Setelah ucapan Papanya Kak Ken, gue hanya mengiakan sedangkan Ayah sama Bunda udah pada nanya, Tante sakit apa? Didoain juga semoga lekas sembuh dan sebagainya, menurut gue itu cuma basa basi tapi basa basi juga terkadang penting, kalau gue ngomong sama Bunda tentang apa yang gue pikirin sekarang, Bunda pasti nggak bakalan setuju, kenapa? Karena menurut Bunda gue, nggak baik kalau mikir buruk, doain yang baik-baiknya aja tapi gue juga nggak sembarangan mikir buruk kok, bukan tanpa alasan gue sampai mikir kaya gini, gue mikir kaya gini pasti juga punya alasannya, nggak mungkin gue asal ngomong tanpa ada bukti lebih dulu.
Pasalnya itu, pas hari pertunangan gue yang waktu gue ulang tahun kemarin, keluarga Kak Ken berhalangan hadir dengan alasan Mamanya Kak Ken lagi sakit makanya itu cincin pertunangannya cuma di kirim dan sekarang, Mamanya Kak Ken sakit lagi? Ketapa waktunya tepat banget? Kata Bunda pas ketemu Mamanya Kak Ken nggak sengaja di tempat acara temen atau kolega Ayah, Mamanya Kak Ken sehat-sehat aja, keliatan baik dan nggak kenapa-napa? Apa mungkin sakitnya cuma pas mau ketemu gue atau kalau cuma bersangkutan sama gue dan keluarga? Kalau sikapnya Mama Kak Ken kaya gini, wajarkan ya kalau gue bawaannya mikir aneh terus? Udah was-was duluan gue sama kelakuannya.
"Semoga di kesempatan lain kali Mamanya Ken dalam keadaan jauh lebih sehat ya." Ucap Bunda gue yang masih belum habis basa-basinya, sikap gue sekarang ya hanya mengiakan dan ikut menyunggingkan senyuman, gitu-gitu juga calon mertua jadi kudu banyak gue sabarin, ini ni kata Bunda, wanti-wanti Bunda jadi harus banyak gue ikutin, harus banyak jadi pertimbangan gue, jangan asal-asalan jawab, lebih baik diam kalau memang nggak setuju atau nggak suka dengan apa yang orang lain omongin, pengertian itu penting, mungkin ini cuma perasaan gue doang jadi gue masih mencoba memahami ucapan Bunda gue sampai sekarang.
"Jadi ada apa ni? Mas datang kemari juga pasti ada alasannyakan ya? Aya udah nggak sabar soalnya, begitu Bundanya ngasih tahu kalau Mas dan keluarga mau dateng, Aya udah nggak bisa tidur itu, nah mumpung Aya ada, Mas aja yang jelasin langsung maksud dan tujuan Mas dan keluarga dateng itu apa, biar nanti malam Aya bisa tidur." Ucap Ayah gue tiba-tiba, sontak gue kaget sekaligus malu dengan pemberitahuan Ayah gue barusan, muka gue rasanya mau gue bungkus pakai tikar sajadah, malunya itu nggak nahan, bisa-bisanya Ayah gue ngomong kaya gitu coba, kenapa kesannya malah jadi terang-terangan banget, itu tu harusnya jangan di omongin ke keluargnya Kak Ken juga, cukup orang rumah gue aja yang tahu nah ini Ayah apaan main ngomong blak-blakan banget, Papanya Kak Ken sama Si Tante sampai senyum-senyum gitu natap gue sekarang, malu gue makin terasa saudara-saudara.
"Ayah! Nggak gitu." Cicit gue menatap Ayah sedikit kesal, persis kaya anak kecil memang tapi ya memang, Ayah juga salah, nggak seharusnya Ayah ngomong segamblang itu ke Papanya Kak Ken, mereka udah senyam-senyum natap gue pasti karena ngetawain, ternyata calon menantunya udah nggak sabar minta di lamar, nggak dilamar juga sih, kan lamarannya udah lewat dari kapan lalu, udah tunangan malah, cuma jadi keliatan banget kalau gue sangat-sangat menantikan kedatangan orang tuanya Kak Ken padahal susah payah gue nahan diri untuk nggak nanya apapun sama Kak Ken, biar nggak malu tapi ini apa? Malah di bongkar sendiri sama Ayah di depan calon mertua gue langsung, udahlah, tinggal tunggu aja kapan beritanya sampai ke telinga Kak Ken sendiri, biar beneran jadi bahan ledekan untuk gue nantinya, udahlah, pasrah banget gue sekarang, mau ngomong apapun juga percuma, nggak bakalan di dengerin lagi, udah lewat jugakan? Gue yang kalah telak.
"Oh Aya udah nggak sabar ya mau tahu? Kenapa nggak nanya Ken langsung? Bukannya Ken yang mau supaya ini disegerakan?" Sahut Papanya Kak Ken malah semakin menertawakan kelakuan gue sekarang, udahlah, muka pasrah gue udah keliatan jelas sekarang, gue hanya bisa berdoa dan berharap kalau permbahasannya nggak bakalan jadi makin panjang, bisa dihentikan sekarang dan langsung aja ke tujuan intinya itu apa, nggak usah ngebuat gue makin penasaran padahal gue penasaran udah ketahuan jelas kaya gini, nggak usah diperpanjang, gue minta tolong, malunya gue udah kebangetan ini, makin panik tar gue, makin malu lagi, muka gue udah nggak tertolong.
"Mereka berdua mana pernah mau ngobrol Mas, ketemu aja nggak mau, pada malu-malu padahal mah dalam hati udah nggak sabar." Lanjut Bunda gue mananggapi, Allahu, gue udah geleng-geleng kepala nggak kuat sekarang, kalau memang bisa, gue mau melambaikan tangan aja, kabur dari acara pertemuan keluarga ini dan masuk ke kamar gue sekarang juga, untung banget Yuni nggak denger omongan keluarga gue sama keluarganya Kak Ken sekarang, kalau Yuni denger, abis gue jadi bahan tertawaan dan ledekan Yuni selama seminggu lebih, bisa kalap Yuni kalau dapat pembahasan semenarik ini sekarang, syukur-syukur ni anak nggak ada dan nggak denger apapun, jadi gue bisa mengusap d**a aman sedikit, malu gue nggak jadi berkali lipat.
"Yaudah nggak usah dibahas terus, kasian itu Aya udah malu banget, lebih cepat kita sampai tujuan kita datang, lebih baik untuk Aya sama Kendra juga Mbak, Mas, biar mereka nggak saling penasaran lagi, bisa ketemu langsung juga." Kali ini Tantenya Kak Ken yang menengahi, gue udah sangat-sangat bersyukur dengan jawaban Tantenya Kak Ken barusan, ini adalah penyelamat muka gue sekarang, setidaknya malu gue bisa sedikit berkurang, setidaknya muka gue masih bisa gue perlihatkan seadanya, nggak makin aneh karena nahan malu diketawain dari tadi, memang Ayah sama Bunda nggak pengertian ni, anaknya sendiri dikerjain, kan nggak enak sama sekali, aneh jadinya, mau marah tapi itu orang tua, nggak marah tapi ngeselin, kan jadinya gue yang serba salah, mau gue tanggepin malas, nggak gue tanggepin juga nggak enak, tar dikira nggak sopan lagi, balik lagi masalahnya ke kesan pertama dan untuk sekarang kesan pertama gue ke Mamanya Kak Ken udah kurang, suram.
"Yaudah langsung aja, jadi begini, awalnya kita merencanakan kalau pernikahan Aya sama Kendra akan kita adakan setelah Aya lulus kuliah tapi Kendra memberikan pendapat lain, makanya itu kami sekeluarga juga datang lebih awal." Ucap Papanya Kak Ken yang gue rasa masih sangat menggantung, ucapannya masih kurang jelas dan gue masih kurang paham, maksudnya Papanya Kak Ken gimana? Jadi awalnya rencananya pernikahan gue sama Kak Ken bakalan diadain setelah gue lulus kuliah? Masih lama dong, gue lulus aja nggak tahu kapan nah ini lagi, tar malah jadi beban baru untuk gue sendiri.
"Jadi apa asa perubahan? Mau di undur atau gimana ini Mas?" Tanya Ayah gue masih terlihat santai, Ayah santai tapi gue yang nggak santai, mendengarkan kata diundur keluar dari mulut Ayah gue udah ngebuat gue panik sendiri, kalau beneran diundur gimana? Alasannya apa? Kenapa?
"Bukan diundur tapi Kendra mau pernikahannya dipercepat, jadi tujuan kami datang kemari ya ini, kami ingin menanyakan pendapat Aya, apa Aya setuju atau memang pernikahannya mau tetap diadakan seperti rencana awal?" Dan seketika semua tatapan orang yang ada di ruang tamu keluarga udah pada natap gue, mereka semua menjadikan gue pusat perhatian mereka sembari menunggu sebuah jawaban, jawaban yang gue sendiri masih nggak mau mesti memberikan jawaban seperti apa karena sangking masih kegetnya dengan apa yang gue dengarkan barusan? Seriusan itu alasan orang tua Kak Ken datang ke rumah, bukan karena ingin mengundur pernikahannya tapi malah ingin mempercepat? Lebih-lebih gue juga baru tahu kalau ini adalan keinginan Kak Ken, gue seakan masih belum bisa percaya dengan hal itu.
"Nda! Memang ini beneran? Mau dipercepat karena keinginan Kak Ken sendiri? Ini bukan becandaankan Nda? Kalau memang ini becandaan, becandanya udah nggak lucu sama sekali." Cicit gue nanya ke Bunda, gue nanya tapi Bunda malah menghembuskan nafas panjang mendengarkan pertanyaan gue sekarang, ya wajarkan gue nanya, gue itu ngerasa kalau apa yang barusan gue dengarkan seakan nggak nyata dan itu memberatkan, gue seakan ngerasa kalau ada yang aneh, pemikiran gue udah langsung melayang kemana-mana begitu denger kalau Kak Ken mau pernikahan kita berdua dipercepat.
"Kamu nggak salah denger Ay! Kan Papanya Ken sendiri yang ngomong barusan, masa iya Papanya Kendra becanda, kamu yang jangan ngajak kita semua becanda sekarang, bukannya pertanyaannya udah cukup jelas? Kamu tinggal ngasih jawaban, jangan mikir yang aneh-aneh sendiri, nggak baik." Cicit Bunda gue balik, Bunda bahkan udah melayangkan tatapan nggak karuannya sekarang, nggak cuma Bunda, Ayah juga sama, Ayah udah menatap gue dengan tatapan tajamnya sekarang, kayanya Ayah beneran mau gue memberikan jawabannya sekarang juga padahal gue juga harus mikir-mikir, ya gimana enggak, ini menyangkut masa depan gue dan kalau udah menyangkut masa depan nggak boleh asal-asalan, gimana sih Ayah.
Ya memang bener juga kalau gue suka sama Kak Ken, bahkan mungkin gue cinta, gue yakin kalau Kak Ken adalah pilihan terbaik gue tapi apapun, gue tetap akan bingung kalau dilayangkan pertanyaan dadakan modelan begini, menikah dalam waktu dekat itu bukan pekara gampang, gue memang yakin dengan Kak Ken tapi nggak mungkin dadakan jugakan? Gue tetap butuh persiapan, gue mau memikirkan ini semua baik-baik lebih dulu apa ada yang salah? Harusnya nggak ada, semuanya itu butuh proses dan gue tetap harus mempertimbangkan ini semua sebelum memberikan jawaban gue yang sudah pasti.
"Jadi gimana Ay? Semua lagi nunggu jawaban kamu sekarang?" Tanya Ayah gue yang terdengar sedikit mendesak, gue semakin berpikir keras sekarang tapi apapun, semuanya memang nggak bisa gue pikirkan secara instan, ini bukan pekara gampang dan gue butuh waktu, apa nggak bisa mereka semua memberikan gue waktu untuk berpikir dan menimbang sebelum gue benar-benar akan memberikan jawaban?
"Diam itu artinya setuju, aku yakin Aya setuju Mas, Mas lihat sendiri seberapa antusiasnya Aya nunggu kedatangan Mas dan keluarga dari tadi, Aya nggak mungkin menolak keinginan Kendra, pekara baik memang harus disegerakan." Ucap Ayah gue mewakili, gue langsung ikut tercengang dengan jawaban Ayah gue barusan, lah nggak kaya gini maksud gue, diamnya anak perempuan zaman dulu mungkin artinya memang iya tapi diamnya gue itu artinya gue kebingungan sampai nggak tahu harus ngasih jawaban apa, Ayah kenapa malah salah mengartikan begitu? Kapan gue ngomong setujunya? Gue butuh waktu buat mikir, ini baru bener.
"Om! Tante! Kalau misalnya Aya minta waktu untuk mempertimbangkan keinginan Kak Kendra lebih dulu boleh nggak? Aya harus mikirin ini semua baik-baik, bagaimanapun, ini menyangkut masa depan Aya jadi Aya nggak mau terburu-buru, kasih Aya waktu untuk berpikir dan kalau Aya sudah yakin, Aya akan memmberikan jawaban pasti Aya juga." Ucap gue memcoba memberanikan diri, gue bahkan memejamkan mata pasrah untuk sesaat, gue nggak sanggup untuk menghadapi tatapan menusuk Ayah sama Bunda gue sekarang, minta waktu untuk berpikir dengan jauh lebih baik gue rasa bukan permintaan yang berlebihan, gue rasa itu memang hal yang cukup wajar, nggak aneh jugakan?
"Ay! Kamu kenapa? Memangnya kamu nggak yakin sama Ken? Bukannya kamu juga nggak menolak dijodohkan jadi maksud kamu meminta waktu untuk mempertimbangkan ini semua apa? Ini bukan bahan becandaan dan semua keluarga udah sangat serius sekarang." Tanya Ayah ke gue dengan nada bicara yang sedikit meninggi, gue mencoba memahami alasan Ayah bersikap begini sekarang, gue tahu apa yang Ayah khawatirkan dan gue paham akan hal itu cuma, ada beberapa hal yang nggak bisa gue putuskan secara mendadakan dan salah satunya adalah pernikahan, memang gue setuju dijodohkan dan gue nggak menolak sama sekali tapi sekarang yang aneh adalah pernikahannya akan dipercepat secara dadakan dan itu yang harus gue pertimbangkan, gue ingin menimbang bukannya ingin membatalkan jadi Ayah nggak seharusnya panik seperti itu juga, gue nggak akan berbuat hal aneh-aneh apalagi sampai mempermalukan Ayah di depan keluarga, gue nggak akan ngelakuin itu, gue cuma minta waktu, nggak lebih.
"Yah! Aya cuma minta waktu untuk mikir, Aya memang yakin sama Kak Ken dan Aya percaya kalau Kak Ken udah metusin sesuatu, Kak Ken udah mempertimbangkan semuanya dan sekarang Aya yang butuh waktu untuk mempertimbangkan, apa itu terdengarkan berlebihan? Bukannya Om barusan juga ingin menanyakan pendapat Aya lebih dulu bukannya meminta Aya untuk langsung setujukan Yah?" Tanya gue balik ke Ayah, gue menanyakan hal yang gue anggap benar dan gue rasa nggak ada yang berlebihan dengan keinginan gue itu, gue mau Ayah mengerti dengan maksud ucapan gue bukannya langsung emosi apalagi sampai marah sama gue, gue hanya ingin berpikir lebih dulu, cuma itu.
"Apa permintaan Aya berlebihan Yah?" Sambung gue bertanya dengan Ayah gue lebih lembut? Harusnya Aya bisa paham maksud pertanyaan gue, gue tahu ini penting dan gue juga sama sekali nggak ada niat untuk mengewakan Ayah, gue hanya ingin mendapatkan waktu untuk berpikir, cuma itu dan nggak lebih, apa Ayah juga nggak bisa memberikan hal ini untuk gue? Papanya Kak Ken ada datang nemuin gue kaya gini karena mengikuti keinginan putranya jadi harusnya nggak ada yang berlebihan dengan permintaan gue barusan, itu terdengar cuma wajar dan gue harap Ayah akan paham dengan apa yang gue maksud sekarang, ini permintaan sederhana itu.
"Baik! Om setuju, kamu boleh mempertimbangkan ini semua lebih dulu dan kalau kalau sudah yakin, kabari Om dan keluarga secepatnya, jangan memaksakan diri karena Om yakin, Kendra juga nggak mau kamu melakukannya karena terpaksa atau ada desakan dari siapapun, kami sekeluarga bisa menunggu." Dan jawaban Papanya Kak Ken sangat-sangat menenangkan perasaan gue, jawaban Papanya Kak Ken sangat-sangat membuat gue bisa bernafas lebih lega, setidaknya walaupun Ayah terlihat masih keberatan dan nggak ngerti dengan jalan pemikiran gue sekarang, keluarga Kak Ken bisa mengerti dan bersedia memberikan gue waktu, gue nggak akan menggantung permintaan kak Ken terlalu lama, kalau gue udah yakin, gue akan memberikan jawaban gue sesegera mungkin juga.
"Maaf ya Mas, Aya mungkin memang butuh waktu untuk berpikir, ya bagaimanapun walaupun pernikahan mereka adalah rencana awal kita tapi setelah menikah, mereka berdua yang akan menjalani jadi alangkah lebih baik kalau memang mereka berdua sudah sama-sama yakin terlebih dulu, jadi pondasi rumah tangga mereka juga bisa jauh lebih kuat." Sambung Bunda yang membantu menguatkan keinginan gue, pendapat Bunda barusan juga diangguki oleh tantenya Kak Ken jadi sekarang mereka semua bisa lebih yakin, teritama Ayah, gue harap Ayah juga bisa yakin dengan keputusan gue, gue nggak asal-asalan minta waktu kalau memang nggak punya pertimbangan apapun, sama halnya Papanya Kak Ken yang sangat percaya dengan putranya, gue juga mau Ayah percaya sama gue, toh selama ini gue juga nggak ngelakuin hal aneh-aneh.
"Yasudah kalau begitu, kalau memang Aya butuh waktu mari kita berikan Aya waktu sembari menunggu, bagaimanapun ini adalah hal penting untuk mereka jadi jangan kita paksakan untuk mengikuti keinginan kita." Dan pembicaraan mengenai rencana Kak Ken untuk mempercepat acara pernikahannya cuma sampai disini, setelahnya Papa sama Tantenya Kak Ken ikut makan di rumah sebelum mereka pamit pulang, gue memang sangat terkesan dengan pengertian Papanya Kak Ken tapi kenyataan kalau Mamanya Kak Ken yang udah nggak datang dua kali juga nggak luput dari pemikiran gue sekarang, gue bingung sama kepikiran sendiri, semoga ini cuma perasaan nggak enak gue doang dan nggak bakalan kenapa-napa, gue nggak enak hati soalnya karena Si Tante udah nggak datang dua kali, bisa dibilang gue mungkin belum pernah ketemu dengan Mamanya Kak Ken yang sekarang.
"Kamu ya Dek, bener-bener nggak ketebak, Bunda kira kamu bakalan langsung setuju dengan permintaan keluarga Ken untuk mempercepat acara pernikahannya tapi ternyata kamu malah minta waktu, memangnya kamu mau mikirin apa lagi?" Tanya Bunda ke gue yang memang lagi beberes dapur, jangan tanya Yuni kemana sekarang, ni anak lagi sibuk di kamar gue, sibuk berpetualang di alam mimpi, tu anak malah tidur siang, nyenyak banget pula jadi gue nggak tega untuk ngebanguninnya, gue biarin Yuni tidur dulu karena gue juga butuh waktu, gue butuh waktu untuk menenangkan perasaan gue saat ini, gue butuh waktu untuk mikir tadi katanyakan? Yaudah sekarang gue lagi mikir ini dan kalau gue lagi mikir, alangkah baiknya kalau Yuni nggak nimbrung dulu, otak gue tar malah terkontaminasi sama ni anak kalau dia udah nanya banyak, makanya Yuni tidur itu lebih bagus.
"Ya memangnya kalau Aya minta waktu kenapa sih Nda? Banyak hal yang harus Aya pikirin, banyak hal yang harus Aya pertimbangin, Bundapun satu, memang Bunda nggak ngerasa aneh sama sikap Mamanya Kak Ken? Udah dua kali loh Nda, dua kali Mamanya Kak Ken ngelak ketemu Aya, pas Bunda ketemu Mamanya Kak Ken di luar Bunda bilang orangnya keliatan sehatkan? Baik-baik aja kan? Nah kenapa setiap kali harus datang ke rumah ada aja alasannya, sakit terus perasaan? Itu sakit beneran apa sakit dibuat-buat?" Tanya gue ke Bunda berterus-terang dengan apa yang gue rasain sekarang, kan gue bener, gue nanya nggak sembarangankan? Kalau gue aja bisa curiga, masa Bunda gue enggak? Nggak yakin sama sekali gue kalau udah begitu.
"Hush, itu namanya kamu mikir nggak baik Ay! Nggak boleh kaya gitu, ya walaupun kalau ketemu di luar selalu sehat ya siapa tahu memang beneran sakitkan? Kita doain cepat sembuh, doain yang baik-baik aja, jadi kamu mikirin hal ini makanya sampai minta waktu sama Papanya Ken kaya tadi? Ya Allah Dek, Bunda kirain kamu kenapa? Bunda pikir kamu memang mau mikir hal penting apa, ternyata cuma ini?" Gue menggelengkan kepala gue cepat menanggapi pertanyaan Bunda gue barusan, cuma? Cuma kata Bunda? Ini tu bukan cuma, nggak sesederhana itu masalahnya, ini tu udah menyangkut sama masa depan gue lagian sikap Mamanya Kak Ken memang mencurigakan, gimana gue nggak mikir aneh-aneh, kebetulannya terlalu sering makanya gue jadi sulit percaya.
"Ini tu nggak sekedar kata cuma Nda, nggak cuma doang, Bunda apaan sih mikirnya cuma kaya gitu? Ini tu lebih udah aneh Nda dan kalau udah menyangkut masa depan, nggak ada kata cuma, bukannya ini tentang pernikahan, setelah menikah Aya bakalan ikut tinggal bareng keluarga suami, kecuali, setelah menikah suami yang ikut tinggal bareng Aya nah itu baru nggak terlalu Aya pikirin." Bunda gue yang bener aja, gimana bisa gue nggak mikirin orang yang udah sangat mencurigakan kaya gitu? Kalau gue setuju menikah sama Kak Ken dalam waktu dekat dan setelahnya gue harus ikut tinggal bareng Kak Ken tapi ternyata keluarganya ada yang nggak suka sama gue, nah nasib gue gimana? Apa gue mau hidup dalam keadaan nggak nyaman? Ya jelas enggakkan? Makanya gue sangat-sangat mempertimbangkan hal ini kaya sekarang, nggak bisa gue asal-asalan, Bunda harusnya paham sama apa yang gue takutkan sekarang bukannya malah nanya seolah ada yang salah sama gue, Bunda kaya nggak mendukung anaknya sama sekali.
"Kamu kan bisa bicarain ini sama Kendra nanti, lagian Ken juga nggak akan tinggal diam kan Ay? Dia pasti bakalan ngebelain kamu kalau memang ada yang nggak suka, kenapa kamu takut? Dari pada kamu bingung mikirin mau tinggal bareng keluarga Ken atau keluarga kita, kenapa kalian nggak pindah dan tinggal cuma berdua? Bukannya itu lebih baik? Idenya lebih bagus dan itu bukannya hal buruk." Jawab Bunda gue masih sangat santai, jawaban Bunda gue memang santai dan saran dari Bunda juga nggak kalah santainya, walaupun begitu, gue tetap ngerasa kalau apa yang disaranin Bunda barusan juga bukan pilihan buruk, ketimbang bingungkan sendirikan lebih baik ajak Kak Ken tinggal cuma berdua, sekaligus belajar mengurus rumah tangga, jelas ini ide bagus.
"Ide Bunda barusan nggak salah sih Nda, ide bagus itu malahan jadi Aya nggak perlu was-was sendiri kalau ada keluarga Kak Ken yang nggak sukakan? Kemungkinan ketemunya aja pasti udah jarang jadi harus takut kenapa?" Tanya gue lagi, Bunda gue kembali menggeleng-gelengkan kepalanya menatap gue sekarang, Bunda natap gue seolah gue sedang melakukan kesalahan lain tapi padahal yang gue lakuin ini termasuk dalam persiapan, persiapan sebelum menikah, menikah itu kan nggak boleh asal-asalan, kudu dipikirin mateng-mateng.
"Kamu itu terlalu cemas kalau mikirin sesuatu Ay jadi malah nambah beban, lagian yang kamu rasain sekarang itu cuma godaan sebelum menikah, menikah itu ibadah yang baik makanya begitu kita mau beribadah, godaannya memang banyak, cara menghilangkannya gimana? Kamu sendiri harus banyak-banyak berdoa, banyak-banyak mikirin hal baik, jangan hal buruknya yang selalu kamu pikirin." Saran Bunda yang lagi-lagi gue iyakan juga, Bunda bener, mungkin ini cuma perasaan gue doang yang semakin nggak karuan kaya sekarang, cuma perasaan gue doang yang makin aneh sendiri, harusnya banyak berpikiran positif jadi nggak bakalan mikir buruk selalu, nggak baik untuk kesehatan gue sendiri juga, itu baru bener.
"Yaudah kalau gitu Aya naik dulu ya Nda, udah bereskan semuanya? Mau ngeliatin Yuni juga, takut Yuni digigit nyamuk." Izin gue ke Bunda, mendapatkan anggukan, gue langsung berbalik arah dan bergegas menaiki tangga dan masuk ke kamar gue, membuka pintu kamar, niat awal gue untuk ngerecokin Yuni tidur udah gagal seketika, anaknya udah bangun duluan soalnya, Yuni duduk disalah satu sisi ranjang sembari mengusap pelan wajahnya, beneran baru bangun ini mah, nggak salah lagi, gue menutup balik pintu kamar dan ngambil posisi langsung berbaring disamping Yuni duduk sekarang, gue menghempaskan tubuh gue kasar karena memang udah gerah banget dari tadi, lemes.
"Lo ngapain?" Tanya Yuni nepuk lengan gue cukup kuat, gue langsung melayangkan tatapan menusuk gue sembari mengusap lengan gue yang di tepuk barusan, tangannya kecil tapi pas nimpuk orang rasanya perih amat, kecil-kecil cabe rawit ini mah namanya.
"Lo yang ngapain? Ngapain lo nepuk lengan gue kaya gitu? Lagian lo nggak liat gue lagi apa? Gue baru aja masuk dan membaringkan tubuh gue di ranjang, mata lo kenapa lagi? Mulai bermasalah sampai gue segede ini juga nggak keliatan?" Tanya gue balik ke Yuni, ya gimana enggak, gue udah segede ini masa iya nggak keliatan sama Yuni, kan minta di timpuk beneran ni anak, udah gitu lengan gue sakit, kalau mau nanya ya nanya aja, tangan nggak perlu melayang ke anggota tubuh gue.
"Gue bukannya nggak ngeliat lo ngapain tapi lo itu yang pura-pura lupa diri, harusnya lo udah tahu tujuan gue sekarang itu apa jadi kenapa malah lo tidur? Harusnya lo itu nemuin nemenin gue cerita lebih dulu, harusnya lo itu cerita semuanya sama gue baru kalau setelahnya lo mau tidur ya silahkan, nggak akan gue larang, apa-apaan lo main tidur langsung, kagak ada, cerita dulu sama gue mulai dari Z sampai A, kan reka ulang adegan jadi wajar gue balik." Haduh, gue menghembuskan nafas panjang mendengarkan ocehan Yuni sekarang, udah ketebak sih sama gue kalau ni anak bakalan bereaksi yang kaya gini, ini nggak enaknya kalau Si Yuni nggak ikut denger langsung jadi bakalan ada reka ulang adegan, reka ulang adegannya yang ribet, kalau dia ikutpun gue yang ribet.
"Lo yang bikin rebet, udah sana lo cuci muka dulu, lo sholat dulu tar baru gue ceritain, buruan sana bangun, bangun buruan." Gue nepuk lengan Yuni cukup kuat sekarang, hitung-hitung balik nimpuk karena gue di timbuk juga sama ni anak tadi.
"Wah lo, kalau mau bales mukul bilang aja, nggak usah kebanyakan alasan sama gue, parah lo." Dengan wajah kesal ditambah mata sayunya, Yuni bangkit dari duduknya sekarang dan berjalan terhuyung menuju kamar mandi, udah gitu main pilih baju ganti sesuka hati lagi di lemari gue, bener-bener, punya sahabat satu tapi kenapa begini amat?