Bibir Anne sedikit cemberut. Beneran, ini jawaban pemuda di depannya seperti itu saja? Tidak ada yang lain gitu? Minimal tunggu beberapa saat dulu baru dijawab. "Tapi, Dokter Shin ... ini urgent banget. Ayo lah bantu aku." Sano menggeleng dengan jari telunjuk di depan wajah, seolah-olah dia memang tidak bisa dengan permintaan Anne. "Dokter, menolong orang itu dapat pahala besar loh...." Anne masih mencoba membujuk Sano. Sano meletakkan dagu di kedua tangannya yang bertumpu di atas meja, "Aku mau tanya. Kenapa kamu ingin sekali aku mengobati psikis calon tunangan sepupumu itu?" "Karena aku percaya ke Dokter," jawab Anne lugas. Sebenarnya bukan itu saja. Dia tidak punya teman seorang Psikiater lagi di Jakarta selain Sano. Kalau saja Anne tidak kenal Sano, mungkin Anne akan menolak Aden

