Back

1294 Kata
  Dalam perjalanan menuju  Shadow world  Drew mengingat kembali tingkah imut Britney yang polos. Semua yang ada pada perinya itu membuat dirinya gila. Entah caranya tersenyum, cemberut atau apapun, semuanya membuat Drew serasa hidup. Sebab itu mengingatkan dirinya pada Britney yang dulu. Meski wujudnya tidak seperti dulu, bagi Drew jiwa mereka tetap sama Cintanya sudah melewati ukuran fisik maupun waktu. Baginya Britney tetaplah Britney.    Flasback on.    Setelah tantangan yang diucapkan oleh Leonard. Maka tiba waktu itu dia harus menjemput Britney dari sekolahannya. Tentu ini adalah saat yang dinanti Drew. Dia selalu menginginkan bersama dengan Britney tanpa ada siapapun yang mengganggu. Drew juga ingin pegang-pegang pipi Britney yang tembem. Menyisir rambut Britney yang unik.    Dengan hati berdebar Drew menunggu Britney pulang dari sekolah dan masuk ke dalam kamarnya.  Ia sudah tidak sabar menjalankan misi yang tercipta akibat puasa selama lima tahun.    'Bayangkan aku tidak menyentuh mine selama lima tahun,  itu lebih buruk dari seorang duda. '   Andai saja Britney tidak mengidap ketergantungan terhadap Leonard, pasti dia sudah menculik mini peri itu dari kemarin. Nasib memang tidak memihak padanya, setelah menemukan keberadaan Britney justru mine nya tidak ingat dirinya. Seharusnya Drew bersyukur karena Britney tidak ingat kejadian saat dirinya mengabaikan Britney.    Jantung Drew seolah terkoyak ketika ingatan itu datang kembali. Dia sangat takut jika Britney ingat kembali maka peri nya akan meninggalkan dirinya. Rasa sesal kembali menghantam dadanya. Meskipun semua itu demi Britney sayangnya semua tidak sesuai dengan yang ia pikirkan.    "Apa yang harus aku lakukan agar dia memaafkan ku ketika ingatannya kembali, " guman Drew .   Saat dia melamun tiba-tiba sebuah tangan yang lembut menutup matanya. Drew yang tengah melamun tidak sadar jika Britney sudah masuk kamar.   "Britney, kau sudah ganti baju dan cuci tangan? "   "Hm, aku juga sudah makan dan cuci tangan. Apa yang kau lakukan di kamarku? "tanya Britney.   "Pipi ku sakit...  Kata paman Adrian pipi ku akan sembuh jika di cium gadis berambut pink. " Drew mengucapkan kalimat itu dengan mata polos. Dia menebak jika Britney akan menawarkan diri mencium pipi nya. Itu adalah sifat khas anak kecil jadi Britney tentu akan melakukannya.   "Oh, bearti aku harus mencium mu ya? " Britney memiringkan wajahnya sehingga terlihat sangat imut. Drew hampir kehilangan kendali sehingga akan mencium Britney sampai puas.   'Sabar-sabar, aku tidak boleh bersikap seperti pedhopil. '   Syukurlah akal sehatnya masih berfungsi. Dia berpikir jika dirinya tidak bisa mencium Britney, bukan berarti Britney tidak bisa mencium dirinya. Dia akhirnya berpura-pura sakit dan ternyata rencananya berhasil.  "Benar ~ ini sakit sekali. Cepat cium pipiku. " Drew menampilkan ekspresi kesakitan.   Segera Britney mencium pipi Drew. Akal licik Drew jelas tidak akan melepasnya dengan mudah. Dia menunjuk bagian lain agar dicium Britney juga.   "Di sini juga sakit. " Drew menunjuk pipi kirinya.    Cup.   "Ini juga. Aduh. " Lalu menunjuk keningnya.    Cup.   "Bibirku juga,  ini malah yang paling sakit. "   Britney sempat berhenti karena ragu, tapi wajah Dree yang berkaca-kaca membuatnya tidak tega.   Cup...   Ciuman itupun terjadi. Perasaan Drew sangat bahagia sampai lupa jika gadis di depannya ini hanyalah gadis berumur delapan tahun yang dia kelabui.     Dia segera menghisap bibir Britney yang masih menempel pada dirinya. Walau sebentar Drew sudah sangat bahagia. Dia tidak ingin memerankan lolicon secara penuh. Cukup ciuman kilat.   "Britney,  apakah kau bersedia menciumku jika aku sakit lagi? "   "Tentu saja," jawab Britney. " Kata bu guru menolong orang itu perbuatan terpuji, " lanjutnya.   "Kalau begitu ini jadi rahasia kita ya? Kau mau merahasiakan dari siapapun kan? " Langkah pencegahan agar tindakan nya tidak diketahui orang lain,  terutama Leonard. Drew harus membuat Britney tidak menceritakan pada Leonard atau pada orang lain.   "Kenapa? " tanya Britney, " bukankah itu tindakan terpuji karena aku membantu teman? "   "Ibu peri bilang jika kamu bercerita dengan orang lain maka aku akan sakit lagi." Wajah menyesal Drew membuat Britney kasihan. Ia pun berjanji pada Drew.   "Baiklah, ayo tidur siang."   "Iya,  ayo. "   Mereka pun tidur sambil berpelukan. Pemandangan yang mengemaskan melihat anak kecil yang lucu berpelukan dan terlelap di tempat tidur bergambar strowberi.   Saat hari mulai sore,  Drew dengan cepat menghilang dari kamar Britney.      Flashback off.    Dia segera mempercepat langkahnya. Drew harus menangani masalah makhluk kegelapan yang menyusup ke dunia manusia. Masalah yang timbul karena dia bertapa dulu.    Sampai di kastilnya di negeri bayangan, Drew membawa langkah kakinya berjalan menuju tempat pertemuan. Di sana para tetua yang ia jatuhi tugas sebagai pengganti hukuman telah menunggu dan bergetar. Apalagi saat ini tidak ada peri yang bisa menahan kemarahan Drew. Kini mereka harus lebih berhati-hati dari sebelumnya.    Melihat sang lord kembali, semua tetua dari klan bayangan segera memberi hormat. Drew hanya mengangguk dan duduk di singgasana. Matanya menatap Adrian dan memberikan isyarat untuk mendekat.   Adrian segera mengangguk. Dia menghampiri Drew kemudian menyerahkan kertas yang di tulis tetua klan.   Drew mengambil kertasnya, dengan teliti Drew membaca laporan tersebut.   "Jadi tetua klan vampir berdarah murni mengundang ku? " Drew agak ragu dengan undangan ini. Setaunya para tetua klan berdarah murni mengasingkan diri dari urusan dunia kegelapan. Bahkan mereka terdengar beritanya selama ribuan tahun. Jadi mau tidak mau Drew menaruh curiga dengan undangan yang ia terima.    "Apakah mereka ingin membalas dendam? " Drew menyeringai. Jika benar ia tidak keberatan menghanguskan mereka semua.   "Kami rasa tidak. Mereka ingin membahas sesuatu dengan anda." Salah satu tetua klan berkata dengan sedikit gemetar. Bagaimanapun dirinya adalah salah satu orang yang ingin mendapatkan tahta negeri bayangan saat Drew tidak berada di tempat. Beruntung dia tidak dihukum oleh Lord. Jadi setelah berhasil menyelesaikan tugas sehingga mendapatkan surat perdamaian dari tetua vampir berdarah murni, ia yakin itu akan membawa keuntungan bagi Lord. Sehingga dia bisa menebus kesalahannya.   Drew mengangguk. Mungkin ada baiknya jika dia menghadiri undangan mereka. Siapa tau jika akan ada hal baik dari pertemuan mereka. "Baiklah,  aku akan menemui mereka. "   Keputusan Drew disambut desahan lega dari tetua yang membawa undangan perdamaian itu. Ini bearti Drew sudah mulai mempercayai dirinya.    Drew melirik Louis, "Louis,  kau tangani makhluk dunia kegelapan yang menyusup di dunia manusia selama aku pergi."   "Baik, " jawab Louis. Dia selalu merasa jika Drew memiliki hobi memberinya tugas. Kemarin ia memberinya rubah ungu Hiny. Sekarang menangkap para penyusup.    "Kenapa tidak memberinya tugas menjaga peri imut itu saja? "gerutu Louis.   "Stth jaga bicaramu. Lord tidak akan mentolerasi ucapanmu tentang nona Britney meskipun hanya sekedar lelucon." Adrian memperingatkan Louis yang kembali bicara ceroboh. Rupanya ia belum jera dengan hukumannya dulu.    Louis memucat, dia menutup mulutnya dan berharap Drew tidak mendengar gerutuannya. Dengan takut-takut ia melirik ke arah Drew. Syukurlah pria itu masih berkonsentrasi berbicara dengan tetua klan dari ras Lycan.    Wuzz   Drew menghilang dari pandangan mereka. Satu demi satu para tetua ikut menghilang. Meninggalkan Louis dan Adrian. Barulah Adrian meneruskan godaannya. Dia tau benar jika Louis sangat sebal dengan kehadiran Hiny. Sayangnya Lord Drew menyuruhnya merawat penyihir yang dihukum itu. Jadi mau tidak mau, Louis merawat rubah jelmaan Hiny.    "Selamat bertugas Louis,  jangan lupakan rubah ungu mu itu. "    Louis mendengus sebal. "Kenapa aku yang selalu sial! "   "Hei, itu bearti Lord mempercayaimu. Lagi pula kau memiliki ekor sembilan yang bisa dengan mudah menangkap para penyusup itu. " Adrian mencoba memuji Louis agar tidak cemberut. "Lagi pula di dunia manusia, kau bisa bersenang-senang. Yang aku tau kau sangat suka melihat tubuh gadis-gadis muda. Jadi kau bisa mengunjungi pantai atau kolam renang dan juga club malam. Mereka jarang yang memakai baju saat berada di tempat-tempat itu. "   Mata Louis berbinar. "Kau benar. Pasti menyenangkan. "   "Tapi jangan lupa rubah ungumu. "   "Aku akan menitipkan Hiny pada Neiji. "   Hiny yang berada di gendongan Louis merintih. Dia seakan tidak ingin berpisah dengan Louis.    "Mengapa kau terlihat sedih? " tanya Louis.    Tentu Hiny yang dalam wujud rubah tidak bisa berkata seperti manusia.    "Sepertinya keputusanku mengembalikanmu ke Neiji adalah tindakan tepat. Aku bisa meminta Neiji menyihirmu agar bisa bicara. " Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN