14. Mertua Bawel

1279 Kata
    Mobil Alvin sudah sampai di kediaman rumah orangtuanya. Rumah mewah dengan desain minimalis yang berada di jalan besar di Ibukota. Asset terakhir yang dimiliki oleh orangtua Alvin karena asset yang lain sudah disita bank dan mereka tidak memiliki dana untuk menebusnya. Rumah mewah yang hanya ditinggali Juliet, Ibu Alvin, 2 orang asisten rumah tangga, 1 orang sopir dan 1 orang security.     Sore itu ia akan menjemput kedua anaknya seperti janjinya pada Bianca dan Tiara. Alvin turun dari mobilnya dan masuk ke dalam    rumah.     Sesampainya di dalam Alvin langsung disambut oleh kedua putrinya lalu ia masuk ke dalam.     “Sudah makan, Vin?” tanya Juliet yang sedang menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Juliet sudah menyandang status janda sejak sepuluh tahun yang lalu. Raymond, ayah Alvin meninggal karena kanker prostat. Sebelum Raymond meninggal, ia memiliki permintaan untuk melihat Alvin menikah. Itu sebabnya pernikahannnya dengan Emma dipercepat setahun demi mewujudkan permintaan ayah Alvin.     Sebenarnya pernikahan itu cukup dipaksakan mengingat Juliet sendiri tidak terlalu suka dengan Emma. Sebab ada beberapa karakter Emma yang tidak Juliet sukai seperti kurang perhatian dengan orangtua dan terlalu cuek. Namun karena tidak ada calon pasangan lain waktu itu, mau tidak mau Juliet terpaksa merestuinya.     Sehari-hari Ibu Alvin tidak bekerja. Ia hanya mendapatkan penghasilan dari arisan-arisan sosialita yang ia ikuti. Ditambah kiriman uang dari kakaknya yang di Australia.     Juliet terbiasa hidup mewah. Walaupun keluarga mereka sudah pailit sekalipun, kebiasaan itu tidak berubah. Tapi beda dengan Alvin. Ia tidak suka membanggakan diri sebagai anak konglomerat. Dari dulu ia tetap sederhana seperti sekarang. Ia pun tidak suka meminta Ibunya ikut campur dalam urusan apapun dalam hidupnya karena sikap semena-mena dan berlebihannya. Paling jauh, ia hanya meminta bantuan Juliet untuk menjaga buah hatinya jika ia sedang repot.      Alvin memiliki kakak laki-laki yang sudah berkeluarga dan tinggal di Australia. Lebih memilih hidup berjauhan dari Ibunya. Maklum, perilaku dan kebiasan Ibunya memang suka buat geleng-geleng kepala. Tidak ada yang tahan dengan Ibunya yang suka berfoya-foya, semaunya sendiri, cerewet, suka menuntut dan semua yang tidak disukai para menantu ada dalam diri Ibunya.     Namun karena permintaan terakhir mendiang ayahnya, hanya ada Alvin yang tinggal di sisi Juliet. Alvin sebenarnya ingin membawa Juliet tinggal bersamanya tapi Emma yang tidak menyetujuinya karena Emma sendiri tidak begitu menyukai Juliet. Mertua dan menantu itu bagaikan kucing dan anjing sejak dulu.     “Belum, Ma.”     “Ayo makan dulu. Anak-anak juga ikut makan yuk,” ajak Juliet. Mereka berempat kini makan di meja makan.     “Di mana Emma? Nggak ikut jemput anak-anak?” Alvin menghentikan makannya, tidak tahu apa yang harus ia jawab.     “Emma di rumah orangtuanya,” jawab Alvin singkat. Tidak ingin menambah masalah.     “Istrimu itu ya benar-benar cuek sama orangtua. Nggak pernah sekalipun nengokin Mama. Sekali ketemu selalu wajahnya itu nggak enak banget. Menantu kok nggak perhatian sama mertua. Itu menantu kurang ajar!” ujar Juliet dengan nada sewot.     “Ma…” Alvin memandang kedua putrinya, tidak baik rasanya membiarkan kedua gadis kecil itu mendengar ucapan kasar Ibunya tentang Emma.     “Dari awal Mama itu nggak setuju kamu sama Emma. Orang cueknya minta ampun seperti itu. Nggak ada sopan santunnya sama mertua. Sama kamu juga, nggak ada perhatiannya sama sekali. Istri macam apa seperti itu? Harusnya jadi istri itu ngurusin anak sama suaminya. Ini kebalik. Kamu sih nggak pernah menegur dia. Jangan kalah sama istri, Vin! Kamu itu laki-laki!” Juliet kembali mengulang keluhannya tentang Emma pada Alvin. Sejatinya ia memang tidak suka dengan sikap cuek Emma. Ia pun gemas dengan anak laki-lakinya yang seolah menjadi objek empuk untuk ditindas oleh Emma.     “Ma… sudah, jangan dibahas lagi. Emma itu nggak seburuk yang Mama kira. Buktinya ada Bianca dan Tiara yang manis.” Alvin mengatakan itu sambil membersihkan noda makanan di sudut bibir Tiara.     “Oh ya, Vin debt collector bank barusan telpon Mama lagi. Mereka mau nagih sisa pembayaran hutang. Mama nggak mau rumah ini sampai disita gara-gara kita nggak bisa jual asset Papamu yang lain.” Tiba-tiba saja Juliet berucap.     “Kita akan coba cari cara ya, Ma,” jawab Alvin singkat. Tidak ingin diributi apapun tentang ini. Perusahaan fotografinya saja sudah susah, sekarang harus mengurus yang lain. Membuat lelah.     “Emma itu lho kan dia sales. Minta dia jualin asset Papa gedung A dan B itu ke kolega-kolega atau bos-bos kenalannya kan bisa. Katanya dia itu manajer, harusnya punya koneksi ke orang-orang itu kan?”     “Emma itu repot di kantor, Ma.”     “Repot-repot? Memangnya di sini nggak repot apa? Kenapa sih mantu satu ini suka aneh-aneh? Masa bantuin mertua sendiri nggak mau?”     “Emma beneran repot Ma. Tiap hari pulang aja sampai tengah malam. Boro-boro bantuin Mama jualin asset Papa. Nggak cukup waktunya.”     “Kamu ini kenapa sih selalu belain Emma? Dia itu bikin gemes Mama. Sudah nggak pernah jengukin, tanya kabar aja nggak pernah, sekarang dimintain tolong aja nggak mau. Alasan sibuk!     Dia ini sadar nggak sih kalau sudah jadi menantunya orang? Dia mestinya tahu lah harus prioritaskan mertuanya.     Nggak mau ngurus rumah tangga, ngurus anak, sekarang Mama minta bantuanpun dia jual mahal! Kamu kok ya mau toh, Vin sama dia!”     “Nggak gitu Ma. Emma beneran lagi banyak urusan,” Alvin berusaha membela. Kalau Juliet tahu yang sebenarnya tentang rumah tangganya, ia yakin pasti terjadi pertengkaran hebat antara Emma dan Juliet. Ia tidak suka.     “Mama sekarang tenang dulu. Nanti aku coba bicarakan baik-baik sama Emma.”     Alvin dikenal sebagai anak yang manis di mata Juliet. Pria itu sangat perhatian, lembut dan penurut. Itu sebabnya Alvin menjadi anak kesayangan Juliet. Kini putranya itu sepertinya menderita bersanding di sisi Emma dan sebagai seorang Ibu ia tidak rela putranya seperti ini. Tubuh Alvin mengurus dalam beberapa tahun, sepertinya jarang dirawat dan dilayani dengan baik oleh Emma.     Dasar anaknya itu begitu sabar menghadapi Emma, ia masih bisa bertahan walau diperlakukan seperti itu oleh Emma. Tapi bukan Ibu namanya jika tidak menjaga dan melindungi anak-anaknya. Ia hanya ingin Alvin mendapatkan kehidupan yang lebih baik.     “Beritahu istri kamu ya. Mama mau dia ke sini, jengukin Mama! Kalau kamu nggak bisa ngomong masalah asset, Mama yang ngomong sama dia.”     Alvin menatap Juliet.     “Iya, nanti kalau sampai di rumah aku beritahu.”     “Kalau sampai dia nggak mau, udahlah mending kamu ceraikan dia aja. Wanita kaya gitu nggak layak kamu pertahankan. Sudah nggak hormat orangtua, dia sendiri nggak becus jadi istri dan mama buat anak-anakmu. Kamu itu layak mendapatkan istri yang lebih baik dari Emma!”     Ucapan Juliet terakhir mengejutkan Alvin dan kedua putrinya. Bagaimana tidak, Ibunya sendiri kini yang ingin ikut campur dalam urusan pernikahan mereka. Sekarang malah meminta cerai. Tapi Alvin cukup dewasa untuk menyikapi permintaan ibunya yang tidak masuk akal. Ini adalah rumah tangganya dan ia akan berjuang mempertahankannya, apapun yang terjadi. ***     Setelah menidurkan kedua anak mereka di rumah, Alvin duduk di sofa. Melihat rumah itu terasa sangat sepi malam ini. Alvin melayangkan pandangannya pada foto raksasa pernikahannya dengan Emma di dinding. Tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Membandingkan situasi yang mereka alami sekarang dengan saat masa pacaran hingga tahun awal pernikahan mereka. Saat itu semuanya begitu indah, begitu sempurna untuk dibayangkan. Tapi kini, mengapa semuanya menjadi berat untuk dijalani?     Alvin teringat janji sucinya di depan altar. Ia berjanji untuk menjaga pernikahan mereka dalam situasi apapun. Namun jika situasinya jadi sulit seperti in, haruskah ia mempertahankannya? Mengapa semua yang indah itu tiba-tiba saja lenyap bagai asap?     Alvin mengusap wajahnya kasar. Hatinya kembali terasa sesak. Ia mengambil ponselnya dan menghubungiku malam itu. Membuat janji denganku untuk konseling besok. Jelas aku langsung mengiyakan, karena besok akan jadi hari yang penting bagi pasangan itu. Karena persis sebelum Alvin menghubungi, Emma menghubungiku untuk membuat janji konseling.     Semoga besok aku bisa melakukan sesuatu untuk mereka. *** A/N: Akankah semua berjalan dengan lancar besok?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN