JESSE memandangi langit-langit kamarnya sembari menghembuskan napas berat. Entah kenapa, sekarang ia malah terbayang-bayang ucapan Mikael tentang modeling. Harus Jesse akui, ia memang merasa hidup ketika kamera itu memotretnya. Ia memang merasa bahagia ketika berpose di depan kamera. Jenis kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi, ia tahu betul kalau Daddynya tidak mungkin setuju dengan usul ini. Apa lagi, Daddynya selalu bersikap keras pada Jesse, sampai terkadang Jesse merasa diasingkan sebagai anaknya. Selain itu, Daddynya juga jarang ada di rumah karena pekerjaannya yang terkadang mengharuskan ia pergi ke luar negri. Trt ... trt .... Jesse menolehkan kepalanya saat ponselnya bergetar. Pupil mata lelaki itu melebar saat melihat Emily-lah yang meneleponnya. "Halo, Em

