“Kak Kenan, papa sekarang udah di surga ya?” celoteh Kirana pada Kenan, sang kakak, sambil menggenggam mainannya di ranjang Kenan. Kenan tersenyum dan mengelus kepala Kirana dengan sayang “Iya Kir, papa udah di surga. Kita sama-sama doakan papa terus ya biar tenang dan bahagia di sana”.
“Iya kak Kenan” ujar Kirana dengan suara agak cadelnya dan dengan mata bulatnya.
“Pinter. Kirana main sama mbak Sari dulu ya, kakak mau kumpul dulu sama keluarga yang lain” ucap Kenan sambil mencium kepala Kirana. Kirana hanya membalas dengan anggukan.
Kenan bersiap menuju ruang keluarga untuk rapat mengenai wasiat Maliq yang akan dibacakan oleh pengacara keluarga.
Hari itu adalah hari minggu. Tepat satu minggu kemudian setelah pemakaman. Hari yang seharusnya merupakan hari santai dan bermalas-malasan dari rutinitas sepekan. Sedikit berbeda dengan suasana kediaman Harjadinata siang hari ini yang penuh dengan ketegangan. Para istri beserta anak-anak mereka berkumpul di ruang keluarga yang tertutup. Pengacara keluarga hadir ditemani dengan 2 orang asistennya untuk membacakan wasiat terakhir sang mediang, Maliq Harjadinata untuk keluarga yang ditinggalkan.
“Selamat siang semuanya. Terima kasih sudah menyambut kedatangan kami di hari minggu ini. Maaf karena kemarin saya berhalangan hadir” Pak Gani, sang pengacara berujar. Ia melanjutkan “Sebelumnya saya turut berbelasungkawa sekali lagi atas kepergian Pak Maliq. Saya tahu ini adalah minggu yang berat bagi keluarga besar sekalian”. Nadine mengangguk kaku, Mariana menjawab singkat “Terima kasih, Pak Gani”.
“Baiklah kalau begitu langsung saja. Saya akan membacakan wasiat dari beliau. Mohon untuk semuanya tenang selagi saya membacakan wasiat dari beliau” Asisten Pak Gani bergegas mengeluarkan dokumen dari map yang ia bawa.
“Ehem…. Pertama, mengenai kepemilikan saham pada perusahaan induk HJ Group. Almarhum menyatakan pembagian kepemilikan saham induk HJ Group dengan skema sebagai berikut:
saudara Rey Harjadinata mendapat porsi 30% saham induk, saudara Gio Harjadinata mendapat porsi 25%, saudara Raka Harjadinata sebesar 20%, saudara Kenan Harjadinata 10%, saudara Dino Harjadinata 10% dan saudari Alira Harjadinata 5%”
Pengacara melanjutkan “Untuk kepemilikan saham pada anak perusahaan, sebagaimana diketahui bahwa saat ini saudara Rey menjabat sebagai CEO di anak perusahaan bisnis pertambangan, saudara Gio CEO pada anak perusahaan bidang resort dan hotel, saudara Raka CEO pada industri manufaktur, saudara Kenan CEO pada anak perusahaan bidang properti dan saudara Dino CEO anak perusahaan bidang logistik, kepemilikan kalian pada anak perusahaan kalian masing-masing adalah sebesar 30% dan Ibu dari masing-masing anak mendapat porsi 10%. Sehingga jumlah kepemilikan sudara dan ibu saudara pada perusahaan anak adalah 40%”
Rey nampak puas dengan bagiannya. Gio tersenyum tipis. Raka terlihat menghitung bagiannya dalam kepala. Kenan terlihat kalem, Dino menegakkan badan, berpura-pura tidak peduli. Alira menyimak dengan santai, seperti sedang menonton serial tv hiburan. Ia betul-betul tidak tertarik dengan hal ini.
Kemudian sang pengacara melanjutkan “Kecuali saudara Dino, karena Ibu anda telah tiada, maka kepemilikan saham anda pada anak perusahaan yang anda pegang adalah sebesar 40% penuh”
Seluruh mata tertuju pada Dino, beberapa memandang dengan sinis.
“Dengan demikian, Masing-masing saudara dan saudari memiliki kontrol atas seluruh perusahaan anak sesuai dengan skema prosentase kepemilikan saham induk yang sudah saya bacakan”
“Ehem…” Pak Gani kembali berdehem.
“Untuk para istri beliau, mendapatkan dana tunai dan deposito dengan nominal yang akan saya jelaskan secara personal kepada ibu-ibu sekalian setelah ini. Dan untuk bagian dari Ibu Rini, Ibu dari saudara Dino, akan jatuh kepada anda”
Para istri saling melirik dan mengukur siapa yang paling diuntungkan. Nadine, terlebih lagi, sepanjang nama Dino disebutkan, ia memperhatikan dan menatap Dino dengan tatapan sinis.
“Terakhir, terkait dengan kediaman utama yang saudara dan saudari tempati saat ini, beliau tidak memperkenankan untuk dijual. Rumah ini adalah simbol keluarga besar”
“Baiklah, demikian isi wasiat yang sah secara hukum. Untuk para istri beliau, saya akan bicara pada kalian satu persatu” Pak Gani menutup pengumumannya.
Beberapa saat kemudian, anggota keluarga mulai beranjak keluar. Pak Gani mulai memanggil para istri secara personal dimulai dari istri pertama.
***
Saat sudah di titik aman, Ayunda menarik lengan Alira. “Apa-apaan itu tadi. Jadi bagianmu hanya 5%. Memangnya kita ini figuran di sini?”
Alira menghela nafas pendek “Ma, udahlah. Lagi pula mama juga kan istri terakhir.” Pernyataan itu cukup menohok bagi Ayunda.
“Kamu dengar tadi bagian Dino? Ibunya yang bukan istri sah dan sudah tidak ada saja, masih ada porsi yang diturunkan ke anaknya?” Ayunda tidak terima.
“Ya terus mama mau apa? memang mama bisa ubah semuanya, mama mau nuntut ke siapa? Ke papa yang udah di dalem kubur?” Alira menjawab ibunya dengan lembut namun satir.
Ayunda sudah tidak berkata lagi, ia berjalan dengan suasana hati kecewa, meninggalkan anaknya dengan wajah kesal karena tidak sependapat dengannya.
***
Pengacara telah selesai mengumumkan besaran dana tunai dan deposito untuk para istri mediang kepada mereka masing-masing secara personal. Besaran nominal dibagikan sesuai dengan urutan istri, kecuali Ayunda, yang tidak memiliki porsi kepemilikan saham di perusahaan anak karena putrinya tidak menjabat sebagai CEO di salah satu anak perusahaan, maka besaran dana tunai dan deposito diberikan lebih besar sedikit, meskipun posisinya sebagai istri kelima.
Para istri sebetulnya mempunyai bisnis dan profesi sendiri sejak sebelum menikah dengan mediang Maliq dan masih mereka jalankan hingga saat ini. Nadine, memiliki bisnis skincare dan yayasan. Mariana dia adalah seorang Direktur pada konsultan bisnis ternama, tetapi konsultan itu bukanlah miliknya. Selin punya bisnis kafe dan restoran. Viona bergelut di bidang fashion dan kecantikan, dia punya butik dan salon. Ayunda, dia melanjutkan usaha agribisnis milik orangtuanya.
Mereka semua dinikahi Maliq sebagian besar semata karena pernikahan bisnis. Semasa muda, ayah dari Maliq memiliki ambisi untuk mengembangkan bisnisnya. Sehingga ia menikahkan anaknya dengan anak-anak rekan bisnisnya. Ayunda, sebetulnya tidak sepenuhnya dinikahi karena semata bisnis. Maliq tertarik padanya, karena di masa mudanya, Ayunda memiliki semangat tinggi membantu usaha agribisnis milik orangtuanya. Maliq kala itu berkenalan dengan Ayunda saat ia sedang meninjau lokasi di kota Ayunda tinggal.
Ibunda dari Maliq sebetulnya sangat tidak setuju dengan pernikahan bisnis yang direncakan suaminya, namun ia tidak dapat mencegah. Pernikahan itu memang saling menguntungkan untuk para kedua pihak. Wanita yang sesungguhnya dicintai oleh Maliq hanyalah Rini, Ibu dari Dino. Dia adalah sekretarisnya dulu. Cantik, pintar, sekretaris yang dapat diandalkan Maliq dengan reputasinya yang selalu menekankan presisi, lembut, tulus dan tidak mengincar hartanya. Keduanya saling cinta. Sayangnya hubungan itu ditentang oleh ayah dari Maliq karena berbeda kasta.
Ayah Maliq mengancam nyawa Rini jika Maliq menikahinya dan membawa Rini ke kediaman utama sebagai istri sah. Oleh karena itu, Maliq melakukan pernikahan senyap dengan rini, di bawah tangan.
***
Bertepatan dengan pengacara yang sedang berkomunikasi secara personal dengan para istri, Alira menyusuri taman belakang, menatap awan yang terlihat mendung di siang itu. Tak disangka, Raka memeluknya dari belakang. Ia mencium pipi Alira sekilas sebelum akhirnya menempelkan dagunya di pundak Alira.
Alira yang terkejut buru-buru melepaskan pelukan Raka “Kamu gila ya Rak. Jangan di sini!”
“Hehe… aku Cuma kangen kamu” Alira memutar bola matanya dengan malas.
“Gimana menurut kamu pembagian tadi?” ujar Raka sambil merubah posisinya, berdiri di samping Alira sambil menatap awan mendung.
Alira menghela nafas singkat “biasa aja. Lagian aku ga mengharapkan apa-apa”
“Kamu emang ga berubah ya sejak aku kenal kamu dulu Ra”
Dari kejauhan, supir kepercayaan Maliq, Pak Tarmo melihat mereka berdua. Tatapannya penuh observasi.
To be continued