2. Saling Menguntungkan

1358 Kata
Wajah Sascha sampat berubah pias saat mendengar permintaan Elio. Sascha benci jika harus berada di dalam kamar bersama lelaki yang bukan siapa-siapa. Namun, dia tidak mungkin menolak. Sascha bukan wanita yang dengan mudahnya mengingkari janji. "Kenapa? Takut?" tanya Elio saat Sascha menghentikan kakinya tepat di depan pintu. Ya. Takut. Sangat takut. Namun, Sascha tak pernah mau menunjukkan rasa takut. Alih-alih mengangguk, dia justru tersenyum simpul. "Kamu harus tau kalo aku nggak pernah punya rasa takut, El," ucap Sascha. "Nice. Dan kamu juga harus tau, Sha," balas Elio seraya mendekat bibirnya pada wajah Sascha. "Aku juga nggak pernah takut buat melakukan apapun yang aku mau." Sascha masih tampak tidak gentar. Dia menantang manik mata Elio dengan senyum yang masih mengembang. "Kita sama-sama pebisnis, El. Kamu ngasih aku satu, aku bakal kasih satu juga. Jadi, jangan pernah minta dua, apalagi lebih." Elio terkekeh. "Sekarang aku bisa liat ketakutan kamu." "Non. Aku cuma nggak mau rugi. Aku mau semuanya setimpal." Seutas senyum tertarik tipis di bibir Elio. Sascha yakin, Elio tidak akan berbuat macam-macam padanya. Elio bukan tipe lelaki yang suka melecehkan wanita. Namun, Sascha bisa meraba sebuah rencana besar di kedua mata Elio. Sialnya, Sascha sama sekali tidak bisa menebak. Jika berhadapan dengan musuh, Sascha masih bisa meraba strategi lawan. Sascha juga bisa dengan mudah menentukan langkah mana yang akan dia ambil. Namun, bersama Elio, entah mengapa Sascha menjadi buta. Mereka sudah bertahun-tahun tidak bertemu, dan saat kini berhadapan lagi, Elio memberikan kesan pertama yang sangat berbeda. Elio yang sekarang jauh lebih tertutup dari Elio yang bahkan sejak dulu sudah terkenal misterius. Walau dulu pernah beberapa kali terlibat bersama Elio dalam acara kampus, tapi Sascha tidak pernah mengenal banyak tentang diri lelaki satu ini. Elio cukup terkenal di kalangan mahasiswa dan sering menjadi pengisi beberapa acara. Dia adalah lelaki jenius yang mau berbagi semua tentang ilmu yang dia punya. Namun, Elio tidak pernah membagi sedikit pun tentang kehidupan pribadi. Dan ternyata, sikap tertutup itu masih saja bertahan hingga sekarang. Sascha sudah cukup terbuka kepada Elio. Dia terang-terangan menjelaskan kalau dia memanfaatkan Elio untuk bisa menyembunyikan hubungannya dengan Allan. Namun, keterbukaan Sascha tidak berhasil menyulut rasa terbuka pada diri Elio juga. Lelaki itu tetap tidak mengatakan sedikit pun tentang masalah yang ada pada dirinya. "Turuti aja semua yang aku bilang. Cuma itu," tegas Elio. "Iya, tapi aku harus gimana?" tanya Sascha yang masih saja menuntut penjelasan. "Aku harus apa, melakukan apa, ngomong apa, atau —" "Diem." pungkas Elio memotong pembicaraan Sascha. Sascha tersentak dengan mata yang membulat. Damn! Elio tidak membentak, tidak pula meninggikan suara. Namun, ucapannya mampu menyihir Sascha. Wanita itu seketika membungkam mulut dan tak lagi ada niatan bertanya. "Diem dan turutin apapun yang aku bilang," ucap Elio. Elio menekankan sekali lagi perintahnya. Kepalanya menunduk ke bawah menatap wajah Sascha yang pada akhirnya mengangguk patuh. Jarang sekali Sascha mau menuruti kemauan seseorang. Namun, entah mengapa Elio sangat mampu mendominasinya. "Ngerti?" tanya Elio. "SÌ." Elio lantas menggandeng Sacha dengan tangan kanan, sedang tangan tangan kirinya meraih gagang pintu. Sascha mulai menahan napas. Elio merekatkan jemarinya dengan kencang. Lelaki itu seolah sedang memberi tanda bahwa Sascha harus selalu berada di bawah kendalinya. Begitu pintu terbuka, Elio langsung menoleh ke arah Sascha. Bukan untuk mengatakan sesuatu, tapi Elio justru tersenyum. Hanya tersenyum. Sascha tidak tahu apa maksud dari tarikan bibirnya, tapi Sascha tahu kalau Elio sedang memberinya tanda. Perlahan, Elio tampak memindai seisi ruang. Setelahnya, dia kembali berbalik ke arah Sascha. Ketika pintu kamar akhirnya tertutup, Elio langsung menarik kencang tubuh Sascha. Kedua tangan Sascha refleks menepis tubuh Elio. Dia sangat tidak siap ketika tiba-tiba Elio membawanya ke dalam dekapan. Namun, Sascha kembali sadar bahwa sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk melawan. "Sorry, Sha. Please, diem. Sebentar aja. Nggak akan lama," bisik Elio tepat di telinga Sascha. Sascha tidak menjawab, tapi kepalanya mengangguk. "Elio," pekik seorang wanita dari dalam ruangan. Mendengar suara seorang wanita, bukannya melerai pelukan, Elio justru semakin mengeratkan lilitan tangan. Dia bahkan menuntun tubuh Sascha untuk bersandar pada dinding, lalu kemudian menghimpitnya. Sascha langsung paham. Berbanding terbalik dengan dirinya yang berpura-pura bersama Elio agar bisa terus melanjutkan hubungan dengan Allan, Elio justru berpura-pura bersama Sascha agar bisa terlepas dari seorang wanita. "El," panggil wanita itu lagi. Suara derap langkah terdengar beriringan dengan suara panggilan. Sepertinya, si wanita tengah berjalan mendekat ke arah mereka. Tanpa perlu disuruh, Sascha cepat-cepat membalas pelukan Elio. Dia mengalungkan tangan di leher dengan wajah yang sengaja di dekatkan pada pipi dan telinga. Yaaa... anggap saja ini wujud ucapan terimakasih Sascha karena Elio sempat dengan kreatifnya mengarang kebohongan di depan Rich tadi. "Dammi un bacio," bisik Elio. Sascha tampak sangat ragu. Dia tidak mau memberikan bibirnya pada lelaki satu ini. Namun, ... sial! Elio sudah terlanjur dengan cepat mendaratkan bibirnya pada bibir Sascha. Pertahanan diri Sascha membuat tubuhnya spontan bergerak mundur. Namun, upayanya tidak juga membuahkan hasil. Tidak ada lagi ruang untuk Sascha melangkah ke belakang. Terlebih lagi, kedua tangan Elio kini sudah menangkup kedua sisi wajah Sascha. Ah, sial! Kali ini tak hanya berpelukan, tapi mereka bahkan juga sedang berciuman. Kalau bukan karena Elio telah berjasa membebaskan dirinya dari kecurigaan Rich, Sascha pasti sudah mencincang habis tubuh lelaki di hadapannya ini. "Elio." Suara wanita itu sudah terdengar cukup dekat. Namun, bukan lagi berupa teriakan, tapi kini lebih mirip seperti bisikan. Setelah memastikan bahwa wanita itu berada di belakangnya, Elio lantas melepaskan Sascha. Mata mereka sempat beradu sebentar. Dan lagi-lagi, Sascha masih gagal menebak arti tatapan mata Elio. "Anna," ucap Elio saat dirinya berbalik pada wanita di hadapannya. "Tadi aku udah bilang, kamu bisa pulang dulu. Kenapa masih disini?" "Kenapa nyuruh aku pulang? Biar kamu bisa berduaan sama selingkuhan kamu itu?" balas Anna. "What? Selingkuhan?" ucap Elio sambil setengah tertawa. "Aku nggak ngerasa nyelingkuhin siapa pun. Aku lelaki bebas." "Jadi kamu nggak pernah nganggep hubungan kita?" "Anna, sejak awal, aku udah bilang kalo di antara kita nggak pernah ada apa-apa," tegas Elio. Begitu kalimat itu terucap, Anna tampak meloloskan air mata dari pelupuknya. Buru-buru dia meraih sebuah tas, lalu beranjak dari tempat dia berdiri. Sebelum keluar dari kamar, Anna sempat berdiri tepat di hadapan Elio. Mereka beradu pandang selama cukup lama, sebelum akhirnya Anna mendaratkan tamparan yang cukup kencang. Elio tidak merespon sedikit pun. Dia tidak berkata, tidak pula bereaksi apa-apa. Tamparan di pipinya bahkan seperti tidak terasa. "Dia pacar kamu?" tanya Sascha begitu sosok Anna sudah tidak terlihat. "Bukan." "Tapi kalian keliatannya deket." Elio menoleh ke arah Sascha. "Bukan urusan kamu, Sha." "Ya aku cuma nyimpulin dari apa yang aku liat. Dia keliatan cinta banget sama kamu, El." "Tapi aku enggak." Elio melangkah masuk mendekati nakas. Sebuah botol minum segera dia raih, lalu menenggaknya hingga tandas. Hari ini sungguh sangat melelahkan. "Kamu nggak kasian sama Anna?" tanya Sascha yang masih saja membahas sesuatu yang tidak ingin Elio bahas. "Non." "Kamu nyakitin dia, El." "Enggak. Aku justru sedang menyelamatkan dia dari rasa sakit yang lebih parah," balas Elio. Elio tidak pernah mencintai Anna. Jika Anna selalu berada di sekitar Elio, wanita itu pasti mengharapkan sebuah kesempatan. Elio tidak mungkin bisa memberinya cinta. Jadi, daripada Anna semakin terluka, lebih baik Elio melepaskannya dengan paksa. Sejak awal Anna mengejarnya, Elio sama sekali tidak pernah menanggapi. Berbagai cara sudah Elio lakukan agar Anna berhenti. Namun, Anna bersikeras untuk bertahan. Anna bilang, suatu saat, dia akan mampu membuat Elio jatuh cinta. Hal itu tentu saja tidak akan pernah terjadi. Elio tidak pernah percaya akan cinta. Baginya, perasaan itu hanyalah bualan belaka. Elio selalu berpikir kalau hanya orang bodoh yang percaya dengan perasaan semacam itu. Berbagai macam penolakan sudah Elio lakukan. Lelaki itu sampai kehabisan cara untuk membuat Anna menyerah. Beruntung, hari ini Tuhan menawarkan sebuah cara melalui pertemuannya bersama Sascha. Dan, ya. Cara ini akhirnya berhasil. "So, kita udah impas. Seneng bisa berbisnis sama kamu, El. Aku mau naik dulu," ucap Sascha. "Grazie." Sascha mengangguk. Dia lantas berbalik dan mulai melangkah mendekati pintu. Namun, tepat saat Sascha hendak keluar, dia terpikirkan akan satu hal. "El." "Sha." Elio dan Sascha saling memanggil secara bersamaan. Mereka lantas saling pandang, lalu Elio-lah yang terlebih dulu melanjutkan ucapannya. "Sha, aku pikir kita bisa lanjut buat melakukan banyak hal yang saling menguntungkan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN