17. Perhatian Kecil

1701 Kata
Emma mengulet dari tidurnya. Ia menatap jam dinding di hadapannya. Pukul dua pagi dan artinya Emma telah tertidur sekitar satu jam. Sesaat setelah Emma bangun, ia merasakan ada yang menyelimutinya saat tidur tadi. Tubuhnya terasa hangat dan sepertinya ia merasakan ada sebuah selimut yang menutupi punggungnya dari dinginnya pendingin ruangan. Emma memegang bahunya dan ia menarik benda yang menyelimutinya.Jas Michael. Begitu tersadar, Emma langsung mencari keberadaan Michael. “Mencariku?” Michael sudah berdiri bersandar di tiang belakang meja sambil menyeruput kopi panas di cangkirnya. Entah sejak kapan Michael berdiri di sana, yang pasti ia sangat puas memandangi Emma yang tertidur. “Ini,” kata Emma sambil menyerahkan jas Michael. Michael menerimanya lalu memberikan secangkir kopi s**u panas favorit Emma. “Thanks.Bagaimana laporannya? Sudah selesai?” tanya Emma pertama kali karena cemas. Kuatir ia mengacaukan semuanya gara-gara tertidur pulas. Michael berjalan menuju ke arah mejanya dan menunjukkan tiga laporan itu telah terjilid sempurna. Emma langsung memeriksa isinya. Tidak percaya jika Michael telah menyelesaikan semuanya. “Kamu yang selesaikan semuanya?” tanya Emma sambil menyeruput kopi susunya. “Siapa lagi? Nggak mau mengucap terima kasih padaku?” sindir Michael setengah bercanda. “Thank you, Mike! Besok aku traktir kamu makan enak!” Emma tiba-tiba saja memeluk Michael saking lega dan bahagianya. Michael jadi salah tingkah. Detak jantungnya seolah seperti di arena pacuan kuda yang harus berlari kencang. Senyuman lebar itu tersungging di bibir Michael. Tentu saja ia tersenyum di balik punggung Emma sebelum akhirnya ia mengurai pelukannya dari Emma. “Aku tunggu janjimu besok.” Emma mengangguk. “Kita pulang dulu lalu kembali lagi ke kantor,” ajak Michael dan langsung diiyakan oleh Emma. *** Sesampainya di rumah Emma membaringkan dirinya di atas sofa seperti biasa. Memejamkan matanya dan meluruskan punggungnya yang terasa pegal dan tegang. Kakinya tiba-tiba merasakan gatal yang sangat hebat. Emma mulai terganggu dan ia bangun lalu menggaruknya. Sepertinya alergi kulitnya kambuh dan obatnya sudah habis waktu lalu. Matanya kemudian menangkap sebuah botol kecil yang sangat ia kenal ada di atas meja. Ia terheran karena obat itu sudah habis, bagaimana bisa ada obat yang sama di atas meja dalam kondisi penuh? Ia yakin ada seseorang yang membelinya dan ia tahu hanya satu orang yang tahu tentang alerginya di rumah ini. Alvin. Tapi pertanyaanya bagaimana Alvin tahu jika Emma membutuhkan itu? Emma masih menyimpan segudang tanda tanya. Pikirannya menebak jangan-jangan Alvin tahu tentang kejadian semalam di kantor. Ia beranjak dari sofanya lalu melihat ke arah gantungan baju di belakang pintu masuk. Di sana hanya ada jas kerjanya, jaket anak-anak dan celana panjang Alvin yang biasanya memang diletakkan di sana. Emma merasakan ada yang aneh dengan celana panjang Alvin. Ia mendekat dan memegang ujung bawah celana Alvin. Basah. Itu yang Emma rasakan. Sekarang seolah mendapatkan semua bukti, Emma yakin Alvin datang ke kantornya malam itu. Entah apa yang harusnya Emma rasakan sekarang, yang pasti Emma merasakan seolah ada sejalur hangat di dalam hatinya. Emma masih bisa merasakan Alvin masih memperhatikannya. Namun apapun perhatian yang Alvin berikan, Emma tidak mau goyah. Walau hari ini ia terpesona lagi oleh perhatian kecil Alvin, tapi ia tetap tidak akan menarik gugatan cerainya pada Alvin. Keputusannya sudah bulat. *** Alvin sudah mengenakan celemek masaknya dan berkutat di dapur. Satu jam setelah kedatangan Emma dari kantor, ia keluar untuk menyiapkan makan pagi untuk keluarga kecilnya. Lupakan tentang yang terjadi semalam, Alvin akan berusaha bertingkah senormal mungkin. Alvin membuat sarapan sederhana. Ayam goreng krispi, tumis sayur dan telur dadar. Makanan favorit kedua buah hatinya, sekaligus makanan favorit Emma. Berharap sebelum pergi kerja, Emma bisa menyempatkan makan terlebih dahulu. Memang Alvin tidak pandai memasak tapi setidaknya masakannya masih bisa dimakan. “Bian, Tia… ayo makan!” Panggil Alvin dan langsung disambut dengan tawa ceria dari Tiara. “Asyikkk… ayam goreng!!!” seru Tiara dengan girang lalu duduk di atas kursinya. Alvin menarik kursi di sebelah Tiara untuk Bianca. Diperlakukan selayaknya seorang putri, Bianca tersenyum lalu duduk. Tiara celingukan mencari sesuatu. “Papa, Mama di mana? Nggak ikut makan sama-sama kita?” Alvin tersenyum lalu mengelus pucuk kepala Tiara. “Mama semalam ada pekerjaan penting dan baru pulang dua jam yang lalu. Sekarang masih tidur.” “Oh… padahal Tiara pengen makannya disuapin Mama.” Gadis mungil itu mencebikkan bibirnya. Terasa sekali ucapannya mengandung rindu dan kesedihan yang amat sangat. Ya, Tiara merindukan ibunya yang selalu hilang beberapa waktu belakangan ini. “Tia, makan dulu ya. Ketemu Mama nanti lewat video call waktu istirahat sekolah. Ya?” Alvin berusaha menghibur putri bungsunya yang bersedih, tapi Tiara tidak bergeming. Raut wajahnya menyiratkan kesedihan dan air matanya menetes. Alvin tidak tega dan langsung memeluk Tiara. Sama seperti dirinya yang merindukan Emma di sisinya. Emma memang secara fisik ada di sana tapi hati dan pikirannya tidak pernah ada di sana. Itu sebabnya baik Alvin maupun kedua putrinya sangat merasakan rindu. Rindu keluarga mereka berkumpul dengan hangat seperti dulu lagi. *** Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, Alvin kembali ke rumah untuk melihat kondisi Emma. Walau wanita itu selalu bersikap dingin padanya, Alvin tetap mempedulikan Emma, bahkan untuk hal kecil seperti masalah alergi kulit yang Emma miliki. Emma sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Ia sedang minum saat Alvin datang. “Sudah bangun?” Emma mengangguk. “Apa nggak sebaiknya kamu istirahat dulu aja di rumah hari ini? Kamu pulang baru subuh tadi, apa nggak capek?” tanya Alvin masih saja perhatian. Alvin memang terlihat dingin, wajahnya datar tanpa ekspresi tapi sebetulnya ia adalah pria yang paling kuatir sesuatu yang buruk terjadi pada orang-orang terdekat dan orang-orang terkasihnya. “Ngawur aja! Hari ini aku malah meeting sama bos besar!” jawab Emma sewot, entah karena apa. Alvin kembali tersolot. Apakah Emma tidak melihat bahwa sebenarnya Alvin mencemaskan dirinya? “Semalam kamu pergi ke mana? Kenapa Michael dengan lancangnya ajak kamu pergi di tengah malam seperti itu? Nggak cukup apa kamu kerja lembur?” Alvin ikut menyolot. Membahas hal-hal yang sensitif bagi Emma. Emma bungkam. Ia tahu jika ia menjelaskan bahwa semalam ia bersama dengan Michael, pasti Alvin tidak percaya. Apalagi suaminya itu adalah pencemburu segala hal berbau Michael. “Kenapa kamu nggak jawab, Em? Nggak tahu apa, semalam aku bingung cari kamu ke mana aja?! Aku telepon nggak diangkat! Aku telepon Michael juga nggak dijawab. Anak buahmu juga semuanya nggak tahu kamu di mana.” Alvin mulai terdengar marah. Tapi Emma menatap Alvin cuek. “Aku lupa bawa charger dan baterai cadangan,” jawab Emma cuek. Tidak mau menanggapi terlalu panjang dengan Alvin karena buntutnya semakin panjang. “Oke…. Lalu pertanyaanku satunya? Ke mana kamu pergi semalam?” Alvin bukannya tidak tahu, tapi ia hanya ingin Emma jujur padanya. Bukan menutup-nutupi seperti ini. Jika Emma menceritakan apa yang terjadi malam itu saja, Alvin pasti akan memaafkan Emma. “Aku nggak mau jawab. Nanti kamu nggak enakan.” Emma menunjukkan gelagat malas mengurus Alvin yang dilanda cemburu buta seperti sekarang. Alvin mendesis. “Kamu diam kaya gini malah bikin aku emosi. Kalau nggak ada apa-apa, kenapa kamu nggak jawab pertanyaanku? Apa itu terlalu sulit karena sepertinya kamu terpergok berselingkuh gitu?” sindir Alvin. Emma melotot. “ALVIN!” “Kalau kamu nggak ngomong sejujurnya, semua orang pasti mikir kamu menutupi sesuatu. Dan nggak salah kalau aku nuduh kamu selingkuh, pacaran sama Michael, atau bahkan mungkin semalam kalian tidur bersama. Sekarang jawab aku, kamu pergi ke mana semalam?” Emma menatap Alvin nyalang. “Percuma aku ngomong karena kamu nggak akan percaya sama aku.” Emma meninggalkan Alvin dengan sejuta emosinya. Emma benar-benar menutupi semuanya dari Alvin. Mungkin benar dugaan Alvin, kini Emma mulai berpindah ke lain hati. Alvin masih punya cara terakhir. Berharap kali ini Emma mendengarnya. “Anak-anak kangen kita kumpul seperti dulu. Apa nggak bisa hari ini kamu luangkan waktu?” Alvin menurunkan tensinya, berusaha untuk tidak terbawa emosi. Emma akan makin tertutup saat Alvin menyolotnya lagi. Emma mengenakan sepatunya lalu menyambar obat alergi itu dan memasukkannya ke dalam tas. Sejenak ia berpikir, bukan dengan logikanya tapi dengan hatinya. Sejujurnya ia merindukan momen itu, saat di mana dirinya tidak dicurigai apapun oleh Alvin dan ia bisa menikmati hati-harinya bersama keluarga tersayangnya. Mungkin dengan mengiyakan permintaan Alvin, suaminya tidak lagi meragukan dirinya seperti itu lagi. Ia lelah menghadapi rasa cemburu Alvin. Setidaknya Emma akan mencoba berdamai kali ini. “Aku akan coba pulang lebih awal hari ini.” Selepas itu Emma pun pergi. Senyuman tipis terbit di bibir Alvin. Semoga hari ini mereka bisa lalui tanpa konflik. Karena konflik itu benar-benar melelahkan. *** “Mike, hari ini aku pulang cepat ya. Sorry nggak bisa traktir kamu makan. Aku ingin ajak anak-anak jalan-jalan soalnya. Lagian masalah bos besar kan sudah selesai..” “Oh… tumben!” Emma menatap lurus ke depan. “Aku hanya merasa bersalah sama mereka. Itu aja,” jawab Emma sambil menggigit bibir bawahnya. Ya, Emma mengatakan yang sesungguhnya. Ia merindukan anak-anaknya, merindukan keluarganya. Sudah beberapa bulan ini, ia sangat sibuk dan ia hanya ingin menghabiskan hari dengan keluarganya, anak-anaknya mungkin lebih tepatnya. “Kamu tega ninggalin aku gitu aja setelah semalam aku bantu kamu nyusun semua file itu?” Michael tiba-tiba menjadi perhitungan pada Emma. “Perhitungan banget jadi orang! Iya… iya aku ingat janjiku traktir kamu makan. Tenang aja!!” Emma menyindir dengan bercanda pada Michael. Tentu saja setelahnya keduanya tertawa. Mereka sudah terbiasa dengan bercanda seperti itu. “Emm… apa aku boleh tanya sesuatu?” Emma memalingkan wajahnya menatap Michael dengan heran. “Tanya aja. Ngapain pakai lapor dulu? Aku kan bukan satpam.” Michael terkekeh dengan ucapan spontan Emma. “Dari dulu aku selalu ingin tanya ke kamu terlepas dari kamu sudah menikah atau belum, sebenarnya kalau boleh memilih, kamu ingin menikah dengan siapa? Aku atau Alvin?” Sebuah pertanyaan yang membuat Emma bingung. “Pertanyaan apa ini? Nggak mau jawab ah! Nggak penting!” Emma menyilangkan tangan di depan dadanya. “Ayolah, it’s just a game. Jawab aja… Aku cuma ingin tahu jawabanmu,” rengek Michael. Sebenarnya ia hanya ingin memastikan hati Emma setelah semua yang ia lakukan untuk wanita itu. Emma berpikir. “Kalau tahu kondisinya seperti sekarang, jelas aku milih kamu!” Setelah menjawab itu, Emma langsung memalingkan wajahnya. Ia tidak terlalu menganggap serius pertanyaan Michael. Tapi bagi Michael, ini seolah jawaban yang ia tunggu-tunggu dari dulu. Sepertinya ini signal ia bisa mendekati Emma terang-terangan, tanpa mempedulikan Alvin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN