10. Bulan Depan?

1256 Kata
Makan siang sudah hampir usai, tapi pertunjukan belum juga usai. Elio masih menjadi pusat perhatian semua orang. Walau hanya diam dan tidak bicara jika tidak ditanya, lelaki itu tetap berhasil merebut hati keluarga Sascha. Elio siang ini benar-benar menjelma menjadi lelaki yang sangat mencintai Sascha tanpa perlu berkata kalau dia cinta. Dia manis tanpa perlu berucap kata-kata manis. Dia sudah perhatian tanpa perlu bertanya apa yang Sascha perlukan. Nick dan Rich sesekali masih mengajak bicara, tapi Elio tetap berhasil memecah fokus menjadi tiga. Satu untuk menanggapi obrolan, satu untuk dirinya sendiri yang sedang makan, dan satunya lagi untuk Sascha. Elio masih sempat menuang minuman saat Sascha tersedak. Ketika seorang pelayan membawakan buah peach, Elio juga yang membantu membuka penutup kaleng. Bahkan, saat Sascha menunduk untuk mengambil napkin yang terjatuh, Elio segera memegang tepian meja agar kepala Sascha tidak terbentur ketika berdiri. Tak cukup sampai disitu, kini semua orang lagi-lagi disuguhkan dengan keromantisan yang baru. Sascha tengah asyik membelah kue mochi menggunakan kedua tangan. Jemarinya bertepung, dan dia kesulitan menyibak rambut yang terjuntai menutupi pipi. Melihat Sascha yang hanya bisa mengandalkan punggung tangan, Elio pun akhirnya berdiri. "Karet rambutnya mana?" tanya Elio seraya menyisir rambut Sascha menggunakan jari. "Disitu." Sascha menunjuk saku kecil yang berada di pinggiran tas. Tangan kiri Elio lantas menahan rambut Sascha dalam satu genggaman. Setelah tangan kanan berhasil meraih sebuah karet berpita, Elio segera mengikat seluruh rambut Sascha. Hebatnya, hasilnya rapi seolah Elio sudah terbiasa dengan hal semacam ini. "Kepang sekalian aja, El," celetuk Rich. Elio tertawa ringan, lalu kembali duduk. "Jangan dimanja terus, El. Udah dasar manja, ntar jadi tambah manja." Kali ini giliran Jenna yang bicara. "Nggak papa. Biar hidup saya tu ada gunanya," jawab Elio. Jenna sontak tergelak diikuti suara tawa seluruh penghuni meja. Berbanding terbalik dengan Sascha yang hanya diam sambil melipat bibir. "Emang aku manja?" Sascha ikut menyahut. Semua orang tersenyum, termasuk Elio. "Enggak kan, El?" tanya Sascha lagi. "Enggak. Mandiri banget malah," balas Elio yang lantas merentangkan tangan, lalu menaruhnya di pundak Sascha. "Tapi ... kalo sama aku ya manja." Semua orang kembali melepas tawa. Sosok Sascha yang muncul sebagai pimpinan perusahaan memang sangat berbanding terbalik dengan Sascha ketika di rumah. Sascha di perusahaan terkenal sangat tegas dan cenderung keras. Dia sulit menoleransi kesalahan, pun cukup gila kerja. Sascha persis seperti Nick versi wanita. Namun, Sascha benar-benar berbeda ketika bersama orang terdekat. Dia menjadi seperti gadis kecil yang selalu ingin disayang dan diperhatikan. Tak jarang, Sascha juga menampakkan sisi lemah ketika bersama Jenna. Itulah mengapa keluarganya menyebut Sascha sebagai anak gadis yang manja. "Masih manja kok berani nikah," celetuk Nick kemudian. Setelah kata-kata itu terucap, hanya senyum yang bisa semua orang berikan. Mereka semua sadar kalau suasana meja makan seketika berubah menjadi lebih serius. Hening sempat menyergap selama beberapa detik. Tidak ada yang bersuara, termasuk Nick. Semua orang seperti sedang saling menunggu, siapakah yang akan memulai pembicaraan. Alhasil, Elio memecah keterdiaman dengan sebuah deheman pelan. "Mr. and Mrs. Schneider, Rich, Kak Feyra, saya dan Sascha udah saling kenal lama. Selama kami bareng, kami seneng, kami saling sayang, kami cocok, dan kami sama-sama nyaman. Nggak ada masalah yang berarti dari kebersamaan kami. Selama sekian lama, kami ngerasa bahagia. Jadi, kami berpikir, kenapa nggak untuk selamanya aja?" ucap Elio mengawali pembicaraan. Nick, Jenna, Rich, dan Feyra masih diam mendengarkan. Sementara di samping Elio, Sascha menahan napas dengan mulut yang sedikit terbuka. Sascha masih tidak menyangka hari ini akan terjadi. Kedua mata Sascha beradu sebentar dengan manik kehijauan milik Elio. Sascha tampak gugup, sementara Elio jauh lebih tenang. Lelaki itu tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala pada Sascha. Detik selanjutnya, Sascha pun ikut mengangguk. "Dan pada akhirnya, kami memutuskan untuk menikah," lanjut Elio tegas. "Kamu yakin?" sahut Jenna. "Yakin." "Sascha?" Merasa namanya disebut, Sascha seketika mendongakkan kepala. Dia bisa melihat kebimbangan di wajah Jenna. Feeling seorang ibu memang kuat. Namun, Sascha tentu tak mau membuat rencana mereka gagal. Sascha harus bisa berkamuflase dengan sempurna. Setelah senyum dan mengiyakan, Sascha lantas mengawali cerita dengan mengenalkan Elio secara resmi sebagai pasangannya. Sedikit latar belakang Elio juga sempat dijelaskan secara singkat. "El dulu kakak tingkat aku waktu kuliah. Kita mulai deket dari sana," ucap Sascha. Sama halnya dengan Elio, Sascha juga mengungkapkan kebahagiaannya. Dia juga mengarang cerita bahwa mereka sengaja tidak menunjukkan hubungan mereka selama ini. Beberapa tahun terakhir, Elio cukup disorot media sebagai pebisnis muda yang sangat sukses. Mereka berdua takut kisah asmara Elio terseret media, dan keduanya juga lebih nyaman untuk menjalani hubungan diam-diam. Rasanya lebih tenang. "Beberapa waktu lalu, El akhirnya lamar aku, and I said yes," ucap Sascha. "Ibu udah denger cerita Papa waktu ketemu kalian di Roma. Ibu sih setuju-setuju aja. Tapi, inget. Pernikahan itu bukan main-main. Komitmennya seumur hidup. Satu kali untuk selamanya," timpal Jenna. Hati Sascha sempat tersentil. Ada sebuah kecamuk tidak nyaman ketika mendengar ucapan ibunya. Namun, Sascha tidak punya waktu untuk menyelami perasaannya sendiri. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan kini adalah mengangguk dan tersenyum. Elio menoleh mengamati mimik wajah Sascha. Tangannya lantas terulur mengusap punggung hingga belakang kepala. Kali ini, Elio benar-benar melakukannya dengan hati. Dia bisa berempati atas perasaan Sascha yang sebenarnya. "Semua akan baik-baik aja, Sha. I promise you," lirih Elio. Sascha langsung menoleh seketika. Perkataan Elio mungkin tidak terdengar oleh keluarganya. Namun, suara setengah berbisik itu sangat jelas di telinga Sascha. Walau hanya kalimat sederhana, tapi ucapan itu mampu membuat Sascha menjadi jauh lebih tenang. Elio seperti menyihir dan memberikan sebuah rasa percaya kalau semua memang akan baik-baik saja. "Kapan rencananya?" Kali ini giliran Rich yang bertanya. "Bulan depan," tegas El. "What?!" Tidak ada yang tidak terkejut mendengar jawaban dari Elio. Satu bulan untuk merencanakan sebuah pesta pernikahan terdengar mustahil. Ini terlalu cepat dan terang saja akan mengundang kecurigaan. "Secepat itu? Why?" tanya Rich lagi. Semua orang pasti mempertanyakan rencana pernikahan mereka yang terkesan terburu-buru. Namun, tentu Elio dan Sascha sudah mendiskusikan tentang hal ini. Keduanya sudah menduga kalau pertanyaan semacam itu pasti akan terlontar. Jadi, Elio dan Sascha sudah mempersiapkan jawabannya sejak awal. Sebuah alibi yang akan sangat masuk akal. Dan sebuah alibi yang di sisi lain memang Sascha inginkan. "Aku mau mundur dari kantor pusat," ucap Sascha. Ini adalah ungkapan yang jujur. Sascha sudah cukup lelah memimpin seluruh perusahaan. Dia memang tidak mungkin dan tidak ingin berhenti. Namun, Sascha meminta untuk tidak lagi memegang kantor di Hamburg. Kota itu menjadi pusat dari seluruh perusahaan mereka. Tak hanya di Jerman, melainkan seluruh dunia. Sascha sudah berjuang mengembangkan semuanya, dan dia berhasil. Namun, tenaga, pikiran, dan mental dia sudah cukup tertekan. Terlebih lagi, Sascha berdiri seorang diri. Rich masih sibuk di dunia pelayaran. "Aku tetep bakal stay. Aku bisa handle semua urusan di beberapa kota dan beberapa negara. Tapi aku beneran butuh bantuan buat di kantor pusat. Aku nggak bisa sendiri," lanjut Sascha. Membawahi puluhan perusahaan bukan hal yang mudah. Tiap harinya, Sascha selalu digandrungi dengan berbagai macam masalah. Pencapaian memang berhasil Sascha dapat. Namun, itu semua tidak luput dari perjuangan yang berdarah-darah. Sascha masih akan menjadi CEO perusahaan mereka. Dia masih bersedia memegang kendali perusahaan. Namun, untuk kantor pusat di Hamburg, Sascha benar-benar butuh pengganti. "Papa udah tua, Sha. Masak balik lagi," sahut Nick. "Kan ada Rich." "Aku?" tanya Rich kaget. "Please." "Kalo nikah jadi alesan menghindar dari kerjaan, itu bukan hal yang tepat, Sha" jawab Rich. "Enggak, bukan. Sebenernya aku sama El udah rencanain nikah sejak lama. Tapi karena dua bulan lagi bakal ada rapat besar pemegang saham di kantor pusat, aku rasa nikah bulan depan adalah waktu yang paling tepat. Aku mau sekalian kasih pengumuman, terus aku mau ikut El ke Italy."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN