"Om antarkan kamu sampai ke rumah ya, nak?" Rey hanya menganggukkan kepalanya, dapat dilihatnya seorang pria dengan wajah teduh yang membantunya itu tengah khawatir dengan kondisinya.
Awalnya Rey menolak, namun karena kakinya terkilir, dia terpaksa mengiyakan bantuan pria paruh baya itu.
"Di sana rumah saya, om." Rey menunjuk sebuah rumah setelah tadi memberi arah menuju rumahnya. Sebuah rumah sederhana dengan toko kue kecil, bersih dan rapi.
"Ibu saya menjual kue buatan sendiri. Silahkan masuk, om.. Ibu saya pasti senang karena Om sudah membantu saya tadi."
"Wah.. Kebetulan sekali, nak. Putri Om sangat menyukai kue kering seperti ini". Pria itu membungkuk menunjuk ke arah etalase kue yang terpajang.
"Mari, om. Silahkan dicicipi." Rey menyodorkan sepiring kecil kue kering kepada Pria yang telah menolongnya itu. Pria itu terlihat memperhatikan kue kering yang diberikan Rey. Pria itu tertegun merasakan ada yang berbeda dengan kue kering ini. "Nak, ini buatan ibumu sendiri?"
"Iya, om. Ini kue kering khas buatan ibuku. Nastar isian nanas mix abon daging sapi dengan cengkeh. Emmh.. Nggak enak ya, om?"
"Tidak, tidak. Ini enak sekali. Tapi rasanya seperti.. ". Pria itu tidak melanjutkan bicaranya. Ibu Rey masuk menuju ruang tamu.
"Ibu, kemarilah. Kenalkan, om ini tadi yang membantu Rey waktu hampir jatuh di jalan."
Ibu Rey mendekati pria itu yang langsung berdiri memberikan salam."Terimakasih ya sudah menolong anak saya, tuan..?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
"Saya Erik, dan?"
"Panggil saja Windi"
"Windi?" Wajahnya mencoba mengingat sesuatu mendengar nama ibu Rey.
"Windia Pramesti, om. Nama ibu saya. Dia juga yang sudah membuat kue kering ini."
"Ah iya. Ini enak sekali, bu Windi. Bolehkah saya membungkus beberapa untuk dibawa pulang?"
Rey dan ibunya tersenyum senang. Kue buatannya begitu dihargai Erik. Mereka membungkus kue kering untuk dibawakan pulang. Erik mengulurkan beberapa lembar uang ratusan untuk membayar kue kering yang dibelinya.
"Tuan Erik tidak perlu! Anda sudah mengantarkan anak saya pulang, saya sudah sangat bersyukur tidak terjadi hal buruk pada anak saya". Ibu Rey menolak uang pemberian Erik untuk kue kering yang dia berikan.
"Jangan. Saya menolong anak anda tidak mengharap imbalan. Saya ingat anak saya, saya hanya berharap ketika anak saya dalam kesulitan, akan ada orang yang selalu menolongnya kelak. Tolong simpan saja uangnya."
Rey dan ibunya sangat berterima kasih atas kebaikan Erik. Erik pamit dan tidak lupa membawa 2 tas berisi 4 kotak kue kering khas buatan ibu Rey dengan berbagai macam rasa. "Kiran dan Karin pasti suka!" Gumamnya menuju mobil dengan sopirnya yang sudah menunggunya sedari tadi.
**
Keesokan harinya di kediaman Cakradhana
Erik membawakan 2 kotak kue kering yang didapatnya dari toko ibu Rey untuk diberikan kepada nyonya besar Cakradhana. Erik sangat dekat dengan keluarga Cakradhana. Bahkan sebagai tangan kanannya yang bisa selalu diandalkan.
"Tolong kamu hidangkan kue kering ini untuk tuan dan nyonya besar ya!" Pinta Erik kepada salah satu pelayan kediaman Cakradhana. Dia langsung menuju kamar sang bos. Bapak Mahendra Cakradhana. Komisaris besar Cakradhana Group. Pemegang saham terbesar dan pemilik kerajaan bisnis Cakradhana Group.
Mahendra memang telah banyak menggantungkan diri pada Erik karena kesehatannya yang mulai menurun. Jantungnya mulai melemah memaksanya tetap bekerja dari rumah. Erik, sekertarisnya, datang untuk melapor tentang pekerjaan dan menjenguknya. Sudah hampir 2 bulan ini sang bos hanya bisa bekerja dengan terbaring di atas kasur.
Sang bos hanya memiliki putra tunggal. Namun putranya telah lama tiada, hingga memaksanya untuk tetap bekerja diusianya yang tidak lagi muda. Istrinya Dewinta Hastini, juga sudah berusia lanjut, namun beliau masih sangat bugar diusianya yang hampir mencapai angka 70 tahun. Beliau dengan cekatan memegang kuasa Cakradhana Group dibawah perintah suaminya.
"Erik, darimana kamu mendapat kue kering seperti ini?". Nyonya besar Dewi penasaran dengan rasa kue kering yang tengah dia nikmati.
"Saya mendapatkannya dari sebuah toko kecil dipinggiran kota timur, nyonya" Erik sedikit terkejut. Takut sang bos tidak menyukai kue kering yang dia bawa. "Apa rasanya tidak enak?"
"Nastar nanas mix abon?". Dewi menikmati nastar yang dibawakan Erik dengan perasaan familiar akan rasa baru yang satu ini.
"Benar nyonya, saya pertama mencobanya juga terkejut dengan isinya hampir sama dengan nastar yang nyonya pernah buat dulu". Dewipun meminta pelayan setianya, bik Sani untuk ikut mencobanya.
"Rasa nastar ini sama persis buatan menantuku. Dia sangat pandai membuat kue kering seperti ini". Mahendra ikut menikmati nastar itu yang telah di siapkan pelayan ke kamar tempat istirahat Mahendra. "Aku merindukan anakku dan juga menantuku itu". Mahendra mulai menitihkan air mata mengingat anak mantunya yang pergi meninggalkan rumah dan sampai sekarang belum diketahui kabarnya.
"Andai saja dulu aku lebih sabar pada Beno, mungkin dia tidak akan marah dan meninggalkan kita tanpa kabar seperti sekarang". Mahendra sungguh menyesali perbuatannya dulu. Beniqno Cakradhana, pewaris tunggal kerasaan bisnis Cakradhana pergi bersama istrinya meninggalkan kedua orangtuanya karena keegoisan Mahendra.
Beno awalnya ingin mengubah haluan bisnis keluarganya yang masih kuno dengan tekhnologi yang baru. Namun Mahendra menentangnya karena menurutnya sangat tidak kompatibel. Beno pun memilih pergi karena tidak dapat mengubah pemikiran sang ayah yang kaku. Malah sampai sekarang, ide yang Beno tinggalkanlah yang Mahendra pakai hingga perusahaannya berkembang sepesat ini.
"Sabar suamiku, kita masih mencarinya. Jangan pernah putus asa. Kita pasti akan menemukan mereka secepatnya." Dewi berusaha menenangkan suaminya yang terisak akan kesalahannya.
"Maaf, nyonya. Kalau boleh saya tau, menantu nyonya? Siapa namanya?" Erik yang sedari tadi menyimak mencoba menanyakan rasa penasarannya.
"Windia, Rik."
"Hah?" Erik terkejut bukan main. Dia tidak menyangka bahwa orang yang dia temui saat itu adalah orang yang mereka cari selama ini. "Windia Pramesti?"
"Benar. Apa kamu mengenalnya?"
"Dia pemilik toko kue kering yang saya temui ini nyonya!"
"Aapaaaa???"
**
Kirana hari ini mendapatkan panggilan kerjanya. Perusahaan pertama yang memanggilnya memberinya posisi untuk kantor cabang luar kota. Kirana masih berpikir untuk lebih mengutamakan kebersamaannya dengan ayahnya. Maka dia memilih untuk mundur.
Perusahaan kedua yang memanggilnya, memberinya jabatan untuk sekretaris direktur baru. Dengan pertimbangan lokasi yang lumayan dekat, 'Hanya sekitar 30 menit naik kendaraan umum, dan jalan kaki 5 menit cukup lah daripada harus keluar kota' Gumamnya lalu mengiyakan tawaran pekerjaan perusahaan ini.
"Mulai besok anda sudah bisa mulai bekerja. Karena Direktur yang baru belum mulai bekerja, jadi sementara anda akan ditugaskan ke departemen keuangan untuk mempelajari dasar pekerjaan anda selanjutnya. Silahkan temui bapak Theo besok, beliau yang akan memandu anda." Ibu HRD itu lalu menunjukkan lokasi ruangan yang akan dia tempati besok.
"Terimakasih banyak, Bu. Saya akan berusaha yang terbaik untuk perusahaan ini!" Senyumnya menghiasi semangatnya. Dia sangat senang akhirnya mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya.
Di dalam bus perjalanan pulang Kirana.
Kirana pulang naik busway. Dia duduk sendiri dengan asyik mendengarkan musik pada earphone yang dia kenakan. 'Pulang pergi bisa tepat waktu kalau naik busway jalur ini, besok aku harus bangun lebih pagi dan memasak sarapan untuk ayah. Ah, ayah belum tau mengenai pekerjaanku. Nanti jika ayah pulang, aku harus memberitahunya'.
Dia termenung kembali mengingat lelaki tampan yang membuatnya frustasi itu. 'Ah.. Apa lagi yang kupikirkan! Mengapa wajahnya terbayang terus di otakku!!' Tanpa sadar Kirana membenturkan kepalanya ke jendela. Refleks orang-orang disekitarnya menatapnya aneh.
"Ah.. Maaf!" Kirana tersenyum canggung saat sadar orang-orang melihatnya bertingkah aneh. Kejadian lelaki itu membuatnya tidak fokus. Bukan karena kata-katanya yang pedas. Tapi lebih ke perasaannya yang sangat dalam kepada gadis yang mengaku dirinya. 'Beruntung sekali gadis itu' Kirana menghela nafas panjang. Ingin segera datang hari besok agar dirinya bisa menyibukkan diri tanpa mengingat lelaki itu lagi.
- Bersambung -