Kepala Sano terasa pening saat bangun tidur. Semalam dia tidur saat sudah larut malam. Tidak bisa tidur? Oh, jelas dong! Bagaimana bisa tidur, sementara pikirannya selalu tertuju pada Anne. Tidak tahu dimana keberadaan gadis itu. Sano meraba ponsel yang ada di kasur. Baru kali ini dia tidak mau lepas dari ponsel, padahal sebelumnya tidak seperti ini. Dia jarang menggunakan ponsel. Hanya seperlunya saja, bahkan tak jarang seseorang yang menghubunginya bukan Sano sendiri yang duluan. Setelah mendapatkan ponsel, Sano memijit pelipisnya pusing kemudian mengecek apa ada balasan dari Anne. Dia memang mengirim pesan pada gadis itu untuk mereka bertemu, takut semakin salah paham. Dia tidak menjelaskan siapa Fanny di pesan. Nanti kalau mereka bertemu saja baru akan terbuka semuanya. Sano meliha

