Kella 1

1073 Kata
Duarr Dorr Duarr Ledakan dan tembakan terjadi di perbatasan. Para anggota Pengabdi Negara melakukan perang di perbatasan. Semuanya berlomba lomba untuk menang mempertahankan negara miliknya. Perang antar negara ini tidak pernah usai. Mereka selalu mengadu senjata, bom, kekuatan. Tidak ada kata mengalah atau dikalahkan. Banyak yang mati dari kedua belah negara ini. Bersembunyi, menyamar, mengintai. Semuanya mereka lakukan. Dari mulai bom asap, bom air semuanya sudah dikerahkan. Hingga meriam pun ikut andil dalam hal ini. Meriam ini mengeluarkan ledakan mematikan. Siapa yang kena tembakan dari meriam ini jangan harap selamat. Banyak TNI dan POLISI berada di sana dengan pakaian perangnya. Ledakan demi ledakan terdengar. Saling melempar bom dan tembakan senapan. Sedangkan di lain tempat tampak anak perempuan berada di dalam lemari dengan keadaan menangis. Ibunya memasukan dia ke dalam lemari ketika penjahat datang. Ibunya di perkosa oleh 3 pria secara bergilir. Ia membuka sedikit lemari ketika mendengar rintihan dan jeritan ibunya yang tersiksa sedangkan ayahnya berada di medan perang. "Hiks Ayah." isakan tangisnya tidak terdengar hanya gerakan bibirnya saja. Ia melihat Ibunya di perkosa bergilir dan disiksa dengan kejam setelah puas di perkosa. Anak perempuan itu menggeleng. "Bunda," lirihnya. Ctarr "Aaaaa." "Gara gara suamimu aku di keluarkan dari TNI dengan rasa tak hormat!" bentak salah satu pria itu. "Bunda, Kella takut." ia menyaksikan ketika 3 pria itu mencambuk ibunya dengan sadis. Ia semakin menjadi tangisannya ketika. Salah satu pria itu menikam ibunya berkali kali dengan brutal. Ia menggeleng dengan membekap mulutnya. "Bunda, Ayah tolongin Bunda." Ketiga pria itu pun pergi setelah memastikan Ibunya tiada. Dengan kaki gemetar dan tangan gematar ia keluar dari lemari itu. Kella langsung memeluk ibunya yang sudah tak bernyawa. Isakan tangisnya menjadi jadi. "Bunda bangun Kella sendiri disini Ayah nggak ada. Bunda bangun hiks." ia mengguncang tubuh ibunya yang tak bernyawa. "Bunda, bangun Bunda." Kella menenggelamkan kepalanya di d**a ibunya. Ia memegangi perut ibunya yang sudah hancur bahkan isi perut pun sampai keluar. "Bunda." Kella pun bangun dari duduknya. Ia memberanikan diri melihat isi rumahnya yang sudah berantakan. Saat menuruni tangga ia melihat mayat pak Mamat sang sopir menggantung dengan muka biru. "Ayah," lirihnya sambil menuruni tangga. Sofa yang bewarna abu abu penuh darah. Mayat pak Udin sang tukang kebun. Mayat pak Udin sudah terpisah kepala dengan badannya. Ia menuju ke dapur melihat bi Surti yang bernasib sama seperti Ibunya dan anak Bi Surti juga. Sepertinya perempuan di rumahnya semua di perkosa oleh pria itu. Kemungkinan bukan 3 pria melainkan ada beberapa pria lagi. Rumahnya berlumuran darah. Kella terduduk di tangga rumahnya ia menangis sendiri. Takut pasti sangat takut. Di usia nya yang sangat muda dan baru menginjak 5 tahun harus menyaksikan pembunuhan sadis seperti ini. Cklekk "Ayah hiks!" Kella berlari langsung memeluk ayahnya yang baru pulang dari peperangan dengan memakai seragam kebesarannya yaitu TNI. "Ayah, Bunda." Sergio Rawnie kaget dengan rumahnya yang sudah berlumuran darah dan mayat pembantunya. Sergio langsung berlari ke atas dengan menggendong Kella. Ia melihat mayat Istrinya yang sangat mengenaskan sekali. "Mutia bangun sayang." Sergio memangku kepala Mutia sang istri. "Mereka melakukan ini kepada Bunda," adu Kella. Sergio langsung memeluk Kella. Ia cuman mempunyai Kella saja. Istrinya telah tiada sekarang. Sergio mengecup kening sang istri dengan sayang dan kembali memeluk anaknya. Ia menangis di pelukan