntungkan dan semua hanya akan membawa ke-sengsaraan. Juno menghela napas sambil melirik jam tangannya, sudah tengah malam rupanya, tak terasa mereka sudah berjam-jam berada di dalam kantor polisi membuat Juno tidak ingin lebih lama lagi berada di sini, mereka harus segera keluar. "Saya adalah seorang Ayah yang tidak ingin anaknya di penjara, saya ingin anak saya mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik di dalam hidupnya dan karena itu saya selalu mengusahakannya. Perjuangan saya dan istri saya untuk memiliki Hikmah tidaklah mudah dan bukan hal yang mudah juga bagi saya untuk mengambil keputusan ini. Namun, saya tahu sekarang adalah saat yang terbaik untuk menentukan keputusan saya." "Segala pertimbangan saya lakukan dan saya memutuskan untuk menikahkan mereka."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN