KH Hisyam Zuhdi
Penerus Pesantren Leler Banyumas
Hampir pada kurun awal abad 19, dapar dikatakan pesantren Leler, adalah salsh satu pesantren tertua di Banyumas. Itu karens peran yang besar dari Kiai Hisyam Zuhdi dalam mengelola Pondok Pesantren At Taujieh Al Islamy Desa Randegan Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas tentu sangat penting. Kurang lebih sudah 100 tahun, pondok pesantren
Leler berdiri. Di dusun leler, Randegan, Kebasen, salah satu cucu mbah Dito Wongso, laskar Diponegoro yang babat alas di daerah tersebut juga mendirikan pesantren. Bermula dari tokoh laskar Diponegoro itu adalah Kyai Zuhdi bin Abdul Manan bin Dito Wongso, menantu dari Kyai Abdullah Suyuthi. Pondok yang dibangunnya pada tahun 1914 ini dinamakan dengan Pondok Pesantren Tarbiyah Nahwiyah dan lebih terkenal dengan nama Pondok leler. Dinamakan dengan Tarbiyatun Nahwiyah karena pondok ini mengedepankan pembelajaran ilmu alat dan dinamakan Pondok Leler dikarenakan keberadaanya di dusun yang bernama Leler. Pondok Leler mengalami masa vakum selama tujuh tahun setelah Kyai Zuhdi wafat dan baru beraktifitas lagi setelah putra tertua Kyai Zuhdi yang bernama Hisyam pulang dari pondok. Santri dari Kyai Zuhdi diantaranya adalah Kyai Hisyam Kali Jaran Purbalingga (1909-1989), Kyai Muslih (1910-1998), seorang pejuang kemerdekaan sekaligus pendiri yayasan Diponegoro dan Kyai Mas’ud (…-1998), Jombor, Cilongok.
Pada era kepemimpinan Kyai Hisyam, pondok pesantren leler mengalami perubahan nama. Nama Tarbiyatun Nahwiyah diubah menjadi Syamsul Huda dan pada akhir 1984 nama Syamsul Huda diganti menjadi At Taujieh al Islamy. Era kepemimpinan Mbah Hisyam merupakan era keemasan kedua. Hampir semua kyai di Banyumas pernah bertabarukan kepada beliau dan banyak dari murid beliau yang menjadi ulama besar. Kepemimpinan Pesantren Leler sesudah beliau wafat pada tahun 1994 dipegang oleh trio bersaudara (KH. Athaurrahman Hisyam, KH. Dzakiyul Fuad dan KH. Zuhrul Anam Hisyam) dan dua orang menantu, KH. Nasuha Kurdi dan KH. Sya’bani Muqri (wafat tahun 2006)
Disamping pondok-pondok diatas, sebenarnya masih banyak pesantren tua di banyumas, seperti pesantren Kebarongan yang didirikan Kyai Habib (1778-1888) dan sekarang terkenal dengan MWI Kebarorngan, Pesantren Ngasinan, Kali Wedi, Kebasen dan lain-lain. Hanya saja, penulis mencukupkan diri dengan pesantren yang telah tersebut dengan tujuan untuk mengurutkan genealogi keilmuan kyai Banyumas pada masa sekarang.
Pesantren sebagai wadah penggemblengan para santri yang nanti di kemudian hari dari sebagian mereka ini akan menjadi kyai adalah pusat pelestarian mata rantai keilmuan islam (sanad/genealogi).
Hisyam Zuhdi belajar al-Qur’an dan dasar-dasar keislaman kepada ayahnya sendiri, KH. Muhammad Zuhdi. Nama yang terahir merupakan santri dari Kyai Sanusi, Kali Wedi, Kebasen, pernah mondok di Bendo Pare dibawah asuhan Kyai Khozin, ngaji di Pesantren Pakis Aji Kediri, belajar ilmu astronomi kepada Kyai Dahlan, jampes Kediri dan murid sekaligus menantu dari KH. Abdullah Suyuthi Bogangin, Sumpiuh. Konon, Kyai Zuhdi juga pernah nyantri kepada Kyai Kholil Bangkalan.
Kyai Abdullah Suyuthi sebagai orang yang berpengaruh dalam jiwa keilmuan Kyai Zuhdi pernah mondok di Pesantren Langitan, Tuban. Pada waktu Kyai Abdullah Suyuthi mengaji di Langitan, diperkirakan yang menjadi pengasuh adalah Kyai Ahmad Sholeh yang menjadi pengasuh peridode kedua (1870-1902 M). Kyai Ahmad Soleh pernah tabarrukan kepada Syekh Zaini Dahlan ketika menjalankan ibadah haji. Pondok Langitan merupakan pondok tua yang melahirkan alumni-alumni besar seperti Kyai Kholil Bangkalan, Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai As’ad Syamsul Arifin dan kyai-kyai besar lainnya sehingga hal ini memudahkan untuk melacak relasi keilmuan para ulama nusantara.
Guru Kyai Zuhdi yang lain adalah Kyai Khozin, Bendo dan Kyai Dahlan, Jampes Kediri. Mereka berdua adalah kakak beradik dimana salah satu dari keduanya (Kyai Khozin) merupakan kyai yang paling berpengaruh dalam pembentukan pribadi, karakter dan keilmuan Kyai Hisyam. Jadi, Kyai Zuhdi dan Kyai Hisyam Zuhdi mengaji kepada kyai yang sama. Ketika nyantri di Bendo, Pare, Kyai Zuhdi satu angkatan dengan Kyai Badawi Hanafi, pendiri dan pengasuh PP Al-Ihya Ulumudin, Kesugihan, Cilacap.
Kyai Zuhdi meninggal pada tahun 1937 dalam usian 50 tahun. Menurut penuturan mbah Hasyim Suyuthi, adik mbah Hasyim, ketika Kyai Zuhdi wafat kakaknya sudah sunatan (sepit). Menurut perkiraan penulis, usia beliau berkisar 16 -17 tahun. Beliau mersa sangat sedih dengan meninggalnya sang ayah dan selalu menitikan air mata setiap kali usai berziarah di makam ayahnya. Apalagi kalau beliau melihat bangunan pondok yang kian lama semiakin sepi. Pesantren Tarbiyah Nahwiyah (Pondok Leler) mengalami masa vakum pada tahun 1937-1944.
Melihat kesedihan Hisyam kecil, Nyai Muhfilah, ibu kandungnya, dan adiknya (Kyai Hasyim Suyuthi) bersepakat untuk mengirim Hasyim kecil ke pesantren. besar harapan dari keluarga, Hasyim akan dapat meneruskan perjuangan sang ayah. Untuk biaya mondok, Nyai Muhfilah dengan dibantu Kyai Hasyim akan berusaha menanggungnya. Walaupun nanti di perjalanan mondoknya mbah Hisyam lebih banyak priatin dan tidak terlalu mengandalkan kiriman dari rumah.
Dalam bidang dirayah, mbah Hisyam mengaji kepada para kyai berpengaruh di zamannya. Diantara pesantren yang pernah di singgahi mbah Hisyam adalah pondok pesantren Kasingan, Rembang dibawah asuhan Kyai Kholil bin Harun, di Sucen, Purworejo, asuhan Kyai Sonhaji Sucen, di Bendo, Pare, Kediri, dibawah asuhan Kyai Khozin, pernah ngaji kepada Kyai Hasyim Asy’ari dan mengaji di Termas kepada Kyai Hamid Dimyathi dan tabarukan kepada beberapa kyai besar lainnya. Guru yang paling berpengaruh dalam perjalanan intelektual beliau adalah Kyai Khozin, Bendo dan kyai yang paling membentot kekagumannya adalah KH. Hasyim Asy’ari.
Mbah Hisyam ngaji alat kepada Kyai Kholil bin Harun dalam rentang waktu 1937-1939. Sebab, Kyai Kholil Kasingan wafat pada tahun 1939. Menurut penuturan Kyai Dzakiyul Fuad, mbah Hisyam ngaji kitab Mughni Labib dan Ibnu Aqil kepada beliau. Kitab yang digunakan oleh Mbah Hisyam ngaji kepada Kyai Kholil masih tersimpan rapi oleh Kyai Fuad.
Kyai Kholil Kasingan merupakan murid Kyai Kholil Bangkalan, Syekh Mahfuzh Termas dan Syekh Umar Hamdan al-Mahrasi. Dua nama terahir merupakan ulama besar yang berdomisili di Mekah, yang pertama berasal dari Aljazair, guru utama dari Syekh Yasin Padang dalam bidang dirayah dan riwayah dan yang kedua merupakan ulama besar asli Termas, Pacitan, Indonesia.
Karena ilmu alat yang diperoleh mbah Hisyam diterima dari Kyai Kholil, tidak terbilang aneh kalau dalam pemaknaan kitab ala utawi iki-iku mirip dengan pembacaan kitab yang ada di Leteh, Rembang dan Pesantren Kempek, Cirebon. Pesantren-pesantren tersebut merupakan pesantren yang diampu oleh Kyai lulusan Kasingan.
Terlebih, Kyai Kholil Kasingan merupakan Murid Kyai Kholil Bangkalan yang menjadi maha gurunya para kyai dan pembaharu dalam pembacaan kitab dengan metode utawi iki-iku. Sebagian sanad keilmuan Kyai Kholil Bangkalan dapat dilacak dalam buku kumpulan sanad Syekh Yasin al-Fadani yang bernama al-‘Iqd al-Farîd.
Untuk sanad keilmuan Kyai Kholil Kasingan dari Syekh Umar Hamdan al-Mahrasi akan dengan mudah dilacak dalam kumpulan sanad dan guru Syekh Umar Hamdan, karya dari Syekh Yasin al-Fadani. Karya yang dimaksud adalah Itḫâf al-Ikhwân bikhtishâr Mathmaḫ al-Wujdân fî Asânîd as-Syaikh Umar Hamdan.
KH Hisyam adalah penerus dari KH Zuhdi (1914). Lewat kepemimpinan Kiai Hisyam Zuhdi dalam memimpin Pondok pesantren dan peran Kiai Hisyam Zuhdi dalam perkembangan Pondok Pesantren At Taujieh Al Islamy terbukti berhasil mengkader banyak ulama bidang pendidikan dan sosial keagamaan. Kiai Hisyam Zuhdi juga menerapkan cara pembelajaran yang unik dan tidak monoton dengan memeragakan apa yang sedang diajarkannya. Menerapkan kebebasan dalam semua aturan pondok pesantren. Dalam bidang sosial keagamaan Kiai Hisyam Zuhdi menjadi panutan masyarakat dalam menghadapi masalah keagamaan. Aktif dalam kegiatan sosial keagamaan seperti menjadi imam Sholat Jenazah, menjadi penghulu dalam pernikahan-pernikahan, menjadi penasehat dan tokoh masyarakat yang semua hal yang dikatakan oleh Kiai Hisyam Zuhdi dilakukan secara takzim. KH Hisyam, adalah pendiri Madrasah Tarbiyatun Nahwiyah (1914). Perlahan tapi pasti, madrasah yang beralamat di Grumbul Leler Desa Randegan Kecamatan Kebasen itu berkembang jadi Pesantren At Taujieh Al Islamy. Di tangan KH Hisyam, pesantren mengalami perkembangan yang signifikan.
Sebelum membina santri, KH Hisyam telah nyantri dan berguru pada KH Cholil bin Harun, KH Bisri Mustofa (Rembang), Syaikh Chozin (Bendo Pare), dan lain-lain.
“Ayah dulu ngaji kitab Bukhori pada Syaikh Hasyim Asy’ari (Tebuireng) dan Kitab Fathul Wahab ke KH Kholil Lasem,” tutur Gus Anam, salah satu putra KH Hisyam.
“Saya dulu mondok di Leler sekitar tahun 1959-1961. waktu itu santrinya sekitar 450-an orang,” kata H Muthohar, murid almarhum Mbah Hisyam, secara terpisah.
Menurutnya, pengajian sorogan dilakukan ba’da maghrib dan madrasah ba’da isya’. Pengajian yang diampu Mbah Hisyam waktu itu adalah Tafsir Jalalain (ba’da zhuhur), Ihya Ulumaddin (ba’da ashar, dan Kitab Majalis (ba’da dhuha).
Pada zamannya, KH Hisyam termasuk ulama yang jadi rujukan sekaligus panutan umat Islam Banyumas dan sekitarnya. Almarhum tidak berpolitik praktis. Tapi memilih suntuk mengurus umat dan para santri. “Tokoh politik justru sowan pada Mbah Hisyam,” kenang H Muthohar.
Di mata para santri, KH Hisyam adalah sosok alim dan kharismatik. Sifat penyayang, sabar, tekun serta ulet tampak dalam keseharian. Sifat penyayang, misalnya, tidak terbatas pada santri tapi juga pada hewan piaraan.
Di sela-sela kesibukan membina santri, Mbah Hisyam gemar memelihara perkutut. Selain itu, almarhum juga piawai membuat akik. Konon, batu akik buatannya laku hingga jutaan rupiah.
Sepeninggal KH Hisyam wafat pada 1994. Pondok Leler diasuh oleh anak-anak dan menantu almarhum. Trio bersaudara yang kini memegang kendali Pondok Leler adalah KH Atho’urrahman (alm), KH Dzakiyul Fuad, dan KH Zuhrul Anam alias Gus Anam.
Ketiganya lulusan Mekah dan pernah menjadi murid Sayyid Muhammad al Maliki. Ketiganya juga dibantu oleh menantu Mbah Hisyam, KH. Nashuha Kurdi.
Mbah Hisyam terkenal sebagai tokoh alim di Banyumas yang tidak begitu menyukai glamor dunia. Murid Mbah Hasyim Asy’ari ini juga pernah memberi penjelasan terhadap kitab Waraqât, salah satu kitab primer disiplin ushul fiqih. (***).Aji Setiawan