Alvin mencoba menghubungi day care. Ia baru keluar dari kantorku sekitar pukul enam sore dan ia menyadari jika ia melupakan ponselnya yang kehabisan daya di dalam mobil. Setelah ia meminjam charger, barulah ia menyadari bahwa ada banyak panggilan tak terjawab di dalam ponselnya. Dan yang paling banyak adalah dari pihak day care.
Alvin menghubungi pihak day care dan mereka menjelaskan bahwa kedua anaknya sudah dijemput oleh Michael satu jam yang lalu. Alvin pun bergegas menghubungi Michael. Ingin menjemput anak-anaknya. Ia tidak ingin anak-anaknya menempel pada Michael, sama seperti ibunya yang tidak bisa lepas dari Michael.
Tapi sepertinya Michael sengaja membuat Alvin panik. Ia tidak mengangkat ponselnya dan sengaja mematikannya. Alvin menghubungi Emma dan disambut amukan dari Emma karena ia meninggalkan ponselnya tadi. Sayangnya Emma tidak berniat memberitahu Alvin bahwa anak-anak mereka dijemput oleh Michael atas persetujuannya. Sepertinya hanya untuk membuat Alvin semakin merasa bersalah. Dan benar adanya. Pria itu merasa bersalah, kuatir dan gemas pada dirinya sendiri sekaligus kuatir jika ada apa-apa dengan kedua putrinya.
Ia berdiri mondar-mandir di depan pintu rumahnya hingga sedan mewah hitam itu datang. Alvin tahu siapa pemilik mobil itu.
Begitu berhenti di depan pintu, Alvin dan Emma keluar dari mobil. Emma mengangkat Tiara yang sudah terlelap dan menggendongnya. Sementara Michael membuka pintu belakang dan menggendong Bianca yang juga sama tertidurnya. Alvin ingin menggendong Bianca dari tangan Michael, tapi tangan pria itu menampiknya. Walau geram, Alvin akan mencoba menahan agar tidak membangunkan kedua putrinya yang terlelap.
“Kuharap ini terakhir kalinya kamu menemui anak-anakku,” ucap Alvin ketus selepas Michael menutup pintu kamar kedua putrinya.
“ALVIN!” Emma tidak suka Alvin berbicara seperti itu pada Michael. Rasanya tidak sopan karena pria itu sudah menawarkan bantuan.
Tapi, tanpa merasa bersalah Michael membalas ucapan Alvin.
“Bukankah harusnya kau berterima kasih karena aku menggantikanmu menjemput anak-anakmu? Mengapa? Apa kau takut aku mengambil hati anak-anakmu dan membuat mereka lebih ingin bersamaku dibanding denganmu?” Michael menyeringai. Ia tahu Alvin pasti terbakar api cemburu dan tenggelam dalam permainan yang ia ciptakan.
“Aku hanya tidak suka kau hadir di tengah-tengah keluargaku.”
“Hoho… kau takut aku merusak rumah tanggamu?” ucap Michael sambil maju beberapa langkah.
Emma melihat situasinya memanas. Ia berdiri di tengah kedua pria itu.
“Kalian berdua cukup! Jangan buat anak-anak itu bangun!” ucapnya melerai. Tapi sepertinya ucapan Emma bagaikan angin. Berembus dan tak terdengar.
“Harusnya kamu sadar bahwa dirimu memang tidak layak menjadi suami Emma atau menjadi ayah bagi anak-anakmu. Ayah mana yang tidak bisa menafkahi keluarganya? Suami mana yang membuat istrinya menangis setiap hari? Dan suami mana yang tidak mempercayai istrinya sendiri?”
Wajah Alvin mengetat. Nafasnya memburu. Ia menatap Michael yang memandangnya merendahkan. Dengan gerakan cepat, ia mendorong tubuh Emma lalu menarik kerah kemeja Michael dan membenturkannya di dinding. Menyudutkannya agar ia tidak bisa melakukan apapun. Memberi tatapan menakutkan dan menantang.
“Jangan macam-macam, Mike. Selama ini aku bersabar karena aku masih menghargaimu. Tapi kalau kau berani menyentuh istri dan anak-anakku, kupastikan aku adalah orang pertama yang membuatmu terkapar di rumah sakit.”
Dengan cepat Emma bangun dan berusaha menjadi penengah. Mendorong Alvin
“CUKUP, ALVIN! KAMU KETERLALUAN! MIKE HANYA MEMBANTU KITA, BISA-BISANYA KAMU LAKUKAN INI KE DIA!”
Alvin tercengang. Istrinya bahkan membela Mike. Istri macam apa Emma itu? Bukannya membela suaminya, tapi malah lelaki lain? Tak salah bukan jika Alvin mencurigai istrinya serong?
“EMMA! Kenapa kamu malah bela dia sih? Aku ini suamimu!”
“Kamu lagi nggak beres, Alvin. Cukup, hentikan semuanya ini sebelum anak-anak bangun.” Emma mencoba meredakan emosi kedua pria itu di tengah malam seperti ini.
Bukannya takut, Michael malah tertawa sambil menegakkan diri.
“Kau sudah dengar dari Emma bukan? Kamu lagi nggak beres. Dan mungkin memang pikiranmu yang nggak beres hingga istrimu stress.”
“APA KAMU BILANG? ULANGI LAGI!”
“Mike, lebih baik pulang sekarang!” Emma mendorong tubuh Michael keluar. Ia tidak mau urusan ini menjadi panjang. Beban yang ia bawa sudah rumit sekarang ditambah urusan Michael lagi.
“Kamu pikir aku takut melawanmu, Vin? Jangan dikira aku mundur setelah kamu berpacaran dengan Emma. Aku tidak menyerah padamu. Aku menunggu Emma berpaling padaku dan kurasa waktunya sudah dekat. Saat kau lengah, aku akan mendapatkan Emma kembali. Dan kamu akan menyesal pernah menatang seorang Michael!” seru Michael sambil berjalan masuk ke dalam mobil karena didorong Emma.
Emma tidak membalas ucapan Michael sedikitpun. Apakah ini pertanda Emma mengizinkan Alvin mendekatinya? Hello! Masih ada Alvin sebagai suami sah Emma di sini? Apakah kalian sadar bagaimana skait hatinya Alvin sekarang?
Rahang Alvin bergemeretak. Menahan gejolak amarahnya yang bagaikan gunung Meletus. Tapi Michael sudah masuk lebih dulu ke dalam mobilnya dan melaju kencang. Menyisakan Alvin yang masih merasa terancam dalam amarahnya yang membara. Serta Emma yang masih diam tak bergeming, berusaha mencerna ucapan Michael. Apakah ini pertanda Michael sedang mendekatinya?
Satu masalah lagi datang dalam pernikahan Alvin dan Emma. Dan kali ini lawannya sungguh sangat tangguh. Michael.
***
Selepas kepergian Michael, Emma berjalan masuk terlebih dulu. Malas rasanya harus membahas masalah ini lagi pada Alvin. Pria itu hanya menumpuk masalah yang sudah ada. Kini bertambah lagi daftar keburukan Alvin dalam otak Emma. Cemburu buta. Kecemburuan Alvin sangat tidak berdasar dan hari ini pria itu menunjukkannya lagi.
Alvin bergegas menyusul Emma masuk. Wajahnya masih menyiratkan amarah karena perlakuan Emma tadi.
“Kamu kan yang minta Michael jemput anak-anak?” tuding Alvin langsung dengan nafas menggebu.
Emma tidak mau menjawab. Hal kecil seperti ini akan jadi besar lagi. Ia mengambil air dingin dari dalam kulkas dan mengeluarkannya untuk minum. Baru saja hendak menuang, Alvin mengambil gelas Emma.
“Jawab aku, Emm! Kamu kan yang minta Michael jemput anak-anak?”
Emma menatap Alvin malas. Sudah muak rasanya melihat Alvin menjadi sensitive untuk urusan tidak penting seperti ini. Tanpa jawaban, Emma langsung menarik gelas itu dari tangan Alvin dengan kasar, mengisinya dengan air minum lalu menenggak habis.
“JAWAB, EMM! Kenapa nggak tunggu aku saja? Toh itu cuma berselang lima belas menit. Jarak dari tempatku ke daycare itu dekat. Kenapa kamu malah serahkan urusan keluarga kita pada orang lain? Aku benar-benar nggak habis pikir!”
Alvin berhasil memancing emosi Emma lagi.
“Iya, memang aku yang minta Michael ke sana. PUAS? Kamu selalu kaya gitu nggak pernah berubah. Sulit aja lupa naruh ponsel di mana. Kalau kamu tahu apa yang harusnya kamu lakukan, kenapa sampai ini terjadi? Kamu memang selalu begitu! Nggak kaya Michael yang selalu siap.” Emma mengisi minumnya lagi lalu menenggak cepat. Menatap Alvin dingin dan kesal.
“MIKE… MIKE… MIKE LAGI! TERUSIN AJA! Aku itu masih suami sah kamu, Emm! Mike itu siapa? HAH?”
“Dari sisi manapun Michael memang lebih baik dari kamu! Kenapa? Kamu cemburu aku dekat sama dia? Percuma aku jelaskan kalau kami nggak ada apa-apa, karena kamu sudah menuduhku berselingkuh. Iya kan?”
“KALAU NGGAK BERSELINGKUH, APA NAMANYA COBA? Membela Mike, ke mana-mana sama Mike, bahkan pulang selalu sama Mike. Kamu bandingin aku dengan Mike. Kamu pikir aku nggak sakit hati, Emm? Aku juga seorang manusia. Apalagi aku ini suami kamu! Kamu anggap aku apa sih?”
Emma makin emosi melihat Alvin.
“Suami nggak becus, nggak bisa diandalkan, nggak berguna. Satu-satunya pria yang berhasil bikin hidupku merasa gagal!” Emma menjawab dengan menantang. Alvin mengepalkan tangannya, nafasnya memburu.
Merasa terus dikerdilkan dan dianggap tidak mampu. Harga dirinya diremukkan dan jatuh berkeping-keping untuk kesekian kalinya. Kini bahkan sudah diinjak oleh istrinya sendiri. Avin memang berusaha menahan semuanya. Tapi kali ini Emma sudah keterlaluan.
“CUKUP, EMMA!”
BRAAKKKK!!! Dengan Gerakan cepat Alvin meninju tembok persis di samping Emma hingga kepalannya berdarah. Emma shock. Bisa-bisanya Alvin mengancamnya seperti itu. Sedikit saja tinju Alvin meleset, tinjunya pasti akan mengenai Emma.
“KAMU KETERLALUAN, ALVIN!” Dengan berlinang air mata, Emma pergi meninggalkan Alvin. Mengambil tasnya lalu keluar dengan membanting pintu. Entah apa yang dipikirkan Emma, tapi satu hal yang pasti ia tidak mau bertemu Alvin malam ini.
Tangisannya makin menjadi. Tak ia sangka Alvin bisa sekejam itu padanya. Saat pacaran dulu, Alvin adalah pria yang sangat manis dan perhatian. Tidak pernah Emma sangka jika ia baru saja akan menjadi objek kekerasan dalam rumah tangga oleh Alvin. Hati Emma terasa sakit dan luka di dalam hatinya makin membesar. Ia pergi dari rumah. Meninggalkan Alvin adalah jalan keluar terbaik.
Apakah salah jika ia mengungkapkan fakta dari sudut pandang yang ia lihat? Apakah salah jika ia mengutarakan isi hatinya pada Alvin? Tujuan Emma sebenarnya hanya satu. Ingin membuat Alvin menyadari kekurangannya dan berubah. Itu saja.
Namun satu tindakan Alvin hari ini membuatnya tersentak. Tak seharusnya rumah tangga ini dipertahankan. Karena nyatanya, bertahan hanya akan terus meninggalkan luka.
***
Di dalam sana, Alvin duduk merosot. Tetesan dan luka perih di tangannya tidak ia rasakan karena hatinya juga ikut perih. Kembali diliputi rasa bersalah, kecewa dan emosi. Ia menutup matanya sesaat. Menyandarkan punggung dan kepalanya pada dinding yang retak. Menyesali dirinya yang tidak menjaga emosinya dan membuat Emma terluka.
Alvin sepenuhnya sadar ia sudah membuat Emma terluka. Tapi ia tidak mampu membendung bagaimana sakit hati yang setiap hari ia terima dari Emma. Siapa yang tidak marah jika terus direndahkan dan dianggap tidak becus? Bahkan dibanding-bandingkan dengan pria lain yang dianggap lebih baik darinya?
Reaksi Alvin bukan berlebihan tapi memang wajar, sebagai pria yang tersudutkan.
“Maafkan aku, Emm. Maafkan aku…”
***
Bianca kembali menutup mulutnya di atas sana. Menahan agar suara tangisnya tidak terdengar siapapun, termasuk Tiara. Gadis kecil itu kembali menjadi saksi bagaimana kedua orangtuanya bertengkar hebat. Ketakutannya akan perpisahan kedua orangtuanya sekarang ada di depan mata. Tinggal menunggu waktu dan semuanya benar-benar terjadi seperti ketakutannya.
Ia menangis melihat Emma pergi, meninggalkan Alvin yang terluka. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Tiba-tiba tangan kecil itu menepuknya dari belakang sambil mengusap matanya. Bianca berjingkat kaget. Tiara ikut terbangun. Ia yakin adiknya terbangun karena dirinya yang terbangun setelah kembali mendengar teriakan di lantai bawah.
“Kakak kenapa di sini?” tanya Tiara dengan suara serak sambil mengusap-usap matanya. Bianca menoleh dan menutup mulut Tiara lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintu dan tidak membiarkan lampu kamar menyala. Ingin berpura-pura bahwa mereka sedang tidur.
Dengan matanya yang bulat, Tiara mengejap beberapa kali. Samar-samar ia melihat Bianca yang kembali terisak.
Bianca tidak kuat lagi. Ia membutuhkan seseorang untuk menumpahkan semua rasa sedih dan shock yang ia lihat di bawah tadi. Ia memeluk Tiara sambil menangis.
“Tia… Papa dan Mama akan berpisah. Kita… akan berpisah… hiks…”
Tiara yang tidak mengerti memandang Bianca dengan bingung namun melihat Bianca menangis tiba-tiba saja ia terisak.
“Aku nggak mau berpisah dari kakak. Aku nggak mau… hiks…”
Keduanya berpelukan dan bertangis-tangisan. Mereka hanya berharap ini semua hanya mimpi buruk. Suatu ketika mereka bangun maka semuanya akan lenyap. Tapi sungguhkah ini semua hanya mimpi? Tidak. Ini nyata.
Bianca dan Tiara saling mengusap air mata. Dilanjutkan Bianca yang membetulkan rambut adiknya yang sedikit kacau.
“Kak, kalau Papa Mama berpisah, apa itu artinya aku nggak bisa main sama kakak lagi?” tanya Tiara dengan wajah sedihnya. Gadis kecil itu tidak tahu apa arti sebuah perpisahan, yang ia tahu berpisah itu menyakitkan.
“Kakak nggak tahu, Tia. Kakak juga nggak mau berpisah sama kamu. Kita akan selalu bersama sampai kapanpun. Ke manapun Tia pergi, Kakak akan di sana,” jawab Bianca sambil menautkan jemarinya ke tangan mungil Tiara. Berusaha menenangkan sekaligus menutupi rasa sedihnya juga.
“Kak, Papa pernah bilang kalau kita takut kita mesti berdoa sama Tuhan. Bagaimana kalau kita sekarang berdoa pada Tuhan?” kata Tiara polos. Bianca langsung mengangguk. Ia tahu akan hal itu juga. Alvin selalu mengajarkan mereka untuk berdoa dalam situasi apapun. Apalagi di saat seperti ini, doa adalah cara terbaik.
Bianca menarik adiknya turun dari ranjang dan keduanya berlutut di sisi ranjang. Melipat tangan dan menutup matanya.
“Tuhan, Bianca dan Tiara takut… Kami takut kalau lihat Papa Mama yang terus bertengkar setiap hari. Kami takut kalau Papa Mama berpisah, Tuhan. Kami ingin keluarga kami terus sama-sama sampai seterusnya. Kami takut kami nggak bisa bersama-sama lagi. Tuhan, tolong… hiiks…”
Bianca memimpin doa itu. Doa dengan setulus hati dalam tangisan kedua gadis polos. Keduanya hanya berharap Tuhan yang memulihkan keluarga mereka. Ya, hanya itu yang bisa mereka lakukan. Karena nyatanya, apa yang seorang anak kecil bisa lakukan untuk mendamaikan kedua orangtuanya? Keberanian saja mungkin lenyap melihat suara keras dan wajah penuh amarah kedua orangtuanya ketika bertikai. Apalagi mendamaikan? Mereka takut.
Tapi satu hal yang mereka tidak akan pernah lupa. Mereka punya Tuhan yang berkuasa dan mereka mempercayai itu.
A/N: Waktu bikin chapter ini, nyesek banget. Ada yang sama?