"Apa perasaan kamu jauh lebih baik sekarang?" Gue mengangguk pelan untuk pertanyaan Kak Ken sekarang, gue yang memang duduk berdampingan dengan Kak Ken mulai menyandarkan kepala gue dibahunya, awalnya gue sedikit ragu melakukan itu semua tapi nggak ada salahnya juga gue coba, nggak ada larangannya juga dan itu sah-sah aja.
"Kalau memang perasaan kamu jauh lebih baik tapi kenapa muka kamu malah suntuk kaya gini Ay? Apa ada masalah lain yang belum kamu ceritain sama Kakak?" Lanjut Kak Ken nanya gue balik, lagi-lagi gue menggeleng pelan untuk pertanyaannya barusan, perasaan gue sekarang memang jauh lebih baik, gue juga merasa jauh lebih lega tapi entahlah, kaya masih ada sesuatu yang mengganjal dipikiran gue.
"Harusnya memang udah lebih baikkan Kak? Tapi kenapa Aya masih lemes dan nggak tenang kaya gini ya?" Tanya gue bahkan untuk diri gue sendiri, harusnya keadaan sekarang udah sangat membaik tapi kenapa malah gue yang berubah semakin nggak karuan begini, ada yang masih gue pikirkan tapi gue nggak tahu pasti itu apa.
"Kalau memang kamu nggak yakin, pasti masih ada sesuatu yang mengganjal dihati kamu, coba kamu pikirin baik-baik, apa yang membuat kamu merasa kurang baik kaya sekarang? Cerita sama Kakak dan kita cari solusinya sama-sama." Gue mengangguk pelan dan menghembuskan nafas cukup panjang, gue juga mulai melingkarkan tangan gue dilenga Kak Ken dan menyandarkan kepala gue semakin nyaman, gue mencari tempat ternyaman gue sekarang dan gue harap Kak Kendra nggak keberatan, gue mencoba membuat rasa canggung gue setiap kali berdua sama Kak Kendra kaya gini, bagaimanapun Kak Ken bukan orang lain, kalau bukan sama Kak Kendra, gue harus gue bersandar kaya gini sama siapa? Sama Ayah? Udah gede kaya gini juga.
"Kalau memang kamu nggak tahu yaudah nggak papa, kamu istirahat aja nanti Kakak bawa kamu keluar sebentar." Gue yang awalnya menyandarkan kepala gue dengan nyaman di bahu Kak Ken malah mengangkat kepala gue untuk menatap Kak Kendra langsung sekarang, keluar? Memang Kak Ken mau ngajak gue kemana lagi?
"Kakak mau kita pergi kemana?" Tanya gue santai, gue masih menatap Kak Ken menunggu jawaban dengan tangan yang belum mau melepaskan gandengan gue dilengannya.
"Hari ini temen-temen Kakak ngajakin reunian dan kebetulan Kakak yang baru menikah jadi mereka semua minta Kakak ngajak kamu, pas nikahan kemarin nggak bisa ngobrol lama soalnya, kenapa, apa kamu keberatan?" Gue langsung menggeleng cepat, kenapa gue harus keberatan, bukannya itu hal bagus, gue bisa lebih kenal dengan temen-temen dari suami gue jadi kalau misalnya ketemu diluar nggak dikata sombong atau kalau Kak Ken ketemu sama temen perempuannya, gue nggak akan salah paham, tentu aja gue nggak akan nolak ajakan Kak Kendra sekarang, hal baik memang nggak boleh di tolak apalagi pakai alasan yang nggak masuk akal.
"Aya nggak keberatan kok Kak, lagian kebetulan Aya suntuk juga, mungkin banyak pikiran juga karena ini, lebih baik Aya ikut sama Kakak sambilan jalan jadi kenapa harus Aya tolak, ayo aja." Gue memberikan jawaban lengkap dengan senyum sumringah gue, jalan-jalan sama cuci mata siapa tahu bisa membuat pemikiran gue jauh lebih terbuka, siapa tahu tar perasaan gue bisa jadi lebih baik, semoga aja.
"Temen-temen Kakak rame nggak yang dateng biasanya?" Tanya gue membuka obrolan, Kak Ken kembali nepuk bahunya meminta gue untuk balik bersandar disana, dengan semangat dan senyum sumringah gue pasti mengiakan, nggak butuh waktu lama, gue langsung menyamankan posisi gue.
"Harusnya nggak terlalu rame Ay, mungkin ada yang sibuk dan nggak bisa ikut tapi walaupun rame sekalipun itu bukan masalah, kamu cuma perlu duduk disamping Kakak dan ngobrol senyamankan kamu, kalau ada yang kurang nyaman tinggal kasih tahu Kakak juga, jangan terlalu kamu pikirin." Kak ken mengingatkan gue sampai ke hal kaya gini, tentu aja gue merasa sangat nyaman, belum ketemu sama temennya aja gue udah diwanti-wanti, yang terpenting adalah nyamannya gue dan gue akan berusaha beradaptasi sebaik mungkin.
Masalah gue sendiri sebenernya cukup sederhana, gue bukan takut apalagi kepikiran tapi pasalnya, gue sama temen-temen gue aja nggak pernah reunian, nggak ada yang ngadain reunian juga sih paling ngumpulnya kalau ada temen yang nikahan atau ngadain hajatan, malah sejauh ini banyakan hajatan doang karena yang nikah belum rame juga, masih bisa dihitung makanya itu, gue nggak tahu suasana reunian itu kaya apa, paling gue seringnya jalan sama Yuni atau nggak bertiga sama Bang Riza, nah itu baru gue paham.
"Kakak bilangkan jangan kamu pikirin tapi kenapa sekarang malah ngelamun Ay? Kakak bilang nggak papakan? Udah istirahat dulu sebentar." Gue mengiakan dan nggak ngerespon apapun lagi, duduk bersandar dibahu Kak Kendra dalam diam kaya gini membuat perasaan gue sangat nyaman, hening diantara kita berdua juga semakin membuat lelah gue berkurang, nggak ada yang mengeluarkan suara, hanya deru nafas Kak Kendra yang bisa gue rasakan sekarang, menggeratkan genggaman gue dilengannya gue hampir aja kaget begitu Kak Kendra mengecup kening gue dengan tetiba.
"Kaget sampai sebegitunya Ay?" Tanya Kak Kendra tersenyum jail menatap gue, ya gimana gue nggak kaget, lagi tenang-tenangnya tiba-tiba aja Kak Ken ngecup kening gue tanpa aba-aba kaya gitu, anak perempuan mana yang nggak bakalan salah tingkah kalau digituin? Ayo jawab?
"Gimana Aya nggak kaget kalau tiba-tiba ada laki-laki yang ngecup kening Aya kaya gitu Kak? Aya belum terbiasa makanya kaget kaya tadi, udah ngagetin malah ngetawain lagi, dasar." Jawab gue udah mengangkat kepala gue dari bahu Kak Kendra sekarang, gue sekarang juga masih menatap Kak Kendra dengan tatapan kaget gue, gue nggak percaya kalau sekarang udah ada laki-laki yang bebas ngucup gue semaunya kaya gini, uwah, jantung gue beneran nggak tentram, ngajak maraton dadakan kayanya.
"Terus Kakak harus gimana? Nangis? Kamu lucu gini masa iya Kakak harus nangis." Jadi gue lucu kalau salah tingkah kaya gini? Dasarnya, omongannya malah semakin ngaur sekarang, yang ditanya apa eh yang dijawab juga apa, beneran Kak Kendra nih, kelakuannya memang agak susah ditebak saudara-saudara.
"Kakak bener-bener ya, ngeselin tahu nggak." Gue melepaskan gandengan gue dilengan Kak Kendra dan menatap Kak Ken dengan muka yang pura-pura terlihat kesal, padahal dalam hati senengnya udah minta ampun, jantung masih maraton sampai garis finish yang belum gue tentukan, sebegitunya coba bayangin keadaan gue sekarang.
"Yaudah lain kali Kakak kasih tahu kamu dulu kalau mau ngecup, apa sekarang boleh?" Dan belum sempat gue jawab, Kak Kendra udah balik mengecup pipi gue kilat, muka gue udah memerah banget kayanya, malunya gue udah kelewatan ini, sontak gue langsung nutup mukanya gue kedua telapak tangan gue sekarang, kelakuannya Kak Kendra beneran nggak baik untuk kesehatan jantung dan pernasafan kayanya, oksigen mana oksigen? Gue mulai sesek nafas sekarang dibuatnya.
"Loh Ay! Kenapa malah ditutup mukanya? Sebelah lagi belum itu, tar katanya nggak adil." Nada bicara Kak Ken sekarang terdengar jelas sedang ngeledekin gue cuma gue tahan-tahan aja, begitu gue menurunkan tangan gue dan muka sekarang, Kak Ken tersenyum lebar dan memeluk gue seketika.
"Untungnya Kakak ngajak kamu nikah lebih awal dari rencana keluarga kita." Gumam Kak Kendra ke gue.
"Memangnya kenapa?" Tanya gue balik.
"Kalau enggak, mungkin masih butuh waktu yang sangat lama untuk bisa memeluk kamu kaya gini." Jawab Kak Kendra tepat ditelinga gue.