Dinner Mate : 4

1584 Kata
Happy Reading .... *** Sano membawa Anne ke hotelnya. Dia melajukan mobilnya pelan-pelan takut Anne terjatuh karena Sano meletakkan Anne di jok belakang. Kurang lebih satu jam. Akhirnya mobil yang dikendarai Sano sampai di depan Mahendra Hotel. Sano membuka pintu mobilnya, lalu membuka pintu belakang juga, dimana Anne masih tidak sadarkan diri. "Pak Sano. Ada yang bisa saya bantu?" Sano menoleh ke belakang setelah mendengar suara berat dari seseorang. "Ahh ... tidak usah Pak Muchlis. Biar saya saja yang membawa dia, tolong ikuti saya saja di belakang," jawab Sano. "Baik Pak." Pak Muchlis menganggukan kepalanya. Walaupun beliau juga bingung dengan sang atasan yang membawa pulang seorang gadis yang sedang tertidur. Pikirnya. "Tolong ikuti saya ya, Pak," pinta Sano. Sano membopong Anne ke salah satu kamar hotel. Dia tidak tahu kamar Anne jadi dia akan menaruhnya di kamar yang masih kosong. Mungkin dia akan bertanya ke Resepsionist Hotel, di mana kamar gadis yang sedang dibopongnya. Selama Sano membopong gadis ini. Banyak pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan bertanya, penasaran, kesal, dan lainnya. Sano merebahkan Anne dengan gerakan hati-hati. Dia menatap sang gadis yang wajahnya layu. Bak daun yang tidak disiram air selama seminggu. Entah apa yang membuat si gadis sampai ingin mengakhiri hidupnya. Padahal sebelum kejadian itu, Sano melihat sang gadis melangkah riang di Caffe. "Pak Sano. Bapak memanggil saya?" tanya Ira selaku Manager Hotel. "Mbak Ira. Tolong kamu bantu dia mengganti pakaiannya," pinta Sano tanpa menoleh. Sano beranjak dari duduknya. "Dan tolong biarkan dia tidur dulu." lanjut Sano lalu berjalan keluar dari kamar Anne. "Dia siapa, Pak?" tanya Ira dengan kening berkerut. Sano yang sudah di ambang pintu, menghentikkan langkahnya. "Someone," jawab Sano singkat. Ira mengangguk paham. Bekerja lumayan lama dengan sang atasan, membuat Ira cukup tahu salah satu sifat dari Sano Mahendra. Pemilik Hotel tempatnya bekerja. Sano sendiri masuk ke kamarnya. Dia membersihkan badan sebentar, ganti baju dan merebahkan tubuhnya ke kasur. Sano mengambil ponsel miliknya untuk menelpon seseorang. Sebenarnya malam ini dia harus pulang ke Jakarta. Berhubung ada kejadian tak terduga. Jadilah mungkin besok malamnya saja, dia baru pulang ke Jakarta. >> Hallo Nan. Saya tidak bisa pulang malam ini karena ada sesuatu yang terjadi. Besok malamnya saya baru akan pulang ke Jakarta. >> Ya sudah terima kasih, Nan ... Sano langsung mematikan teleponnya setelah mendapat jawaban dari Nanba. Assisten pribadinya di klinik. Sano menyalakan musik Kenny G sebagai peneman tidur. Alunan musik instrumental yang dimainkan oleh pemain Saksofon itu, membuat siapapun ikut terhanyut dalam ketenangan saat mendengarkannya. Lagu pertama telah selesai dan saat itu juga Sano memejamkan matanya tertidur. Pagi-pagi ... Jam setengah lima pagi Sano sudah bangun. Dia mandi dan melaksanakan kewajibannya. Setelah itu dia akan berolahraga sebentar. Rutinitas pagi hari yang tidak boleh dilewatkan olehnya. Di kamar yang berbeda ... Samar-samar Anne mendengar suara kicauan burung. Matahari mulai menyelusup di antara hordeng-hordeng kamar hotel. Beberapa saat kemudian. Anne membuka matanya pelan-pelan. Rasanya berat sekali membuka mata, mungkin masih bengkak karena semalam menangis. Anne kembali menutup matanya setelah terjaga beberapa menit. "Ini dimana?" gumam Anne kedua tangan memegang kepala dengan mata masih terpejam. "Aduh ... kepalaku sakit sekali," keluh Anne memijit pelan kepalanya. Tok tok tok! Anne langsung terlonjak setelah mendengar ketukan pintu dari luar. Anne mengedarkan matanya ke penjuru ruangan. Beberapa saat kemudian dia baru menyadari bahwa ini bukan kamar hotel tempatnya menginap semalam. "Astaga ... ini dimana?" Anne berubah panik seketika. Dengan gerakan gemetar, Anne mencoba membuka selimut. Dia menghembuskan napas lega, setelah tahu dirinya masih menggunakan pakaian. Anne mengelus dadanya lega. "Syukurlah ...." Tok tok tok! Pintu kamar Hotel terpaksa dibuka dari luar, karena sang pemilik kamar cukup lama tidak membukanya. "Maaf Mbak ... saya langsung masuk. Sebab Mbaknya lama sekali membuka pintu," ucap seorang wanita, yang tak lain adalah Ira. Ira ditugaskan Sano untuk membantu semua keperluan Anne. "Anda siapa?" tanya Anne dengan kening berkerut. Dia sedikit takut karena belum pernah bertemu Ira sebelumnya. Ira mengulas senyum kecil sebelum menjawab. "Saya Ira, Mbak. Manager Hotel ini." Kening Anne semakin berkerut. "Terus?" "Saya ditugaskan seseorang untuk membantu Mbak," jawab Ira masih dengan senyuman. "Siapa?" tanya Anne sembari menarik selimutnya ke atas. "Dia sudah sadar?" tanya seseorang yang baru masuk ke kamar Anne sambil menenteng kotak P3K. Ira menganggukkan kepalanya. "Sudah, Pak." Orang yang baru saja masuk adalah Sano. Dia mendekati Anne lalu duduk di tepi ranjang. "Mbak Ira. Kamu di sini saja," ucapnya tanpa menoleh. Anne yang sedari tadi diam menyimak mengerjapkan mata beberapa kali. Perasaan dia tidak pernah bertemu dengan pemuda yang sedang duduk di hadapannya. Mungkin kalau Bora yang lihat. Dia akan berjingkrakkan karena pemuda di depannya seorang bule dan bermata biru laut. Sementara Sano membuka kotak P3K yang dibawanya tadi. "Tolong biarkan saya obati kakimu. Semalam kamu jalan sambil nyeker. Pasti kakimu pada lecet," ucap Sano tanpa menoleh ke Anne karena dia sedang mempersiapkan obatnya. Anne mengerjapkan bingung. "Emang saya kenapa?" Gerakan Sano berhenti. Dia menatap gadis di depannya dengan tatapan heran. "Kamu tidak ingat semalam kamu jalan nyeker. Bahkan kamu tidak ingat, kamu hampir bunuh diri semalam di jembatan." Setelah mendengar ucapan pemuda di depannya, Anne mencoba mencerna. Kemudian rentetan peristiwa yang dialaminya semalam langsung masuk. Anne tertawa keras sambil memukul-mukul kasur. Selang beberapa menit kemudian, tangisnya pecah dan dia mulai menangis tersedu. "Pak. Dia---" "Biarkan saja," ucap Sano memotong ucapan Ira. "Mbak Ira tolong tutup pintunya dan kamu tetap di sini." Ira mengangguk. Dia langsung berlari menutup pintu kamar Anne. Melihat Anne memukul-mukul dadanya. Ira menjadi iba. Dengan inisiatif, Ira mendekati Anne dan langsung memeluknya. Entah apa yang terjadi ke Anne semalam. Tapi dilihat dari tangisan Anne yang begitu menyayat hati Ira tahu. Pasti ada sesuatu yang terjadi apalagi sang atasan tadi menyebut kata jembatan dan bunuh diri. Anne balas memeluk Ira. Dia ingat semalam. Randi sang mantan, lalu Grace wanita yang ditemuinya di pesawat. Ciuman, penghianatan, dan luka. Sangking terlukanya, dia ingin bunuh diri tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Beruntung ada seseorang yang datang menolongnya semalam. Kalau tidak ... mungkin dirinya pulang ke Jakarta hanya tinggal nama karena tewas di Bali karena bunuh diri. Belum lagi kalau keluarganya tahu. Bodoh! Dia bodoh sekali kalau itu sampai terjadi. Sano diam menatap dua orang yang masih berpelukan. Sebagai seorang Psikiater. Dilihat dari keadaan Anne yang menangis setelah tertawa, tentu saja dia tahu dan paham. Luka dihatinya pasti sangat besar. Tertawa lalu menangis adalah salah satu dari sebagian ungkapan seseorang untuk meluapkan emosinya. Keadaan seseorang yang tertawa lalu menangislah adalah luka yang paling dalam dan menyakitkan. Sangking terlukanya. Orang itu bisa nekat mengakhiri hidupnya. Contohnya Anne. Sano tidak tahu apa yang terjadi secara detailnya. Yang jelas dia sedikit tahu dan paham, pasti berhubungan dengan kaumnya yaitu lelaki. Memalukan sekali lelaki yang seperti itu. Menyakiti seorang perempuan. Mereka seakan lupa, dari siapa dia dilahirkan. Seorang perempuan. Memang tidak semuanya, tapi sudahlah ... itu tergantung orangnya juga. Kurang lebih setengah jam Sano menunggu gadis yang ditolongnya semalam menangis. Sekarang sang gadis sedang menunduk, masih dengan sesekali sesegukan. Ira sudah keluar pamit sebentar untuk mengambil sarapan buat Anne makan. "Lain kali kalau sedang dalam titik terendah, banyakin sabarnya, selalu ingat dengan Tuhan. Jangan langsung mengambil tindakan sesuatu yang merugikan dirimu sendiri. Kata menyesal itu belakang, bukan didepan. Jadi berpikir dulu sebelum bertindak," ucap Sano panjang lebar. "Kalau ada masalah. Cobalah cari cari lain untuk meluapkannya. Saya pernah mendengar, tujuh dari sepuluh wanita ketika merasakan sakit hati atau sebagainya. Mereka akan berlari ke makanan. Tapi kamu ... beruntung saya datang tepat waktu," lanjut Sano. Sebenarnya Sano bukanlah orang yang suka berbicara panjang lebar ke orang lain. Namun melihat Anne dan mengingat sesuatu yang dilakukan Anne semalam, membuat dia ingin membantu gadis yang ditolongnya. "Terima kasih," ucap Anne dengan suara seraknya. "Hemm ...," jawab Sano. "Kamu mau obati sendiri kakimu, apa saya bantu?" Anne mendongakkan kepalanya. "Bisakah kau membantuku?" Sano mengangguk pelan. Dia mengecek luka di kaki Anne dan mulai mengobatinya. "Sepertinya kamu bukan orang sini? Kamu datang kesini untuk liburan?" tanya Sano melirik Anne sebentar. Sementara Anne hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dia harus jawab apa lagi selain mengangguk. Masa dia jawab mau merayakan sesuatu dengan mantan pacarnya yang berahkhir menyakitkan. "Saya akan pergi ke suatu. Kamu mau ikut? Anggap saja itu adalah liburanmu yang sesungguhnya," kata Sano tangannya masih sibuk mengobati luka di kaki Anne. "Bolehkah aku ikut?" tanya Anne pelan. Daripada dia di dalam hotel terus dan waktu liburannya terbuang sia-sia, lebih baik dia ikut pergi. Melupakan segalanya yang telah terjadi. Sano mengangguk. "Sure." "Nah! Sudah ... Sehabis ashar baru kita pergi. Saya ada acara nanti jam dua," ucap Sano tangannya sembari membereskan semua barang-barang P3K. "Sekali lagi terima kasih," kata Anne pelan. "Sama-sama," jawab Sano dengan seulas senyum tipis. "Kenapa kau menolongku?" tanya Anne heran. Padahal mereka tidak kenal satu sama lain. Sano yang sudah di ambang pintu, menghentikkan langkahnya. "Bukankah setiap makhluk bernyawa harus saling tolong menolong, selagi itu sebuah kebaikkan dan tidak menyalahi agama," jawab Sano santai. Anne tersenyum mendengar jawaban pria yang semalam menolongnya. "Aku berhutang budi padamu," ucap Anne membuat Sano terkekeh pelan. "Anggap saja pahala karena saya menolongmu," pungkas Sano masih santai. "Kamu orang sini?" tanya Anne sedikit tidak enak. "Bukan. Saya orang Jakarta. Saya di sini karena sedang ada urusan," jawab Sano. Anne mengangguk paham. "Sekali lagi terima kasih." Sano hanya menganggukkan kepalanya, lalu berlalu dari kamar Anne. Anne menghela napas pelan. Rasanya ini seperti mimpi. Dia dikhianati oleh orang yang dicintainya. Lebih parah lagi si mantan pacar berselingkuh dengan orang yang ditemuinya di pesawat. Mimpi apa dia sampai harus menerima kenyataan ini. 'Oh Tuhan ... hamba meminta maaf karena hampir saja melakukan bunuh diri,' batin Anne menangis. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN