Pria Menyebalkan

926 Kata
Al baru saja pulang dari kantor. Namun Al tidak melihat keberadaan Keyra. "Dimana wanita itu?" Al pun turun ke lantai bawah untuk mencari keberadaan Keyra. "Bapak mencari nona Keyra ya?" tanya Bu Rosi. "Iya, dimana dia?" balas Al. "Nona Keyra ada di taman Pak." Bu Rosi memberitahu Al. Mendengar itu, Al pun berjalan menuju taman. Dia pun melihat Keyra yang tampak memandangi bunga-bunga yang ada di taman itu. "Ngapain kamu disini?" tanya Al datar. Sontak Keyra pun langsung berbalik dan melihat Al yang berdiri bersedekap d**a di sana. "Pak Al? Maaf pak, saya tidak bermaksud lancang untuk datang kesini," ujar Keyra yang takut Al akan marah kepada dirinya. Al tampak sedikit tersenyum. Begitu tipis sehingga orang tidak bisa melihatnya. Itu karena dia lucu melihat ekspresi Keyra. Namun dengan cepat dia menetralkan kembali ekpresi nya. "Kenapa kamu berkeliaran disini? Kenapa tidak istirahat saja di kamar," ujar Al lagi. "Aku bosan di kamar terus pak, mangkanya aku datang kesini," balas Keyra. Al menghela napasnya. "Ya sudah, sekarang kembali ke kamar kamu." Keyra pun mengangguk kan kepalanya. Dia pun berjalan menuju kamarnya Saat Keyra sudah sampai di kamar, Al datang ke kamar nya. Keyra pun kaget melihat itu. "Pak Al kenapa datang kesini?" tanya Keyra. Tanpa menjawab, Al pun mengeluarkan sebuah kotak HP baru dan memberikan nya pada Keyra. "Apa ini pak?" tanya Keyra heran. "Ini hp untuk kamu. Hp kamu hancur waktu kecelakaan, jadi saya belikan hp ini untuk bisa menghubungi kamu," balas Al. "Gak usah pak, saya sudah terlalu banyak merepotkan bapak," tolak Aurel. "Dengan kamu menolak pemberian saya ini kamu akan bisa semakin merepotkan saya jika terjadi sesuatu sama kamu tapi tidak punya HP untuk menghubungi saya." Keyra pun terdiam. "Terima!" "Tapi pak..." Al pun langsung memotong ucapan Keyra. "Saya tidak terima penolakan!" Keyra pun terdiam. Mau tidak mau dia pun menerima pemberian Al tersebut. Setelah itu, Al pun langsung keluar dari sana tanpa sepatah kata pun. "Nyebelin juga dia lama-lama ya. Main maksa-maksa aja," ujar Keyra dalam hati. Al tampak sibuk dengan berkas-berkas miliknya yang ada di ruang kerjanya. Tiba-tiba HP nya yang ada di atas meja berdering. Tertera nama Devan di layar HP nya. Devan itu adalah sahabat nya sekaligus orang yang meng-handle perusahaan yang ada di Indonesia. "Ya, ada apa?" jawab Al to the poin. "Santai kali Al, gak usah datar gitu kali jawabnya," balas Devan. "Cepat bilang, kenapa kamu nelpon saya. Saya lagi sibuk ini." "Sok sibuk banget deh. Ini, aku cuma mau ngasih tau kalau perusahaan kita hari ini menang tender." Devan memberikan informasi tersebut pada Al. "Bagus kalau gitu. Gak sia-sia saya percayai perusahaan itu ke kamu." "Oh iya dong, Devan gitu loh." Devan sudah merasa bangga pula karena sudah di puji oleh Al. "Gak usah sombong. Ya udah, saya lagi banyak kerjaan. Saya tutup telepon nya." Tanpa menunggu jawaban dari Devan, Al pun langsung memutuskan sambungan telepon nya secara sepihak. Al kembali fokus dengan laptop dan berkas-berkas nya. Namun suara ketukan pintu mengalihkan perhatian nya. "Masuk!" Pintu ruangan itu pun terbuka. Tampak Keyra yang berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut dengan membawa segelas kopi. "Ini aku bawain kopi buat bapak, di minum ya pak," ujar Keyra. "Kamu yang bikin?" tanya Al. Keyra pun mengangguk kan kepalanya. "Kenapa kamu malah bikin kopi? Bukannya saya nyuruh kamu buat istirahat tadi?" Ucapan Al terdengar datar. " Aku tadi cuma mau ke dapur ngambil minum, jadi gak sengaja lihat bapak disini mangkanya aku bikinin bapak kopi," balas Keyra. "Udah jam berapa ini, masuk ke kamar kamu langsung tidur." Keyra mengangguk kan kepalanya. Entah kenapa dia begitu patuh dengan perintah Al. Jangan heran dengan sikap Al yang seperti itu. Karena Al itu sangat keras dalam setiap hal, termasuk juga soal kesehatan. Jadi wajar saja Al bersikap seperti itu kepada Keyra. *** Calixta kembali ke kantor Al. Dia memaksa untuk bertemu dengan Al walau sudah di larang oleh sekretaris Al. "Maaf Bu, tapi pak Al nya tidak bisa di ganggu untuk saat ini," ujar sekretaris Al. "saya gak peduli, pokoknya saya harus ketemu dengan Al." Calixta tetap saja bersikeras untuk bertemu dengan Al. Sekretaris itu sampai kehabisan cara buat menjelaskan nya pada Calixta. "Ada apa Cindy?" tanya Clara yang baru saja keluar dari ruangan Al. "Ini bu Clara, Bu Calixta terus saja memaksa untuk ketemu pak Al," ujar Cindy memberitahu. Clara menatap ke arah Calixta. "Maaf ya, pak Al nya lagi tidak bisa di ganggu," ujar Clara. "Saya gak ganggu dia kok. Saya cuma mau ketemu sama calon suami saya," balas Calixta. Clara dan Cindy menatap tak habis pikir ke arah Calixta. Memang tidak tau malu, sudah berkali-kali di tolak oleh Al masih saja mengejar-ngejar nya. "Ya udah, saya bilang ke pak Al dulu." Clara udah capek melayani Calixta mangkanya dia mengatakan hal itu. "Permisi pak, di luar ada Bu Calixta ingin bertemu dengan bapak," ujar Clara. "Buat apa wanita itu ingin ketemu saya?" "Biasa lah pak, biar bisa dekat dengan bapak," balas Clara. "Dasar tidak tau malu. Suruh dia pulang saja. Saya tidak mau berurusan dengan wanita seperti itu." "Baik pak." Clara pun keluar dari ruangan tersebut. "Maaf Bu Calixta yang terhormat, pak Al nya tidak mau bertemu dengan ibu," ujar Clara. "Saya gak akan percaya sama kamu. Gak mungkin Al tidak mau ketemu sama calon istrinya yang cantik ini." Clara menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan wanita ini. "Cantik sih, tapi gila," ujar Clara dalam hati. "Dimana Al, pasti di di ruangan nya kan?" Calixta pun langsung saja pergi ke ruangan Al. "Jangan Bu Calixta. Pak Al lagi tidak mau di ganggu!" teriak Clara. "Gak peduli." Calixta tetap saja masuk ke ruangan Al.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN