Rachel duduk diatas kasurnya dan memandang kosong jendela yang menghadap langsung kearah taman rumah sakit, ia melihat orang-orang yang berada ditaman dengan kosong. Sampai Kelvin mengusap pundaknya pelan lalu ia sadar.
"Kenapa?" tanya Kelvin.
Rachel memiringkan kepalanya kearah pundak Kelvin sembari memejamkan matanya.
"Gue takut ...," cicitnya.
Kelvin mengusap kepala Rachel yang menyender dibahunya. "Takut kenapa, hm?"
Satu bulir air mata jatuh dari mata Rachel dan tak lama ia terisak. Ia takut, karena mimpi itu. "Kel, gue takut."
"Giva?" panggil seseorang dari arah pintu, dengan serempak mereka berdua menoleh kearah sumber suara. Terlihat Arda sedang merapihkan pakaian Rachel untuk membawanya pulang karena hari ini Rachel diperbolehkan pulang.
"BANG ARDA!!!" teriaknya dan langsung berlari memeluk Arda. Infusan yang sebelumnya dipasang pun sekarang sudah bisa dilepas.
Arda memandang Kelvin dan dibalas gedikan bahu oleh Kelvin. "Bang ... Hiks ... Abang tau kan kalo Giva sayang Abang?" Rachel bertanya dengan suara sumbangnya karena menangis.
Arda menghela napas dan lagi-lagi mengangguk. "Iya, tau kok."
Arda menggiring Rachel kearah sofa diruangan rawat Rachel. "Giva kenapa. Cerita sama Abang!" desak Arda.
Rachel menarik napasnya. "Pas Giva tidur kemarin, Giva mimpi kalo Bang Arda sama yang lain tinggalin Giva! Bang Arda pergi keluar negeri tapi pas kita mau pisah Bang Arda kayak benci banget sama Giva. Padahal Giva udah sujud didepan kaki Abang tapi tetep aja Abang pergi. Disitu... Disitu... Hiks... GIVA BENERAN SAYANG ABANG, ABANG JANGAN PERGI TINGGALIN GIVA!" Rachel bercerita dan teriak pada akhir kalimat.
Sungguh, Arda benar-benar bingung dengan sikap Rachel yang menurutnya sangat aneh, jika ia bisa memilih. Ia akan memilih Rachel dengan sifat bad nya dari pada sifat cengengnya. Sungguh merepotkan.
"Itu gak akan terjadi Giva, Abang selalu ada buat Giva dan selalu ada sama Giva."
"Sayang sayang, yuk yang aus yang aus!" celetuk Kelvin yang masih berada diantara dua orang kakak beradik itu.
***
Saat ini mereka berempat sedang berada di dalam mobil milik Malik untuk menuju rumah Rachel dan Arda. Tetapi kakak beradik itu hanya memerhatikan dua orang didepannya yang sedang asik-asiknya membahas tukang jagung.
"Salah bego, harusnya tenonet, eh apa ya?" kata Kelvin.
"Eh apaan lo bego! Yang bener harusnya tetotet!" bantah Malik sambil menatap arah jalanan karena kali ini dia yang menyetir.
"Idih bego, yang bener tuh tenonet!"
"t***l, yang bener tetotet!"
"Tenonet!"
"Tetotet!"
"Tenonet!"
"Teto-"
"Apaan sih lo berdua?" cecar Rachel memotong ucapan Malik. Mereka bertiga mendengus karena sifat asli Rachel kembali. Ya, bad dan galak.
"Yah balik lagi dah anu nya," gumam Kelvin pelan. Rachel memajukan tubuhnya kearah depan tempat duduk, "Ngomong apa lo?" desisnya tepat ditelinga Kelvin.
Kelvin bergidik ngeri dan menggeleng cepat, Malik dan Arda menahan tawanya saat melihat Kelvin.
Rachel menyandarkan tubuhnya pada tubuh Arda disebelahnya. Tak lama ia tertidur karena sepertinya ia kelelahan. Dan kondisinya belum sepenuhnya pulih.
***
"UNO!" teriak Malik saat kartu uno yang berada ditangannya tersisa satu buah. Mereka -Arda, Malik, dan Kelvin- sedang bermain dihalaman belakang rumah Rachel. Sedangkan Rachel, gadis itu duduk diatas ayunan sambil memegang sebuah gitar berwarna putih miliknya yang dibelikan Arda saat hari ulang tahun nya.
Kasihku ... Sampai disini.
Kisah kita jangan tangisi keadaannya.
Bukan karena kita berbeda
Dengarkan ... Dengarkan lagu.
Lagu ini melody rintihan hati ini.
Kisah kita ... Berakhir, di Januari.
Rachel bersenandung kecil sambil terus menggerakkan kakinya untuk membantu mengayunkan ayunan yang ia duduki. Dia belum memainkan gitarnya karena karena masih belum ingin.
Akhirnya dia menghadap kebelakang dimana ada tiga orang lelaki yang masih asik bermain kartu uno mereka.
"Bang Arda, Malik, Kelvin. Kalian mau gue nyanyi lagu apa?" tanya Rachel mengalihkan pandangan ketiganya.
"AH GUE TAU!" teriak Kelvin.
Rachel meraih batu kerikil kecil yang berada tepat dibawah ayunan yang ia duduki. "Jangan teriak!"
"Life of the party nya si Shawn mendes!" tiba-tiba Malik menjawab. Rachel tampak menimbang sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
I love it when you just don't care.
I love it when you dance like there's nobody dare.
So when it gets hard, don't be afraid.
We don't care what them people say.
Rachel terus memetik senar gitar dipangkuannya dengan pelan. Jarinya terlihat begitu lincah saat memetiknya dan begitu menghayati lagu.
I love it when you dont take no.
I love it when you do what you want cause you just said so.
Let them all go home, we out late.
We don't care what them people say.
Bang Arda ... Lirihnya dalam hati.
We don't have to be ordinary.
Make your best mistakes.
'cause we don't have the time to be sorry.
So baby be the life of the party.
"Bang Arda ... Hiks ...," isak Rachel.
Arda meletakkan kartu uno yang sedari tadi dipegangnya dan langsung berjalan ke arah Rachel.
"Abang disini," ucapnya pelan sambil memeluk Rachel.
"Bang, gue mau bobo!" rengek Rachel didalam dekapan Arda. Sepertinya sekarang Ia akan lebih sering tidur didalam dekapan Arda karena Rachel merasa sangat nyaman. Tak apa lah dengan Kakaknya sendiri.
"Iye!"
"Siempre conmigo!" gumam Rachel kemudian memejamkan matanya.
Malik dan kelvin yang masih bisa mendengar gumaman Rachel mengernyitkam dahi, bingung. "Itu bahasa apa bang?" tanya Malik.
Arda menjawab, "Spanyol," dan terus mengusap bahu Rachel sayang.
Saat dirasa sudah Rachel sudah tertidur, Arda menggendong Rachel ala bridal style. Dan membawa Rachel kedalam kamarnya yang serba hitam dan putih itu. Sedangkan Malik dan Kelvin mengekor dibelakangnya dengan Malik yang membawa gitar Rachel dan Malik yang memegang kartu uno nya.
"Kenapa ya, si Achel kalo dipeluk sama bang Arda sekarang pasti tidur mulu?" heran Kelvin.
Arda yang sedang mengusap kepala Rachel menolehkan kepalanya kearah Kelvin. "Gue kan Abangnya, ya gak apa-apa lah!" sahut Arda.
Malik duduk diatas karpet bulu berwarna hitam yang terukir tulisan b***h milik Rachel.
"AYO MAIN LAGI!" pekik Kelvin.
Malik melempar wajah Kelvin menggunakan bantal kecil yang berada dipangkuannya. "Berisik!"
***