BAB 19: Cemburu

1784 Kata
Prince melihat jam di atas laci yang sudah menunjukan pukul sembilan malam, anak itu turun dari ranjangnya dan berdiri di hadapan Rosea, ada kegelisahan terpancar di matanya, Prince menautkan jari-jarinya dengan kuat. “Aku mau sikat gigi dulu, apa Sea akan pulang?” tanya Prince. Rosea tersenyum lebar, “Ya, sepertinya begitu. Kamu juga harus tidur.” Jawaban Rosea membuat Prince mematung kecewa, “Apa nanti Sea akan bermain lagi ke sini? Aku bisa membagi mainan dengan Sea.” “Karena Prince anak yang menyenangkan, aku pasti sering ke sini.” Seketika Prince tersenyum. “Apa aku boleh peluk Sea lagi? Teman sering berpelukan satu sama lainnya.” Rosea tidak dapat menahan gemasnya pada anak itu, dia langsung merentangkan tangannya, kaki Prince bergerak cepat berlari dan memeluk Rosea untuk beberapa saat. “Sampai jumpa Prince” pamit Rosea seraya mengambil tasnya dan melambaikan tangannya. Prince balas melambaikan tangannya, senyuman di bibir mungil anak itu perlahan hilang begitu Rosea mrnutup pintu dan tidak lagi ada di kamarnya. *** “Lancar?” Tanya Leonardo begitu Rosea kembali dari kamar Prince. Rosea mengangguk dengan senyuman. Pekerjaan ini tidak begitu seberat apa yang dia pikirkan, selain itu dia memiliki kesempatan untuk meneliti anak secara khusus dan bisa membantu masalah pekerjaannya untuk menciptakan dongeng anak. Fantasi Prince akan membantu Rosea mengulik pikiran dan perasaan anak-anak yang kesepian dan kekurangan kasih sayang dari sosok seorang ibu. “Uangnya sudah di kirimkan, setengahnya lagi akan di berikan satu minggu sebelum kontrak berakhir,” jelas Leonardo. Sekali lagi Rosea mengangguk, “Terima kasih,” ucap Rosea dengan senyuman lebarnya. Keduanya tiba-tiba terdiam dalam keheningan. Leonardo tidak berkata apapun lagi, namun pria itu masih menatap lekat, memberikan isyarat bahwa dia masih ingin berbicara dengan Rosea, akan tetapi untuk membahas hal yang lain. Rosea tertunduk dan senyumannya perlahan menghilang, wanita itu berdiri dalam kecanggungan merasakan tatapan Leonardo semakin terasa berbeda. Rosea tidak merasakan tatapan dingin dan mengintimidasinya lagi, ada suatu kehangatan di matanya, cara dia berbicara seperlunya terasa seperti sedang berusaha membangun percakapan. Rosea segera mengenyahkan pikirannya, dia tidak ingin menduga-duga. “Jika tidak ada yang perlu di bahas, aku akan pulang,” ucap Rosea terdengar begitu pelan. “Kamu terburu-buru pulang?” Rosea mengangguk membenarkan “Baiklah, sampai bertemu lusa,” pamit Rosea, secepat mungkin wanita itu berbalik dan pergi meninggalkan Lonardo. “Apa dia akan tetap pergi berpesta?” Tanya Leonardo pada dirinya sendiri. *** Ketika Leonardo datang kamar Prince, rupanya Prince sudah tidur. Prince meringkuk ketiduran dengan buku dongeng pemberian Rosea di tangannya. Dalam langkah hati-hati Leonardo bergerak menyiris ke setiap penjuru kamar. Leonardo tengah memastikan kondisi alat-alat penyadap suara dan cctv yang tersembunyi di kamar Prince itu masih aman tanpa tanpa tergeser sedikitpun. Leonardo sengaja memasang alat rahasia itu untuk memeriksa kondisi Prince setiap kali dia dinas ke luar negeri sendirian. Leonardo juga harus tahu apa yang terjadi kepada puteranya jika ada orang lain yang masuk ke dalam. Perlahan dan hati-hati Leonardo mendekati ranjang Prince. Leonardo membungkuk, mengambil buku Prince dan menyimpannya di atas meja. Leonardo menarik selimut untuk menutupi tubuh Prince. Tanpa sengaja tangan Leonardo menyentuh handpone yang tergeletak di antara lipatan selimut. Leonardo mengambilnya, pria itu langsung menyadari bahwa itu adalah handpone Rosea. Leonardo terdiam, teringat jika malam ini dia akan menemui Flora, mungkin ada baiknya dia menemui Rosea terlebih dahulu untuk mengembalikan handponenya. *** Rosea terbaring kaku di atas sofa mendengarkan suara musik yang mengalun menemani rasa lelahnya hari ini yang telah melewati berbagai aktivitas. Rosea menatap nyalang langit-langit ruangan, pikirannya berputar mengingat interaksinya dengan Prince. Rosea sangat dekat dengan anak-anak, namun ini untuk pertama kalinya dia sedekat ini secara psikologis dengan Prince, ada sebuah ikatan yang bisa Rosea rasakan di antara dirinya dengan Prince. Ada sebuah kepedulian yang muncul di hati Rosea kepada anak itu. Ada sebuah getaran hebat yang Rosea rasakan di hatinya setiap kali melihat Prince berusaha menunjukan diri bahwa dia anak yang baik di depan Rosea. Rosea bertanya-tanya, mengapa Prince berusaha bersikap baik di depannya? Apa pengaruh Rosea untuknya? Rosea membuang napasnya dengan kasar, wanita menggeleng berusaha mengenyahkan perasaan-perasaan terikat di dalam hatinya karena Rosea tidak ingin memiliki perasaan yang lebih dalam dari professionalitas pekerjaan. Suara bel yang terdengar di luar menyentak lamunan kecil Rosea, dengan malas wanita itu bangkit dan pergi membuka pintu. Ekspresi lelah di wajah Rosea menghilang dalam sekejap, Rosea sampai mematung dengan napas Rosea tertahan karena kaget melihat Leonardo yang tiba-tiba ada di hadapannya. “Hay,” sapa Rosea tidak yakin. Leonardo menghembuskan napasnya dengan lega tanpa alasan, entah mengapa perasaannya cukup lega setelah mengetahui Rosea berada di rumahnya dan tidak berpesta di club malam. Leonardo merongoh sesuatu di dalam saku jassnya, memberikan handponenya kepada Rosea. “Aku mau mengantarkan handpone kamu yang ketinggalan.” Mata Rosea terbelalak kaget “Astaga, terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu. Ya, Tuhan, aku tidak bisa membalas kebaikanmu,” ucap Rosea dengan sungkan karena sudah merepotkan orang penting seperti Leonardo. Ada senyuman yang terlukis di bibir Leonardo, pria itu sangat ingin mengatakan bahwa Rosea bisa membalas kebaikannya hanya dengan minum kopi bersama dan berbincang. Leonardo ingin berbicara dengan wanita itu, bukan untuk membicarakan Prince, berbicara secara pribadi mengenai diri mereka masing-masing. Bola mata Rosea bergerak cepat melihat sebuah taksi yang kini berhenti di depan rumahnya, tidak berapa lama seorang pria muda dan tampan keluar. Pria itu melambaikan tangannya dan tersenyum lebar ke arah Rosea, pria itu melangkah lebar berjalan ke arahnya. Leonardo ikut berbalik dan melihat kedatangan pria itu. “Hay, untung kamu hubungin aku,” ucap pria tersenyum senang, dan dengan santainya pria itu melewati Leonardo dan langsung memeluk Rosea, tanpa segan dia juga mengecup pipi Rosea. “Pokoknya aku mau nginap di sini malam ini” kata dia lagi yang kini langsung melepaskan pelukannya dan nyelonong masuk ke rumah Rosea begitu saja. “Apa-apaan anak itu. Frans!” Rosea hampir berteriak karena kebiasaan anak muda itu yang tidak sopan. Perhatian Rosea kembali tertuju pada Leonardo yang sejak tadi diam. Mendadak Rosea merinding merasakan aura dingin dan percikan kemarahan di mata Leonardo yang tertuju kepadanya. Wajah Rosea memucat merasa tidak nyaman dengan situasinya, “Anu, maaf, tadi temanku tidak sopan.” Rahang Leonardo mengetat, mendadak dia menjadi kesal dan moodnya langsung jatuh begitu saja. “Tidak apa-apa. Aku permisi, selamat malam.” “Selamat malam” jawab Rosea dalam kebingungann melihat kepergian Leonardo yang seperti marah kepada dirinya. Namun, apa masalahnya? Apakah Leonardo marah karena Rosea sudah ceroboh dan membuat Leonardo kerepotan?. “Sepertinya aku belum meminta maaf dengan tulus,” pikir Rosea. Tanpa pikir panjang, Rosea berlari mengejar Leonardo yang baru memasuki mobilnya, Rosea mengetuk jendela sampai akhirnya Leonardo menurunkan jendela mobilnya. “Mengenai barusan, aku benar-benar minta maaf karena sudah merepotkanmu. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama,” ungkap Rosea dengan tulus. Sayangnya, Leonardo yang sempat berharap jika Rosea membicarakan hal yang lain langsung tidak dapat mengatur cemberutan di bibirnya. “Sepertinya, kamu tidak memiliki kepekaan yang bagus Sea. Kamu tidak perlu berpikir yang aneh-aneh.” “Lalu kenapa kamu terlihat marah sama aku? Aku tidak nyaman,” ucap Rosea dengan jujur. Leonardo terdiam, menimang-nimang apakah dia harus berbicara terang-terangan atas perasaanya yang tidak nyaman melihat Rosea kedatangan pria lain yang terlalu dekat secara intim dengannya. “Tidak ada apa-apa Sea, jangan memikirkan apapun. Masuklah,” suara Leonardo berubah lembut dan sorot matanya sedikit menghangat. Tanpa berkata apapun lagi Rosea langsung berbalik dan pergi. Leonardo masih diam tidak segera memutuskan pergi, pria itu memperhatikan Rosea sampai menghilang di balik pintu. Leonardo menahan perkataannya agar tidak bertindak gegabah, siapa tahu perasaan tidak nyaman di hatinya hanya berlaku untuk sementara waktu. *** Rosea segera menutup pintu, wanita itu menatap tajam Frans yang tengah duduk di kursi tengah bersantai sambil memakain beberapa cemilan. “Pacar baru?” Frans menanyakan Leonardo. “Tadi, kamu tidak sopan Frans.” Tegur Rosea. “Iya.. maaf maaf.” Frans, dia adalah adik kandung Karina. Frans masih sangat muda dan masih menjalani pendidikannya di Singapore, Frans tumbuh di luar negeri dan hanya datang ke Indonesia dalam waktu dua bulan sekali. Frans dan Rosea memiliki hubungan yang sangat dekat, mereka sudah seperti adik kakak, teradang Rosea juga menjadi tempat pelarian Frans setiap kali dia memiliki masalah. “Kunci mobilnya di atas meja, pulang langsung sana,” usir Rosea begitu saja. “Kok begitu? Aku kan baru datang dan mau nginap di sini.” Cemberut Frans tidak mempedulikan tatapan tajam Rosea. Frans tidak pernah takut dengan kemarahan Rosea. Segalak-galaknya Rosea, dia hanya akan mengomel lalu diam. Sementara Karina kakaknya, Karina akan mengeluarkan smackdown dan menjambak rambut Frans jika dia marah. “Terserah kamu saja ya Frans, pokoknya jika kamu mengganggu aku bekerja, aku akan menelpon ibu kamu.” “Iya, iya,” jawab Frans tidak peduli. *** Tangan Rosea bergerak cekatan memegang pen dan menggambar di layar, wanita itu terlihat begitu teliti dan sangat serius membuat gambar untuk projek buku dongeng anak-anaknya yang terbaru. Frans berdiri di sisi Rosea, pria itu berdecak kagum tanpa bicara, namun mulutnya sibuk memakan semangkuk mie ramen. Terkadang Frans sampai tidak tahu harus berkata apa setiap kali melihat Rosea yang selalu mengerjakan semua pekerjaannya dengan sempurna, penuh ketelitian dan mengerjakannya dengan sepenuh hati. Tidak mengherankan jika Rosea di percaya banyak orang. Dua jam Rosea masih duduk di meja kerjanya, wanita itu masih fokus di layar menyelesaikan pekerjaannya, Frans yang sudah makan bahkan sudah mencuci piring dan bermain game kini sampai kembali masuk ke ruangan kerja Rosea hanya untuk mundar-mandir memperhatikan Rosea yang tenggelam dengan pekerjaannya. “Sea,” panggil Frans. “Panggil aku kakak,” ralat Rosea. “Kak Sea” Frans langsung memperbaiki ucapannya, “Aku dengar Kak Karin di jodohkan lagi.” “Begitulah, tadi aku mengantarnya, sepertinya mereka cocok.” Frans terdiam tampak tidak percaya dengan jawaban Rosea. Dalam satu gerakan Frans memutar tubuhnya dan menyibak gorden, melihat ke arah rumah Atlanta. Dapat Frans lihat ada mobil datang dan masuk ke pekarangan rumahnya. “Ngomong-ngomong, Atlanta ada di sini? Dia tidak di Amerika?” Rosea mengangkat kepalanya dan segera melihat Frans, sejenak wanita itu menghentikan pekerjaannya. “Kamu kenal Atlanta?” “Aku di kenalkan ayahku sewaktu tidak sengaja bertemu di Manchester, kami menonton pertandingan bola.” Rosea tersenyum kecut mendengarnya, ternyata cara bertemu orang-orang kaya itu berbeda. “Kak Sea cantik banget malam ini, ada acara?” “Tidak ada,” jawab Rosea singkat, wanita itu kembali memfokuskan diri pada layar dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Selang beberapa menit, Frans kembali menyibak gorden dan melihat ke arah rumah Atlanta. Frans melihat jelas kini orang-orang yang datang bertamu ke rumah Atlanta, kini mereka tengah berkumpul di halaman belakang, mereka sedang berpesta. “Kak Sea, ayo ke rumah Atlanta,” ajak Frans. Rosea kembali mengangkat wajahnya, melihat Frans yang tersenyum lebar dengan mata berbinar menatap penuh permohonan. “Tunggu dua puluh menit lagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN