[o, Md]-- 8. Refund

3025 Kata
Hari sudah menjelang malam, sebenarnya Luca malas mengantarkan pesanan satu kopi ke rumah sakit. Berhubung dia ingat kalau dia sayang sama teman satu perjuangannya yang bernama Hayato Daiki, maka dengan ikhlas dia membawa dua buah kopi berikut dessert sebagai tambahan pengunggah selera. Walau tanpa jas dokter serta peralatan medis banyak dari mereka yang memberi salam pada Luca saat memasuki area rumah sakit. Sebenarnya mereka hanya sebagai dokter tambahan yang membantu dalam operasi Urgent. Para dokter tambahan biasanya memilih untuk menginap di hotel selama beberapa hari. Memang rumah sakit pusat menpunyai fasilitas yang memadai seperti ruangan praktek dengan kamar tidur tapi, terkadang situasi itu di pakai untuk membuat mereka bekerja Extra. Dokter juga manusia. Butuh istirahat bukan..? Luca-pun melakukan hal yang sama, dia memesan dua kamar hotel untuknya dan Daiki yang terlambat naik pesawat. Pikir Luca, cuma beberapa hari saja.. Berapa hari... Dan ternyata... Ternyata... Semenjak Daiki berubah jadi Bucin, dia memutuskan untuk tinggal di ruang kerjanya selama mungkin. Membuat Luca kalang kabut termaksud membatalkan pesanan kamar hotel dan tiket pesawat untuk mereka pulang. Walau akhirnya istrinya datang dengan alasan menjemput yang nyatanya di pakai untuk liburan, setidaknya Luca bisa punya waktu untuk wisata keluarga. Kalau nanti balik ke Jakarta percaya deh..! Luca bahkan tak bisa melihat Niel di pagi hari. Jadwal Luca sangat...sangat...sangat.. Padat. Tok...tok...tok... "Akhirnya muncul juga..." Ucap Daiki membuka pintu ruangan membuat Luca nampak heran. Pasalnya Daiki tak pernah menyambut orang datang tanpa ada sebab akibat..! "Ini kopi yang kamu pesan." Taruh Luca di samping meja kerja saat melirik laptop yang memutar drama Korea. Luca tampak heran, sudah pekerjaannya sebagai dokter yang setiap hari melihat darah, belum lagi berurusan dengan orang yang sakit-sakitan dan ruang UGD yang penuh kekacauan. Kenapa malah Daiki menonton drama korea tentang pembedahan...? Ini anak sebenarnya otak sama hidupnya itu cuma isi pekerjaan kali ya..? Masa hiburannya malah nonton drama kedokteran. Sekali-kali gitu drama percintaan atau film bokep penuh desahan... "Luca, Pelajari ini.." serahnya cepat. "Apa ini? Cara mempelajari Bedah plastik.." ucap Luca heran plus binggung. "Hm.." kata Daiki sembari membuka dessert dan duduk ke kursi kebanggaan, kembali serius menonton dramanya lagi. "Lah, untuk apa?" Mengangkat buku kehadapan Daiki. "Untuk nambah ilmu tentang operasi bedah plastik." terang Daiki singkat sembari mengunyah cake serta meminum Caffe americano lalu kembali serius pada layar laptopnya. "Oh, Oky..Kalau gitu aku balik dulu ya. Hati-hati, jangan lupa makan Ama jaga kesehatan.." Ucap Luca berpamitan. "Ok" sahut Daiki singkat "Daiki, lusa pesawat aku berangkat jam 9 pagi, kamu nggak ada niat mau mengantar kami..?" Tanya Luca saat mau berbalik pergi. "Hm..ya ya..., jangan lupa lusa jam 11.." kata Daiki serius menonton tak mendengar ucapan Luca tadi. "Hah..." heran Luca yang akhirnya di kacangi menyerah lalu meninggalkan Daiki pergi sambil membawa buku yang di berikan. Selama perjalanan kembali ke hotel, Luca merasa ada yang mengganjal soal ucapan Daiki tentang Lusa jam 11 pagi. Sebab, Luca kembali melirik buku panduan Operasi bedah plastik yang di berikan Daiki tadi.. Akibat, Luca yang merasa aneh langsung menelpon Crisya menanyakan soal jadwal keberangkatan pesawat mereka Lusa ini.. "Nggak ada kok? Nggak ada tiket pesawat kita yang di batal..?" Heran Crisya saat Daiki menelpon memintanya untuk mengecek tiket pesawat. "Huft, maaf sayang...hanya sedikit khawatir. Oh ya, mau nitip apa.." Felling Luca bermain mengatakan ada yang aneh tapi, dia menepis itu hanya pikiran negativenya. Sesampainya di hotel, Luca bersiap mandi karena, kebersihan sehabis dari luar tetap harus di jaga. Kembali duduk di atas ranjang melihat Crisya yang sudah memeluk Niel, mereka berdua tertidur pulas. Luca perlahan bersandar di kepala ranjang sembari membuka buku yang di berikan Daiki. Membaca cara membedah bagian kulit yang rusak serta cara memperbaiki jaringan kulit, berbeda dengan mengeluarkan atau memotong bagian tubuh dalam yang rusak, pecah dan membusuk seperti yang selalu dia kerjakan. "Hei, belum tidur?" tegur Crisya terbangun lalu melihat Luca yang serius membaca. "Belum. Tidur duluan ya, cuppp.." ucap Luca sambil mengecup kening istrinya menutup Buku lalu memeluk kuat dari belakang. "Mau di tidurin.." manja Crisya meminta dengan mata yang tak bisa di tolak. "Sayang, ini Bocil entar bangun kalau kita berisik." Tahan Luca "Kamu udah mandi..?" Senyum Crisya menyentuh rambut Luca yang basah. "Hm, aku bersedia mandi lagi.." Luca mengerti yang langsung mengangkat Crisya membawanya ke kamar mandi. " Jangan berisik..." Ancam Crisya sambil melihat Niel yang masih nyenyak. " Berisik-pun tak apa. Kedap suara, sayang.." ucap Luca Luca langsung menurunkan Crisya ke dalam bathtub lalu menyalakan keran membiarkan air mengisi perlahan. Crisya melihat Luca membuka kaos dengan santai sebari tersenyum nakal. Mendekat lalu mencium bibirnya dalam, walau sudah lama menikah gairah Luca tak pernah padam. Mereka menyatu dalam air saling berbagi napas satu sama lain. Bahkan Crisya tak tau sudah jam berapa yang jelas Luca tak memberi ampun serta tak memberi jeda untuk sekedar istirahat. " Mama..." Teriak Niel membuat mereka langsung gelabakan, Luca menarik Crisya lebih dalam agar mereka cepat selesai saat gelombang itu datang bersama, perasaan lega membuat semua kehabisan tenaga. Crisya langsung membersihkan diri melilit handuk dan pergi keluar untuk melihat Niel yang bangun. Sementara Luca sengaja bersembunyi agar kegiatan panas mereka tak di ketahui oleh Niel. Tentu orang tua harus memberi contoh yang baik bagi anaknya. *** Daiki meminum kopi ke duanya, terdiam sesaat sebelum melihat pintu keluar saat sosok Luca sudah pergi dari tadi. "Hm...kayaknya ada yang kelupaan tapi, apa ya..?!" Tanyanya pada diri sendiri namun, tak mau ambil pusing. Setelah beres menonton drama dia memakai jas dan name tag bersiap untuk mengecek Shif malam, terkadang Daiki mampir untuk membantu unit lain. Saat melewati kamar Yasmin, dia melihat Ryu yang terlihat waspada. Tentu, cara terbaik untuk melepas rindu pada wanitanya selama seharian penuh adalah mampir. Ryu menghalangi Daiki untuk masuk kedalam kamar inap Yasmin. "Ada apa, dokter ?" tanya Ryu dengan ekspresi dingin. " Tentu, saya mau memeriksa keadaan Ibu Yasmin." Jawab Daiki. Ryu menatap sosok yang beberapa bulan menjadi penganggu dari jarak minim. Ryu kesal.. Entah kenapa hatinya terusik. Tak ingin melepas penjagaan dari gadis yang kini membuat hatinya berdebar hebat dalam waktu dekat. Dia tau diri sebagai penjaga tak pantas mencintai seorang anak majikan. Anehnya lagi dalam waktu singkat pula Ryu jatuh hati pada Yilla. Yilla, gadis yang selama beberapa hari ini di tugaskan untuk dia jaga dan di awasi.. Gadis dengan wajah serta sifat sempurna menurutnya, bermata biru, dan terkutuklah suami yang telah menyia-yiakan istri sesempurna dirinya. Hah, Gangguan besar ini sering kali mengusik Yilla, mahluk sok tampan bergelar dokter selalu berusaha dekat dengan anak majikannya. Kini kami saling menatap dengan pandangan dingin dan tak ada satu pun dari kami yang mengalah. Alasan klasik juga kan ingin masuk untuk memeriksa nyonya Yasmin bilang saja kalau dokter ganjen ini punya maksud lain. "Barusan suster jaga sudah mengecek kondisi nyonya Yasmin, serta Mengganti cairan infus yang sudah habis." Jelas Ryu terlihat mengusir Daiki secara halus. "Oh ya, di sini dokternya saya atau anda..?" tanya Daiki telak. "Hah, saya sudah bilangkan kalau ibu Yasmin sudah di periksa." Kekeh Ryu. "Anda bisa datang mungkin besok pagi. Tak perlu terlalu sering kemari, apa seorang dokter punya waktu seluang ini?" balas Ryu. Sumpah, Daiki merasa ingin menikam Ryu sekarang juga. Ini penjaga ada masalah apa sama dia sampe sebegitu tak suka oleh keberadaannya. "Kalau anda masih berkeras untuk masuk. Saya akan bilang kepada pak Farhat untuk mengganti dokter lain.." tegas Ryu. Clek.. Pintu ruangan terbuka memperlihatkan sosok Yilla yang mengecek keributan tepat di depan kamar ibunya. "Mengganti dokter?" Tanya Yilla tak mengerti sempat mendengar ucapan Ryu. "Nona.." kaget Ryu "Yilla.." ucap Daiki "Ada apa ini ?" tanya Yilla memperhatikan keduanya. "Saya hanya mau mengecek keadaan Ibu Yasmin tapi, katanya sudah di periksa dan di ganti infus." Jelas Daiki. "Hm, saya sudah bilang kalau nyonya Yasmin sudah di periksa. Tapi, dokter ini memaksa masuk.." terang Ryu gugup saat Yilla kini fokus padanya. "Saya tak suka saja dia mondar mandir mencari alasan untuk kemari." Akui Ryu kesal. "Ryu, wajar dokter mengecek keadaan ibu secara berkala. Suster tadi bukan dokter, dia belum bisa memberi informasi akurat. Kita tak tahu pasti, jadi berhenti berpikir aneh dan biarkan dokter ini masuk. Dia yang sudah berhasil menyelamatkan ibu, mengganti dokter katamu. Kuasa apa kau di dalam urusan ini..?" Ryu diam sambil merasa sakit melihat Yilla kalah. "Mungkin besok saja saya.." Daiki berusaha meredakan amarah Yilla. "Tidak, masuk aja dok..tolong periksa ibu saya." Tegas Yilla membuat Daiki gemas. Lihat, biar marah pun muka kekasihnya itu nampak imut. Daiki berusaha tenang, agar dia tak memeluk Yilla di depan anjing penjaga ayahnya. Daiki perlahan masuk, melihat bagaimana sosok Ryu menunduk tapi matanya tetap beradu tatap dengan Daiki. "Ryu, aku tidak mau lagi mendengar ke ikut campuranmu dalam urusan pengobatan ibu. Kau mengerti.." ucap Yilla ikut masuk. Di dalam Yilla melihat Daiki mengecek keadaan Yasmin, perlahan mendekat merasakan kesedihan. Kapan ibu bangun? "Bagaimana, dok ?" "Tenanglah, dia masih bermimpi. Efek dari syok mungkin, kita hanya bisa menunggu dan berdoa agar dia cepat sadar." Jelas Daiki serius. "Syok..?" "Ya, yang memicu ini semua adalah Syok serta kaget membuat aliran darah tersumbat dan perhentian pada denyut jantung. Mamamu memang kritis saat itu sayang.. untung kau cepat tanggap.." jelas Daiki. Yilla diam. Dia mengingat-ingat penyebab ibunya sampai seperti ini. Bukankah Yasmin tak mengetahui bagaimana hubungan rumah tangga dia dengan Ardi dan saat itu ibunya pasti telah melihat kelakuan b***t Ardi hingga seperti ini. Lagi..lagi..dan lagi. Ini semua karena Ardi. Yilla mengepalkan tangan merasakan marah yang luar biasa. "Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Ucap Daiki mengelus kepala Yilla sayang. "Oh ya, kudengar dari Amed, kau besok akan melakukan pemeriksaan?" Tanya Daiki. "Amed?" "Dokter bedah plastik?" "Ahhh.. ya saya mau.." Yilla ragu untuk menjelaskan kekurangannya merasa takut Daiki akan menghindarinya. "Jam?" Tanya Daiki lagi. "Tapi, saya hanya kontrol. Tentu saja saya tak punya pikiran untuk mengoperasi..s-saya.saya tak punya uang sebesar itu..?" "Operasi?" Farhat masuk keruangan tanpa suara membuat perhatian kepada kedua insan di depan. "Ya tuan, nona Yilla ingin konsul untuk luka bakar di belakang punggung." Jujur Daiki membuat Yilla serba salah menatap Daiki agar mulutnya di tutup. "Luka bakar? Luka apa Yilla?" Farhat benar-benar baru mendengar cerita ini. "Em, luka saat menolong nyonya Murni dari kebakaran." Jujur Yilla membuat Farhat marah besar, mukanya nampak merah berusaha menahan amarah. "Saya sudah mengatur jadwal untuk pertemuan serta hari operasinya, makanya besok nona Yilla akan konsul dulu ke dokter Amed" jelas Daiki. "Luka itu akan hilang tuan dan saya harap luka masa lalunya juga pergi." Yilla hanya bisa menunduk mendadak merasakan perih di hatinya. Ya, semoga dia bisa membuat masa lalunya pergi dari otaknya toh.. terlalu sakit untuk di ingat. "Untuk uang operasi kau tak usah khawatir biar ayah yang urus semua.." "Tak perlu tuan, rumah sakit mempunyai donatur untuk mengoperasi beberapa pasien yang membutuhkan penangganan. Syaratnya hanya mengisi beberapa formulir agar mendapatkan pengobatan serta operasi gratis. Saya sudah memasukkan Yilla di dalam program itu." potong Daiki. Farhat kesal, dia tak suka sesuatu yang berbaur gratis. Takut penanganannya asal-asalan. "Benarkah? Tanpa bayar?" Tanya Yilla dengan mata berbinar membuat Farhat tak berdaya. "Ya dan tak perlu khawatir soal dokter yang menanganinya adalah dokter nomor 1 bedah plastik di rumah sakit ini.." jelas Daiki mengingat Ucapan Amed dan mengulangnya seperti promosi saja. "Jadi besok saya sudah mulai konsultasi, apakah tuan bisa membantu menjaga ibu sebentar saja? Saya tidak akan lama." Ragu Yilla. Farhat yang curiga akhirnya tak berdaya saat Yilla seolah menunggu persetujuan darinya. "Baiklah..baiklah.. besok habis dari konsultasi kamu langsung kembali kesini." Kalah Farhat sambil menatap Daiki kesal. "Terima kasih, tuan. Eh, ayah.." ralat Yilla senang. Setelah selesai Daiki pamit undur diri diiringi oleh Farhat yang mengantarnya keluar kamar. Ryu memperhatikan bagaimana Daiki seolah memanfaatkan situasi berusaha mendekati Tuan Farhat. "Apa lukanya parah?" Tanya Farhat "Tidak parah karena lukanya sudah lama. Tapi, jaringan kulit membuat punggungnya terlihat buruk karena kerusakan saat terbakar kemarin mungkin tak di obati dengan benar." Jelas Daiki. "Tunggu, Bagaimana kau tau soal luka di belakang tubuh Yilla?" Interogasi Farhat mulai curiga. "Nona Yilla datang sendiri ke dokter operasi bedah plastik. Dia meminta untuk konsultasi soal luka di punggungnya dan dokter Amed menghubungi saya karena, Yilla adalah salah satu anak pasien yang saya tanggani." Jelas Daiki menyambungkan cerita sebagus mungkin, nggak mungkin dia bilang jujurkan pernah meraba anaknya, bisa di gantung dia di gerbang rumah sakit. "Berarti Yilla memperlihatkan tubuhnya." Tebak Farhat ingin menggamuk. "Lebih tepat punggungnya, tuan." Ralat Daiki. "Memang, Sialan orang itu.." maki Farhat. "Sialan, memang.." ikut Daiki. "Tapi, bagaimana dia bisa konsultasi kalau tak memeriksa lukanya?" Tanya Daiki pada farhat hitung-hitung menolong profesinya sendiri bukan menolong teman seprofesinya. "Yah, tetap dia yang salah. Kenapa dia jadi dokter bedah plastik." Jelas Farhat. "Itu, saya setuju.." "Hacchiiii...sreettt...kok kaya ada yang ngomongin aku ya..? Bodo ahhhh.." Tanya Amed pada dirinya sendiri. Lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya. *** Farhat cukup kaget saat mendengar kalimat Operasi dari mulut Yilla, setelah mendengar semua penjelasan akhirnya dia mengerti keluarga Murni harus benar-benar di musnahkan. Bagaimana bisa dia mengorbankan Yilla demi keselamatan sendiri tapi, tak berusaha mengobati Lukanya? Farhat tak habis pikir, uang merekakan tak mungkin habis. Murni kan bisa meminta pada Farhat seperti halnya dia sering meminta untuk mendanai perusahaan suaminya secara berkala. Farhat melirik Daiki yang terlihat baik. Dia sudah mengecek data serta profil dokter yang satu ini. Semua tak ada cacat, dia dokter yang haus akan pekerjaan, rendah hati, dan dokter single yang jadi incaran seluruh wanita tapi, tak ada satu pun yang berani mendekat karena dia memberi jarak yang cukup jelas. Belum lagi saat dia menawarkan soal event yang di adakan di rumah sakit ini, awalnya Farhat tak suka. Takut kalau nanti penanganannya asal saja tapi, seolah mengerti Daiki menjelaskan kalau dokter itu ahli dalam bidangnya. Tak melepaskan kesempatan Farhat mengantar Daiki keluar, bertanya seberapa parah Luka anaknya dan karena merasa aneh dia kembali bertanya lagi... "Tunggu, Bagaimana kau tau soal luka di belakang tubuh Yilla?" Interogasi Farhat. "Nona Yilla datang sendiri ke dokter operasi bedah plastik. Dia meminta untuk konsultasi soal luka di punggungnya dan dokter Amed menghubungi saya karena, Yilla adalah salah satu anak pasien yang saya tanggani." Jelas Daiki lancar membuat Farhat mengangguk mengerti tak merasakan keganjilan. Tapi, tunggu dulu.. Konsultasi? Punggung? "Berarti Yilla memperlihatkan tubuhnya." Tebak Farhat ingin menggamuk. "Lebih tepat punggungnya, tuan." Ralat Daiki singkat. "Memang, Sialan itu orang.." maki Farhat tak terima. "Sialan, memang.." ikut Daiki membuat Farhat setuju. "Tapi, bagaimana dia bisa konsultasi kalau tak memeriksa lukanya?" Tanya Daiki membuat Farhat berpikir merasakan kebenaran dari pertanyaan sang dokter. "Yah, tetap dia yang salah. Kenapa dia jadi dokter bedah plastik." Jelas Farhat kesal. "Itu, saya setuju.." angguk Daiki. Farhat melirik Daiki, seandainya saat itu menantunya adalah Daiki mungkin Yilla tak mungkin seperti sekarang. "Baiklah tuan, saya harus kembali mengecek pekerjaan shif malam. Saya permisi, kalau ada masalah cepat hubungi dengan bel yang sudah ada." Tunduk Daiki sebagai salam. "Ya, terima kasih dokter.." Setelah Daiki pergi, Ryu perlahan mendekati Farhat. "Tuan, wanita itu sudah di bawa ke markas. Apa perintah selanjutnya?" Tanya Ryu memberitahu Farhat. Farhat tersenyum gembira. Akhirnya satu orang yang membuat anak dan istrinya sengsara sudah tertangkap. "Kurung wanita itu selama beberapa hari, jangan berikan dia makan dan minum." Titah Farhat. "Baik, Tuan..!!" "Oh ya, apa kamu sudah merefund keberangkatannya?" "Sudah semua tuan. Sudah bersih dan tak mungkin dapat terlacak" "Bagus, tak ada yang bisa menolongmu lagi Murni.." "Sisanya?" "Saya sudah cek. Benar tuan, dia menyewa seorang penculik untuk mencari dan menangkap nona Yilla." "Heh, pastikan dia tak bisa melakukan itu." Tawa Farhat lalu memastikan Ryu untuk mendengar perintahnya. "Baik" Farhat kembali masuk kedalam memperhatikan Yilla yang sibuk menunggu ibunya. "Yilla.." panggil Farhat. Yilla menoleh lalu menghampiri Farhat, dia menerima beberapa buku serta berkas. "Ini buku, untukmu pelajari lalu ini berkas tolong kamu cek seperti kemarin." Jelas Farhat tersenyum. Yilla mengangguk. Dia senang dapat melakukan pekerjaan kecil setidaknya dia bisa meringankan uang yang di keluarkan Farhat dengan tenaga dan jasa. Walau Farhat benar Ayahnya sekali pun, Yilla benar-benar tak ingin bergantung hidup pada orang lain lagi. Dia mulai mengecek berkas yang di berikan Farhat, sementara Farhat mendekati ranjang Yasmin mengelus rambutnya sayang, berharap mata hitam cantik itu terbuka. Astaga, dia merindukan sosok yang terbaring tenang di hadapannya setiap detik, menit hingga, jam. Farhat tak bisa melepasnya, dia akan membuat Yasmin menjadi miliknya lagi. "Aku mencintaimu. Masih mencintaimu sampai hari ini." ucap Farhat sembari menggenggam tangan yang kaku tak bergerak. Tit..tit..tit... Hanya suara mesin yang menjawab ucapan Farhat, mata itu masih setia terpejam seolah pemiliknya masih ingin beristirahat oleh lelahnya hidup. "Apa pun yang terjadi, aku mencintaimu. Please, bangun.. aku sekarang sudah di sini. Aku tak akan pergi walau kau usir lagi. Lihat dirimu, kau bilang padaku kalau kau akan baik dan bahagia. Lihat Yilla, anak kita serta kenyataan yang tersaji di hadapanku sekarang, apa ini yang kau maksud dengan kebahagiaan melihat kalian berdua sengsara, aku sakit Yasmin.. sakit melihat ini..sakit. Ampun Yasmin.." ucap Farhat menangis dengan suara pelan tapi, dia yakin yasmin mendengar. Farhat yang menggenggam tangan Yasmin dari tadi terkejut ketika ada pergerakan sedikit dari ujung jari Yasmin. "Yasmin. Kau sudah sadar...?" bangkit Farhat dari kursi melihat wajah Yasmin yang setia terpejam. Farhat langsung memencet bel memanggil suster atau dokter.. Yilla langsung bergerak mendekati Farhat, melihat wajah Farhat basah yang tak sempat dia sembunyikan. "Tangan..T-tangan Yasmin bergerak.." jelas Farhat pada Yilla yang langsung memperhatikan Yasmin. "Bu, Yilla di sini..bangun.." ucap Yilla tepat di sisi Yasmin. Suster datang segera, mengecek denyut nadi serta kedua mata Yasmin. "Bagaimana?" Tanya Farhat. "Sebentar.." sang suster pergi lalu kembali dengan seorang dokter. Dokter itu langsung memeriksa Yasmin, Yilla sempat mengira itu Daiki namun yang muncul malah dokter lain. Ya ampun, sempat-sempatnya dia berpikir soal Daiki di saat seperti ini. Dokter memeriksa denyut nadi, mengecek detak jantung memakai stetoskop, lalu menyinari kedua mata Yasmin yang tertutup. "Nyonya Yasmin masih belum sadar. Tapi, dia merespons ucapan kalian. Kita akan lihat sekitar 2-3hari lagi, saya yakin beliau akan sadar jadi untuk sekarang tolong ajak terus pasien untuk berbicara." Jelas sang dokter lalu pamit undur diri. Farhat dan juga Yilla tak henti-hentinya berterima kasih. "Bu, Yilla di sini. Bangun ya..Yilla sayang banget sama Ibu." Peluk Yilla. Farhat memperhatikan Yasmin. Saat itulah terlihat air mata Yasmin menetes seolah masih ada yang menahannya untuk bangun. Farhat mengambil tissue melapnya lalu mengelus pundak Yilla sembari mengelus rambut Yasmin sayang. Sebentar lagi.. Ya, sebentar lagi Yasmin bangun dan mereka akan menjadi keluarga seutuhnya. *** Next ya... Jangan lupa follow, love ya... By. Violina melody
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN