Harus Mau

1788 Kata
Pagi hari. Jam di dinding baru saja menunjuk angka enam lewat tiga puluh menit, namun di lantai atas kediaman mewah keluarga Alexander, suasana sudah riuh dan heboh. “BI LASMI!” “YA AMPUN, BI LASMI! DI MANA FOTO-FOTO YANG KEMARIN MALAM?!” “TARUH SINI, CEPAT!” Suara seorang wanita paruh baya bergema ke seluruh penjuru rumah, penuh semangat dan kesibukan yang tak biasa. Sementara itu, di lantai dua, Richard baru saja melangkah keluar dari kamarnya dengan wajah dingin dan datar—ekspresi khasnya saat kurang tidur dan enggan menghadapi keributan. Ia mengenakan kemeja putih yang rapi, lalu dengan tenang merapikan posisi jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Baru saja ia menuruni tangga besar, pemandangan di ruang tengah langsung membuat langkahnya terhenti sejenak. Di sana, mama nya duduk bersila di atas sofa. Di hadapannya, laptop terbuka menyala, layar iPad juga ikut menyala, berkas-berkas berserakan di atas meja, dan foto-foto wajah wanita tersebar di mana-mana seolah sedang mengadakan pameran. Tatapan Richard tetap datar tanpa ekspresi. “…Mama lagi buka biro jodoh di rumah?” Ibu Richard langsung menatap tajam ke arahnya, namun matanya justru berbinar senang. “Bagus kamu sudah turun! Sini duduk dulu!” Richard berjalan santai, menarik kursi di meja makan lalu duduk. “Pagi,” sapanya singkat. “Gak ada waktu buat basa-basi pagi-pagi begini!” seru ibunya dengan nada kesal namun bersemangat. “Kemarin kamu ngomong serius sama Mama kan?” Richard mengambil cangkir kopi yang sudah tersaji di meja. “Soal apa?” Ibu Richard langsung melotot lebar-lebar. “SOAL MENIKAH!” “Oh.” Richard menyesap kopinya dengan tenang. “Iya, benar.” Wanita itu langsung mendekatkan tubuhnya ke arah anak tunggalnya, matanya bersinar penuh harap. “Berarti Mama boleh pilih-pilih calon istri buat kamu sesuka hati Mama?” “Silakan saja.” “Kamu gak akan menolak atau menentang apa pun pilihan Mama?” “Kalau itu pilihan Mama, aku tidak akan menolak.” Ibu Richard sampai tertekan diam selama dua detik, menatap wajah putranya seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar. Tak lama kemudian tangannya refleks menekan dadanya sendiri. “Ya Tuhan…” Richard melirik sekilas. “Mama kenapa? Sakit d**a?” “Bukan! Mama itu bahagia, Nak! Bahagia!” Richard hanya diam tanpa kata. “Selama dua puluh sembilan tahun hidupmu, akhirnya kamu ngomong kayak laki-laki yang normal dan masuk akal!” serunya haru. “Mama berlebihan sekali.” “Mama bicara dengan sangat serius, Richard!” Richard tidak lagi menyahut, ia hanya membuka layar tablet kerjanya, tampak sama sekali tidak tertarik, tidak penasaran, dan tak ingin tahu urusan apa pun yang sedang dikerjakan ibunya. Baginya, menikah hanyalah sebuah tahapan dalam hidup yang memang harus dijalani. Jika hal ini membuat ibunya senang dan bahagia… lalu kenapa tidak? “Tapi ada satu syarat dari Mama,” ucap Richard tiba-tiba dengan nada santai namun tegas. “Apa? Katakan saja, Mama penuhi!” “Jangan pilih yang ribet.” Ibu Richard menyipitkan matanya bingung. “Ribet gimana maksudnya?” “Yang suka bikin drama, haus perhatian, suka pamer kemewahan, atau terlalu manja dan cengeng.” Ibu Richard langsung mengangguk mantap. “Ya ampun, mana mungkin Mama pilih yang begitu! Mama juga sama benci-nya kayak kamu!” Richard mengangguk kecil puas. “Bagus kalau begitu.” Ibu Richard kembali duduk tegak di sofa, senyum di wajahnya perlahan melebar, terlihat penuh rencana dan kelicikan yang tersembunyi. “Hm… Kebetulan sekali.” “Memangnya Mama sudah punya kandidat pilihan?” tanya Richard tanpa menoleh, masih sibuk dengan layarnya. Ia sedikit mengangkat sebelah alis. “Cepat juga gerakannya.” “Tentu saja! Mama ini punya jaringan kenalan yang sangat luas, Nak!” “Kamu mau anak pejabat atau anak menteri?” “Tidak usah.” “Model terkenal?” “Bukan.” “Atau mungkin artis?” “Bukan juga.” Richard mulai merasa bosan dengan percakapan itu. “Ya sudah, terserah Mama saja mau pilih siapa.” “Tapi…” Ibu Richard menahan senyumnya agar tidak terlalu lebar. “Kayaknya yang satu ini bakal bikin kamu kaget sampai melongo deh.” Richard malah tetap tenang dan fokus membaca surel masuknya. “Aku jarang sekali merasa kaget atau terkejut, Ma.” Ibu Richard hanya terkekeh kecil dalam hati. Ah, nanti kamu baru tahu rasanya, Nak. Dijamin kamu bakal syok luar biasa. Di tempat yang lain, suasana justru berbeda sekali. BRAK! Suara benda keras yang dibanting ke atas sofa terdengar memekakkan telinga. “AKU PULANG!” teriak seseorang dengan nada penuh semangat. Seorang gadis bertubuh tinggi berjalan masuk ke dalam rumah besar itu dengan mengenakan jaket kebesaran berwarna abu-abu, kedua tangannya membawa kantong-kantong plastik belanjaan. Rambut panjangnya diikat menjadi kuncir kuda dengan cara yang asal-asalan, sepatu olahraga putihnya tampak sedikit kotor berdebu, dan celana kargo yang ia kenakan membuatnya tampak santai dan bebas. Wajah cantik alaminya terlihat jelas tanpa sebutir pun riasan tebal. Inilah dia—Keira Maheswari. Seorang anak konglomerat, pewaris kekayaan keluarga pemilik jaringan hotel mewah, tapi kelakuan dan penampilan sehari-harinya jauh lebih mirip anak muda yang suka nongkrong di jalanan. Ibunya keluar dari arah dapur dengan wajah tak percaya. “Kamu dari mana pagi-pagi begini sudah keluar rumah?” “Dari pasar,” jawab Keira santai sambil meletakkan belanjaannya di meja. “PASAR?!” Keira mengangguk santai sambil membuka salah satu kantongnya. “Iya. Aku berencana mau masak daging panggang gaya Jepang buat sarapan.” Ibunya sampai melongo tak percaya. “Ya Tuhan… Anak orang kaya kok belanja daging sendiri ke pasar?” “Memangnya kenapa? Ada yang salah?” “Bisa suruh pelayan saja, Keira! Kamu itu anak majikan!” Keira berjalan menuju kulkas lalu membuka pintunya lebar-lebar. “Enggak seru kalau cuma menyuruh-nyuruh orang. Gak ada rasanya.” Ibunya hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Kadang ia benar-benar lupa bahwa anak gadisnya ini adalah pewaris sah dari perusahaan hotel berbintang lima. “Eh, ya sudah. Ngomong-ngomong, nanti malam kamu harus ikut Mama ke acara makan malam resmi, ya.” Wajah Keira langsung berubah masam dan meringis tak suka. “Males banget ah.” “Keira!” “Mama sendiri tahu kalau aku paling gak suka acara-acara begitu. Banyak aturan, harus duduk manis, harus senyum-senyum kosong…” “Di sana nanti bakal banyak anak-anak konglomerat dan orang terpandang yang datang lho!” “Makanya itu yang bikin aku makin malas. Isinya orang-orang sok penting semua.” Ibunya tiba-tiba menatap Keira dengan tatapan curiga dan menyelidik. “Ngomong-ngomong… Kamu sekarang gak sedang punya pacar kan?” Gerakan tangan Keira terhenti sejenak. Ia menoleh dan menatap ibunya dengan tatapan tajam. “Pertanyaan yang sangat menyerang dan merusak suasana hati di pagi hari, Mama.” “Kamu itu sudah berumur dua puluh lima tahun, Keira!” “Aduh, Mama mulai lagi deh…” “MULAI APA?! Mama cuma ingin punya cucu buat digendong, apa salahnya?!” Keira langsung tertawa lepas mendengarnya. “Fokus saja dulu sama pengembangan bisnis hotel kita, Ma. Urusan belakangan.” Ibunya melipat kedua tangan di d**a, menatap putrinya tak habis pikir. “Kamu tuh cantik, kaya, pintar, berpendidikan… Kenapa sampai sekarang belum ada satu pun laki-laki yang bertahan atau mendekat serius ke kamu?” Keira mengangkat kedua bahunya santai. “Mungkin karena cowok-cowok zaman sekarang itu aneh-aneh semua.” “Hah? Aneh gimana maksudnya?” “Mereka itu kalau ngomong suka bilang kalau suka sama perempuan yang mandiri, kuat, dan cerdas,” jelas Keira. “Terus memangnya kenapa? Itu kan bagus.” “Tapi kenyataannya, begitu mereka bertemu langsung sama aku, malah pada jadi minder dan kabur semua,” ujar Keira polos. Ibunya langsung tertawa terbahak-bahak. “Ya itu sih gara-gara kamu terlalu galak dan menakutkan, Keira!” “Aku cuma bersikap realistis dan apa adanya saja kok.” Tiba-tiba ibunya mendekatkan wajahnya, menatap Keira dengan pandangan penuh rencana. “Kalau misalnya kamu dijodohin atau dicarikan pasangan sama Mama, gimana pendapatmu?” Keira langsung menatap ibunya dengan wajah datar tanpa ekspresi. “Enggak mau.” “Kenapa lagi ini?” “Takut ketemu cowok yang sok kaya, sombong, dan merasa paling hebat.” “Kamu kan juga kaya, sama saja dong posisinya.” “Makanya itu masalahnya,” jawab Keira santai. Ibunya diam sejenak, lalu mencoba menawar lagi. “Kalau orangnya dingin dan pendiam?” “Nyerempet menyebalkan.” “Kalau dia seorang CEO muda dan sukses?” “Makin menyebalkan pastinya.” “Terus kalau dia ganteng dan berwibawa?” “Belum tentu juga dia orang yang waras dan baik, Mama.” Ibunya langsung tertawa keras sampai menepuk-nepuk meja karena geli mendengar jawaban putrinya yang pedas namun benar adanya. Sore harinya, di gedung kantor pusat perusahaan. Richard baru saja keluar dari ruang rapat besar dengan langkah lebar dan wajah yang masih terlihat serius. Sekretaris pribadinya berjalan mengikuti dari belakang dengan sikap hati-hati. “Ada yang perlu dibantu lagi, Pak Richard?” “Apa lagi?” tanya Richard singkat sambil terus berjalan. “Nyonya Besar meninggalkan pesan khusus untuk Bapak.” Richard menghela napas panjang, menahan rasa lelah yang mendadak menyerang. “Apa lagi yang dia inginkan kali ini?” “Beliau berpesan, malam ini Bapak harus pulang lebih awal dari jam biasanya.” “Untuk apa?” Sang sekretaris menelan ludah, berusaha menahan tawanya agar tidak meledak keluar. “Ada acara makan malam… bersama calon istri, Pak.” Langkah kaki Richard seketika terhenti kaku di tempat. “…Apa katamu?” “Menurut pesan Ibu, Bapak wajib hadir tanpa pengecualian.” Richard memejamkan matanya rapat-rapat, rasanya pelipisnya langsung berdenyut hebat seketika. “Ya Tuhan… Mama…” gumamnya pelan penuh pasrah. Sang sekretaris memalingkan wajah, berusaha sekuat tenaga untuk tetap bersikap profesional dan tidak tertawa di depan atasan. “Apakah mobil perlu disiapkan sekarang, Pak?” Richard mendesah panjang dan berat. “Siapkan saja.” “Baik, Pak.” “Tapi ingat satu hal.” Richard menoleh menatap sekretarisnya dengan tatapan memelas yang jarang sekali terlihat. “Apa itu, Pak?” “Kalau nanti ternyata orangnya aneh atau menyiksa batin… tolong doakan saja aku supaya tetap kuat bertahan.” Sang sekretaris hampir saja meledak tertawa keras mendengar ucapan itu. Sementara itu, di kediaman keluarga Keira, suasana perdebatan sedang terjadi lagi. “MALAM INI KAMU HARUS IKUT DAN HADIR!” “ENGGAK MAU! MALAS!” “HARUS KAMU IKUT!” “MALAS BANGET AKU BILANG!” “KEIRA!” Keira sudah berbaring santai di atas sofa dengan bantal menutupi sebagian wajahnya. “Mamaaa… capek tahu.” “Ini cuma makan malam biasa dan acara kekeluargaan saja, tidak ada yang menakutkan!” “Keluarga siapa? Keluarga orang yang Mama kenal?” Ibunya tiba-tiba tersenyum misterius, penuh rahasia. “Itu rahasia, nanti kamu juga tahu sendiri kalau sudah sampai di sana.” Keira langsung menurunkan bantalnya dan menatap ibunya dengan curiga yang kian memuncak. “…Kenapa aku jadi merasa takut dan ngeri mendengarnya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN