Benih Petaka

1972 Kata

“Yang Mulia, kita sudah sampai,” ucap Darwis dari luar kereta kuda. Bulu mata lentik itu terangkat. Eksistensinya tegas menghiasi mata indah terkesan menyimpan banyak misteri. Ia melirik ke arah jendela. Birunya langit menyapa. Berpadu dengan hijau sejauh mata memandang. Waktu tidurnya sangat kurang. Agares memegangi lehernya yang tampak kaku sebelum turun dan berhadapan dengan Ratri Hersa. Seorang arsitektur yang direkomendasikan banyak bangsawan. Karyanya memukau dan memikat siapa pun ingin menyewanya. Termasuk Agares. Di hamparan yang serba hijau ini. Agares ingin membangun sebuah panti asuhan. Yah, walau ini bukan benar-benar keinginannya. Melainkan keinginan rakyat. “Tuan Ratri, senang bertemu dengan mu,” sapa Agares duluan. Laki-laki matang itu sempat mematung sejenak. Seakan t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN