"Jangan.."
"Terlalu ambigu, bagaimana kalau kita menambahkan kalimat menolak di belakangnya." senyum nakal Daiki perlahan mendekati Yilla.
"Jangan menolak.." lanjutnya langsung melumat bibir mungil di hadapannya.
***
Yilla berusaha lepas oleh ciuman yang memaksa lalu berusaha mundur tapi, hanya dinding bermarmer putih yang menjadi penanda dia tak bisa melarikan diri. Sementara Daiki hanya tersenyum kecil dengan mata membara mendekati tubuh yilla yang gemetar oleh rasa takut. Tapi, setengah dari itu ada rasa lain yang terus menghantui isi otaknya.
Dia langsung mengambil ganggang shower ingin memukul tapi, tangan Daiki bergerak lebih cepat membuat tubuhnya tersiram air dan makin mendesak mereka berdua kedinding putih. Air dari shower membuat cetakan pada perut dengan enam kotak terpampang indah, bahkan posisi mereka terlihat cukup bahkan sangat gawat.
Sial..sial..sial..
Yilla sampai meneguk ludah karena, merasa pemandangan di hadapan terlalu sayang untuk di lewatkan.
Daiki mengibas rambutnya kebelakang dengan gerakan sensual membuat nyali Yilla ciut seketika, tangan itu malah mengambil ganggang shower yang tepat menyiram celana daiki, tak menyadari mata mereka saling beradu.
"Kau ingin membuatnya tidur?" bisik Daiki. "Sekarang dia terbangun walau kau siram air dingin sekali-pun.." lanjut Daiki membuat Yilla langsung melepas genggamannya pada kepala shower hingga jatuh. Namun, tangan daiki yang dari tadi menyentuh tangan yilla langsung menarik hingga, tubuhnya jatuh pada pelukkan daiki yang menuntut.
Daiki yang telah mengincar bibir pink itu, langsung memanggut Yilla. Napas mereka saling beradu seolah berada di sebuah tempat sempit yang minim oksigen perlahan tapi, pasti Daiki terus mengalihkan pikiran sang gadis oleh ciuman basah penuh tuntutan.
Daiki mencium leher yilla bahkan mencium aroma yang selalu membuatnya ketagihan, dia mengigit kecil cuping telinga yilla serta memberi tiupan pembangkit gairah. Tubuh mereka berdua beradu, Daiki memberikan tangannya kebibir yilla sembari menjilat ujung bibirnya, seolah mengerti yilla menelan beberapa jari Daiki mengikuti nalurinya.
Walau tubuh mereka terasa dingin oleh siraman air tapi, suhu seluruh ruangan serta napas terasa panas membara, daiki melepas ciuman membuat yilla mengambil napas panjang seolah hal yang dia lakukan meninggalkan sensasi panas di sana. Seolah semua tak terkendali saat Daiki kembali menarik dagu Yilla mengajarkan dia untuk terbiasa oleh dirinya serta kelakuannya. Sesuatu seolah lepas membuat Yilla merasakannya dalam keadaan sadar, rasa yang membuat dirinya benar-benar lega dan lemas.
Saat itulah tangan Daiki makin berani berusaha menjelajah hingga, tangannya tak sengaja menyentuh bekas luka bakar di belakang tubuh yilla membuatnya langsung sadar, seketika mendorong d**a bidang itu dengan perasaan campur aduk. Suasana mendadak hening hanya suara napas dari mereka yang membuat masing-masing kebingggungan.
"Ini tidak benar." Geleng Yilla menatap Daiki tajam.
"Tidak benar?" Ulang Daiki.
"Ini salah."
"Salah? Apa yang salah?" Herannya.
"Salah, tidak benar.." Yilla mau keluar dari ruangan yang membuatnya lepas kendali. Namun, tangannya terus di tahan, tentu Daiki tak mau membiarkannya pergi.
"Jawab" ucap Daiki singkat.
"Aku tak bisa..a-aku tak bisa, ini salah.."
"Berbicaralah yang jelas."
"Aku sudah menikah.." ucap Yilla sambil menatap mata Daiki yang tak lepas darinya.
"Bukankah kau akan bercerai..?"
Yilla terdiam, Bagaimana Daiki mengetahui statusnya..?
"Kau sendiri yang mengatakan saat pertemuan kedua kita dengan suara pelan."
"Dan kau percaya?"
"Ya, aku percaya"
"Aku seorang janda. Apa kau nggak malu..?"
"Aku TAK PERDULI.."
"Aku peduli"
"Jangan lupakan soal kau yang membalas ciumanku, Yilla.." skak mat Daiki membuat dirinya tak berkutik.
"Tapi, ini terlalu cepat.."
"Terlalu cepat? Mungkin ya..tapi, bisa aku pastikan perasaanku padamu jatuh terlalu dalam. Aku sudah menyukaimu saat pertama kali kita bertemu di lorong itu, dengan tubuhmu yang gemetar seolah aku ingin menarikmu dalam pelukkan dan berkata jangan takut. Sumpah, saat itu aku berusaha berjuang agar kau tak menangis, menyelesaikan operasi dengan cepat secepat yang aku bisa.." jelas Daiki.
Yilla kembali diam, dia hanya ingat pertemuan pertamanya di depan ruang UGD ketika pintu operasi itu terbuka. Saat Daiki menatapnya tajam seolah ingin menerkam.
"Tapi, aku nggak bisa kita belum mengenal satu sama lain."
Daiki takut, beberapa kali Yilla sudah menolaknya.
"Baiklah, aku akan memberimu waktu Yilla agar kita berdua saling mengenal satu sama lain. Ingat satu hal aku tak ingin kita berpacaran, sebuah komitmen. Berikan itu, aku ingin kita serius dalam hubungan ini, aku akan memberimu cincin sebagai pengikat kita satu sama lain." Ucap Daiki mencium jari Yilla, perlahan melepas cincin nikah di jari lalu menaruhnya di telapak tangan Yilla.
"Ta.."
"Apalagi yilla ? Apalagi sayangku..?"
"Kau serius denganku..?"
"Tentu saja, apa perlu aku melamarmu di depan ayahmu? " tanya Daiki terlihat jengkel. "Berhentilah bertanya karena, aku serius dengan semua ucapanku.." langsung mencium bibir yilla dalam melepasnya saling menatap mata tak bosan.
"Yes or No.." izin Daiki mengecup bibir itu namun, malah melumatnya kuat.
"Ehmmm...muahhh...Yes tapi, aku punya satu syarat"
"Syarat??"
"Kau tak boleh menyentuhku sebelum kita menikah."
"Itu syarat yang berat sekali. Coba katakan sebatas mana yang tak boleh aku sentuh..?"
"Sebatas saat kau m-memasuki diriku" jelas Yilla dengan muka merah padam.
"Ehmm.."
"Aku akan memberikannya apabila kita sudah menikah, sebelum itu kita tunggu keadaan ibu membaik, dan meminta restunya? Selama waktu itu kita bisa saling mengenal, Pikirkanlah baik-baik soal hubungan ini. Aku hanya wanita yang berstatus janda, memiliki bekas luka bakar di belakang tubuh, sangat penuh kekurangan jauh berbeda dengan para wanita yang mendekatimu. Berbeda dengan dokter yang terlihat sempurna.."
"Apa aku belum mengatakanya..? Aku jatuh cinta padamu. Aku menyukaimu Yilla, Apa-pun yang ada padamu aku menyukaimu, aku tau pertemuan kita terbilang singkat dan ingatlah perasaanku bukan sekedar mainan. Aku mungkin telah jatuh cinta padamu di lorong rumah sakit tapi, aku serius menjalaninya denganmu walau-pun nanti aku harus menunggu.." ulang Daiki.
Yilla tersenyum mendengar jawaban daiki membuatnya kembali mencium bibir yang memerah karena bengkak, nafsu keduanya kembali bermain saat akan mencampai puncak Daiki menghentikan ciuman itu dengan sangat terpaksa.
"Sial, selesaikan mandimu. Aku akan mandi air dingin setelahnya.." jelasnya berbalik mengambil kepala shower yang terjatuh.
Yilla memeluk Daiki entah kenapa..?
Apakah seperti ini rasanya di cintai oleh seseorang?
Daiki yang di peluk hanya berdiri kaku, yilla memutar tubuh daiki. Mereka saling menatap Sementara daiki berusaha mengalihkan kepala serta pikirannya saat menatap yilla dengan pakaian basah. Dia rela kalau hanya di suruh berdiri saling bertatapan karena, dia tak akan bosan sama sekali tapi, dia khawatir kekasihnya masuk angin dan jatuh sakit.
"Cukup yilla.."
Tahan Daiki di mulut namun, tak sampai kehati. Dia menyukai apa yang di lakukan calon istrinya. Yilla malah menggeleng tak mau seolah ingin mengatakan sesuatu, Daiki mengangkat tubuh yilla mencium bibir mungil dengan penuh cinta, bergegas mandi bersama, berusaha berpikir lain saat sedang menyabuni badan gadisnya dan menekan rasa gairah. Dia tak mau melewati batas yang sudah mereka janjikan tadi.
Setelah selesai Daiki memakaikan baju hem putih miliknya yang tersisa, membaringkan yilla yang terlihat lelah dan mengantuk. Mengambil obat penahan gairah di laci samping nakas karena melihat si junior terus bangkit. Masuk kedalam selimut, mendekatkan diri lalu tidur bersama sambil berpelukkan, tersenyum tak sabar menanti besok pagi saat dirinya terbangun nanti dia tak lagi sendiri.
***
Daiki terbangun lebih dulu oleh deringan pada headphonenya. Dia melihat nama Crisya tertera di layar pintarnya. Perlahan bangkit, tak mau membangunkan wanitanya, tersenyum senang sambil terus mengelus pipi Yilla.
Keluar dari ruang Rahasia melihat Crisya yang mungkin telah lama menunggu.
"Maaf membangunkanmu, ini sesuai pesanan tadi malam. Aku tak tau cukup atau tidak, Aku beli sesuai ukuran yang sering aku pakai.." terang Crisya.
Yilla terbangun oleh suara seorang wanita, bergegas keluar mengintip Daiki yang menerima sebuah paper bag.
"Oh hai cantik, coba dulu ya takut nggak pas. Siapa tau ukuran kita sama? " jelas wanita itu tersenyum ceria.
Daiki menarik Yilla yang terlihat ngambek dari tempat persembunyiannya.
"Crisya, perkenalkan ini calon istriku, Yilla.." tersenyum senang sambil mengelus rambut wanitanya. "Yilla, ini Crisya istri dokter Luca. Dia kemari karena kuminta tolong membawa baju ganti untuk pakaianmu yang basah.." lanjut Daiki menjelaskan.
"Hai, Crisya..." memberikan tangan mau bersalaman.
"Yilla.." ucapnya menyambut. Saling berjabat tangan, Crisya tak berhenti tersenyum melihat penampilan keduanya yang terlihat jelas habis bercinta.
"Ehm..hmmm, sebaiknya kau cepat menikahi anak gadis orang, jangan cuma di kawini doang..?!" sindir crisya membuat keduanya salah tingkah.
"Ini..ti-tidak..." Yilla diam, binggung bagaimana menjelaskan saat dia menatap Daiki yang tak memakai baju memperlihatkan otot perut yang menawan sementara dia malah memakai baju hem putih Daiki yang kebesaran.
"Tak apa, tak apa. Aku pernah mengalami hal yang sama. Aku sangat mengerti. " Ucap Crisya tersenyum melihat susahnya Yilla menjelaskan.
"Mama.."
Suara pria kecil berumur 4 tahun terlihat masuk keruangan Daiki beserta pengasuhnya.
Naniel cryluc tertawa melihat tubuh daiki yang tak memakai baju, membuat kedua orang dewasa itu salah tingkah.
"Sudah mama bilang tunggu di luarkan, Sus Anie keluar dulu..!!" suruh Crisya pada sang pengasuh yang bengong sebentar melihat tubuh indah Daiki.
"Pasti paman daek sama ante itu sedang olahlaga ya, ma..?"
Pertanyaan Niel membuat Daiki, serta Crisya terbatuk serta berdehem agar menghilangkan rasa canggung sementara Yilla bersembunyi di balik punggung Daiki sambil memegang ujung celana pinggang daiki menahan muka merah menunduk malu.
"Niel seling liat papa olahlaga baleng mama telus meeleka pasti belkeliengat dan eksplesinya sepeti paman sekalang. Tiap Niel ingin ikut pasti tidak boleh..katanya Niel masih kecil padahal tinggi Niel setiap hale beltambah 2 galeis, iya kan mama..!!" celotehnya membuat semua yang ada disitu serba gemes mencoba menerjemahkan ucapnnya.
Gemes juga oleh topik yang dia bahas serta ucapan yang tak sampai serta ekspresi serba polos yang memang tak mengerti apapun.
"Niel boleh kut olahlaga baleng paman ama ante ya..?"
"Nggak boleh Niel, olah raga itu berat.. nanti kamu cape lo, kamu masih kecil.."
"Kecil..kecil Niel udah besal lo. Ya kan, ma.." meminta dukungan.
Crisya cuma tertawa melihat anaknya sibuk mengerjai Daiki.
"Niel, ayo kita jemput papa Luca dulu.." Crisya berusaha membujuk Niel.
"Nggak ma, Niel mo sama paman Daek. Mo olahlaga baleng.." tolaknya.
"Yakin nggak mau ikut mama jemput papa Luca..?"
"Ya ma, mau ama paman Daek aja.." membuat Daiki panik.
" Katanya mau makan es cream tadi..?"
"Oh ya, lupa. Paman daek, Niel lupa ada janji sama papa Luca karena, hari ini Niel sibuk nanti jadi besok aja kita olahlaganya ya baleng ante cantic.." setelah berkata seperti itu lalu menarik tangan Crisya keluar dari ruangan Daiki, sementara Crisya cuma bisa tertawa lepas.
"Yeaaaa....." pekiknya Niel girang tak menyadari Crisya mengalihkan pembicaraan.
"Crisya, terima kasih.." teriak Daiki saat pintu ruangannya tertutup.
"Kembali kasih, dah..Yilla.."
"Paman daek jangan telalu kelas kasian antee nanti kecapean..olahlaganya.." tiba-tiba muncul kepala di balik pintu ruangan sambil mendadahi keduanya lalu hilang sementara Crisya cuma bisa tertawa melihat tingkah Neiel, sambil mengelus kepala anaknya sayang.
"Bagusin dulu Rrr mu, niel.." balas Daiki tertawa melihat buah yang tak jatuh dari pohonnya, dasar sifat Bapak dan anak sama saja, suka banget ngerecokin orang.
***
Farhat keluar dari kamar menyuruh Ryu untuk membeli kopi di kafetaria rumah sakit. Dia merasa butuh asupan kafein pagi ini, menatap sofa panjang tempat biasa Yilla tidur.
Sepertinya pagi ini anak gadisnya telah bangun pagi seperti biasa, farhat terlalu lelah tak menyadari Yilla menghilang semalam. Saat menutup pintu kamar dia melihat sosok Yilla dan dokter Daiki berjalan bersisian menuju kamar. Farhat masuk kedalam kamar berdiri tepat di depan pintu, saat keduanya sedang berbicara.
"Aku harap ini bukan mimpi, jujur kalau itu terjadi aku tak ingin terbangun.." jelas Daiki menahan tangan yilla yang ingin masuk kedalam.
"Untuk sementara, aku harus fokus menjaga ibu. Aku harap kamu mengerti.."
"Tentu saja, soal hubugan kita, aku ingin meminta izin tuan Farhat untuk menjalin hubungan serius denganmu." ucap Daiki ingin mencium kening Yilla
Suara deheman Farhat membuat keduanya langsung melepas pelukkan, pintu kamar terbuka menampilkan raut serius Farhat yang memandang dokter Daiki serta Yilla bergantian.
"Selamat pagi Dokter, Yilla kamu sudah sarapan..?"
"Sudah tadi bareng dokter Daiki, tuan.."
"Masuklah.."
Perintah Farhat membuat Yilla menurut masuk kedalam, meninggalkan kedua pria yang terlihat tenang namun, di dalam hati gemuruh sedang bersiap keluar.
"Dokter, saya baru bertemu dengan anak gadis saya beberapa bulan yang lalu, banyak kejadian buruk atas kelalaian saya yang tak bisa menjaga mereka dan semenjak saat itu saya berjanji akan melakukan apapun untuk kebahagian mereka berdua.."
Daiki dengan tenang mendengar penjelasan Farhat yang membawanya menjauh dari ruangan kamar. Mereka menuju taman yang tak jauh dari situ, Farhat menatap mata Daiki mencari sela serta ekspresi saat dia mengatakan satu permintaan.
"Intinya, saya ingin anda menjauhi Yilla, anak saya..! Dia sedang tertimpa kemalangan, saya tak ingin anda yang sangat sempurna hanya mempermainkan dirinya. Saya yakin banyak gadis cantik yang mengejar cinta anda, pilihlah salah satu dari mereka asal jangan anak saya.."
"Untuk hal itu saya tak berani berjanji, Tuan..! Saya telah jatuh hati pada anak anda sejak pertama kali bertemu, saya harap anda membuka sedikit jalan untuk saya membuktikan kesungguhan itu..?!"
"Jadi jawabanmu.."
"Tidak, saya tidak bisa menjauhi anak gadis anda. Malah saya ingin menyatakan langsung serta meminta izin pada anda soal keseriusan saya menjalin hubungan dengan putri anda.."
"Kau tau bukan Yilla masih berstatus menikah." Ungkap Farhat. "apa kau tau hal itu..?" lanjutnya.
"Tau tuan, saya rasa seharusnya menantu anda itu mendampingi Yilla tapi, lihat sampai sekarang dia tak muncul meninggalkan tanggung jawabnya."
"Jangan sebut b******n itu. Dia bukan siapa-siapa.."
"Maafkan saya kalau ucapan ini terdengar, lancang Tapi, kalau memang Yilla menolak keberadaan saya, saya akan mundur..?!" jelasnya tegas. " saya serius tuan, saya menyukai apapun yang ada pada putri anda.." lanjutnya.
"Apa tujuanmu sebenarnya, apa karena menginginkan harta ?"
Daiki hanya diam.
"Kau bisa mendapatkannya tanpa mendekati anak gadisku.."
Daiki mulai kesal, "Tuan saya tidak perduli Yilla mempunyai harta atau tidak. Saya adalah Pria yang sehat dan mampu untuk berkerja serta menghidupi istri dan anak saya kelak, walau sesusah apa-pun saya akan bertanggung jawab penuh atas keluarga saya..?! " terang Daiki tegas menatap mata Farhat yang seolah tak setuju tentang hubungan mereka berdua.
"Baiklah, kita lihat seberapa besar kesungguhanmu..!"
Farhat bergegas pergi dari taman, meninggalkan Daiki yang langsung menutup wajahnya serta menyisir rambutnya kebelakang. Dia merasakan nyeri kepala, tak menyangka calon mertuanya sangat keras serta posesif sekali.
" Paman daek keyyyennn..." pekik Nael yang keluar dari semak-semak berikut Luca yang muncul sambil memegang es cream yang telah meleleh di sekujur tangannya.
"Paman Daek malahin kakek tua itu, dia kalah papa terus langsung pelgi..!!" simpul Nael melihat kejadian dalam versi ceritanya.
"Mantap bro, jawabannya tegas banget..!" dukung Luca.
"Mantap..mantap, nie mantap kan...!!" omel Crisya menjewer telinga Luca menariknya keluar dari semak. "Ngajarin anak hal buruk lagi, ngapain nguping masalah orang hah..?? Liat tu..baju Niel jadi kotor kan, kotor tanah itu susah di bersihin belum lagi es creamnya belepotan kebaju tuh..!!"
"Ampun sayang...sakit..sakit..sakit.." jerit Luca kesakitan sambil memegang kupingnya.
"Hahahaha..." tawa Niel geli melihat papanya tersiksa minta ampun.
"Kamu juga ya, Niel..! Papa sama anak sama aja.. Mama kan sudah bilang berkali-kali jangan mau ikut papa kalau main di tempat-tempat kotor. Liat baju kamu penuh tanah kan..?!" jewer Crisya ketelinga kecil Niel yang langsung mengaduh kesakitan mengikuti Crisya berjalan.
"Aduh...aduh..mama. Ampun..takit..ma..takit.." pekiknya kesakitan. "Kan kata iklan, kotor itu baik..?" Jawabnya membela diri.
"Baik dari hongkok hah, kamu pikir.. bikin mama cape nyuci bajumu yang penuh lumpur itu baik..? liat aja entar itu iklan Deterjen, mama tuntut gara-gara bikin pembohongan publik..!" omel Crisya menyeret keduanya tanpa perduli oleh tatapan orang yang tertawa geli.
Daiki tertawa iri melihat kehidupan Luca yang sempurna, dia juga menginginkan hal serupa. Tersenyum membayangkan kehidupan pernikahannya nanti bersama Yilla.
***
Yilla mengambil sesuatu dari dalam sakunya, cincin yang selama ini mengikat hidupnya.
Kini tidak alasan untuk kembali, dia sudah di cerai dan di usir. Memperhatikan Yasmin memilih menyimpan kembali cincin kesaku celana dan bergegas melakukan aktivitas pagi.
Dia harus kembalikan cincin pernikahan juga mengirim surat cerai, tak mau menunggu Ardi untuk mengurus semua karena, pasti Ardi tak akan mau melakukan hal yang merepotkan.
"Ibu bangun, Yilla butuh ibu.." adu Yilla sambil membersihkan tubuh Yasmin dengan handuk basah.
Sementara di luar, Ryu menyerahkan kopi yang agak dingin ketangan Farhat saat tuannya baru datang. Dia terlihat kesal sekali saat menyesap kopi itu dalam sekejab lalu membuangnya ketempat sampah.
"Kopi ini sudah dingin?"
Ryu langsung mengangguk mengerti, berbalik untuk membeli kopi yang baru. Farhat menarik napas lelah tak mengerti sebenarnya apa yang terjadi, merubah raut wajah kusutnya lalu masuk perlahan kedalam kamar.
Melihat Yilla yang sudah selesai memandikan Yasmin serta merapikan bajunya seperti biasa.
Headphone Yilla bergetar, tertera nama Murni pada layar. Agak ragu namun, tetap dia angkat.
"Hallo.."
"Hallo, Yilla. Kamu di mana ? kamu baik-baik saja?"
Yilla binggung mau menjawab apa.
"Yilla, pulang nak? Ardi bikin kamu marah lagi ya..?" Tanya Murni.
Dia mau bilang apa, bukan Yilla yang marah tapi, Ardi lah yang marah dan tak mau berurusan dengannya lagi.
"Yilla nggak bisa balik, Ma. Ibu lagi ada di rumah sakit.." jelas Yilla.
"Di rumah sakit. Yasmin, sakit apa? " Terkejut dan memang Murni baru tau.
"Udah di tangani kok, Ibu udah membaik.." kata Yilla menjelaskan sementara Farhat memperhatikan percakapan keduanya.
"Kamu di mana ?" Tanya Murni mau bergegas dan membatalkan liburan yang sudah setengah.
"Yilla di Singapura, ma.."
"Ardi yang bawa.."
Suara tawa sedih Yilla terdengar nyaring dari ujung telepon itu.
"Hah, Ardi gak akan mau mengeluarkan uang sepeser pun buat Yilla serta ibu, ma.."
"Maksud kamu.."
"Yilla tak pernah di beri uang kecuali, untuk keperluan dapur. Bahkan demi membayar biaya rumah sakit ibu, Ardi meminta cerai dari Yilla. Kebetulan mama menelpon Yilla, boleh kan mama urus surat perceraian Yilla bersama Ardi. Jadi Yilla tak punya hubungan dengan anak mama dan Ardi bisa bebas melakukan apa-pun yang dia mau.." pinta Yilla berharap semua selesai dengan cepat.
"Yilla, mama tau Ardi tak memperlakukanmu dengan baik. Tapi, bisa kan kamu beri dia kesempatan untuk berubah." Mohon Murni.
"Terlambat, ma.. Yilla udah cape." Tolak Yilla.
"Mama mohon Yilla, ingat janji kamu sama papa Ardi kan.."
"Udah nggak bisa, ma. Yilla nggak kuat..sakit Yilla, ma.."
Farhat langsung merebut headphone Yilla, "Cukup Murni, kau mau apa lagi? Belum puas kau melukai anak dan istriku. Aku sudah cukup bersabar selama ini, aku sudah sangat percaya oleh semua ucapanmu. Tapi, apa yang aku dapat? Istriku hampir mati.."
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Farhat.." ucap Murni panik di seberang sana.
"Cukup, jangan lagi kau cari anak atau istriku. Urusan kita belum selesai, ingat itu baik-baik.."
Tit..
Yilla langsung melap air matanya, merasa lelah dan perlahan menuju sofa panjang berbaring sambil memejamkan mata. Farhat mendekati Yasmin mencium keningnya, kembali keluar mendatangi Ryu yang sudah datang dengan kopi yang baru.
"Bagaimana hasilnya ?" tanya Farhat serius sambil meniup lalu menyesap sedikit rasa dari pahitnya kopi berusaha meredakan amarah yang bertambah.
"Mereka sedang gelabakan, sejak tuan menarik semua saham semua investor ikut kabur. Tinggal menunggu waktu perusahaan itu tak akan bertahan lama. Lalu saya dengar Ardi membayar beberapa orang detektif untuk mencari keberadaan nona Yilla.." lapor Ryu pada Farhat.
"Tak apa, biar mereka tau keberadaan Yilla tapi, pastikan tak ada seorang-pun yang berani menyentuhnya. Perketat penjagaan di seluruh rumah sakit ini..?! Aku ingin liat apa setan itu berani menampakkan wujudnya di hadapanku..!!" Senyum Farhat
"Baik tuan.."
***
Enjoy my story..
Jangan lupa Follow dan love untuk tau kelanjutan kisahnya ya..
Bye..bye..
Violina melody.