Malam sudah larut ketika Ruis sampai di mansion. Banyak pengawal yang menyambut kala mobil yang ditumpanginya sudah sampai di depan gerbang tinggi mansion-nya. Setelah Sekar pergi meninggalkannya di Kafe begitu saja, ia merenung cukup lama. Entah berapa lama ia menghabiskan waktu sia-sia di sana. Baru setelah suasana hatinya cukup membaik, ia memerintahkan asistennya untuk mengirimkan mobil untuk menjemput. Hatinya bergemuruh kesal bila mengingat sikap abai gadis bernama Sekar yang merupakan kekasih dari sepupunya terhadap keberadaannya.
"Bukankah gadis itu sangat keterlaluan?" gumamnya sambil berjalan menyusuri tangga menuju ke lantai atas.
Ia merasa bahwa sikap Sekar tidak pada porsi yang seharusnya. Sebagai kekasih dari Hasan harusnya gadis itu menghormatinya dengan tatapan mata hangat, tidak dengan mengabaikan keberadaannya seakan-akan tidak ada. Bukankah harusnya seperti itu? Pria itu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dengan kekesalan yang mendalam setelah sampai di kamar.
Baru kali ini ia menemukan 'makhluk' berwujud wanita yang bersikap kurang ajar karena tidak menatapnya sama sekali. Bahkan ketika Hasan mencoba untuk melibatkan dirinya ke dalam obrolan, gadis itu malah memilih diam asyik sendiri. Ruis sangat jengkel dengan perlakuan tersebut tetapi tidak mampu melakukan apa pun karena di hadapan gadis itu nyatanya emosinya tidak mampu tersalurkan dengan baik. Ia tidak bisa marah dan menarik wajah gadis itu agar mau menatapnya barang sejenak, mendapatkan perhatiannya sama seperti apa yang Hasan dapatkan. Ruis merasa sangat geram.
"Aku marah-marah di sini, sedangkan di hadapannya aku melempem seperti kerupuk, sial!" umpat pria itu merasa sangat bodoh.
Tangannya pun kini terulur untuk meraih ponsel dari dalam saku celana dan mulai menghubungi asistennya. Ia tidak peduli hari sudah malam karena bekerja dengannya harus siap kapan pun ia membutuhkan.
"Al, kamu cari tahu perempuan bernama Sekar. Untuk informasi awal, dia ini kekasih Hasan. Kumpulkan apa yang kamu ketahui tentang dia dan laporkan padaku secepatnya. Apa pun itu, kamu mengerti!"
"Baik, Tuan Ruis," jawab asistennya Alli dari sambungan telepon.
"Ok, aku mengandalkanmu!"
"Baik, Tuan," balas Alli dengan suara penuh penghormatan.
Ruis menutup sambungan telepon, meletakkan ponsel itu ke atas kasur dan dirinya pun bangkit dari tempat tidur untuk membersihkan diri dengan mandi juga berganti pakaian tidur. Rasanya dalam sepersekian detik tatapan polos kebingungan gadis itu masih melekat kuat dalam ingatan. Fantasi Ruis pun mulai berputar hebat mengisi otaknya. Alangkah indahnya kalau bisa memiliki kekasih seperti Sekar. Kelembutan yang terpancar kala menghadapi Hasan sangat mengganggunya. Gadis itu sangat berbeda dalam memperlakukannya. Tatapan datar dan biasa saja, tidak ada sedikitpun kilatan pesona yang diperlihatkan gadis itu padanya. Sekar sama sekali tidak menaruh rasa kagum terhadap penampilannya, dan itu sangat menggangu Ruis yang biasa diperlakukan penuh damba bagi siapa pun wanita yang memandang.
"Aku yakin, pasti perempuan itu tidak normal! Matanya pasti rabun karena tidak bisa membedakan pria tampan sepertiku dibandingkan Hasan!" Nada geram masih mendominasi komentar Ruis mengenai sosok Sekar. Di bawah guyuran air dari shower yang menyala, ia mencoba untuk menenangkan diri dari gejolak ketertarikan sekaligus kejengkelan yang mendalam.
****
"Tuan, satu jam lagi ada meeting di Jacklin Resto dengan pengurus Museum Art Rusdy yang baru." Asisten Alli berdiri di samping Ruis ketika berada di dalam lift. Mereka saat ini baru kembali dari dari rapat koordinasi dengan pihak instansi pemerintah mengenai sumbangan dana sosial dari perusahaannya.
Pria itu menoleh dengan tatapan mata berbinar. Tidak menyangka hari yang menyebabkan semalam dirinya tidak bisa tidur nyenyak akan mendapatkan jalan unik seperti ini.
"Tempatnya berada di sebelah Perpustakaan Nasional, 'kan?" tanya Ruis memastikan.
"Iya, Tuan. Apa perlu kita ubah tempat pertemuannya?"
"Oh, tidak perlu. Aku juga ada urusan penting di sana." Ruis membenarkan letak dasinya karena merasa gerah.
"Baik, Tuan."
"Oh, ya. Pastikan aku selesai secepatnya, jangan ada jadwal lain selagi kita berada di area itu. Aku ada urusan yang sangat penting!“ tegas Ruis dengan tatapan serius.
"Tapi, di dalam jadwal Anda—"
"Pastikan kosong satu jam setelah pertemuan dengan pengurus museum!"
"Baik, Tuan." Asisten Alli hanya bisa mengembus napas pelan. Ia mulai mengubah jadwal dengan beberapa pergeseran waktu yang sudah ia susun sedemikian rupa hanya dalam hitungan menit. Itu cukup menjengkelkan baginya.
Pintu lift pun terbuka, Ruis melanjutkan perjalanan ke Jacklin Resto untuk menemui pengurus baru yang mengelola museum peninggalan mendiang kakaknya lalu setelah itu ia akan menemui wanita yang telah mengusik hatinya sejak pertemuan semalam.
”Kamu sudah memiliki informasi mengenai wanita yang aku sebutkan tadi malam?“ Ruis berjalan lebih dulu dan mulai memasuki mobil yang sudah disiapkan untuknya di depan lobby hotel.
”Dia merupakan putri dari pengusaha perhotelan juga, Tuan. Ayahnya memiliki dua hotel yang dikelola dengan baik secara keluarga di Indonesia dan Sekar merupakan putri pertama mereka yang sedang menempuh pendidikan di sini,“ terang Alli dengan wajah tenang.
”Dari keluarga baik-baik. Good, kabar bagus. Lalu saat ini dia berada di mana? Awasi dan laporkan apa pun kegiatannya padaku!“ pinta Ruis sambil melemparkan tatapan serius.
”Dia saat ini berada di dalam Perpustakaan Nasional, Tuan.“
”Pastikan sampai aku selesai meeting, gadis itu masih di sana!“ pinta Ruis sangat tegas.
”Baik, Tuan.“
Mobil pun meluncur menuju ke restoran yang masih satu area dengan gedung Perpustakaan Nasional. Ruis turun dari mobil dengan langkah tergesa dan langsung menuju ke dalam gedung restoran. Ingin sekali ia menyelesaikan dengan cepat pertemuan ini agar bisa segera menemui Sekar yang berada di samping gedung tempatnya saat ini.
Seperti yang direncanakan sebelumnya bahwa ia akan meyelesaikan pertemuan bagaimanapun hasilnya karena dirinya sudah tidak sabar untuk menemui gadis abai tersebut. Ya, pria itu segera meninggalkan ruangan itu begitu pertemuan selesai.
Jantung Ruis berdetak tidak beraturan, hawa pendingin ruangan segera menyergap kala dirinya sudah membuka pintu perpustakaan dan mulai menyisir ke dalam ruangan yang sangat luas dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi. Matanya memindai sosok gadis bertubuh mungil yang sudah berhasil membawa fantasi indah untuk segera ditaklukkan. Gadis itu kini berada di area yang sepi dengan beberapa buku berserakan di atas mejanya. Ruis tersenyum lebar, merasa sangat bodoh karena untuk pertama kalinya ia menguntit seorang perempuan.
Pria itu pun segera berjalan mendekat, diikuti Alli yang selalu setia menemaninya karena bertugas merangkap sebagai pengawal pribadinya. Tatapan Ruis mengisyaratkan pesona yang tidak terbantahkan dari sosok Sekar yang menarik hati. Hari ini gadis itu tampak sederhana dengan balutan kemeja bermotif bunga berwarna aqua yang digulung sampai siku, celana jeans biru gelap layaknya gadis kuliahan pada umumnya. Tidak ada yang spesial dari penampilan biasa tersebut hingga Ruis harus menggeleng pelan demi bisa menjaga kewarasannya. Namun, tetap saja wajah cantik dipandang dari segala sisi meruntuhkan benteng pertahanannya untuk tidak jatuh cinta.
”Kamu di sini?“ Lebih seperti pura-pura melintas dan tidak sengaja bertemu, Ruis menggunakan trik memalukan itu kali ini untuk menutupi kesan aneh dengan pertemuan siang hari ini.
”Oh!“ Mata gadis itu membeliak, menoleh dengan tatapan terkejut dan bingung karena Ruis sudah berdiri di sampingnya yang sedang sibuk.
”Boleh bergabung?“ tanya Ruis seraya menarik kursi yang berada di seberang Sekar lalu duduk berhadapan dengannya.
Sekar memutar pandangannya, ia memastikan bahwa perpustakaan cukup lengang dengan banyak tempat yang masih kosong. Ruis bisa membaca penolakan yang kuat dari cara gadis itu menatapnya. Namun, ia tidak peduli dan mulai menarik buku milik Sekar untuk dipelajarinya.
”Kamu ….“ Sekar menelan kembali kalimatnya ketika Ruis mengalihkan pandangannya dari buku ke arahnya.
”Jangan bilang kau lupa aku siapa?“ selidik Ruis menebak dengan basa basi.
”Ingatanku cukup buruk, maaf.“ Mata gadis itu terlihat penuh sesal kala menatap pria itu.
”Kau sungguh—“ Ruis mendengus tidak percaya gadis itu benar-benar tidak mengingatnya.
”Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?“ Sekar menggigit bibir bawahnya dengan perasaan malu dan canggung.
”Oh s**t! Semalaman aku memikirkan wanita yang bahkan wajahku saja dia lupa?!“ Ruis menggerutu dalam hati.
”Kamu, kalau tidak salah—“
”Sepupunya Hasan,“ potong Ruis dengan wajah masam.