02. AWAL KETEGANGAN

858 Kata
Bab 2 — Awal Ketegangan Pagi itu, kabut tipis menyelimuti halaman belakang paviliun, menambah kesan sunyi dan dingin di rumah besar ini. Aku berdiri di depan jendela, menatap taman yang rapi tapi terasa asing. Dari balik kaca, dunia terlihat damai. Tetapi di dalam, aku tahu, kedamaian itu bukan untukku. Langkah berat menghampiri. Pintu kamar terbuka, dan di ambang pintu berdiri Arka Dirgantara. Wajahnya tak menampakkan emosi, tapi matanya—mata yang selalu menilai, menembus hingga ke tulang—membuat jantungku berdegup lebih cepat. “Kau bangun?” Suaranya serendah guruh. Sekali lagi, aku merasa seperti kesalahan yang harus diperbaiki. “Ya,” jawabku, pelan, menunduk. Suaraku nyaris tak terdengar, tersedak antara rasa takut dan lelah yang menahun. Dia melangkah masuk, jas hitamnya rapi, sepatu mengkilap bersinar di lantai marmer. Tangannya menggenggam beberapa dokumen medis dan alat-alat untuk prosedur donor hari ini. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum. Hanya ketegasan yang menindas. “Seharusnya kau makan lebih banyak,” katanya tiba-tiba, sambil memeriksa tanganku. “Tubuhmu terlalu lemah untuk prosedur hari ini.” Aku menelan ludah. Kata-kata itu terdengar seperti ejekan, bukan peringatan. Tapi aku tahu, menentangnya hanya akan memperparah keadaan. Aku menarik tangan dari genggamannya, mencoba menyingkirkan jarum yang siap menusuk. “Aku… aku bisa melakukannya,” suaraku gemetar. Arka menatapku, dan untuk beberapa detik, ada sesuatu yang berbeda di matanya—getaran yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Sesuatu yang hampir seperti… perhatian. Tapi kemudian, ekspresinya kembali dingin, dan dia berkata dengan nada datar: “Kalau begitu, buktikan.” Prosedur dimulai. Jarum menembus kulitku, darahku mengalir ke tabung steril. Aku menahan rasa sakit, menahan setiap bisikan hati yang ingin menyerah. Setiap tetes darahku adalah nyawa yang kau pinjam, pikirku. Tapi sekaligus, aku merasa ini adalah darah yang menumpuk untuk membalas dendam suatu hari nanti. Setelah selesai, dia menatap tabung itu sebentar, lalu meletakkannya di meja. “Kurasa ini cukup untuk minggu ini.” Tanpa sepatah kata pun lagi, dia meninggalkan kamar. Aku menutup mata, membiarkan air mata yang lama tertahan jatuh perlahan. Dua tahun hidup seperti ini—dikurung, disiksa, dan dianggap tak lebih dari alat medis—membuatku kehilangan sebagian besar diriku sendiri. Namun, di dalam hati yang hancur itu, ada rasa samar: rasa ingin melawan, meski masih kecil, tapi tak bisa diabaikan lagi. Malam harinya, ketika lampu-lampu berkelas di paviliun memantulkan bayangan panjang di dinding, aku mendengar bisikan dari koridor. Langkah ringan, tapi pasti. Tak ada siapa pun seharusnya berada di paviliun belakang pada jam segini. Aku menegangkan tubuh, menahan napas, menunggu. “Alana,” suara itu terdengar jelas, lembut, tapi membuat hatiku bergetar. Aku menoleh, dan di ambang pintu berdiri seorang perawat muda. “Ada yang ingin memberitahumu… bahwa tuan sedang menunggu di ruang kerjanya.” Aku tahu itu jebakan. Arka selalu menunggu saat aku lemah, selalu mencari celah untuk menunjukkan siapa yang berkuasa. Tapi kali ini, sesuatu dalam diri mengatakan aku harus berdiri, harus menatapnya, meski rasa takut meremas setiap inci tubuhku. Ruang kerjanya luas, dipenuhi buku dan dokumen bisnis. Arka duduk di kursi kulit hitam, menatap jendela seolah menahan diri untuk tidak menatapku. Tapi ketika aku masuk, pandangannya menyapu tubuhku, tajam, menilai. “Duduk,” katanya. Suaranya dingin, tapi ada ketegangan samar yang membuatku penasaran. Aku duduk, mencoba menjaga wajah tetap tenang. Di dalam hati, aku bertanya-tanya, apakah pria ini pernah merasakan sesuatu selain kontrol dan kemarahan? “Bagaimana kondisimu?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu sederhana, tetapi nadanya… berbeda. Ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan, sesuatu yang tidak sepenuhnya dingin. “Baik,” jawabku singkat. Aku tidak ingin memberi kesempatan baginya untuk membaca kelemahanku. Dia menatapku lama, kemudian berdiri dan berjalan ke jendela. “Dua tahun…” katanya, seakan berbicara pada dirinya sendiri. “Dua tahun aku membiarkanmu di sini…” Aku menahan napas. Ada getaran yang tak bisa aku mengerti. Penyesalan? Atau sesuatu yang lebih gelap? Aku tidak tahu, dan aku terlalu takut untuk menanyakannya. Arka menoleh sebentar, menatapku dengan intens. “Kau tahu, aku bisa membuangmu kapan saja. Tapi kau tetap di sini. Kenapa, ya?” Aku menelan ludah. Itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab tanpa risiko. Aku hanya mengangkat bahu, pura-pura tidak peduli. “Aku… melakukan yang diminta,” jawabku singkat. Dia menatapku lama sekali. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku merinding. Sesuatu yang mungkin aku sebut… rasa ingin tahu. Tapi kemudian, ekspresinya kembali ke dingin yang biasa. “Baik. Jangan membuatku kecewa,” katanya. Lalu dia meninggalkan ruangan, meninggalkan aku sendiri dengan detak jantung yang memekakkan telinga. Malam itu, aku kembali ke kamar, berbaring di ranjang marmer dingin. Tubuhku lelah, tapi pikiranku tetap terjaga. Rasa takut tidak hilang, tetapi rasa ingin melawan semakin nyata. Aku tahu, jika aku terus hidup seperti ini, aku akan kehilangan diriku sepenuhnya. Di sudut hatiku, ada benih yang mulai tumbuh: benih benci dan tekad. Suatu hari, aku akan membalikkan keadaan. Suatu hari, aku akan menunjukkan pada Arka Dirgantara bahwa alat yang dia anggap tak berguna ini memiliki kekuatan yang bahkan dia tidak pernah bayangkan. Tetapi malam itu, aku hanya bisa menatap langit-langit kamar, merasakan dingin yang menembus tulang, dan merencanakan langkah pertama dalam perjalanan panjang yang akan mengubah hidupku. Aku bukan hanya korban. Suatu hari, aku akan menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN