KH Muqoyyim Abdul Hadi Cirebon

3266 Kata
Syaikh Muqqoyim Abdul Hadi Pendiri Pesantren Bunten dan Pejuang Rakyat Cirebon Mbah Muqoyyim, pendiri Pondok Buntet Pesantren. Dia merupakan cucu dari Ki Lebeh Mangku Negara Warbita yang merupakan santri Sultan Demak Abdul Fatah. Ki Lebeh juga pernah nyantri ke Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Pondok Buntet Pesantren, yang berada di wilayah Timur Cirebon, didirkan oleh Mbah Muqoyyim 1750. Pendirian Pesantren ini merupakan sebuah bentuk kekecewaan Muqoyyim yang sebelumnya menjabat sebagai penghulu di Keraton Kanoman Cirebon. Karena keberpihakan pihak keraton terhadap kolonial Belanda, Muqoyyim akhirnya memilih untuk keluar dari keraton dan mendirikan pesantren Buntet. Nama Buntet sendiri dari peristiwa penculikan Puteri Dewi Arum Sari (Putri Raja Galuh) oleh buto ijo saat sedang melakukan bulan madu bersama suaminya Pangeran Legawa (Putra Ki Ageng Sela). Puteri Arum Sari yang sedang mandi, tiba-tiba diculik oleh buto ijo dan dibawanya ke hutan Karendawahana (diperkirakan sekitar Buntet sekarang). Diwilayah tersebut, terjadi perkelahian antara Buto Ijo dan Pangeran Legawa yang dimenangkan oleh Pangeran Legawa dengan bisa membinasakan Buto Ijo. Saat menuju perjalanan pulang, Pangeran Legawa tersangkut akar pohon dukuh sehingga keduanya jatuh. Anehnya setelah peristiwa tersebut, Pangeran Legawa maupun Puteri Arum Sari tidak mengetahui arah jalan pulang. Akhirnya pasangan suami isteri tersebut memutuskan untuk tinggal diwilayah tersebut dan membuat pesanggarahan dengan nama Buntet atau buntu. Buntet juga banyak dikenal dengan sebutan Depok. Hal. tersebut dikarenakan, wilayah didirkannya Pesantren Buntet pernah digunakan oleh Mbah Kuwu Cirebon (Pangeran Cakrabuana), Putra Prabu Siliwangi dan juga Uwak dari Sunan Gunung Jati untuk mendirikan padepokan. Sehingga masyarakat juga, mengenal Buntet dengan sebutan Depok. Mbah Muqoyyim yang lahir pada 1689 M memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keraton. Jika merunut kebelakang, Ayah dari Muqoyyim yaitu Abdul Hadi, merupakan putra dari pasangan Pangeran Cirebon dan Anjasmoro, putri dari Lebe Mangku Warbita Mangkunegara. Abdul Hadi tinggal di keraton dan mendapatkan pendidikan ketatanegaraan dan juga pelajaran Islam. Karena pengetahuan Islamnya yang menonjol, Abdul Hadi kemudian lebih dengan dengan sebutan Kiai Abdul Hadi. Mbah Muqoyyim menggantikan ayahnya Abdul Hadi sebagai kadi di Keraton Kanoman. Mbah Muqoyyim juga sempat tinggal di keraton. Hidup bersama kedua orang tuanya, Muqoyyim mendapatkan pendidikan yang cukup baik dari guru maupun orang tuanya. Bukan hanya pendidikan agama Islam dan ketatanegaraan saja, melainkan ilmu kedigdayaan juga dia pelajari. Melalui proses itulah, selain memiliki kemampuan dalam segi ilmu pengetahuan, Muqoyyim juga dikenal dengan Kiai sakti mandraguna. seiring dengan melemahnya Kesultanan Cirebon pascamangkatnya Pangeran Girilaya pada 1662 M. Sehingga Kesultanan Cirebon terpecah menjadi beberapa bagian.Kala itu Cirebon sering mengadakan hubungan dengan Banten, yang berada dibawah pemerintahan Adipati Anom alias Amangkurat II, dimana perkembangan ilmu keagamaan cukup tinggi. Lalu Muqoyyim sering mengunjungi tempat-tempat yang pernah disinggahi Syekh Yusuf Al Makasari, menantu Sultan Ageng Tirtayasa, yang memerintah Banten sebelum masa pemerintahan Amangkurat I. Di tempat-tempat itu dia bertemu dan berdiskusi dengan pengganti atau murid-murid Syekh Yusuf. Dia menulis beberapa buku tentang fiqih, tauhid, dan tasawuf yang dikirim pada Sultan Kanoman agar dijadikan buku pegangan bagi para pembesar keraton dan rakyat Cirebon. Maka tak mengherankan bila dia kemudian diangkat sebagai Mufti. Selain itu, dia juga dikenal sakti, tapi rendah hati kepada siapa pun. Dia sangat mengedepankan akhlakul karimah.b Perpisahan Muqoyyim dengan keraton berawal saat adanya upaya Devide et impera (Politik Memecah Belah) yang dilakukan oleh Belanda kepada Keraton Kanoman. Belanda melihat ada peluang untuk memecah belah Keraton Kanoman, karena saat itu memiliki dua orang putera pewaris kerajaan yang menjabat sebagai sultan Kanoman dan Kasepuhan. Namun, upaya yang dilakukan oleh belanda tidak bisa berjalan dengan baik. Selain itu, Kekecewaan Mbah Muqoyim menjadi cukup memuncak setelah melihat bangsawan keraton terjebak dalam aturan Belanda. Banyak diantara mereka malah berprilaku bertentangan dengan syariat Islam dan malah meniru hal.-hal. jelek yang dilakukan oleh bangsa Belanda, seperti dansa dan mabuk-mabukan. Muqoyyim kemudian keluar dari Kraton dan mengembara. Saat itu Kyai Muqoyyim Buntet dan Kyai Musa Wanantara Talun berguru dengan Syekh Abdul Muhyi juga mendirikan masjid di daerah itu yang digunakan untuk memberikan pengajian. Saat itu usia kedua Kyai ini sekitar 16 dan 17 tahun, mereka berdua belajar beberapa Ilmu Keagamaan seperti Fiqih, Tarekat, Aqidah, Hadits, dan lainya, sekaligus juga belajar Ilmu Hikmah kepada Sang Guru ini. Kedua Kyai ini bertemu dengan Syakh Muhyi pada waktu yang berbeda, kalau Kyai Musa Wanantara saat dirinya mendengar kedatangan sang guru ini dari tanah Aceh, kalau Kyai Muqoyyim melalui Srengseng Indramayu saat beliau mencari Ayahandanya yang berada di Kraton Kanoman, merupakan salah seorang Qaddi (Hakim Agama). Pertemuan dua remaja ini dengan Syekh Muhyi memang sangat diketahui oleh dirinya, sehingga beliau memahami bobot dan bebet keluarganya serta kecerdasanya kedepan. Pada saat belajar kepada sang Syekh ini, keduanya mempunyai pendalaman yang berbeda saat mendalami pelajaran keagamaan. Kyai Muqoyyim lebih menonjol kepada Ilmu Fiqih, Aqidah, dan tarekat sehingga beliau pernah menulis bukunya yang menjelaskan tentang fiqih, peninggalan tulisan beliau berada di Buntet Pesantren. Sedangkan Kyai Musa Wanantara lebih menonjol kepada Ilmu Tarekat dan beberapa Ilmu Hikmah. Setelah mengajarkan banyak ilmu agama kepada kedua Kyai ini, lantas syekh muhyi melanjutkan perjalananya ke Tasikmalaya dan pada akhirnya menetap di Pamijahan dan membikin tulisan tentang ajaran Martabat Tujuh. Sedangkan kedua muridnya yaitu Kyai Muqoyyim dan Kyai Wanantara mengembangkan ilmunya dengan membikin pesantren di daerahnya masing-masing. Dari situlah, selepas mondok dari Syaikh Abddul Muhyi, Mbah Muqoyyim kemudian mendirikan Pondok Buntet Pesantren pertama kali di Cimarati, Dawuhan Sela, Desa Buntet, sekitar 500 Meter dari Buntet Pesantren saat ini. Tak berapa lama, banyak orang berdatangan untuk mengaji berbagai ilmu ke Mbah Muqoyyim. Namun pesantrennya itu diketahui oleh Belanda. Khawatir akan mengobarkan pemberontakan, Belanda pun menyerangnya. Tiba di pesantren, Belanda tak mendapati siapa pun di sana. Mbah Muqoyyim dan seluruh santrinya sudah mengetahui rencana penyerangan tersebut sehingga Mbah Muqoyyim berkelana lagi. Pesantren yang sudah tak berpenghuni itu lalu dibakar oleh Belanda Muqoyyim bisa dilihat. Karena saat membangun masjid di komplek tersebut, Mbah Muqoyyim hanya menggunakan satu batang pohon jati. Saat itu, Mabh Muqoyyim memerintahkan santri untuk mengambil pohon tersebut dengan menggunakan bahasa jawa Cirebon “ Jukuten bae jati ning kulo sa’ wit bae” artinya : ambil saja pohon jati yang di barat, satu pohon saja. Karena peristiwa tersebut, wilayah dimana pohon jati tersebut ditebang, saat ini dikenal dengan nama Jati Sawit. Saat berada di Pesawahan, Mbah Muqoyyim kedatangan tamu agung yaitu Pangeran Muhammad putera Sultan Chaeruddin dari Keraton Kanoman yang kelak bergelar Sultan Chaeruddin II. Selain menceritakan tentang campur tangan Belanda yang cukup besar di Keraton, Pangeran Chaeruddin juga menyatakan ingin menjadi santri Mbah Muqoyyim untuk belajar ilmu-ilmu agama, bela diri dan kesaktian. Saat menjadi santri, Pangeran Chaeruddin lebih dikenal dengan sebutan Pengeran Santri. Salah satu kesaktian yang berhasil dimiliki oleh Pangeran Santri adalah aji usap dolanan. Dengan ajian tersebut, seserahan buah-buahan yang dibawa oleh masyarakat untuk belanda tidak ada isinya. Ternyata, kelakuan Pangeran Santri ini menjadi titik terang bagi Belanda untuk menemukan Mbah Muqoyyim. Karena Belanda yakin, tidak ada yang bisa melakukan hal. tersebut selain murid Mbah Muqoyyim. Mendapatkan informasi tentang keberadaan Mbah Muqoyyim, Belanda langsung melakukan penyerangan terhadap Pesantren Pesawahan. Untuk menyelamatkan para santrinya, Mbah Muqoyyim dibantu oleh Kiai Ardi Sela memasukkan santrinya kedalam kendi dan pergi menuju Sindanglaut. Belandapun kembali menyerang Sindanglaut untuk mencari Mbah Muqoyyim, namun beliau sudah pergi menuju ke Pemalang. Mbah Muqoyyim tiba di Kampung Beji, Kampung yang sebenarnya bernama Kenanga, namun lebih dikenal dengan sebutan Beji, karena hanya memiliki satu lebe, jika diterjemahkan dalam bahasa jawa adalah Lebe Siji (Beji). Mbah Muqoyyim tinggal dirumah Kiai Abdussalam, ia tinggal dan hidup sebagaimana santri lainnya, yaitu mengisi bak mandi dll. Namun ada satu hal. yang membuat geger Pesantren saat itu. Yaitu saat melihat Muqoyyim sangat leluasa keluar masuk sebuah hutan yang sangat angker untuk mencari kayu bakar. Padahal., beberapa orang yang berani masuk kedalamnya, maka tidak bisa kembali lagi. Banyak hal. Istimewa yang diketahui dari sosok Muqoyyim. Melihat potensi yang cukup besar tersebut, Kiai Abdussalam akhirnya mengangkat Muqoyyim menjadi menantunya. Membangun Kembali Pesantren Buntet Pasca Mbah Muqoyyim menetap di Pemalang, wabah besar menimpa Cirebon. Saat itu, penyakit To’un melanda masyarakat Cirebon dan mengakibatkan banyak warga yang meninggal dunia baik dari warga biasa, bangsawan keraton maupun dari pihak Belanda. Kondisi ini cukup menghawatirkan banyak pihak, sehingga beberapa orang pintar baik itu dokter, tabib, dukun dan orang sakti didatangkan untuk bisa mengatasi permasalahan ini. Dari sekian banyak orang sakti dan pintar yang didatangkan untuk mengantisipasi wabah To’un, ternyata kesemuanya tidak ada yang memberikan hasil memuaskan. Wabah tersebut masih saja menimpa masyarakat dan mengakibatkan kematian yang cukup cepat. Akhirnya, keluar usulan agar meminta bantuan Mbah Muqoyyim yang saat itu sedang berada di Pemalang. Perwakilan dari keraton yang diutuspun langsung menghadap Mbah Muqoyyim dan menyampaikan tujuan kedatangannya untuk meminta bantuan Mbah Muqoyyim mengusir wabah To’un tersebut. Mbah Muqoyyim menyetujuinya untuk