"Sya, bangunn!" ucap Dathan yang kini sudah berada di kamar Nasya untuk membangunkan gadis tersebut.
"Ih, Abang apaan sih! Nasya ngantuk, sana ah!" balas Nasya yang kini telah menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut.
"Dek, ini udah jam lima. Kamu mau telat ke sekolah?"
"Masih jam lima, dua puluh menit lagi aku bangun deh."
"Ngga boleh. Lagian kamu belum sholat shubuh, Sya..." Dathan menggoyangkan badan Nasya.
"Ih Abang rese! Masih ngantuk aku tuh!" ujar Nasya yang masih berada di dalam selimutnya.
"ANNASYA BANGUN WOY!" kini Dathan berteriak tepat di kuping Nasya.
"Abang ih berisik! Pergi sana!" usir Nasya dengan kesal.
Dathan langsung menyibakkan selimut Nasya dan Dathan langsung menjitak kepala Nasya. "Heh kebo! Bangun elah!"
Akhirnya Nasya bangkit lalu mengucek kedua matanya. "Ish abang rese! Ganggu aja!!" Nasya pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya sambil menghentak-hentakan kedua kakinya.
Dathan akhirnya menarik nafas lega. Tak terasa, waktu yang Dathan habiskan untuk membangunkan Nasya ternyata sudah lima belas menit.
"Punya adek kebo banget, heran...." Dathan mengomel sendiri, lalu Dathan pergi meninggalkan kamar Nasya.
****
Seperti pagi biasanya, Nasya berangkat ke sekolah bersama Dathan. Darrel tidak pernah mengajak Nasya pulang bersama lagi, semenjak Darrel mengucapkan kalimatnya waktu itu, kini hubungan Darrel dan Nasya kembali seperti semula.
Darrel yang mengacuhkan Nasya, Darrel yang tidak pernah menganggap Nasya dan Darrel yang selalu menyangka bahwa Nasya adalah penyebab kejadian tiga tahun yang lalu. Sejujurnya Nasya lelah. Nasya lelah harus terus di salahkan oleh Darrel, Nasya lelah selalu di anggap hanya sebagai angin lewat oleh Darrel.
Nasya ingin hubungan Nasya dengan Darrel kembali seperti dulu, Nasya ingin Darrel yang menyayangi Nasya, Darrel yang memperdulikan Nasya dan Nasya sangat ingin Darrel mau mendengarakan penjelasan Nasya tentang semua kebenaran yang terjadi.
Nasya sudah mencoba beribu ribu kali untuk menjelaskan semuanya kepada Darrel, walaupun Nasya hanya mendapat seribu kali penolakan, seribu kali bentakan, seribu kali caci dan makian yang terucap dari mulut Darrel, Nasya tidak akan pernah menyerah. Nasya akan terus mencoba sampai nanti saatnya Darrel mau mendengarkan semua penjelasannya dan Darrel tidak membenci Nasya lagi.
Tak terasa kini Nasya sudah sampai di depan sekolahnya, Nasya pun berpamitan kepada Dathan. "Assalamu'alaikum, Bang!" pamit Nasya lalu mencium punggung tangan Dathan.
"Wa'alaikumsalam, kamu belajar yang bener biar bisa banggain Ayah sama Bunda, ya!" kata Dathan lalu mengelus puncak kepala Nasya.
"Siap!" Nasya memberikan hormat kepada Dathan.
"Yaudah sana turun!"
"Oke, Nasya sekolah dulu ya Bang! Jangan kangen sama Nasya. Nasya tahu kok kalau Nasya itu cantik, manis, imut, baik hati dan rajin menabung jadi ngangenin gitu. Abang jangan kangen ya sama Nasya? Abang harus kuliah yang bener biar bisa banggain Ayah sama Bunda. Nasya sekolah dulu ya Bang, bye!!" Nasya cekikikan lalu segera turun dari mobil dan melangkah masuk menuju sekolahnya.
"Untung kamu adek abang, Sya, kalo bukan udah abang sleding kamu dari tadi." Dathan pun melajukan kembali mobilnya dan pergi meninggalkan sekolah Nasya
***
Entah setan apa yang merasuki diri Nasya saat ini, sehingga ia bisa berdiri di depan loker kelas sebelas sambil memegang kunci loker cadangan yang ia dapatkan dari Kang Ujang, penjaga sekolahnya.
Sudah seminggu Nasya melakukan hal seperti ini, Nasya segera mengambil dua buah benda dari dalam tasnya. Setelah Nasya berhasil mengambil dua benda yang ia maksud, Nasya segera membuka salah satu loker yang kini sudah berada tepat dihadapannya, Nasya segera memasukan dua benda tersebut ke dalam loker dan Nasya kembali mentup loker tersebut.
Nasya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa dirinya aman atau tidak. Nasya mengangkat kedua alisnya lalu Nasya tersenyum gembira.
"Berhasil lagi kan? Nasya gitu lho!" ucap Nasya kegirangan. Setelah itu, Nasya langsung buru-buru pergi meninggalkan tempat tersebut sebelum ada yang melihatnya.
Setelah Nasya pergi, beberapa menit kemudian Sakha datang untuk mengambil buku paket yang Sakha taruh di dalam lokernya. Sakha pun segera membuka loker nomor 174 miliknya. Setelah loker terbuka, Sakha mengangkat sebelah alisnya lalu mengambil sekotak s**u putih dan sepucuk surat yang ada di dalam lokernya yang entah dari mana datangnya.
"Ini lagi?" tanya Sakha pada dirinya sendiri. Kemudian Sakha membuka surat tersebut dan membacanya.
Selamat Pagi. Jangan lupa susunya diminum! :)
Begitu lah isi dari surat tersebut. Tanpa ada nama atau petunjuk apapun tentang si penulis surat tersebut. Setelah membaca surat tersebut, Sakha menghembuskan nafasnya.
"Masa iya Rania yang ngasih ini? Tapi ... kenapa harus taruh di loker? Kenapa ngga ngasih langsung aja? Tau ah, tapi lumayan juga sih dapet s**u tiap pagi gini." Sakha tersenyum kecil seraya kembali mengunci lokernya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Saat Sakha sedang berjalan menuju ke kelasnya, Sakha bertemu dengan Kang Ujang. Kang Ujang merupakan penjaga sekolah yang memegang berbagai kunci di sekolah. Sakha pun menghampiri Kang Ujang.
"Kang Ujang!" panggil Sakha.
Kang Ujang menoleh ke arah Sakha, "Kenapa, ya?" tanyanya.
"Kang, saya mau tanya, Akang yang megang kunci loker cadangan kan?"
Kang Ujang mengangguk.
"Kalau begitu berarti Akang tahu dong siapa yang tiap pagi minjem kunci cadangan loker saya?"
"Minjem kunci loker? Seinget saya mah ngga ada atuh yang minjem kunci loker pagi-pagi begini mah."
"Akang yakin?" tanya Sakha memastikan
"Yakin atuh lah..."
"Hm ... yaudah kalau gitu makasih ya Kang, maaf Sakha ganggu." Sakha menyengir lebar.
"Ngga apa-apa atuh, yaudah akang pergi dulu ya, masih banyak kerjaan ini." kata Kang Ujang.
"Iya Kang, sekali lagi makasih Kang." Sakha tersenyum ramah.
"Iya sama-sama. Yaudah atuh akang duluan ya, Sakha!" pamit Kang Ujang akhirnya.
Sakha mengangguk. Sakha pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas sambil bergumam sendiri. "Nanti gue tanya Rania aja deh, siapa tahu emang dia yang ngasih." ucapnya final.
***