Aku Minta Maaf

1315 Kata
Natalie masih tetap diam walau saat ini sedang berada di dalam mobil kekasihnya. Bukan karena sedang memikirkan masalahnya, melainkan wanita itu sedang merasa sedih mendengar fakta mengejutkan tentang keluarga Ayu. Walau mereka sudah lama dekat tapi yang selama ini Natalie tahu kalau wanita itu adalah anak yatim piatu. Bahkan, Natalie tidak pernah bertanya tentang penyebab kematian kedua orang tua Ayu karena tidak ingin membuatnya bersedih. Jika saja Natalie tahu soal hal itu lebih awal mungkin wanita itu tidak akan mengajak sahabat untuk ikut memergoki kekasihnya yang jelas-jelas sedang berselingkuh. Rehan yang sejak tadi memperhatikan kekasihnya yang diam saja mulai meraih tangan Natalie. “Sayang, aku mohon maafin aku ya.” Seketika Natalie sadar dari lamunannya serta menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan pria itu. “Jangan sentuh aku!” “Maaf tapi aku janji kok akan perbaiki semua hubungan kita bahkan aku akan….” Ucapan Rehan terhenti ketika kekasihnya menoleh ke arahnya dengan sorot mata yang tajam. “Lebih baik kamu buktikan semuanya daripada bicara omong kosong, Re.” Rehan kembali fokus sambil menelan salivanya saat melihat Natalie yang tidak pernah semarah ini kepadanya. Ya, apalagi kesalahannya memang sangat fatal. “Dan satu lagi Re, kalau aku tahu kamu selingkuh lagi setelah ini lebih baik kita selesaikan semuanya termasuk niat kita yang ingin menikah tahun depan,” lanjut Natalie yang kini penuh dengan ancaman. Sontak hal itu membuat Rehan menepikan mobilnya lalu menatap kekasih. Sungguh pria itu menyesal dengan perbuatan serta tidak ingin kehilangan Natalie. “Sayang, aku mohon jangan bicara seperti itu ya, kita ‘kan udah janji tahun depan bakalan menikah,” kata Rehan dengan nada memohon. Dahi Natalie berkerut. “Setelah semua yang udah kamu lakukan sama aku, kamu masih berharap kita akan menikah?” “Oke, aku salah tapi….” “Aku memang cinta dan berharap bisa nikah sama kamu tapi itu dulu sebelum kamu khianati aku!” potong Natalie yang mengungkapkan isi hatinya bersama emosinya yang sepertinya tak kunjung padam. “Hati aku sakit, aku hancur saat tahu calon suami aku selingkuh sama sahabat aku sendiri,” lanjutnya lirik dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya. Rehan hendak mengusap punggung kekasihnya atau mungkin menarik tubuhnya ke dalam dekapannya hanya untuk sekedar menenangkan Natalie, tapi sebelum hal itu terjadi, Natalie kembali menepis tangannya. “Bahkan, aku kedepannya enggak tahu masih bisa percaya sama kamu atau enggak.” Rehan menarik napas lalu membuangnya setelah memberi sekotak tisu. “Baiklah, aku enggak akan maksa kamu buat nikah sama aku tapi aku akan berusaha untuk memperbaikinya serta buat kamu percaya lagi sama aku.” Ucapan pria itu memang terdengar tulus hingga Natalie menghentikan tangisnya serta mengusap sisa air matanya. “Kalau begitu, sekarang aku akan antar kamu pulang ke rumah,” lanjut Rehan sambil kembali menyalakan mesin mobilnya. *** Esok harinya ketika Natalie berpapasan dengan Ayu di lobi, wanita itu berusaha untuk tersenyum dan hendak menyapanya. “A–” Suaranya tertahan ketika sahabatnya itu berlalu begitu saja. Mengabaikannya. “Gimana caranya minta maaf sama Ayu kalau dia semarah ini sama gue?” Natalie menarik napas dalam-dalam sambil menatap bayangan Ayu yang sudah menghilang naik lift ke lantai atas. “Tapi gue harus minta maaf sama dia entah dia mau maafin gue atau enggak nantinya.” Wanita itu melangkahkan kaki menuju lift menuju lantai yang sama dengan Ayu. Sejak kemarin hatinya selalu gelisah apalagi ketika sahabatnya tidak menjawab atau membalas pesan permintaan maaf darinya. Sesampainya di meja kerjanya, Natalie sempat melihat kalau Ayu sudah sibuk mengerjakan tugasnya dengan headphone di telinganya. Natalie meletakkan paperbag berwarna cokelat tepat di sebelah Ayu sambil menepuk bahunya hingga wanita itu menoleh ke arahnya. Ayu menatapnya malas sambil melepas headphone miliknya. “Ada apa? Aku lagi sibuk ngerjain tugas dari Bu Arini jadi….” “Aku cuma mau minta maaf soal kemarin karena a—” “Lo enggak usah minta maaf karena itu hidup lo dan enggak seharusnya gue ikut campur jadi gue anggap masalah itu selesai,” potong Ayu lugas. “Tapi Yu….” Natalie berusaha mengajak wanita itu untuk bicara lebih akrab seperti biasanya tapi yang ada Ayu seperti sedang menjaga jarak dengannya. “Sorry, gue harus lanjut kerja lagi,” kata Ayu sambil kembali mengenakan headphone miliknya. “Oke, selamat bekerja, Yu,” lirih Natalie seraya duduk di kursinya. Namun, sesekali menoleh ke arah Ayu berharap sahabatnya menoleh. “Gue minta maaf ya Yu karena gue enggak tahu luka lu soal orang ketiga itu sangat dalam.” *** Setelah membuka pintu Rehan cafe, pria itu pergi ke gudang untuk memeriksa stok barang yang kosong sebelum memesannya ke supplier hingga berakhir di salah satu meja sambil menatap layar laptopnya. Namun entah kenapa saat berada di gudang pikirannya melayang pada masa itu, di mana pria itu bisa dibilang beruntung tidak ketahuan oleh Natalie. “Sayang, aku lagi kangen banget sama kamu, kita ketemuan sebentar ya di gudang.” Sebuah pesan baru saja dikirimkan oleh Rehan kepada Ratu yang ada di meja kasir. Sementara pria itu sedang berada di salah satu meja yang dekat dengan jendela. “Aku juga kangen banget sama kamu, yaudah sekarang kamu duluan gih ke kasir nanti aku nyusul.” Melihat balasan pesan dari Ratu, sebuah senyum terukir di wajah tampannya. Pria itu segera menyimpan ponselnya di saku lalu bangkit dan melangkahkan kaki menuju gudang. Sesampainya di gudang Rehan pura-pura mengecek barang yang ada di sana dengan sudut bibirnya yang tertarik. Pria itu tidak sabar ingin menghabiskan waktu bersama kekasih gelapnya yang mampu membuatnya mabuk kepayang tersebut. Tapi ketika pintu gudang terbuka bukan sosok Ratu yang ada di sana melainkan sosok Natalie dengan wajahnya memerah seperti sedang menahan emosi. Tentu apa yang terjadi pada kekasihnya memancing rasa penasaran Rehan hingga dahinya berkerut. “Sayang, kapan kamu sampai?” Kedua matanya membulat dengan sempurna ketika melihat video yang menunjukan rekaman dirinya bersama Ratu tapi beruntungnya video itu wajah mereka terutama sang wanita tidak terlalu jelas. “Apa cowok di dalam video itu benar kamu? Kalau iya terus siapa cewek di dalam video itu?” Sebisa mungkin Rehan berusaha mengelak apalagi ketika mendapati kekasihnya tampak terlihat ragu dengan video tersebut. Selain itu, keberuntungan Rehan bertambah ketika melihat Ratu yang sempat mengintip. Pria itu melangkahkan kakinya keluar dari gudang sambil tersenyum serta meraih tangan Ratu. “Kebetulan kamu ada di sini Ratu, tolong bantu aku jelaskan sama Natalie kalaau selama ini aku sibuk ngurus cafe dan kamu coba lihat baik-baik cowok di video ini,” katanya sambil menatap punggung Natalie yang masih bergeming. Namun tangannya tidak berhenti mengelus tangan Ratu yang lembut. Bahkan tanpa rasa bersalah Rehan sempat mencium punggung tangan wanita itu tanpa bunyi tentunya agar Natalie tidak curiga. Setelah itu, Rehan melangkahkan kakinya menuju bagian depan cafe. Mengingat hal di mana dirinya nyaris ketahuan oleh sang kekasih membuat Rehan terkekeh hingga beberapa pasang mata karyawan yang sedang bekerja menatap heran ke arahnya. Bagi pria itu menjalin hubungan dengan Ratu memiliki kepuasan tersendiri seperti membangkitkan adrenalinnya, apalagi ketika harus main petak umpet dengan banyak orang terutama Natalie. “Astaga, apa yang sedang aku pikirkan?” Namun, ketika pria itu mendapatkan sebuah pesan yang membuat hatinya mendadak menjadi gusar dan hal itu terlihat dari wajahnya yang tampak tegang, bibirnya yang terkunci rapat serta kakinya yang tak berhenti bergerak. Sebelum berdiri Rehan sempat menarik napas dalam-dalam seolah sedang menenangkan dirinya untuk mengambil sebuah keputusan yang besar. “Wahyu, saya titip cafe sama kamu sebentar ya soalnya saya ada urusan penting,” kata Rehan yang menitipkan cafe kepada salah satu karyawannya. “Sih Bos mau ke mana, Yu?” tanya Ira setelah bayangan Rehan sudah benar-benar pergi dari area cafe. “Enggak tahu sih tadi bilangnya ada urusan penting tapi kayaknya mau ketemu sama selingkuhannya soalny ‘kan sih Ratu belom kelihatan nih sampe sekarang,” tebak Wahyu yang seolah sudah hapal dengan kegiatan bosnya. “Hussh... su’udzon aja siapa tahu mau nganterin Bu Natalie berangkat kerja atau urusan lain yang emang benar-benar penting,” balas Ira memperingati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN