Langit tampak suram hari itu. Udara di dalam singgasana megah itu terasa sangat dingin, meski sinar mentari pagi mulai merayap naik. Halaman rumah dipenuhi oleh karangan bunga ungkapan bela sungkawa dari kerabat dan rekan bisnis yang di tata rapi berjajar. Suasana rumah cukup hening, tidak ada sorotan media, hanya ada keluarga inti, para staff pelayan dan beberapa pemuka agama yang melantunkan doa untuk sang patriarki, Maliq Harjadinata, yang kini telah menutup usia dan pergi meninggalkan singgasananya. Tubuhnya terbujur kaku di dalam peti dan dikelilingi lilin kecil di sisinya. Kelima istri dan para anak-anaknya berada di dekat jenazah dan memandangi jenazah dengan ekspresi berbeda-beda dan nuansa pakaian serba hitam.
Nadine, istri pertama, mengenakan gaun dan selendang hitamnya, duduk dengan ekspresi tajam seolah penuh perhitungan melihat ke arah jenazah ditemani Rey, anaknya yang berdiri gagah disampingnya mengenakan jas hitam yang memandang jenazah ayahnya dengan sorot mata tajam. Matanya seperti menganalisa bahwa pertarungan warisan akan segera dimulai.
Mariana sang istri kedua, berdiri di sisi sebrang, sesekali mengelap air matanya yang beriak. Di sampingnya, berdiri Gio, anaknya, yang nampak sibuk dengan ponselnya sesekali.
Istri ketiga, Selin terlihat yang paling tenang dan menguasai situasi, ditemani oleh anaknya, Raka yang sambil memeluk pundak ibunya untuk menguatkan.
Viona, istri keempat, terlihat anggun dengan gaun hitamnya dan duduk tepat di sebelah kenan, anaknya, yang sedang memangku adiknya, Kirana. Kenan menatap jenazah dengan sorot mata kesedihan yang mendalam. Sementara Kirana, tatapannya polos, seolah belum mengerti arti kesedihan dan kehilangan.
Di sebelah Kenan berdiri Dino, sang anak dari ibu yang tidak dinikahi Maliq secara resmi. Tatapannya sendu menatap jenazah. Dahinya terlihat berkerut dengan sorot mata tajam menatap jenazah, seolah ada beban yang sedang ia pikul.
Ayunda, istri kelima, duduk agak jauh dari yang lain, ia nampak begitu sedih dibanding yang lain, suara tangisnya mendominasi di ruang keluarga itu, jemarinya meremas jemari anaknya, Alira. Alira berusaha menguatkan ibunya, walaupun ia juga sama sedihnya.
Suasana kediaman cukup intim. Keluarga tidak menerima tamu hadir melayat di dalam rumah dan berita kepergian Maliq pun tidak diumumkan kepada media. Rekan bisnis hanya diizinkan datang di pemakaman dan itupun terbatas, hanya sebagian rekan bisnis yang diinfokan. Keluarga benar-benar tidak ingin suasana yang begitu ramai dan dipenuhi dengan media.
Di tengah suasana itu, seorang lelaki paruh baya, supir kepercayaan Maliq, menghampiri Alira dan membisikkan sesuatu dan memberikan se-bucket bunga.
“Permisi non, ini ada titipan bunga untuk non Alira, katanya untuk menemani non Alira malam ini” ujar sang supir.
Alira dengan penuh kebingungan bertanya “dari siapa Pak?”
“Kurang tahu non, tadi diantar dari karyawan toko bunga nya langsung”
“Ya sudah makasih ya pak” Alira menerima bucket bunga itu dan Pak supir permisi keluar. Alira menatap ibu yang masih tersedu-sedu di sampingnya
“Ma, Alira ke kamar sebentar ya”, Ayunda hanya mengangguk.
Alira bergegas menuju kamarnya di lantai 2. Sesampainya di kamar, ia hendak meletakkan bucket bunga tersebut di atas meja riasnya, namun ia tertegun sejenak karena melihat sepucuk amplop di dalam bucket bunga itu. Kemudian ia membuka amplop dan membaca isi suratnya.
Jika kamu ingin tahu rahasia ayahmu, temui aku minggu depan satu hari setelah pengacara mengumumkan pembagian hak waris. Temui aku di makam ayahmu di pukul yang sama ketika kamu menerima bucket bunga ini. Jangan katakan pada siapapun, termasuk ibumu. Perhatikan langkahmu, jangan sampai ada yang mencurigai dan mengikutimu.
Alira tertegun dan seketika bulu kuduknya merinding setelah membaca surat itu. Surat itu tanpa nama. Ada rasa takut dibenaknya.
***
Waktu bergerak cepat. Awan pagi sudah sepenuhnya hilang. Udara di luar sudah terasa terik. Mobil-mobil sudah disiapkan untuk mengantarkan sang raja ke singgasana terakhirnya. Sebagian para istri melakukan persiapan di kamarnya masing-masing. Nadine merapikan riasannya dan mengambil tas brandednya, Mariana memandang tubuhnya di cermin kamarnya, Selin terlihat memberi instruksi kepada beberapa staff pelayan, Viona menyemprotkan parfum mahalnya ke seluruh tubuh seolah ingin menjadi pusat perhatian di tengah kesedihan. Ayunda, baru saja turun dari kamarnya dan bersiap menunggu untuk berangkat. Matanya menangkap Kenan yang sedang menggandeng Kirana, adik kecilnya yang berusia 3 tahun.
“Ken” Panggil Ayunda.
“Iya tante?” Jawab Kenan.
“Kamu ke pemakaman dengan mobil mu sendiri?” Tanya Ayunda.
“Iya tante, aku bawa mobil sendiri. Kenapa tante?” Jawab Kenan sambil mengernyitkan dahinya. Ayunda menatap ke lantai 2 menuju pintu kamar anaknya lalu kembali menoleh ke Kenan “Tolong ajak Alira bareng kamu ya. Tante berangkat sama para istri yang lain di satu mobil”
“Baik tante, nanti aku ajak Alira bareng”
“Makasih ya Ken”
“Iya tante”
Beberapa saat kemudian, Kenan mengirimkan pesan singkat pada Alira melalui ponselnya,
Ra, kamu udah siap? Aku tunggu di bawah ya. Tante Ayunda minta aku ajak kamu bareng ke pemakaman.
Alira membalasnya singkat dengan mengiyakan ajakan Kenan.
Di perjalanan menuju pemakaman, Alira duduk di kursi depan di sebelah kursi kemudi, matanya menatap pemandangan di sisi jalan. Matanya menangkap mobil sedan mewah Rey yang melintas di samping mobil yang ia tumpangi, disusul oleh mobil coupe Gio yang melaju cukup cepat. Alira juga melihat siluet mobil Raka yang melintas di samping mobil yang ia tumpangi. Mobil SUV Kenan melintas cukup tenang mengikuti iring-iringan. Mobil Dino, setia melaju di belakang mobil Kenan, seolah tidak sedang berlomba dengan yang lain.
Di kursi belakang mobil Kenan, Kirana duduk ditemani pengasuhnya sambil memeluk boneka kelincinya.
Sesampainya di pemakaman kelas elite, sebagian rekan bisnis sudah hadir. Sebagian dari mereka duduk sesuai tempat yang sudah disiapkan dan sebagian lagi berdiri. rekan bisnis dan kerabat yang hadir cukup banyak, namun tidak sampai membuat udara sesak. Para istri dan anak-anak berdiri di sisi-sisi liang lahat. Salah satu anak rekan bisnis mereka, Rafael terlihat memperhatikan satu persatu anggota keluarga mediang dengan seksama. Matanya menangkap kompleksitas kehidupan keluarga itu.
Juru bicara keluarga mulai berbicara sepatah dua patah kata pembuka permohonan maaf atas mediang kepada seluruh rekan bisnis dan kerabat yang hadir. Kemudian dilanjutkan dengan lantunan doa dari pemuka agama. Perlahan, jenazah diturunkan ke liang lahat. Air mata keluarga inti mulai bercucuran. Ayunda dan Alira tangisnya cukup histeris. Raka beberapa kali melirik ke arah Alira.
Selesai sesi pekuburan, keluarga serta pelayat dituntun untuk menuju gedung yang menyiapkan konsumsi makan siang. Para istri duduk di satu meja, sesekali para rekan bisnis mendekati mereka untuk mengucapkan bela sungkawa. Para anak-anak duduk terpisah. Alira mencoba menjauh dari para kakak-kakak lelakinya. Ia ingin menyendiri. Tak lama, Raka duduk di kursi sebelah kanan Alira. “Ra, nanti pulang bareng mobilku aja ya” Alira hanya mengangguk. Raka adalah salah satu kakak yang sejak dulu dekat dengannya. Tidak banyak kata terucap. Mereka larut dengan kesedihan yang masih sangat dekat terasa.
Sesaat sebelum beranjak pulang, Alira berbicara pada Kenan yang duduk jeda beberapa kursi di sebelah kirinya. Kenan sedang menyuapi adik kecilnya, Kirana yang hanya ingin makan jika disuapi kakaknya.
“Ken, aku nanti balik bareng Raka ya” Ucap Alira sambil menutup botol minumnya.
Kenan menoleh ke arah Alira dan membalasnya dengan anggukan.
***
Para pelayat perlahan berpamitan dengan keluarga dan meninggalkan lokasi. Para istri disusul dengan anak-anak turut beranjak meninggalkan lokasi. Raka berjalan beriringan dengan Alira menuju mobil Raka.
Raka membuka kunci mobilnya dan mereka masuk ke dalam mobil. Suasana di dalam mobil sangat sunyi, hanya deru nafas mereka dan suara AC yang terdengar.
To be continued