KH Abdurrasyid Abdullah Syafi'i
Dai Tangguh dari al Barkah Bali Matraman, Manggarai
KH Abduurrasid, kelahiran Jakarta, 30 November 1942 adalah putra KH Abdullah Sjafiâie (wafat 3/9-1985). Bersama putera-puterinya menangani 63 lembaga pendidikan Islam. Masjid Al-Barkah di Kampung Bali Matraman, Jakarta Selatan, yang dibangun pada 1933, kini merupakan masjid yang megah. Mushola bekas kandang sapi itulah yang kemudian menjadi cikal bakal perguruan Asyafiiyah. KH Abdullah Syafiâie â perguruannya menghasilkan ribuan orang â di antara mereka kini menjadi tokoh agama dan pimpinan majelis taklim di berbagai tempat di Indonesia. KH Abdullah Syafiâie adalah figur yang mampu mengkombinasikan dua arus besar pemikiran yang berkembang di lingkungan masyarakat Islam. Dalam diri beliau tercermin betul warna NU dan Muhammadiyah-an. Toh beliau mampu menjadikan diri sebagai model kombinasi yang menarik itu. Kalau KH Abdullah Sjafii pada Pemilu 1955 berkampanye untuk partai Masyumi. Maka, rekan seangkatannya, KH Tohir Rohili selama dua periode pernah menjadi anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan.
Ulama Betawi, angkatan KH Abdullah Syafii dan KH Tohir Rohili, yakni Mualim Rojiun, KH Nur Ali, Bekasi, KH Fathullah Harun, KH Zayadi dari Klender, Mualim Tabrani, Paseban, dan sejumlah kyai lainnya. Ulama Betawi sesudah angkatan ini adalah KH Syafiâi Hazami, mantan ketua MUI Jakarta Raya dan KH Abduraman Nawi. Kiai Abdul Rasyid adalah pengasuh Pengajian Ahad Pagi Masjid Al Barkah As-Syafiâiyah meneruskan sang ayah Allahuyarham KH Abdullah Syafiâie. Selain itu, ia juga mendirikan dan mengasuh Pesantren Al-Qurâan, Pulo Air, Sukabumi.
Sebagai seorang ulama, selain mengajar dan berdakwah, Kiai Abdul Rasyid juga terkategori sebagai aktivis gerakan Islam.
Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Steering Commitee Ijtima Ulama dan juga ikut dalam memimpin resolusi MUI dalam gerakan di penghujung 2019.
Kiai Rasyid pernah tercatat sebagai Anggota Pembina Dewan Dakwah, Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pembina Forum Umat Islam (FUI), Pembina GNPF-Ulama, dan Ketua Komite Solidaritas untuk Dunia Islam (KISDI).
Semula Restoran
Tak pernah terbayangkan di benak K.H. Abdul Rasyid Abdullah Syafiâie untuk membangun Pesantren Al-Quran di daerah Sukabumi. Ini bermula dari ajakan H. Soekarno (alm.), koleganya yang mempunyai rumah makan Sunda di Sukabumi, untuk mengunjungi salah satu tempat usahanya di kota tersebut sekitar tahun 1987.
H. Soekarno mengajak saya untuk pergi ke Sukabumi, mampir di tempat usahanya, yakni Restoran Nikmat. Letak persisnya di Jalan Raya Cianjur-Sukabumi Kilometer 10, atau lebih tepatnya Kampung Pulo Air, Sukabumi,â kenang K.H. Abdul Rasyid Syafiâie mengawali cerita tentang awal mula berdirinya pondok pesantren.
Setelah menikmati pemandangan yang indah dan menu restoran yang nikmat, keduanya mengelilingi area kolam ikan dan restoran yang luasnya kira-kira tiga hektare. H. Soekarno menunjukkan batas-batas tanah yang dimilikinya itu.
Di sebuah balai-balai, ia mengajak berbincang sebentar. Kemudian ia menyerahkan seluruh bangunan beserta asetnya. Beliau bilang, Tempat ini saya serahkan pada Saudara, buatlah pesantren yang baik," kata K.H. Abdul Rasyid menirukan H. Soekarno, kala itu. Dengan niat bismillahirahmanirrahim, seraya menyerahkan diri pada Allah SWT, saya menerima tawaran H. Soekarno.
Ketika itu H. Soekarno yang baru saja menjalani operasi jantung di Australia pun menangis. Ia terharu setelah mewakafkan tanahnya tersebut. Saat itu usianya sudah lanjut, 70-an,â kata K.H. Abdul Rasyid. Memang tak berapa lama setelah peristiwa bersejarah itu, pengusaha restoran yang berasal dari Ciamis dan banyak tinggal di Sukabumi itu pun wafat.
K.H. Abdul Rasyid Abdullah Syafiâie, yang telah menerima amanah dari H. Soekarno, pun dengan bersunguh-sungguh mengemban amanah yang telah diterimanya itu. âSaya mondar-mandir Jakarta-Sukabumi selama satu tahun untuk mewujudkan pondok pesantren,â tutur K.H. Abdul Rasyid.
Perlahan, dengan niat mensyiarkan Islam agar lebih luas dan maju, Kiai Abdul Rasyid pun kemudian menyulap Restoran Nikmat itu menjadi bangunan Pondok Pesantren Al-Quran. Dalam waktu setahun, 1989-1990, sembilan lokal bangunan pesantren pun berhasil dibangun, dan dinamakan Pesantren Al-Quran K.H. Abdullah Syafii. Semula pesantren ini diniatkan untuk anak-anak SD, yang pada awalnya masih berjumlah sekitar 17 anak,"ujarnya.
KH Abdurrasyid Abdullah Syafii Sudah Berpulang Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un.Pimpinan Perguruan Islam As-Syafi'iyah, ulama kharismatik asal Betawi, KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi`ie, meninggal dunia dalam usia 80 tahun, pada Sabtu (10/7) sekitar pukul 17.38 WIB.
"Innalillahi wainnailaihi rajiun. Telah berpulang ke Rahmatullah guru kami, orang tua kami KH Abdul Rasyid Abdullah Syafiâie petang jam 17.38. Mohon doa dari kawan-kawan semua untuk beliau," demikian bunyi pesan yang tersebar, Sabtu malam (10/07/2021). Minggu (11/7), bada shalat Subuh, jenazah (alm) dikebumikan di dekat rumahnya.
Kabar meninggalnya KH Abdul Rasyid menyita perhatian sejumlah tokoh seperti Hamzah Haz ,mantan Wakil Presiden RI. KH Abdur Rasyid Abdullah Syafi'i adalah tokoh pergerakan Islam di DKI Jakarta dan ulama terkemuka di Indonesia.(***) Aji Setiawan