anaknya begitupun Kella. "Kella nggak punya Bunda lagi." "Ada Ayah sayang. Ayah akan selalu ada buat Kella." sergio mengelus rambut panjang putrinya dengan sayang. Kella baru pertama kali melihat sang Ayah menangis kejer seperti ini. Ia bisa melihat bahwa Ayahnya memeluk Bunda nya dengan erat dan berkali kali mengecup kening Bunda nya dengan sayang. Tatapan Kella seketika tajam. Ia tak suka melihat Ayahnya menangis. Tatapannya penuh benci dan balas dendam saja. Ia akan membunuh orang yang telah membunuh Ibunya dengan sadis. Ia tak akan membuat orang itu hidup dengan damai. Ia pastikan orang itu akan bernasib sama seperti Ibunya. * * * * Amerika Serikat Di kamar yang serba hitam abu terduduk lah gadis di karpet bulu dan bersandar di ranjangnya. Ia memeluk bingkai poto. Di kamarnya tampak sudah dikemasi dan ditutup dengan kain putih. Gadis 17 tahun yang kemarin berulang tahun. Gadis itu memeluk poto sang Ibunda. Pandangan kosong kedepan. Air matanya menetes dengan cepat ia hapus agar tak terlihat oleh sang Ayah. Cklekk Pintu kamar gadis itu terbuka dan tampaklah Pria paruh baya yang masuk dengan tersenyum ke arah putrinya. Gadis itu membalas senyuman sang ayah. "Kella," panggil Sergio. "Ayo sayang kita pergi. Kita akan tinggal di Indonesia. Ayah dipindah tugaskan di sana." Kella mengangguk. Ia mengambil tas selempangnya dan memegangi poto cantik sang Ibunda. Kella pun masuk ke dalam mobil bersama Ayahnya. Ia akan pergi ke bandara untuk pindah rumah disana. Banyak kenangan pahit di amerika serikat. Setelah kematian sang Ibunda Kella tidak pernah mau berbicara dengan siapapun selain Ayahnya. Bahkan di amerika ia di jauhkan sama teman temannya. Semua teman sekelas Kella tak mau berteman dengannya. Karna setiap di tanya Kella hanya mengangguk dan menggeleng saja. Kella menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil dengan memandang ke arah jendela yang tampak jalan raya sangat damai. Sergio mengelus kepala Anaknya dengan sayang. Ia tahu Anaknya selalu menangis setiap malam sama seperti dirinya. "Kenapa?" tanya sergio. Kella menatap sang Ayah dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Ia memeluk sang Ayah dengan erat. "Kella kangen bunda." isakan tangisnya terdengar. Sergio tampak ingin menangis tapi demi putrinya ia tahan agar tidak terlihat lemah. "Disini sudah ada Ayah. Kella jangan nangis lagi ya. Bunda udah tenang di atas sana. Pasti Bunda senang lihat Kella tumbuh besar dan cantik seperti sekarang ini." "Bunda kesakitan Ayah. Mereka nyiksa Bunda. Mereka melakukan hal yang nggak senonoh kepada Bunda. Bunda nangis kesakitan. Kella teringat itu terus hiks." Kella menenggelamkan kepalanya di d**a bidang Sergio. Sergio mengelus kepala anaknya dengan sayang. Sergio menghapus air matanya yang jatuh membasahi pipinya. Ia tak boleh menangis di depan anaknya. Sang sopir pun ikut menangis. "Kella kangen Bunda," lirihnya. "Nanti kita ke makam Bunda ya di Indonesia." Kella mengangguk. Kejadian pembunuhan itu terjadi di indonesia. Rumah yang penuh darah di bakar oleh sergio. Setelah kejadian pembunuhan. Kella depresi berat sergio pun meminta surat pindah ke amerika serikat demi kesembuhan sang putri. Kella sejak sd melakukan Homeschooling. Ia mulai masuk sekolah seperti biasa setelah menginjak SMP pertamanya. Kella selalu menutup kesedihan dengan senyuman manis di bibirnya. Hanya sang Ayah lah yang ia berikan senyuman manis. Kalo dengan pembantu di rumah ia sangat jarang sekali ngomong. Sampai sampai pembantu di rumah menanyakan kepada Sergio apa kella bisu. Sergio pun menjelaskan bahwa Kella tidak mau bicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN