42. Keputusan

2247 Kata

"Rich," lirih Sascha begitu dia menyambungkan telepon pada kakak lelakinya. "Iya, Sha. Udah sampe Italy?" "Udah." "Tumben telpon. Kenapa?" Sascha tak menjawab. Beberapa kali Sascha sudah mencoba membuka suara. Namun, tetap tidak ada satu kata pun yang keluar. "Sha." Sascha hanya menggumam pelan. Sedu sedan sudah hampir pecah. Walau air mata menggenang dan hampir tumpah, tapi pada akhirnya Sascha tetap mencoba menyapa Rich dengan suara renyah. Begitu bayang tubuh Allan menghilang satu menit yang lalu, Sascha refleks meraih ponsel untuk menghubungi Rich. Sejak masih kecil, Sascha terbiasa mengadukan segala permasalahan kepada kakak lelakinya. Hingga sekarang pun kebiasaan itu masih sama. Hampir saja Sascha kelepasan untuk mencurahkan semua cerita tentang Allan. Untungnya, Sascha seger

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN