BAB 2 : Dilema di UGD dan Takdir yang Terjalin

2002 Kata
Di Rumah Sakit Tak lama kemudian, pintu UGD terbuka. Dokter Reva keluar dengan ekspresi serius. Semua mata langsung tertuju padanya. "Keluarga pasien?" tanya Reva, pandangannya menyapu kerumunan. "Saya, Dok, saya suaminya!" Naufal segera maju, suaranya dipenuhi kecemasan. Reva menatap Naufal. Matanya melebar sedikit, seperti mengenali. "Naufal..." gumamnya pelan. Naufal mengerutkan kening. "Iya benar. Maaf, Dokter kenal saya?" tanyanya, bingung. Kamu lupa sama Fal? bisik Reva dalam hati, ada sedikit kekecewaan yang tak terlihat di wajah profesionalnya. "Nanti akan saya jelaskan," kata Reva, menepis pertanyaan Naufal. Wajahnya kembali serius. "Tapi ini ada kabar buruk untukmu. Saya minta kamu yang sabar, ya." Jantung Naufal berdetak lebih cepat. Bu Rahayu yang sedari tadi tegang, langsung menyambar, "Kabar buruk?! Apa itu?!" "Dik, sabar. Ingat kata Bapak dan Ibu, ya," Bu Titah menenangkan, mengusap punggung adiknya. Reva menatap Bu Rahayu. "Anda...?" "Ini Mama saya dan Budhe saya," Naufal menjelaskan cepat. "Oh... Jadi begini, Pak, Bu," Reva menghela napas. "Ibu Alia kandungannya sangat lemah, maka dari itu Bu Alia mengalami keguguran." Kata-kata itu bagai sambaran petir. "Apa, Dok?!" Bu Rahayu menjerit tertahan, "Calon cucuku...!" Ia limbung. "Dik!" Bu Titah refleks memegang adiknya. Dasar perempuan lemah! Menjaga calon penerusku saja tidak bisa! Hmm.... batin Bu Rahayu, kemarahan menyelimuti kesedihannya. Di tengah keterkejutan itu, Bu Rahayu tiba-tiba memegangi dadanya. Wajahnya memerah, napasnya tersengal-sengal. "Dik! Fal, mamamu!" teriak Bu Titah panik, melihat adiknya kesulitan bernapas. "Mama!" Naufal berteriak, segera menangkap ibunya yang hampir terjatuh. "Ya Allah, Tante! Fal, ayo bawa masuk ke dalam!" Reva berseru, sigap memerintahkan perawat untuk membantu. "Iya!" Naufal segera mengangkat ibunya, dibantu perawat, kembali masuk ke ruang UGD yang baru saja mereka tinggalkan. Dalam kekacauan itu, Bu Titah segera mengeluarkan ponselnya. Ia tahu ia harus memberitahu suaminya, Pak Fitroh, tentang semua yang terjadi. * * Bu Titah menjauh sedikit dari hiruk pikuk UGD, mencari tempat yang lebih tenang untuk menelepon suaminya. [Bu Titah: Assalamu'alaikum, Bi...] [Pak Fitroh: (Suara dari seberang telepon terdengar terkejut) Wa'alaikumsalam, Bu! Ada apa? Kok suaramu panik gitu? Oh ya, bagaimana keadaan Alia sekarang?] [Bu Titah: (Napasnya sedikit tercekat) Bi... Alia... Alia mengalami keguguran, Bi. Katanya kandungannya lemah. Dan sekarang... (Bu Titah melirik ke arah UGD, suaranya mengecil) Siwi juga berada di UGD, Bi. Sesak napas.] [Pak Fitroh: (Terdengar suara terkesiap) Haa?! Astagfirullah! Kok bisa? Apa yang terjadi?] [Bu Titah: Nggak tahu persis, Bi. Siwi syok pas dengar kabar Alia keguguran. Sekarang sedang diperiksa Dokter. Abi... kapan mau ke rumah sakit?] [Pak Fitroh: (Terdengar suara gemuruh di seberang, mungkin ia sedang bergerak) Habis makan siang tadi rencananya. Atau... Abi ke sana sekarang saja ya? Sekalian ajak Afif dan Alfi. Pasti mereka juga kaget dengar kabar ini.] [Bu Titah: (Menghela napas) Terserah Abi saja. Yang penting segera ke sini.] [Pak Fitroh: Oke... Kamu tenang ya di sana, Bu. Abi segera ke sana.] [Bu Titah: (Melihat pintu UGD terbuka lagi) Bi, sudah dulu ya. Dokter sama Naufal sudah keluar dari UGD. Kayaknya mau mengabari soal Siwi.] [Pak Fitroh: Oh iya, Bu. Astagfirullah... Ya sudah, Assalamu'alaikum...] [Bu Titah: Wa'alaikumsalam, Bi...] Bu Titah menutup teleponnya, matanya terpaku pada pintu UGD yang kini terbuka lebar. * * Di depan UGD (Unit Gawat Darurat) Wajah Reva kembali serius saat keluar dari UGD. Naufal segera menghampiri, hatinya berdebar tak karuan. "Jadi bagaimana, Dok? Mama saya kenapa?" tanya Naufal. Reva menghela napas. "Ibu Anda, mengalami tanda-tanda serangan jantung." "Apa?!" Bu Titah terkesiap, nyaris menjerit. "Adikku... serangan jantung?!" Reva mengangguk. "Saya sarankan, kalau bisa, jangan biarkan Ibu Anda stres, ya. Kondisinya masih harus dipantau." "Baik, Dok. Terima kasih..." Naufal menjawab, pikirannya kalut. Ibunya serangan jantung, istrinya keguguran. Dunia seakan runtuh. Waktu berlalu, jarum jam menunjuk angka dua belas siang. Bu Titah masih setia menunggu, ditemani Naufal. Matanya terus melirik ke arah pintu masuk rumah sakit, berharap suaminya segera tiba. "Duh, Abi di mana ya?" gumam Bu Titah, cemas. Tak lama kemudian, terdengar suara salam. "Assalamu'alaikum, Bu..." Kamil, putra sulung Bu Titah, muncul bersama istri dan kedua anaknya, Inggit dan Indri. "Wa'alaikumsalam, Le..." Bu Titah menjawab, sedikit lega melihat keluarganya. "Kamu sama Inggit dan Indri, Le?" tanya Bu Titah. "Iya, Bu, sekalian jemput Inggit dan Indri dari sekolah. Abi juga sebentar lagi sampai kok," jawab Kamil, menggendong Indri. "Oh, ya sudah, duduk dulu. Indri, cucu Ibu sudah makan siang belum?" "Sampun, Ibu," jawab Indri, tersenyum manis. "Ya sudah, oh ya, adikmu mana, Le?" "Belum bisa pulang, Bu, masih handle sedikit kerjaan di kantor katanya." "Oh, gitu. Ya sudah, duduk kamu gih sana bersama anak dan istrimu," perintah Bu Titah. "Nggih, Bu..." Kamil patuh. Hanya beberapa menit berselang, Pak Fitroh akhirnya tiba, diikuti Afif dan Alfi. "Assalamu'alaikum!" salam Pak Fitroh, langkahnya tergesa. "Wa'alaikumsalam..." Bu Titah menyambut, lega. Afif dan Alfi langsung menghampiri. "Bagaimana keadaan mertua kami dan adik ipar kami, Budhe?" tanya Afif, nada suaranya penuh kekhawatiran. "Yang Budhe dengar tadi Dokter bilang Ibu mertua kalian mengalami gejala serangan jantung, Le..." jawab Bu Titah, suaranya pelan. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." ucap Pak Fitroh, Afif, dan Alfi bersamaan, wajah mereka berubah sendu. "Lah itu Naufal, Bi," Bu Titah menunjuk Naufal yang sedang termenung. "Leh..." panggil Pak Fitroh, menghampiri Naufal. "Nggih, Pakdhe," jawab Naufal, berusaha tersenyum. "Bagaimana keadaan istri dan mamamu?" tanya Pak Fitroh, tangannya menepuk pundak Naufal. Naufal menghela napas berat. "Mama hari ini sudah boleh pulang, Pakdhe. Sedangkan Alia... belum bisa pulang. Masih koma." Bu Titah terkesiap. "Kok koma, Le? Tadi kata Dokter sudah siuman, kan?" "Nggih, Budhe," Naufal menjelaskan dengan mata berkaca-kaca. "Alia kaget mengetahui anak kami sudah tidak ada. Dia mengetahui keguguran, dan akhirnya... koma." Semua yang mendengar terdiam, merasakan duka Naufal. "Ya Allah, sabar ya, Le..." Bu Titah mengusap lengan Naufal. "Ya sudah, kamu nanti ikut pulang bersama mamamu, ya. Biar Budhe, Pakdhe, yang menunggu istrimu sampai kamu balik ke sini, ya, Le..." "Nggih, matur nuwun..." Naufal membungkuk, sangat berterima kasih. "Nggih, Le. Ya sudah, yuk kita jemput mamamu sekarang," ajak Pak Fitroh, merasakan betapa lelahnya Naufal. "Nggih, Pakdhe," Naufal mengangguk, melangkah bersama Pak Fitroh. Naufal dan Bu Rahayu akhirnya pulang ke rumah, disusul oleh Kamil, istri, dan anak-anaknya. Sementara itu, Bu Titah, Pak Fitroh, Afif, dan Alfi mengambil alih tugas menjaga Alia. Mereka berencana untuk bergantian menunggu hingga Naufal kembali ke rumah sakit. Namun, baru dua hari Naufal setia menunggu sang istri di rumah sakit, Bu Rahayu datang lagi, kali ini untuk menjemput anaknya pulang ke rumah, dengan tatapan dingin dan tanpa kata. Dua Hari Kemudian Di ruang inap Alia Dua hari sudah Naufal menjaga Alia yang masih koma. Mata sembab dan wajah lelah tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Suara ketukan pintu memecah keheningan. "Assalamu'alaikum..." Bu Rahayu masuk, raut wajahnya masih dingin, tidak ada sedikitpun simpati untuk menantunya yang terbaring lemah. "Wa'alaikumsalam, Mama..." Naufal menjawab, berdiri. "Kamu itu ya, kenapa di sini terus? Kamu punya rumah, kan? Ayo pulang!" bentak Bu Rahayu, nadanya tanpa ampun. "Nggak bisa, Ma," tolak Naufal, pandangannya tak lepas dari Alia. "Kenapa nggak bisa? Ayo pulang, sekarang!" paksa Bu Rahayu, maju selangkah. "Pokoknya nggak bisa, Ma. Aku harus menunggu dan menjaga istriku di rumah sakit," Naufal bersikeras. Tiba-tiba, suara Bu Rahayu naik beberapa oktaf, penuh amarah dan kejengkelan yang selama ini ia pendam. "Ngapain sih kamu capek-capek nunggu dan ngurusin perempuan mandul ini, hah?! Pulang sekarang!" Teriakan Bu Rahayu membuat perawat yang sedang lewat terkejut. Perawat itu segera masuk, wajahnya menunjukkan ketegasan. "Maaf, Bu, Bapak. Pasien di rumah sakit ini membutuhkan ketenangan. Mohon tidak membuat keributan." Teguran itu membuat Bu Rahayu terdiam, meskipun tatapan matanya masih menyala. Naufal, yang merasa tidak enak, akhirnya mengalah. Dengan berat hati, ia mengecup kening Alia sekali lagi sebelum mengikuti ibunya keluar dari rumah sakit. Kediaman Eyang Kakung Setibanya di rumah Eyang Kakung, suasana sudah menanti dengan aura ketegangan. Bu Rahayu dan Naufal langsung berhadapan dengan Eyang Kakung. "Sudah, Ma, Naufal sudah pulang, ya, kan, sekarang," kata Naufal, mencoba menengahi. "Baguslah kalau begitu," Bu Rahayu tersenyum sinis. "Sekarang, Mama minta kamu jadilah anak yang penurut juga berbakti pada kedua orang tuamu, ya. Mama minta kamu menikah lagi, ya, dengan anaknya teman Mama, Fal." Naufal terkesiap. "Mama ini apaan sih?! Aku bilang nggak mau, ya nggak mau! Jangan paksa aku, Ma!" bentaknya, amarahnya memuncak. "Naufal! Siwi!" Eyang Kakung bersuara lantang, mencoba melerai. "Ini ada apa sih?!" "Aku cuma mau cucu dari Naufal, Pak, cuma itu!" jawab Bu Rahayu, menyilangkan tangan di d**a. "Tapi Mama itu maksa tahu, Pak! Aku sangat mencintai Alia! Mama malah memaksa aku untuk menikah lagi!" Naufal membela diri, wajahnya memerah. "Apa?! Menikah lagi?! Siwi! Kamu ini ya, sudah cukup! Jangan kau ikut campur dengan rumah tangga anakmu!" bentak Eyang Kakung, nada suaranya menggelegar. "Tapi, Pak, aw!" Bu Rahayu tiba-tiba memegangi dadanya. Wajahnya pias, napasnya tersengal. Tubuhnya limbung, lalu pingsan. Semua orang panik. Eyang Putri yang menyaksikan dari kejauhan segera memanggil dokter ke rumah. Bu Rahayu cepat-cepat dibawa ke kamarnya. Di depan kamar Bu Rahayu Beberapa saat kemudian, Dokter Andre keluar dari kamar Bu Rahayu. Fitri dan Alya, kakak dan adik Naufal, sudah menanti dengan cemas. "Bagaimana, Dok, keadaan Mama saya?" tanya Fitri, suaranya bergetar. "Bu Rahayu Werdisiwi terkena serangan jantung," jawab Dokter Andre, serius. "Apa?! Abang!" Alya menoleh ke arah Naufal, tatapannya penuh tuduhan. "Ini karena Abang, ya, Mama serangan jantung!" "Sebaiknya Bu Rahayu Werdisiwi untuk istirahat sementara waktu. Saya juga sudah berikan obat penenang tadi," ujar Dokter Andre, mengabaikan tuduhan Alya. Setelah memberikan instruksi, dokter itu pun pergi. Beberapa jam kemudian, Bu Rahayu siuman. Namun, sejak saat itu, ia terus-menerus memanggil nama Naufal, dan permintaannya hanya satu: cucu. Kondisinya yang lemah dan desakan tiada henti dari ibunya membuat Naufal terdesak. Akhirnya, mau tidak mau, Naufal pun menuruti permintaan ibunya. Namun, sebelum bertemu dengan calon istri kedua pilihan ibunya, Naufal kembali ke rumah sakit. Ia ingin meminta izin sekali lagi pada istrinya yang sedang koma, walaupun sebelumnya Alia pernah mengatakan bahwa ia ikhlas dan pasrah jika suatu saat Naufal ingin berpoligami. Kali ini, ia butuh restu Alia, bahkan dalam diamnya. * * * * Beberapa Hari Kemudian Hari sudah berganti. Naufal, dengan langkah berat dan hati yang hampa, menuruti permintaan ibunya. Ia bersiap menemui calon istri kedua yang sudah diatur oleh Bu Rahayu. Saat pertemuan itu terjadi, dunia Naufal seolah berhenti. Ia terkejut bukan kepalang. Wanita yang akan menjadi istri keduanya adalah Dokter Reva, dokter yang selama ini merawat Alia, istri pertamanya. Ironi yang begitu menyakitkan. Reva sendiri terlihat kaget, namun wajahnya tetap datar, menyembunyikan emosi yang mungkin sama rumitnya. Seminggu Kemudian Satu minggu berlalu begitu cepat, terasa seperti mimpi buruk bagi Naufal. Pagi itu, di sebuah masjid sederhana, pernikahan sirih antara Naufal dan Reva dilangsungkan. Di Masjid "Baik, langsung saja saya mulai. Saudara Naufal Abbiyu Rabbani Bin Rahayu Werdisiwi, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya bernama Luna Reva Adelia Binti Karyo Sunaryo dengan mas kawin uang tunai sebesar 1000 dolar dan seperangkat alat sholat, dibayar tunai!" suara wali nikah menggema. "Saya terima nikahnya Luna Reva Adelia Binti Karyo Sunaryo dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!" Naufal mengucapkan ijab qobul dengan suara gemetar, bayangan Alia tak pernah lepas dari pikirannya. "Bagaimana para saksi, sah?!" "Sah!" seru para saksi serempak. "Alhamdulillah..." Penghulu membacakan doa, mengakhiri prosesi yang terasa begitu berat bagi Naufal. Tepat setelah ijab qobul selesai, ponsel Naufal berdering. Sebuah kabar dari rumah sakit: Alia, istri pertamanya, siuman dari komanya. Naufal merasa campur aduk antara lega dan bersalah. Ia harus segera menemui Alia. Reva, yang kini telah resmi menjadi istri keduanya, terlihat memahami. Mereka berdua segera berangkat menuju rumah sakit. Di Rumah Sakit Sesampainya di rumah sakit, Reva meminta Naufal menunggu di luar ruangan Alia. "Mas Naufal tunggu di sana saja, ya," kata Reva, nadanya profesional. "Iya..." Naufal hanya bisa mengangguk. Duduk di kursi tunggu, Naufal merasa cemas dan gelisah. Semoga istriku baik-baik saja, ya Allah... doanya dalam hati, pandangannya tak lepas dari pintu ruangan tempat Alia dirawat. Ia adalah suami dari dua wanita, dan situasinya sungguh rumit. Tak beberapa lama kemudian, Reva keluar dari ruangan Alia. Naufal segera menghampiri. "Akhirnya, Dok... bagaimana keadaan istri saya?" tanya Naufal, tak sabar. Reva tersenyum tipis, namun tetap profesional. "Alhamdulillah, Mas Naufal. Kondisi Bu Alia stabil. Dua hari lagi istri Anda sudah boleh pulang." Kabar itu bagai embusan napas lega bagi Naufal, meski beban di hatinya masih begitu berat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN