Setelah sampai hotel, Anne berjalan masih dengan tatapan keheranan sebab para pekerja di hotel tersebut menatap dia dengan tatapan yang sulit diartikan.
Anne masuk kamar hotel tempatnya menginap. Malam ini dia harus siap-siap karena besok sore harus pulang ke Jakarta. Sekarang perasaannya jauh lebih baik dari yang kemarin. Dia berterima kasih sekali ke orang itu. Orang yang Anne sendiri tidak tahu namanya siapa. Intinya mah, orang itu.
Setelah selesai merapikan barang-barangnya dan membersihkan tubuhnya. Kemudian Anne merebahkan tubuhnya ke kasur. Dia perlu istirahat yang cukup, sebelum memulai hidup baru dan ya ... semua serba baru.
"Si b******k itu. Awas aja kalau dia datang ke kehidupan gue lagi," geramnya.
Lambat laun Anne mulai memejamkan matanya tertidur.
Tidak terasa hari sudah mulai siang. Sejak pagi Anne hanya melakukan beberapa aktivitas. Seperti senam pagi dan menonton Drama Korea kesukaannya. Sekarang Anne sedang memoles wajahnya sedikit, karena dia bersiap-siap akan pergi ke Bandara I Gusti Ngurah Rai yang ada di Denpasar, Bali.
Beruntung hanya satu jam saja dari Hotel tempatnya menginap. Jadi tidak perlu memakan banyak waktu di jalan. Hanya saja Anne ingin menunggu di dalam Bandara saja. Biar tidak telat penerbangannya.
Anne melangkah riang keluar dari kamar, sambil menggeret koper kecil miliknya. Dia menyapa beberapa pekerja di hotel. Rasanya Anne ingin balik lagi kesini lain waktu, kalau saja dia tidak punya kenangan buruk di Bali.
"Mbak ... mau pulang?" tanya Ira yang kebetulan berpapasan dengan Anne.
Anne mengulas senyum kecil, lalu mengangguk pelan. "Iya Mbak Ira. Terima kasih ya sudah menjadi temanku disini."
"Sama-sama Mbak ... aku tunggu kedatangannya lagi di Bali," jawab Ira dengan senyuman.
Anne tersenyum kecut. "Doakan saja, Mbak. Mari Mbak ...."
"Iya hati-hati, Mbak ...."
Kemudian Anne berjalan menuju depan hotel, dimana sudah ada taxy yang sudah menunggu dirinya. Anne berterima kasih ke supir yang membantunya memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.
Anne menyempatkan diri menatap hotel tempatnya menginap tiga hari ini.
"Selamat tinggal Bali. Semoga suatu saat nanti aku punya keberanian datang lagi kesini," gumam Anne pelan.
Anne juga sudah memberitahu Bora untuk menjemputnya nanti di Bandara Jakarta. Bora dengan senang hati menjemput sahabatnya yang sedang patah hati.
Kurang lebih dua jam penerbangan. Akhirnya Anne telah sampai di Bandara Seokarno-Hatta Tanggerang, Banten.
Setelah chek-in ini dan itu. Anne keluar dari kedatangan dalam negeri. Bora yang melihat Anne datang. Tanpa banyak tanya, Bora langsung memeluk sahabatnya. Sementara Anne yang dipeluk sang sahabat kembali menangis.
Dia menumpahkan air matanya ke sang sahabat yang berambut sebahu itu. Bora turut prihatin dengan apa yang dialami oleh sang sahabat. Seandainya saja ia ikut ke Bali. Mungkin Anne tidak akan serapuh ini.
"Lo yang sabar ya, Ne," ucap Bora, tangannya masih mengelus punggung sang sahabat.
Anne hanya menjawab dengan deheman. Hal yang paling disyukuri Anne saat di Jakarta adalah bertemu Samantha Debora. Beberapa menit kemudian, merekapun mengurai pelukan.
"Sini gue bantu bawain koper lo." Bora mengambil koper kecil milik Anne.
Anne mengangguk pelan, lalu mengikuti Bora dari belakang. Mereka berjalan menuju mobil Bora yang sudah terparkir di tempat parkiran.
"Lo mau pulang ke rumah gue?" tawar Bora setelah meletakkan koper Anne di bagasi mobilnya.
"Nggak usah, Bor. Gue pulang ke apartement aja," jawab Anne menolak halus tawaran Bora. Anne ingin menenangkan diri. Lagipula kalau di rumah Bora. Anne pasti dibuat tambah pusing oleh kakaknya sang sahabat. Karena sedari dulu kakak Bora selalu mengejarnya. Merayu kata-kata menjijikkan yang membuat ia ingin mengeluarkan isi makanan di perutnya, alias muntah.
"Ya sudah. Ayo masuk."
Lagi-lagi Anne hanya menganggukkan kepalanya. Diapun masuk ke mobil sang sahabat. Duduk di depan samping kemudi. Bora sendiri ikut masuk ke dalam mobil.
Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Bora melaju pelan meninggalkan Bandara.
Tidak ada obrolan dari mereka selama perjalanan. Hanya alunan musik yang terdengar mengalun indah di dalam mobil.
Kurang lebih satu jam. Mobil Bora sampai di depan gedung apartement tempat Anne tinggal.
Merekapun turun. Lagi-lagi Bora yang membantu Anne membawakan koper kecil milik Anne.
"Ne ... lo nggak lupa kan permintaan Bu Jane?" tanya Bora yang sedang duduk santai ditemani segelas jus dan beberapa cemilan.
Anne mengerjakan matanya beberapa kali. Kemudian dia menepuk dahinya pelan, kenapa dia bisa lupa dengan permintaan Jane, sang atasan di kantor.
"Mati gue, Bor," keluh Anne. Dia menggigiti kukunya karena bingung.
Bora mendesah pelan. Sahabatnya ini memang cerdas tapi mengingat Anne habis diselingkuhi. Mungkin sementara ini otak cerdasnya sedang digadaikan di suatu tempat. Kasihan sekali. Hiks
"Lo ngomong aja yang sejujurnya, Ne," saran Bora santai.
Anne menoleh ke arah Bora. "Ngomong apa?" tanya Anne dengan kening berkerut.
"Ya ngomong, 'otak saya sedang buntu, Bu. Soalnya saya habis diselingkuhi' beres kan," jawab Bora seenaknya.
Anne melotot mendengar jawaban Bora yang seenaknya. "Gila lo ya! Masa gue harus bilang kaya gitu."
"Ya daripada nggak ada alasan lain kan. Lagian emang kenyataannya kaya gitu, kok," ucap Bora santai, sembari menghedikkan bahunya tidak peduli.
Anne mengambil tisu, lalu membentuknya seperti bola kecil. "Nggak usah kasih saran ke gue, kalau menyesatkan," sungut Anne sembari melemparkan tisu itu ke Bora.
"Dih, dikasih saran juga. Ya udah kalau nggak mau. Gue nggak maksa," ucap Bora dipenuhi cibiran.
Anne menyebikkan bibirnya. "Whatever," ucapnya, sembari mengibaskan tangan di depan.
"Sudahlah ... terserah lo saja," acuh Bora. Dia mengambil minuman yang ada di meja, lalu meminumnya.
"Lo tahu nggak, Bor. Di Bali gue hampir lompat dari jembatan kalau nggak ada yang datang nolongin gue," lirih Anne.
Bora langsung menyemburkan minumannya seketika, setelah mendengar ucapan Anne.
"Jorok banget sih lo!" sungut Anne sangat kesal.
"Are you insane?!" Bora mengabaikan Anne yang masih bersungut-sungut kesal.
"Ne. Gue tahu, lo kadang nggak waras. Tapi mendengar lo hampir saja bunuh diri karena si cowok buaya itu. Astaga ... itu tindakan lo yang benar-benar nggak waras banget!"
"Gue bilang kan hampir," sungut Anne masih kesal.
"Mau hampir, mau mampir. Please lah ya ... itu gila banget menurut gue sih."
Anne menyebikkan bibirnya tidak peduli. Ya ... dia masih beruntung diselamatkan oleh pria yang datang entah darimana. Yang jelas Anne berterima kasih sekali pada dia.
"Gue nginap disini ya?"
"Mau ngapain lo nginap disini?"
Bola mata Bora berputar sebentar. "Ya kali aja kan---"
"Gue mau bunuh diri lagi gitu? Ada sinting-sintingnya lo ya."
Bibir Bora mengerucut beberapa senti. Sang sahabat bukannya terima kasih malah mengatai dia sinting. Harusnya Anne berkaca pada diri sendiri, sebab dia hampir bunuh diri karena diselingkuhi.
"Udah sana pulang lo. Gue mau istirahat."
"Lo ngusir gue, Ne?"
Anne memutar bola matanya jengah. "Nggak usah drama deh, Bor! Lagian gue emang benar-benar capek, ingin istirahat."
"Ya udah gue pulang ...."
Anne mengibaskan tangannya, menyuruh Bora pulang ke rumah.
Dengan hati sedikit dongkol. Bora akhirnya pulang karena tidak diizinkan menginap oleh Anne. Padahal niat dia kan baik. Takutnya Anne mengulangi percobaan bunuh diri kan, who know.
Anne sendiri setelah Bora pulang. Membereskan semua barang-barangnya. Apalagi tadi mereka habis Makan-makan. Pastilah meja dan sebagainya kotor.
Anne membersihkan tubuhnya juga biar sedikit segar.
Ting tong!
Saat Anne masih sibuk melakukan ritual di wajahnya. Ada yang memencet bel apartemen yang ia tempati. Suara bel itu sampai berulang kali, membuatnya sedikit kesal.
"Apaan lagi si Boraks itu," gerutu Anne. Kenapa dia berpikir Bora. Karena hanya Bora yang tahu tempatnya tinggal selama di Jakarta.
"Apaan lagi sih, Bor?" tanya Anne sangat kesal, setelah membuka pintu.
Tubuhnya menegang seketika setelah tahu siapa yang datang. Seorang pria blasteran yang menatapnya sangat tajam dan datar. Anne sendiri tentu tahu siapa orang yang ada di depan pintu itu.
Seseorang yang ada di depan Anne, langsung masuk begitu saja. Tidak mempedulikan raut wajah ketakutan, bingung juga kesal Anne.
Tanpa permisi sang pemuda itu duduk di sofa ruang tamu. Mata tajamnya memindai seluruh sudut ruangan.
Anne duduk setelah menutup pintu. Jari jemarinya memilin kaos yang ia pakai. Dalam hati ia bertanya dari mana seseorang yang datang tidak diduga itu, tahu tempat tinggalnya.
"Aa tahu dari mana tempat aku?" tanyanya dengan nada pelan.
Pria yang sedari tadi fokus memindai ruangan Anne. Menoleh ke arah Anne dengan wajah datar. Memang seperti itu pembawaannya selalu datar tanpa senyuman.
"Dari mana saja kamu?" Pria itu mengabaikan pertanyaan Anne dan malah balik bertanya.
"Jawab pertanyaan aku dulu Aa," ucap Anne sedikit kesal.
Pria itu menaikkan alisnya. "Pernahkah kamu berpikir. Kenapa keluargamu hanya diam saja ketika kamu kabur ke Jakarta sampai dua tahun ini? Apakah kamu sebodoh itu. Gadis bandel!"
Anne mengerjakan matanya beberapa kali. "Jadi Papi, Mami, dan Kak Leon tahu aku disini, A?"
"Menurutmu?"
Anne ternganga mendengar jawaban dari sepupu blasterannya.
"Dengar Jihyo. Kakakmu Leon, menitipkan kamu ke Aa. Kalau sampai dia tahu adiknya kenapa-napa. Aa adalah orang pertama yang akan dikuliti Leon hidup-hidup," ucapnya santai.
"Asal kamu tahu. Kalau bukan karena Leon. Papimu pasti menyuruh beberapa orang memaksamu pulang ke Semarang. Kamu mau seperti itu?"
"Please A ... aku belum mau pulang ke Semarang," pinta Anne memelas.
"Kalau kamu tidak mau pulang. Berhentilah membuat ulah, gadis bandel. Jangan merepotkan orang lain."
"Aku nggak pernah meminta Aa repot-repot mengurusku," balas Anne dengan bibir cemberut.
"Oh jadi kamu mau Leon sendiri yang mengurusmu?"
"Dih! Nggak, nggak, nggak ... mau Aa atau Kak Leon. Aku nggak---"
"Oh atau, kamu mau Aa bilang ke Papimu suruh seret kamu pulang ke Semarang, terus dinikahin."
"Wah! Kok Aa Aden jahat banget sih sama aku."
Aden menyebikkan bibirnya. "Nggak usah berdrama gitu, Jihyo."
Yupz benar ... orang yang saat ini datang ke tempat Anne adalah Hayden Abimana. Dia rela melesatkan mobilnya ke tempat sepupu bandelnya, setelah ditelepon orang suruh dia bahwa Anne sudah pulang. Aden bahkan meninggalkan sang pujaan hati bersama Mommy-nya di rumah, hanya untuk mencari Anne. Beuhh ... kalau bukan Anne sudah dianggap adiknya sendiri. Aden tidak mau repot-repot mengurus dan menjaga Anne.
Anne semakin cemberut. Kayanya malam ini dia perlu mandi kembang tujuh rupa. Kenapa akhir-akhir banyak sekali kejadian tak terduga. Diselingkuhi. Ini lagi, sepupu bulenya tiba-tiba datang padahal Anne sudah dua tahun menetap di Jakarta setelah kabur dari rumahnya yang terletak di Semarang.
"Sekarang kamu bilang. Darimana kamu, gadis bandel?"
Anne mendesah pelan. Sejujurnya dibanding dengan Leon kakaknya. Anne lebih dekat dengan Aden. Maka jarang heran kalau Anne memanggil Aden 'Aa' walaupun dalam silsilah keluarga, Anne yang tua karena Anne anak dari om-nya Aden atau bisa dikatakan orang tua Anne kakak dari orang tua Aden.
"Jihyo Adrianne Baskara."
Anne yang sedari tadi menunduk, mendongakkan kepalanya. Kemudian dia mendesah pelan sebelum menceritakan semuanya.
Aden hanya diam mendengarkan sepupunya bercerita. Mungkin kalau Leon tahu adiknya disakiti seperti itu. Perusahaan mantan pacar Anne bisa dihancurkan oleh Leon. Ngomong-ngomong kenapa jalan cerita Anne sama dengan jalan ceritanya lima tahun lalu. Dimana dia diselingkuhi dan bertemu dengan gadis yang sekarang jadi calon tunangannya.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu istirahat dan lupakan si demit itu," ucap Aden setelah Anne selesai bercerita.
"Aa nggak akan berbuat aneh-aneh kan?" tanya Anne pelan.
"Aku bukan Leon. Jadi kamu nggak usah khawatir. Yang terpenting kamu tidak apa. Dan mulai saat ini, kalau kamu ada apa-apa cepat kasih tahu Aa."
Anne hanya mengangguk pelan. Dia beruntung disayangi begitu besar oleh keluarganya. Makanya waktu dia hampir bunuh merasa bersalah karena keluarganya pasti bakalan sedih.
"Aa mau pulang sekarang?" tanya Anne, karena melihat Aden beranjak dari duduknya.
"Hem ... Aa capek, ingin istirahat," jawab Aden.
"Ya sudah Aa hati-hati pulangnya."
"Jaga diri baik-baik, Anne. Oh ya kamu main juga ke rumah Mommy. Beliau mengharapkan ponakannya datang ke rumah."
"InshaAllah, A ... nanti kalau aku sudah nggak terlalu sibuk, main ke rumah Aunty dan Uncle. Dan mau kenalan juga sama calon tunangan Aa."
"Tahu darimana kamu?" tanya Aden dengan kening berkerut.
"Dari Mami ...," jawab Anne lalu terkekeh pelan.
"Oowh ... ya udah nanti Aa kenalin sama dia."
"Oke ... A, lain kali kalau mau mampir bawa cemilan ya," pintanya disertai kekehan.
"Dasar! Ya sudah Aa pulang dulu." Aden mengacak rambut sepupunya.
Anne mendesah pelan, setelah Aden sudah keluar dari apartement miliknya. Beruntung tadi kata Aden, keluarganya yang di Semarang tidak tahu. Jadi dia tidak paksa pulang dan menikah dengan orang yang dijodohkan dengannya. Memikirkan itu kepala Anne jadi pusing mendadak. Sudahlah ... lebih baik tidak usah pikirkan itu. Pikir Anne.
***