kembali ke Cirebon dan berusaha menghilangkan wabah tersebut, namun dengan syarat yaitu Pangeran Muhammad Chaeruddin (Pangeran Santri) yang dibuang oleh Belanda ke Ambon, agar dikembalikan ke Cirebon. Dengan izin dari Allah, Mbah Muqoyyim bisa menghilangkan wabah To’un tersebut. Pangeran Santripun saat itu sudah ada di Cirebon dan kembali menjadi Santri Mbah Muqoyyim. Kesempatan pulang ke Cirebon dalam rangka pengobatan wabah To’un, dimanfaatkan oleh Mbah Muqoyyim untuk kembali membangun Pesantren Buntet yang sebelumnya telah diporak-porandakan oleh Belanda. Mbah Muqoyyim kembali mendirikan Pesantren Buntet sekitar tahun 1758. Lokasi pendirian bergeser dari lokasi pertama namun tidak begitu jauh. Kali ini Mbah Muqoyyim membangun Pesantren Buntet di Blok Manis, Depok Pesantren Desa Mertapada Kulon. Penamaan Depok sendiri, karena konon wilayah tersebut pernah menjadi tempat padepokan yang didirkan Pangeran Cakrabuana, putra dari Prabu Siliwangi sekaligus Uwak dari Sunan Gunung Jati. Pada saat mendirikan dan memimpin Pondok Pesantren Buntet yang kembali dibangun. Mbah Muqoyyim melakukan riyadah khusus dengan melakukan puasa selama 12 tahun. Tiga tahun untuk keberkahan tanah dan pesantren yang dibangun, tiga tahun kedua untuk keselamatan anak cucunya, tiga tahun selanjutnya untuk para santri dan pengikut setianya dan tiga tahun terakhir untuk keselamatan dirinya. Perbedaan Pondok Buntet Pesantren dengan pesantren-pesantren lainnya adalah, keberadaan pesantren lebih awal dibandingkan dengan berdirinya desa dan masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Menurut KH. Amiruddin Abkari salah seorang Kiai Sepuh di Buntet Pesantren, masyarakat di wilayah Pesantren Buntet dulunya adalah santri yang menikah dengan santri lainnya. Dari pernikahan ini, menjadikan wilayah Buntet Pesantren menjadi ramai dan memiliki penduduk cukup banyak. Para penduduk biasa yang bukan keturunan Kiai, di Buntet Pesantren dikenal dengan sebutan mager sari. Kondisi Pesantren saat awal didirikan kembali oleh Mbah Muqoyyim sangat sederhana, hanya berbentuk langgar yang bisa digunakan mengaji secara bersama-sama. Para santri saat itupun kebanyakan adalah santri kalong, sehingga pesantren belum membutuhkan ruangan yang cukup banyak. Mbah Muqoyyim menikah dua kali, yang pertama dengan putri dari Kiai Entol Rujitnala, seorang Kiai keturunan Pengeran Luwung. Mbah Muqoyyim menikahi Putri dari Kiai Entol Rujitnala yang bernama Nyai Ratu Randulawang, setelah berhasil memenangkan sayembara yang diberikan oleh ayahnya. Saat itu, sebuah Bendungan yang ada di daerah Setu Mundu Cirebon, sering bocor bahkan bobol yang mengakibatkan kebanjiran melanda wilayah tersebut. Karena berbagai usaha tidak selalu berhasil, Kiai Entol akhirnya memberikan sayembara kepada siapa saja yang bisa membuat kokoh bendungan tersebut, maka akan dinikahkan dengan putrinya yang elok rupawan. Dengan bantuan Kiai Entol, Mbah Muqoyyim memutarkan tali dan dikaitkan dengan patok-patok yang melingkari bendungan. Setelah keduanya berdo’a, bendungan berubah menjadi kuat. Karena peristiwa tersebut, bendungan itu dinamakan Setu Patok. Karena berhasil memenangkan sayembara, Mbah Muqoyyim akhirnya menikah dengan Nyai Ratu Randulawang atau dikenal dengan Nyi Pinang, karena menikah dari hasil sayembara. Pernikahan kedua Mbah Muqoyyim, yaitu dengan putri dari Kiai Abdusaalam, yang merupakan guru Mbah Muqoyyim ketika sedang melakukan pengembaraan di Beji Pemalang. Melihat banyak kelebihan yang dimiliki oleh Mbah Muqoyyim, akhirnya Kiai Abdussalam mengangkat muridnya tersebut menjadi menantunya. Dari pernikahan pertamanya dengan Nyai Randulawang, Mbah Muqoyyim memiliki seorang putri yang nantinya akan dinikahkan dengan santri terbaiknya yaitu Raden Muhammad. Jelang akhir Hayat, mbah Muqoyyim menata kembali pondok Buntet Pesantren di daerah yang berbeda yakni bertempat di Blok Manis, Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura. Selama di pondok Buntet Kiai Muqoyyim hidup dengan sederhana serta sering mengamalkan riyadlah yakni “tiga tahun berpuasa untuk keberkahan tanahnya, keselamatan seluruh warga Buntet Pesantren dan sekitarnya. Tiga tahun untuk keselamatan anak cucunya dan tiga tahun untuk keselamatan dirinya”. Inilah yang kemudian sampai saat ini riyadhah tersebut dikenal luas khususnya bagi seluruh keluarga, santri, dan warga Buntet Pesantren Cirebon. Selain beriyadhah, Mbah Muqoyyim juga melestarikan tradisi-tradisi di Pesantren Tarekat Syattariyah di Buntet. Dimana kontribusi terhadap perkembangan tradisi di pesantren. Pendekatan budaya dan keagamaan, di mana sifatnya yang neo-sufistik telah mendukung tarekat ini untuk lebih membumi sehingga dapat bersinergi dengan tatanan sosial yang ada. Tradisi di pesantren yang dipengaruhi oleh ajaran tarekat ialah tradisi kliwonan, muludan, dan haul. Seperti di pengguron, tarekat di pesantren juga mengadakan tradisi kliwonan. Tradisi ini merupakan pembacaan manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani setiap sebulan sekali, tepatnya pada malam Jum at Kliwon dalam kalender Jawa. Sejatinya, tradisi ini merupakan tradisi tarekat yang diterapkan di pesantren. Partisipannya pun tidak hanya dari kalangan murid tarekat saja, tetapi para santri dan masyarakat juga diperkenankan untuk hadir. Tradisi kedua, yaitu muludan (peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw). Sebagaimana di pengguron, tradisi muludan dilaksanakan secara besar-besaran dengan acara utamanya yaitu pembacaan kitab Barzanji. Muludan merupakan tradisi tahunan yang juga berakar dari tradisi tarekat. Tradisi ini mulai dilakukan semenjak Sunan Gunung Jati secara besar-besaran yang terpusat di Keraton Pakungwati, yang dikenal dengan acara Panjang Jimat. Tradisi ketiga, yaitu haul (tradisi tahunan yang dilakukan setiap tanggal dari kewafatan pendiri atau sesepuh pesantren). Tradisi ini berjalan lebih semarak dari tradisi muludan. Biasanya di Buntet segenap santri, kyai, alumni, dan masyarakat pesantren ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Acara pokoknya yaitu rangkaian tawasulan dan tahlil yang dipimpin oleh tokoh keagamaan di pesantren. Kemudian disusul dengan ceramah dari ulama tingkat nasional yang sengaja diundang untuk memberikan tausiyah. Terakhir biasanya ditutup dengan sarasehan dan makan bersama. Tradisi haul ini sejatinya merupakan bentuk Islamisasi dari tradisi masyarakat nusantara yang dahulu beragama Hindu. Jadi, dapat dilihat bahwa tarekat berkontribusi terhadap berbagai tradisi di pesantren melalui proses transformasi tradisi dari budaya ke agama, seperti haul, muludan, kliwonan. Para mursyid dan kyai berperan sebagai agency dalam memformulasi ajaran tarekat yang dapat diterima di masyarakat. Konsekuensi dari tindakannya telah membentuk tradisi-tradisi yang sekarang dipraktikan sebagai ritual rutin dan praktik sehari-hari. Dalam kacamata strukturasi, proses transformasi tradisi ini merupakan bagian signifikansi para mursyid dengan menyisipkan aspek simbolik dalam tradisi keagamaan yang telah mengakar menjadi tradisi Islam. Relasi kyai dan mursyid dalam tradisi pesantren, berbarengan pola hubungan antara kyai-santri merupakan bagian dari pendidikan untuk ta dzhim (memuliakan) guru, yaitu ajaran tentang bagaimana jalan hidup seorang murid untuk dapat mencapai kesuksesan hidup. Santri diajarkan taat terhadap guru atau kyai yang dimotivasi oleh kesuksesan dalam belajar. Maka, kyai merasionalkan ajaran ini bahwa bila ingin sukses belajar maka haruslah taat kepada kyai. Dan di dalamnya juga diajarkan untuk menghormati bukan hanya pada kyainya saja, tetapi juga pada keluarga dan orang-orang yang bersangkutan dengannya seperti anak, istri, sanak-famili, bahkan khodam (pembantunya). Tradisi ini telah mengakar dalam pola hubungan santri-kyai di pesantren. Konsep mahabbah terhadap mursyid berarti bahwa para murid haruslah menaati segala perintah, ucapan, perbuatan, dan menghomati keluarga dan sanak famili mursyidnya. Tujuannya ialah mencapai kesuksesan dalam menapaki jalan spiritual karena mursyid dipandang sebagai wakil Nabi yang berderajat wali. Pola hubungan ini pun telah mengakar dan membudaya di kalangan tarekat dan juga pondok pesantren. Dengan demikian, ajaran ta dzhim terhadap kyai bersumber dari konsep mahabbah yang diajarkan dalam tarekat. Modernisasi Pondok Pesantren Saat ini pondok pesantren Buntet telah bertransformasi menjadi pesantren modern. Hal ini dapat dilihat dari terdapatnya sekolah dalam format madrasah. Tarekat Syattariyah ini juga mempelopori kegiatan membatik di Trusmi. Kegiatan membatik ini merupakan proses difusi (penyebaran) tradisi membatik dari keraton ke Desa Trusmi oleh para murid tarekat. Awal-mula kegiatan membatik oleh para murid tarekat di mana dahulu di Pegajahan ada Pangeran Insan Kamil. Dia rama guru tarekat. Nah beliau muridnya banyak, dari sekian murid itu ada para petani yang dari Trusmi. Setelah petani-petani itu diajari tarekat Syattariyah, sambil mrnunggu di sawah, mereka diajari membatik ragam hias keraton, yang ternyata memiliki makna simbolik tarekat Syattariyah. Simbol-simbol yang ada di bangunan keraton, semisal Singa Barong, Mega Mendung, itu dijadikan motif kain. Jadi semuanya bernuansa tarekat Syattariyah. Jadi Pangeran Insan Kamil semacam jembatan antara tarekat dan batik. Nah kemudian karena yang melukis, membatik itu laki-laki semua tidak ada perempuan. Jadi, kegiatan membatik pada awalnya dilakukan oleh para penganut tarekat yang berguru ke keraton, kemudian berkembang di kalangan petani yang belajar membatik, pada tahap selanjutnya berkembang dan semakin meluas industri batik Trusmi, ini rak lepas dari peran para guru thariqah Syatariah dalam mendidik masyarakat untuk berdagang melalui produksi industri batik.Tentu usaha ini membangkitkan ekonomi, masyarakat kecil yang jauh dari tradisi kraton. Wafat Mbah Muqqoyim wafat dan dimakamkan di Kampung Tuk, Sindang Laut berdekatan dengan sahabat seperjuanganya yakni Kiai Ardi Sela. Demikianlah sekilas kisah seorang kiai khasrismatik dengan kealiman yang dimiliki serta dikenal sosok kiai sakti madraguna asal Buntet Cirebon. Santun dan digdaya merupakan watak asli kiai satu ini. Semasa hidupnya ia sangat dihormati dari berbagai kalangan, meski bagi penjajah Belanda, Kiai Muqoyyim merupakan ancaman karena mempunyai peran dan pengaruh yang sangat besar sehingga dapat mempengaruhi rakyat untuk melawan dan menentang Belanda. Sikap dan perilakunya yang selalu non-cooperation (tidak ingin diajak kerjasama) diteruskan oleh generasi selanjutnya seperti KH Raden Muta’ad, KH Abdul Jamil, dan KH. Muhammad Abbas yang mempunyai peran signifikan dalam perjuangan membela agama, bangsa dan negara. Sekalipun sudah wafat, makam yang terletak di Sidang Laut, Cirebon itu masih terbilang berdekatan dengan teman seperjuangannya yaitu Kiai Ardi Sela menjadi magnet peziarah kubur dari berbagai daerah. Tidak banyak yang mengetahui tahun dan tanggal berapa Mbah Muqoyyim wafat. Saat ini, makam beliau dijadikan salah satu objek Ziarah dan selalu banyak didatangi peziarah. Jarak makam Mbah Muqoyyim dengan Pesantren Buntet yang ia bangun sekitar 4 Km. Para santri Buntet hingga saat ini masih melakukan rutinitas ziarah di makam tersebut baik menggunakan kendaraan maupun berjalan kaki. (****) Aji Setiawan Simpedes BRI 372001029009535 Daftar Pustaka : 1. Ahmad Faiz Rofii. Mbah Muqoyyim Buntet Pesantren, Kiai Kelana Sakti Mandraguna. Sabtu, 5 September 2020. Sumber: https://jabar.nu.or.id/tokoh/mbah-muqoyyim-buntet-pesantren-kiai-kelana-sakti-mandraguna-Bh3ih 2. https://al-firdaus.sch.id › Pengembaraan Mbah Muqooyim ; Pendirian Buntet Pesantren. 30 Des 2019 — 3. SM Said .Kisah Karomah Kiai Muqoyyim Pendiri Pesantren Buntet Cirebon. UJum'at, 30 Maret 2018 4. Ahmad Zaini Hasan, Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbas, Pesantren Buntet, dan Bela Negara (Yogyakarta: LkiS, 2014), 20-21 5. Azra, Azyumardi. Islam in the Indonesian World: An Account of Institutional Formation. Bandung : Mizan, 2006.. 6. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pemaruan Islam Indonesia. Jakarta: Kencana,2013. 7. Bruinessen, Martin Van. Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, cet. Ke-3, 1999. 8. Julia Day Howell (ed). Urban Sufism. Jakarta: Rajawali Pers, 2008. 9. Cerbon, P. Arya. Kutipan Purwaka Negara Kertabumi Caruban Nagari. t.t. Christomy, Tommy. Shattariyyah Tradition in West Java: the Case of Pamijahan dalam Studia Islamika. Vol.8, No.2, h.55-81, 2001 10. Creswell, John W. Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, (terj.), 2010. 11. Fatuhurrahman, Oman. Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks. Jakarta: Predana Media Group, 2008. 12. Giddens, Anthony. The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration. Cambridge: Polity Press, 1984. 13. Hasan, Ahmad Zaini. Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbas, Pesantren Buntet, dan Bela Negara. Yogyakarta: LkiS, 2014. 14. Horton, Paul B. dan Chester L. Hunt. Sosiologi. Jakarta : Erlangga, (terj). Jilid 1 dan 2, 1984. Ibnu Khaldun. Mukaddimah.Jakarta: Pustaka Al- Kautsar, (terj.), 2011. 15. Irianto, Bambang dan Sally Giovanny. Makna Simbolik batik Keraton Cirebon. Yogyakarta: Deepublish, 2015. 16. Ki Kampah, Babad Cirebon Carub Kandha Naskah Tangkil. Yogyakarta: Deepublish, 2013. 17. Lauer, Robert H. Perspektif Perubahan Sosial. Jakarta : PT. Rineka Cipta, (terj.). cet. ke-4., 2003. 18. Mustofa, HA. Akhlak Tasawuf. Bandung : Pustaka Setia, ed-revisi, cet.ke-4., 2007. 19. Mutasim, Radjasa dan Abdul Munir Mulkhan. Bisnis Kaum Sufi: Studi Tarekat dalam Masyarakat Industri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998. 20. Makam Mbah Muqoyyim, West Java, Indonesia. https://soamaps.com › country › ma...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN