"Ayah! Bunda, Aya udah mutusin, Aya juga setuju dengan rencananya Kak Ken, Aya nggak keberatan kalau acara pernikahannya dipercepat, Aya bakalan ikut keputusan keluarga kalau memang itu hal baik, Ayah juga bilangkan? Kalau hal baik nggak harus di tunda-tunda lagi, yaudah iya, ini keputusan Aya, Aya setuju untuk menikah dalam waktu dekat." Ucap gue ke Ayah sama Bunda dengan tatapan yakin mereka, gue udah yakin kalau dengan keputusan gue sekarang, setelah mendengarkan semua omongan Yuni, gue rasa ucapan Yuni memang sangat mendukung, gue nggak keberatan untuk menikah dalam waktu dekat, toh mau menikah sekarang atau nanti juga nggak ada bedanya selamanya orangnya tetap Kak Ken, setidaknya ini keputusan gue sekarang dan gue juga udah sangat yakin dengan keputusan gue makanya gue berani ngomong ke Ayah sama Bunda langsung, gue nggak akan berubah pikiran lagi.
"Kamu udah yakin Ay? Kamu udah mikirin ini semua baik-baik, walaupun ini perjodohan tapi Ayah sama Bunda juga nggak mau memaksakan kalau memang kamu belum siap, semuanya bisa dilakukan perlahan nggak harus terburu jadi kamu juga jangan merasa terpaksa, Ayah sama Bunda paham kalau memang kamu butuh waktu untuk mempertimbangkan ini semua lebih lama lagi, nggak akan ada yang memaksakan jawaban kamu harus ada sekarang juga Ay, keluarga Kendra juga akan paham, kamu bisa memikirkan hal ini lebih lama." Jawab Ayah gue menanggapi ucapan gue barusan, gue mengangguk pelan karena yakin kalau Ayah juga sempat khawatir karena gue minta waktu untuk mempertimbangkan keinginan Kak Ken kemarin, gue minta waktu udah jelas karena gue nggak yakin dengan sesuatu dan kayanya Ayah sadar dengan satu hal itu, Ayah cuma nggak mau gue merasa terpaksa untuk melakukan sesuatu makanya nanya sama gue sampai kaya gini, Ayah masih nggak yakin kalau gue udah beneran bisa ngambil keputusan dalam waktu cuma satu hari padahal rasa ragu gue keliatan jelas banget kemarin.
"Aya udah yakin Yah jadi Ayah nggak harus khawatir lagi, kemarin memang ada yang Aya pertimbangin tapi sekarang Aya udah sangat yakin dan kedepannya juga nggak akan berubah pikiran lagi, Aya udah mutusin semuanya dan Aya harap Ayah sama Bunda juga akan setuju, jangan pikir Aya merasa terpaksa menikah karena nggak enak dengan keluarga Kak Ken apalagi takut Ayah sama Bunda kecewa, ini murni keputusan Aya sendiri jadi Ayah sama Bunda juga harus yakin." Ulang gue sekali lagi, karena gue udah sangat yakin, gue harap Ayahs sama Bunda akan ikut yakin dan mendukung keputusan yang gue ambil sekarang, apapun itu, gue harap Ayah sama Bunda akan mengerti maksud dan perasaan gue yang sebenernya gimana, kalaupun diawal gue meragu atau kedepannya keraguan itu juga kembali muncul seiring semakin dekatnya hari pernikahan gue, gue harap Ayah sama Bunda akan terus mendukung gue, apapun keputusan yang gue ambil, Ayah sama Bunda harus percaya kalau juga udah memikirkan semuanya baik-baik jauh sebelum itu.
"Kalau memang kamu udah sangat yakin, Ayah sama Bunda nggak punya alasan untuk menolak keinginan Kendra juga, sesuatu yang baik memang harus disegerakan, setiap rumahtangga itu ada masalah, nggak ada rumahtangga yang nggak di uji jadi apapun masalah yang harus kalian hadapi nanti, bicarain baik-baik dan harus banyak bersabar, ingat, bicara dan komunikasi itu adalah yang terpenting, kamu harus kuat dan jangan gegabah sendiri, karena sekarang kamu udah sangat yakin, Ayah juga akan menyampaikan jawaban kamu sekarang ke keluarganya Kendra dan semoga ini bisa menjadi awal yang baik." Amin, gue terus mengamini ucapan Ayah gue sekarang, Bunda yang dari tadi berdiri disamping gue juga ikut menyunggingkan senyumannya sekarang sembari mengusap bahu gue pelan, sama halnya Ayah yang sempat khawatir, gue yakin Bunda juga sama khawatirnya, Bunda bahkan langsung nanya ke gue kaya kemarin, nggak ada orang tua yang nggak menginginkan yang terbaik untuk anaknya, begitupun Ayah sama Bunda gue, lebih-lebih gue adalah anak mereka satu-satunya, perempuan lagi jadi rasa khawatirnya juga bakalan lebih.
"Aya serahin semuanya ke Ayah sama Bunda, pokoknya Aya udah setuju, mengenai tanggal pernikahan atau segala persiapannya, Ayah sama Bunda aja yang atur, Aya ikut." Ini juga keputusan gue, begitu gue setuju dengan keinginan keluarga untuk mempercepat pernikahannya, yaudah segala sesuatu yang menyangkut rencana persiapan perniakahan, gue bakalan ikut seperti mau Ayah sama Bunda, gue aman-aman aja, nggak bakalan mikir aneh-aneh sendiri jadi bakalan aman juga, istilahnya gue cuma tahu beres, nggak mau ribet dan memang nggak ngerti juga.
"Yaudah, kalau gitu kamu tahu beres, Bunda sama Ayah bakalan mengusahan yang terbaik untuk kamu jadi kamu juga nggak perlu khawatir, kalau ada yang kurang atau nggak sesuai sama kamu, tinggal kasih tahu Ayah sama Bunda, kamu paham?" Gue langsung mengiakan ucapan Bunda gue barusan, gue sangat-sangat paham, biasanya selera gue sama Bunda nggak beda jauh jadi gue yakin kalau pilihan Bunda nggak akan mengecewakan, Ayah juga, Ayah nggak mungkin nggak memberikan yang terbaik untuk gue, Ayah juga pasti udah mempertimbangkan yang terbaik jadi memang nggak ada yang harus gue khawatirin lagi, aman banget memang kalau Ayah sama Bunda udah turun tangan, persiapannya bakalan bagus, gue yakin jadi memang tinggal lihat dan tunggu hasilnya, cuma yang membuat gue penasaran sekarang adalah, kalau gue udah setuju, apa pernikahannya beneran akan dilangsungin dalam waktu dekat? Sebulan lagi? Atau beberapa bulan ke depan? Ini udah jadi pertanyaan baru lagi untuk gue sekarang.
"Kalau memang udah beres, yaudah Aya pamit sekarang ya Nda, mau keluar sama Yuni sebentar soalnya, karena dibantuin dandan kemarin jadi hari ini Yuni minta traktiran makan, Aya nggak bakalan lama kok, cuma keluar sama Yuni terus langsung pulang, kan besok kuliah jadi nggak mungkin mangkir kaman-mana lagi, boleh ya Yah? Nda?" Gue memang mau ketemu sama Yuni sekarang, selain ni anak minta makan gratis, gue juga mau makan di luar, mau makan cemilan apa gitu, sebelum nikah masih bisa menikmati masa muda guekan? Ya bukan berarti setelah nikah gue udah nggak bisa menikmati masa muda tapi tetap aja udah beda, masa-masanya udah beda, status aja tar juga udah beda, jadi selagi status masih lajang dan anak gadis orang, yaudah gue harus menikmati kesendirian gue, menikmati waktu gue bareng Yuni yang udah jelas-jelas bakalan berkurang setelah gue menikah nanti.
"Boleh tapi hati-hati, bilangin Yuni jangan pecicilan, sama satu lagi, kalau kamu ketemu Riza, kasih tahu kabar baik ini sesegera mungkin juga, jangan sampai Riza tahu dari orang lain." Gue mengacungkan jempol cepat mendengarkan ucapan Bunda gue sekarang, Ayah juga hanya diam tapi gue yakin Ayah udah tahu masalah Bang Riza, nggak mungkin Ayah nggak tahu padahal orang tua Bang Riza udah sampai datang ke rumah untuk melamar, kalau Bunda nggak cerita dan Ayah tahu dari orang lain masalah lain yang bakalan muncul, Ayah pasti udah tahu jadi gue nggak harus was-was di depan Ayah, gue bisa lebih terbuka sama Ayah tentang perasaan gue sendiri, Ayah juga berhak tahu tentang masalah, karena orang tua Bang Riza sampai datang dengan tujuan melamar, udah jelas itu bukan masalah sepele lagi jadi lebih baik Ayah denger dari mulut Bunda langsung, Bunda juga harusnya berpikiran yang sama dengan gue sekarang.
"Aya paham Nda, nanti kalau memang udah ada tanggal pasti acara pernikahannya, Aya bakalan ngomong baik-baik sama Bang Riza, lagian sekarang Bang Riza memang udah jauh lebih Nda, Bang Riza terlihat udah bisa nerima keadaan jadi Aya juga bisa lebih nyaman kalau mau ngomong nanti, pokoknya Aya usahain bicara baik-baik ke Bang Riza lebih dulu, kalau gitu Aya oamit ya Nda? Yah? Takutnya Yuni malah ngomel kalau Aya telat, kita langsung janjian di tempat soalnya, Yuni nggak jemput ke rumah dulu." Kalau biasanya Yuni bakalan dateng untuk ngejemput gue lebih dulu tapi nggak untuk sekarang, Yuni langsung nunggu di tempat, muter-muter banget soalnya, malah jam segini jalanan juga lagi rame-ramenya jadi berangkat dari rumah masing-masing dan ketemu langsung di tempatnya adalah pilihan yang jauh lebih baik, nggak akan buang-buang waktu dan Yuni juga bisa lebih hemat tenaga, mengenai Bang Riza juga sama, gue akan melakukan yang terbaik jadi Ayah sama Bunda jangan khawatir.
"Kamu hati-hati kalau gitu." Gue lagi-lagi mengiyakan ucapan Bunda, pamit ke Ayah sama Bunda, gue yang memang udah siap menyelempangkan tas gue dan langsung berangkat, sebelum berangkat gue juga udah ngabarin Yuni kalau gue udah jalan jadi Yuni yang jaraknya lebih dekat bisa kira-kiralah, kalau dia sampai lebih dulu, langsung nyari tempat duduk dan mesen makanannya juga nggak papa jadi gue bisa lebih santai, nggak harus buru-buru, karena Yuni mengiyakan, hampir tiga puluh menitan berlalu, gue sampai di tempat kita berdua janjian, jangan tanya muka Yuni sekarang, mukanya muka suram, kaya orang kurang asupan vitamin rohani sama jasmani juga.
"Lo udah pindah Ay? Rumah lo yang sekarang makin jauh jaraknya atau gimana? Perasaan lo nyampenya lebih lama, mentang-mentang gue ngomong kalau gue bakalan nyari tempat duduk dan pesen makanannya, lo datengnya santai banget, parah lo, kebaikan gue lo salah artikan lagi, kacau lo, tegaan sama gue, tahu gini makanan gue makan langsung tadi nggak usah nungguin lo sampai lagi, dasar, kebiasaan lo pakai jam ngaret ya begini, nyusahin sama bikin gue kesal, sendirian itu nggak enak Ay, masa lo nggak paham sih soal beginian?" Cerocos Yuni nggak pakai rem, gue yang denger aja sampai panas ini telinga, panjang bener keluhannya.
"Bentar lagi lo juga bakalan lebih sering keluar sendirian, memangnya lo udah lupa kalai gue bakalan nikah dalam waktu dekat? Baru juga kemarin lo beria-ria ngasih gue nasehat supaya nggak khawatir dan mikir aneh tentang apapun nah sekarang kenapa malah lo sengaja pura-pura lupa diri? Setelah gue sah menjadi istri orang lain, lo akan lebih sering keluar sendirian, nongkrong sendirian, jalan sendirian, banyak hal yang bakalan lo lakuin sendirian tanpa gue, gimana? Nyesel lo nyuruh gue nikah cepet-cepetkan? Tapi maaf, gue udah ngomong ke Ayah sama Bunda kalau gue udah setuju jadi yang namanya penyesalan memang selalu datangnya belakangan kawan, memang kaya gitu, harap bersabar, ini namanya ujian hidup yang datang silih berganti." Balas gue untuk ucapan Yuni tadi nggak kalah panjang kali lebar, lagian siapa suruh ngomong semena-mena kaya tadi coba? Panjang banget perasaan, gue baru dateng aja sampai bingung itu pas denger ucapannya, kaya sepeda nggak rem, blong, nyerocos terus, nah sekarang giliran gue bales gimana rasanya, panaskan itu kuping? Makanya kalau nggak mau gue ngomel panjang kali kebar juga, alangkah lebih baik kalau Yuni mengkondisikan omongannya, belum juga gue narik nafas lega pas duduk eh udah kena semprot duluan, apa nggak kesel.
"Udah selesai lo ngomongnya? Udah salah masih juga bisa ngebales omongan gue, lo itu telat jadi salah, makanya harusnya terima aja gue omelin, lagian kalaupun lo udah nikah, bukan berarti lo bakalan ngurung diri di rumah seharian, selamanyakan? Kan keluar juga lo, masih harus kuliah juga, masih bisa nemenin gue makan di kantin, masih bisa nemenin gue keluar sesekali asalkan ada izin suami, susah amat hidup lo, lo bikin susah sendiri, dramatis amat bahasa lo tadi juga, gue sendiri sampai pusing pas dengernya, dasar lo lebay, kebanyakan nonton drama efeknya ya jadi begini, suka ngadi-ngadi nggak jelas." Balas Yuni yang gue hadiahi kedipan dan senyuman, tahu aja kalau barusan gue sedang mendramatisir pembahasan, biar Yuni nggak ngomel lagi, biar muka kesalnya bisa berkurang juga, itu yang terpenting, makanya gue kalau ngomong suka meleset kemana-mana ngadepin Yuni.
"Yaudah jadi kenapa lo nggak makan langsung aja, kenapa nungguin gue? Kan nggak harus lo tunggu juga, tumben-tumbenan, biasanya lo langsung makan tanpa gue suruh." Tanya gue ke Yuni, gue milih untuk membahas masalah lain, masalah ini udah cukup kayanya, udah nggak harus kita bahas lagi, yang lalu biarlah berlalu, sekarang waktunya ganti topik.
"Mata lo copot? Lo nggak liat itu makanannya aja belum dateng, apa yang mau gue makan Aya? Wah bener-bener lo sekarang, selain suka mendramatisir ternyata mata lo mulai susah fokus juga, kalau makanannya aja belum dateng, gue mau lo suruh makan apaan? Angin? Bukannya kenyang yang ada kembung gue entar." Gue langsung tertawa mendengarkan omongan gue sekarang, bakat lawakan Yuni semakin berkembang pesat kayanya, kata-katanya beneran menyentuh, sampai mata gue aja kena omel sama ni anak, kurang perhatian apalagi Yuni sama gue coba? Kan katanya kalau orang sering ngomel itu tandanya dia sayang sama kita.
"Sebegitu sayangnya lo sama gue sampai mata gue aja lo omelin Yun?" Yuni melongo kaget mendengarkan pertanyaan gue barusan, ya abisan gue harus gimana? Marah karena dikatain? Gue memang gagal fokus pas pertama datang tadi karena tatapan menusuk Yuni udah duluan mendominasi, tatapan Yuni udah dari jauh menunggu gue untuk diomelin makanya gue sampai nggak sadar sama makanannya udah dateng apa belum, ditambah Yuni tadi juga ngomong kalau dia belum makan karena nungguin gue, ta otak gue langsunf mikir kalau makanannya memang udah ada, gue mana tahu kalau itu cuma omongan asalnya Yuni doang karena udah terlanjur kesal sama gue.
"Lo jangan makin aneh sekarang, lebih baik lo ngomong sam gue, jadi apa hasilnya setelah lo ngomong ke Ayah sama Bunda lo kalau lo udah setuju pernikahannya dipercepat seperti mau Kak Ken? Mereka pasti seneng bangetkan? Secara bentar lagi bakalan dapat menantu, bukannya Bunda lo udah lama pingin punya anak laki-laki juga, nah hampir kesampaian itu." Yuni ngomong memanglah, nggak ada pertimbangan secara menyeluruh lebih dulu, iya kali Bunda gue sampai sebegitunya, walaupun Bunda gue pingin punya anak laki-laki, bukan berarti dia mau menikahkan gue buru-buru jugakan? Itu anak tetangga juga udah di anggap kaya anak sendiri, Bang Riza.
"Lo mah kadang-kadang kalau nebak suka kelewatan, setelah gue ngomong kalau gue udah setuju ya memang keluarga gue sangat-sangat bahagia, Ayah gue bahagia nah Bunda juga apalagi, cuma pas gue ngomong diawal, Ayah sama Bunda gue masih kurang yakin, mereka malah mikir gue terpaksa karena sesuatu jadi mereka mau gue mempertimbangkan semuanya baik-baik lebih lama tapi ya dasarnya gue memang udah yakin banget jadi gue minta Ayah sama Bunda gue juga ikut yakin, gue udah mikir baik-baik juga soalnyakan?" Gu nggak lagi asal-asalan ngambil keputusan jadi Ayah sama Bunda gue beneran nggak harus khawatir, semuanya itu proses dan gue udah ngambil keputusan gue sekarang.
"Terus? Kalau lo udah setuju dan secara nggak langsung orang tua lo juga udah mendukung, tinggal tunggu tanggal pernikahannya dong? Kapan? Sebulan lagi? Dua atau tiga bulan lagi? Lo nggak nanya sama Ayah Bunda lo tadi sebelum nemuin gue kemari?" Tanya Yuni nggak sabaran, kadang gue heran, apa yang ada di otaknya Yuni sampai ni anak punya pemikiran kaya gini? Apa yang Yuni pikirin sebenarnya sampai hai sekecil ini juga mampir di otaknya coba? Ya gue sendiri memang sempat menanyakan pertanyaab serupa dalam hati, begitu gue mengiakan apa pernikahannya akan dilangsungkan dalam waktu dekat? Jawabannya gue juga nggak tahu.
"Pertanyaan lo jangan mulai aneh-aneh bisakan Yun? Gue baru juga ngomongin keputusan gue ke Ayah sama Bunda tadi jadi mana gue tahu pernikahan gue tepatnya bakalan dilansungin kapan? Kan Ayah gue harus ngomong ke orang tuanya Kak Kendra juga lebih dulu, keluarga Kak Ken harus tahu jawaban gue baru kedua keluarga bisa nentuin tanggal, nah baru tu bener pertanyaannya, kecuali kalau lo nanya perkiraan gue, kalau perkiraan gue sendiri mungkin dalam beberapa bulan kedepan? Kan nggak mungkin di buru-buru juga, semua butuh persiapan." Untuk sekarang ya memang ini jawaban gue, walaupun kedua keluarga udah setuju tapi yang namanya pernikahan, persiapannya aja pasti bakalan membutuhkan waktu dan waktunya itu nggak sebentar.
"Ya mungkin sih tapi mengingat sikap Kak Ken, kayanya waktunya bakalan lebih cepat dari yang lo pikirin, terus Ayah sama Bunda lo ada ngomong apalagi? Mereka ngasih masukan apa gitu sama lo yang bisa lo pergunakan sebagai nasehat mendekati hari pernikahan lo nanti? Orang tua pasti punya wanti-wantinya sendiri sebelum anaknya menikahkan? Orang tua lo ngomong apa?" Lanjut Yuni nanya pertanyaan yang lebih jauh lagi, gue menggelengkan kepala gue sekilas mendengarkan omongan Yuni barusan, pertanyaannya aja belum gue pikirin sama sekali, nggak nyangka gue kalau Yuni bakalan nanya sampai ke perihal wanti-wanti Ayah sama Bunda gue juga.
"Ya kalau wanti-wanti ya biasa Yun, palingan kalau ada masalah itu dibicarain baik-baik, harus banyak bersabar dan semacam itu semua, cuma yang ngebuat gue bingung adalah, lo bisa nebak pertanyaan kaya gitu dari mana? Lo ngejadiin pernikahan gue sebagai contoh nyata rencana pernikahan lo nanti? Wah kacau lo, tapi apapun, Bunda gue tetap nyuruh gue ngomong ke Bang Riza awal-awal, jangan sampai Bang Riza tahu dari orang lain lebih dulu." Jelas gue untuk pertanyaan Yuni barusan, gimanapun, masalah gue sama Bang Riza belum lepas sepenuhnya jadi Ayah sama Bunda masih mengingatkan gue untuk mementingkan perasaan Bang Riza juga, mungkin Ayah sama Bunda gue nggak enak sama keluarganya Bang Riza makanya mereka nggak mau Bang Riza merasa tersakiti jauh lebih parah dari sekarang, itu masih kemungkinan doang.
"Ya orang tua lo nggak salah juga sih Ay! Keadaan Bang Riza sekarang udah lumayan baik jadi jangan sampai berubah jadi runyam lagi karena lo mengabaikan perasaannya, lo yang bilang kalau Bang Riza udah menganggap lo kaya adiknya sendirikan? Yaudah anggap aja lo lagi ngasih tahu Abang lo sendiri juga, jadi kalau Bang Riza tahu lebih awal gue rasa itu lebih baik, biar nggak ada masalah lainnya lagi." Gue mengiakan juga ucapan Yuni barusan, rasanya memang lebih baik kalau Bang Riza tahu lebih awal jadi Bang Riza bisa punya persiapan lebih, Bang Riza bisa punya waktu lebih untuk menata ulang perasaannya nanti, kagetnya Bang Riza juga akan lebih berkurang.
"Gue juga mikirin hal yang sama Yun makanya gue setuju dengan saran Ayah sama Bunda gue untuk ngomong ke Bang Riza lebih awal, gue juga lagi nunggu tanggal pastinyakan jadi nanti baru gue nyari waktu yang tepat untuk ngomong sama Bang Riza, dalam waktu dekat juga pastinya." Ini yang gue pikirin sekarang jadi Yuni juga bisa lebih tenang, mereka semua jangan terlalu khawatir sama keadaan gue, Bang Riza sekarang juga keliatan jauh lebih baik jadi gue yakin kalau Bang Riza bakalan bisa nerima dengan baik pemberitahuan gue nantinya juga.
"Udah lo nggak usah kebanyakan mikir, itu makanan pesenan lo kayanya udah dateng, buruan abisin, mumpung gue baik mau bayarin." Gue menunjuk ke arah depan dengan dagu gue dan bener aja, itu makanan kita berdua yang dateng, gue minta Yuni untuk makan lebih dulu sedangkan gue pamit ke kamar mandi sebentar.
.
Setelah ketemu Yuni kemarin, hari ini gue kuliah seperti biasa, gue mau kuliah tapi kayanya Yuni yang nggak bisa dateng, ni anak katanya sakit, pusing sama meriang, padahal baru kemarin ketemu gue tu anak keliatan sehat banget, ceria sama nyerocos terus nggak ada remnya, udah gitu makannya banyak banget nggak keliatan kaya orang mau sakit, makanya gue sedikit kaget pas Yuni ngabarin kalau dia nggak masuk hari ini, hari-hari gue di kampus bakalan suram kayanya, sepi kaya mati lampu, mana nanti gue masuk ke kelas yang anak-anak lumayan ngeselin lagi, tatapan cewek-ceweknya rada nggak bersahabat sama gue, bawaannya ngajak ribut mulu kalau ketemu, kalau Yuni ada, mereka nggak akan berani berkutik, bakalan di babat habis sama Yuni entar soalnya, baru kemarin gue ngomong kalau Yuni bakalan kesepain nggak ada gue nah sekarang kayanya malah gue yang kesepian karena nggak ada ni anak, apes banget gue teenyata.
"Lemes banget Ay? Kamu sakit? Kalau sakit ya nggak usah kuliah, istirahat di rumah." Tanya Bunda gue begitu ngeliat gue turun ke bawah dengan langkah lemes nggak karuan, gue lagi malas kuliah memang, ngebayangin keadaannya di kelas nanti aja makin lemes gue, apalagi kalau nanti udah di kelas beneran? Bisa lebih parah.
"Bukan Aya yang sakit Nda tapi Yuni, Yuni yang nggak dateng ke kampus hari ini makanya Aya ikutan lemes, anak-anaknya nggak enak soalnya, ngak bisa diajak kompromi, mukanya sangar semua." Apalagi yang perempuannya, bukan cuma sangat tapi udah sikap ngajak adu mulut setiap kali ketemu, gue kuliah aja, duduk tenang di kampus dan setelahnya gue mau langsung pulang untuk ngejengukin Yuni juga, ide rencana gue sekarang.
"Yuni yang sakit kenapa jadi kamu yang lemes, udah berangkat sana, hati-hati di jalan." Gue mengiakan dan langsung pamit sama Bunda untuk jalan ke kampus, dengan langkah gontai, gue masuk ke mobil gue dan selama perjalanan gue lesu, kaya anak nggak ada semangat, bawaannya mau tidur, begitu aja terus sampai gue udah di parkiran kampus, dengan muka lesu, gue turun dari mobil dan melewati koridor dengan tenang untuk masuk ke kelas, baru juga gue masuk tapi tatapan menusuk anak-anak udah aneh banget, mereka pada natap gue seolah gue punya banyak hutang sama mereka, sontak gue jadi makin nggak nyaman, mereka semua pada kenapa coba? Aneh kok sebegitunya? Ngeselin kalau gue lihat tahu nggak.
"Denger-denger di kelas kita ada yang mau nikah muda, mendadak pulakan? Coba tebak alasannya nikah mudah secara mendadak apa ya?" Tiba-tiba salah satu mahasiswa nyelutuk dari arah belakang, gue yang baru aja dateng dan ngambil posisi di arah depan udah jelas merasa tersindir banget, yang mau nikah muda terus dadakan disini siapa lagi? Kata-kata cuma mengarah ke gue, udah gitu ngomongnya pas gue baru masuk lagi, maksudnya ni anak apaan coba? Ngajak ribut guekah?
"Ay! Lo nggak marah diomongin tu sama Si Ria? Tu anak kalau nyindir memang suka keterlaluan." Tanya mahasiswi lain yang sekarang duduknya tepat disamping gue, gue berbalik dan menatap ni orang yang nanya barusan dengan tatapan tajam gue sekarang.
"Memang Ria ngomongin gue?" Tanya gue balik masih dengan tatapan yang sama, tatapan menusuk yang siap ngamuk sekarang kalau nggak gue sabar-sabarin.
"Bukannya yang nikah muda terus dadakan juga itu lo? Gue dengernya kaya gitu dari anak-anak, memang alasan lo nikah muda terus dadakan kaya gitu apaan? Cerita dong sama gue." Lah ni orang malah makin ngelunjak, tahu namanya aja enggak gue terus dengan muka polosnya malah minta gue cerita alasan gue nikah muda apaan? Padahal otaknta aja udah mikir jelek tentang gue tapi bisa-bisanya minta gue mikir cerita? Kan otaknya udah rusak parah, sok akrab sama gue, kalau mau nyari imformasi cari cara yang bagusan dikit, jangan kaya ayam keselek angin, asal-asalan.
"Lo mau gue cerita setelah lo ikutan nuduh gue secara nggak langsung? Lo sama aja, lo nggak tahu apapun tentang hidup gue tapi malah ngomong sesuka hati lo kaya gini, lo kira lo jauh lebih baik dari tu orang yang nyindir gue barusan?" Tanya gue balik yang langsung membuat raut wajah orang yang nanya barusan langsung berubah, tatapannya langsung terlihat kesal begitu menatap gue setelah gue ngomong kaya gitu, lagian ada-ada aja, udah nggak ada rasa bersalahnya sama sekali ni orang pas nanya padahal pertanyaannya juga kagak ada baik-baiknya.
"Udahlah, lo nggak usah nanya alasannya, orang kalau udah keblablasan mana berani ngaku, ngaku aja enggak apalagi mau cerita sama kita-kita, iya nggak Ay?" Lanjut Ria yang sekarang malah ngeledekin gue secara terang-terangan, gue yang denger omongan ni anak udah jelas naik pitam sekarang, benerkan kata gue? Kalau Yuni nggak ada, ni orang suka semena-mena, mulutnya itu udah kaya petasan dibakar, pertasan dibakar aja masih lebih mendingan karena walaupun berisik tapi masih enak di liat, ini udah mengganggu suaranya, penampakannya nggak enak dilihat pula, makin malas gue jadinya kalau udah harus ngadepin yang modelan beginian.
"Gue nggak punya kewajiban untuk ngasih penjelasan apapunkan? Kalau lo udah sok tahu harusnya rasa penasaran lo sama hidup gue jangan terlalu keliatan, kasian gue liatnya, sebegitunya irinya lo sama hidup orang lain?" Tanya gue balik, lagian mau gue jelasin sekalipun, ni anak juga nggak akan percaya sama omongan gue, mau gue jelasin sebagus apapun, dia juga nggak akan mau tahu, yang mau dia tahu sekarang itu cuma hal buruk tentang gue doang, karena otaknya udah duluan mikir buruk tentang gue jadi mau gue kasih liat sisi bagus dalam diri gue sekalipun, ni orang nggak akan lihat, kenapa? Karena matanya udah buram duluan, yang baiknya dari orang lain nggak akan dilihatnya, yang keliatan bagus cuma dirinya sendiri, orang lain salah semua.
"Lo ngatain gue?" Tanya Ria balik dengan tatapan penuh emosi, lah kalau yang barusan gue ngatain dia, terus yang dia lakuin itu apaan? Muji gue?
"Bukannya lo juga ngatain gue barusan? Gimana rasanya? Enak dikatain? Suka? Lo mau lagi? Tapi enggak deh, kayanya gue lebih baik dari lo, kalau lo beraninya cuma nyindir, gue bisa ngatain lo secara langsungkan? Makanya kalau punya otak lo pakai, jangan lo simpan di dalam botol, jadi nggak gunakan? Sebelum lo ngatain orang lain, ngaca dulu dicermin, hidup lo sendiri udah paling bener nggak? Kagak juga kayanya." Balas gue nggak mau kalah, Ria pikir gue bakalan diam disindir kaya gitu? Kalau orang beraninya nyindir, dilabrak langsung juga bakalan langsung menciut itu nyalinya, beraninya didepan orang banyak doang, begini gue tatap mukanya langsung, omongannya aja udah langsung berubah gelagapan.
"Lo berani sama gue? Lo lupa kalau Yuni nggak dateng hari ini? Memangnya kalau Yuni si sahabat lo itu nggak ada, lo bisa ngelakuin apa?" Ck! Jadi karena mereka tahu kalau Yuni nggak dateng hari ini makanya mereka semua berani ngatain gue kaya gini? Cuma karena Yuni nggak dateng makanya mereka punya keberanian untuk main sindir-sindiran begini? Yaelah cuma sindiran doang, beraninyapun karena Yuni nggak ada, haduh.
"Terus lo pikir kalau Yuni nggak ada, gue nggak punya mulut untuk ngebela diri gue sendiri? Selama ini gue diam karena apa? Ya karena omongan Yuni aja udah cukup untuk ngebuat lo pada nutup mulut, kalau Yuni aja cukup, kenapa gue harus turun tangan? Lo kata gue diam karena gue nggak berani sama lo? Lo kata gue diam karena gue nggak punya nyali buat ngadepin lo? Suram banget hidup lo ya? Lo sama Yuni aja takut, sedangkan gue malah sahabatan sama Yuni jadi sekarang udah keliatan yang nyalinya ciut siapakan? Karena gue bersikap baik, bukan bararti gue orang sebaik itu, jangan salah kaprah." Gue tersenyum meremehkan ke Ria sekarang, dia duluan yang ngajak gue ribut jadi jangan nyalahin gue.
"Lo jangan sembarangan ngomong, kata siapa gue takut sama perempuan modelan lo gini? Kata siapa? Gue nggak takut, lo mau gue nanya langsungkan? Yaudah sekarang gue tanya, lo nikah muda sama mendadak kaya gitu kenapa? Keblablasan?" Tanya Ria tegas yang membuat gue semakin tersenyum sinis sekarang, ni anak kacau parah memang, beraninya nanya kaya gitu doang setelah gue ceramahin panjang kali lebar, nggak ada mamfaatnya kalau gue ladenin, takut tapi maksain diri karena nggak mau di anggap remeh sama orang lain, dasar.
"Lo mau tahu aja apa mau tahu banget?" Tanya gue tertawa kecil, seketika tatapan Ria langsung menusuk, gue apalagi, kalau nggak ada dosen yang tiba-tiba masuk ke kelas, urusan gue sama Ria bakalan bisa lebih panjang kayanya.
"Makanya lo jangan berani-beraninya menilai hidup gue sembarangan kalau lo nggak mau orang lain menilai hidup lo sembarangan juga, lo paham?" Ucap gue ke Ria sebelum semua anak-anak bubar dan balik duduk di tempatnya masingmasing, Ria terlalu meremehkan orang lain dan itu nggak baik karena apa? Gue yakin Ria juga nggak suka kalau dia diremehkan oleh orang lain apapun alasannya.
Lagian gue juga heran, Ria sama anak-anak yang lain tahu dari mana kalau gue mau nikah? Bukannya ini lebih dulu harus gue cari tahu? Kapan gue pernah ngomongin rencana pernikahan gue sama orang lain? Sama Yuni? Nggak mungkin Yuni yang ngasih tahukan? Atau Bang Riza, kapan gue ngomongin masalah pernikahan gue sama Bang Riza kalau di kampus? Di ruang baca atau bentar bentar, apa mungkin pas kita ketemu sama temannya Bang Riza sewatu mau keluar dari ruang baca? Kayanya gue harus nanya sama Bang Riza langsung nanti deh, kalau sampai mereka tahu karena ini, berita bener-bener luar biasa cepat menyebarnya, udah gitu pakai acara ngomong aneh-aneh lagi tentang gue, kan ngeselin, nambah kerjaan sama beban pikiran gue aja, dasar.