04. HARI HARI PERTAMA YANG MENYAKITKAN

635 Kata
Bab 4 — Hari-Hari Pertama yang Menyakitkan Pagi itu, cahaya matahari menyelinap melalui tirai tebal kamar paviliun, membiaskan sinar tipis yang jatuh di lantai marmer. Aku menatap bayangan sendiri di jendela, wajah yang lelah, pucat, dan hampir tak mengenali diriku sendiri. Dua tahun hidup seperti ini, dan setiap hari terasa seperti siklus penderitaan yang tiada akhir. Langkah berat terdengar di lorong. Aku menegangkan tubuh, menahan napas. Pintu terbuka, dan Arka Dirgantara berdiri di ambang, jas hitamnya rapi, ekspresi wajahnya dingin tanpa cela. Namun, hari ini ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya—sesuatu yang membuat jantungku berdegup lebih cepat, meski aku tidak ingin mengakuinya. “Bangun,” katanya, nada rendah yang selalu membuatku menunduk dan tunduk pada kemauannya. Aku menarik tubuhku dari ranjang, menelan rasa sakit yang mencekam. Tubuhku terasa lemah, hampir tak mampu menopang langkahku sendiri. Setiap gerakan seolah menuntut pengorbanan. Namun aku tetap berdiri, menatapnya sekilas, meski takut setiap detik. “Darurat pagi ini,” katanya sambil membuka tas medis. “Kau harus melakukan prosedur donor segera.” Aku mengangguk pelan, menahan rasa sakit yang merayap di seluruh tubuhku. Jarum, tabung, darah—semua itu menjadi rutinitas yang menindas. Tetapi hari ini, aku merasakan sesuatu yang berbeda: benih kebencian yang selama ini kubiarkan terkubur kini mulai tumbuh menjadi kekuatan yang samar. Prosedur dimulai. Jarum menusuk kulit, darah mengalir. Setiap tetesnya terasa seperti api yang menyalakan kemarahan yang lama tertahan. Aku menahan napas, menahan air mata, mencoba mengalihkan pikiran ke hal-hal yang tidak bisa direngkuh oleh Arka. Tetapi dia berdiri di sampingku, matanya menatap tabung dengan intensitas yang sulit diartikan. “Tubuhmu semakin lemah,” katanya tiba-tiba. Nada suaranya dingin, tetapi ada sedikit getaran yang berbeda. Sesuatu yang membuatku bertanya-tanya, apakah dia mulai memperhatikan diriku—bukan sebagai alat, tetapi sebagai manusia. Aku menelan ludah. Jika ini benar, itu berbahaya. Arka tidak pernah membiarkan emosi menguasai dirinya. Tapi tatapannya hari ini… seolah ada pertentangan yang tidak bisa ia sembunyikan. Prosedur selesai. Darahku terkumpul, tubuhku terasa kosong. Aku menutup mata, mencoba menenangkan diri. Dua tahun hidup seperti ini, tubuhku melemah, tapi pikiranku tetap tajam. Aku mulai merencanakan, mulai merasakan bahwa suatu hari, aku tidak akan menjadi korban lagi. Siang itu, aku dipaksa untuk makan sedikit makanan hambar. Nafasku berat, setiap gigitan terasa seperti perjuangan. Aku menatap taman dari jendela, melihat dunia luar yang begitu dekat namun tak tergapai. Orang-orang tertawa, bergerak bebas, hidup tanpa rasa takut. Aku iri, tapi rasa takut selalu mengikatku. Ketika aku menatap ke luar jendela, langkah kaki Arka terdengar di koridor. Aku menegangkan tubuh, menahan napas. Pintu terbuka, dan dia berdiri di ambang, menatapku dengan intensitas yang menusuk. “Kau kelihatan lebih… lemah dari biasanya,” katanya. Nada suaranya rendah, berbeda dari biasanya, seperti ada getaran yang tidak bisa ia sembunyikan. Aku menunduk, berpura-pura tidak peduli. “Ya,” jawabku singkat, menahan rasa takut yang menyesakkan d**a. Dia menatapku lama. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku merinding—sebuah pertanyaan tanpa jawaban, sebuah rasa ingin tahu yang tidak biasa. Tapi ekspresinya kembali dingin, seperti batu, dan dia berkata, “Jangan membuatku kecewa.” Aku menelan ludah, merasakan rasa sakit yang tidak hanya fisik, tapi juga emosional. Dua tahun hidup seperti ini, dan aku mulai menyadari sesuatu: rasa takut bisa diubah menjadi kekuatan. Benih benci yang kutanam kini mulai menjadi tekad yang nyata. Malam harinya, setelah prosedur selesai, aku kembali ke kamar. Tubuhku terasa hancur, tetapi pikiranku tetap tajam. Aku menatap langit-langit tinggi, menunggu kesempatan yang akan mengubah segalanya. Aku bukan hanya korban. Suatu hari, aku akan menjadi ancaman. Suatu hari, aku akan menunjukkan pada Arka Dirgantara bahwa alat yang dia anggap tak berguna ini memiliki kekuatan yang bahkan dia tidak pernah bayangkan. Di keheningan malam, aku menanam niatku. Niat yang akan membakar setiap dendam, setiap penderitaan, setiap tetes darahku yang diperah hingga kering. Aku akan bertahan, dan aku akan bangkit. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN