12. Terkejut

1790 Kata
    Setelah pertengkaran hebat yang lagi-lagi terjadi di tengah rencana romantis Alvin semalam, keduanya kembali tidur terpisah. Makan malam romantis yang dianggap sebagai cara mendapatkan hati Emma lagi, nyatanya berakhir gagal.     Dengan menangis Emma menghubungi Michael. Entah mengapa ia membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita. Menumpahkan semua emosinya dan pikirannya hanya tertuju pada nama Michael seorang. Jadilah Emma menceritakan semuanya dalam tangisannya pada Michael. Ya, boleh dibilang sahabat Emma hanyalah Michael seorang. Pernah ada rekan-rekan satu geng Emma saat kuliah dulu, namun semenjak mereka semua lulus kuliah persahabatan mereka sudah mulai renggang.     Michael, yang mendengar cerita Emma, jadi ikut geram karena Alvin lagi-lagi membuat Emma menangis. Sungguh, ia makin bertekad merebut Emma dari sisi Alvin. Setidaknya ia bisa membuat Emma selalu tertawa. Membuat Emma bahagia bukan menangis seperti ini. Michael membiarkan Emma bercerita panjang lebar hingga wanita itu tertidur.     Michael sudah berniat untuk menjemput Emma pagi ini. Ia sangat yakin Emma lagi-lagi tidak akan mau pergi kantor bersama suaminya setelah pertengkaran mereka. Pola yang sudah terbaca oleh Michael. Dan tanpa memintapun, Michael pasti datang.     Pagi pun datang. Semua kembali seperti semula. Seolah tidak ada apapun yang terjadi semalam. Emma sudah bersiap ke kantor dengan pakaian kerja dan make up tipisnya. Di saat Emma keluar dari kamar, bertepatan Alvin keluar dari kamar mandi dengan gaya khasnya setelah mandi. Tanpa atasan dan hanya berbalut handuk.     Dulu saat masih bulan madu, pose Alvin yang seperti ini membuat Emma b*******h. Namun hari ini, walau sejujurnya dalam hatinya ada gelanyar itu lagi Emma menolak untuk mengikutinya. Ia memalingkan wajahnya, tidak berani menatap Alvin. Alvin menatap cuek pada Emma lalu pergi ke kamar untuk mengambil pakaiannya.     Setelah mengambil pakaian, Alvin keluar dan melihat Emma sudah menikmati roti lapisnya sendirian. Ia melirik ke atas meja makan. Tidak ada makanan untuknya. Artinya, Emma lagi-lagi tidak mempedulikannya. Ingin rasanya Alvin memprotes sikap Emma, tapi mengingat kejadian semalam ia mengurungkan niatnya. Nanti konflik berikutnya muncul lagi. Alvin malas dengan itu. LAgipula ini hanya perkara sepele. Jadi, Alvin menanganinya sendiri.     Ketika Alvin duduk, Emma bangun lalu mencuci piring. Seolah enggan menatap Alvin barang sejenak. Malas berbicara bahkan hanya sekedar sapaan singkat. Emma meneguk air mineral dari dalam dapur lalu mencuci piring dan keluar. Sementara Alvin masih dengan setia duduk dan menikmati roti isinya sendiri.     Hingga bunyi klakson mobil itu datang lagi. Siapa lagi jika bukan musuh bebuyutan Alvin? Michael.     Mendengar klaksonnya saja Alvin sudah tahu. Ia berdiri dan di saat bersamaan Emma setengah berlari lalu langsung membuka pintu. Seolah Emma mengharapkan kedatangan pria itu. Alvin tentu saja tidak tinggal diam melihat istrinya direbut pria lain.     Alvin menarik lengan Emma dengan kasar.     “Kamu mau pergi dengan Michael lagi?” tanya Alvin dengan nada tidak Sukanya.     Emma menggerak-gerakkan lengannya, meminta Alvin melepas genggamannya.     “Lepas, Vin!”     “Aku nggak akan lepasin sebelum kamu jawab pertanyaanku.”     Emma menatap Alvin dengan tatapan permusuhan itu lagi.     “Iya, aku akan berangkat sama Michael karena aku muak denganmu! Kamu suami paling jahat yang pernah hadir dalam hidupku!” ucap Emma dengan berlinang air mata yang entah kapan meleleh. Seolah mengungkapkan semua kekesalan dalam hatinya.     Tangan Alvin mengendor. Mendengar ucapan Emma seperti itu lagi jelas menyakiti hatinya. Tapi di sisi lain, ia sangat bisa memahami bahwa Emma benar-benar terluka dan tersiksa hidup bersamanya selama ini. Dan sejenak penyesalan itu muncul kembali. Menyesal karena tidak membahagiakan Emma selama ini.     Emma menghapus air matanya kasar. Ia memakai sepatunya dan bergegas membuka pintu.     “Jangan pergi dengannya, Emm… Please…” suara getir Alvin yang memohon membuat Emma terdiam sejenak. Baru kali ini suaminya memohon padanya. Dan dari suaranya saja Emma bisa merasakan kesungguhan dalam ucapan Alvin. Pria itu berat melepas Emma pergi bersama pria lain.     Tapi hati Emma terlalu sakit untuk kembali. Bersama Alvin hanya membuatnya menderita dan terluka. Ia sudah tidak tahan dengan penderitaan ini lagi.     Ia menutup matanya sejenak, membiarkan air mata itu meleleh begitu saja dari matanya. Menguatkan pegangannya pada gagang pintu dan membulatkan tekad. Emma memilih… Pergi.     Alvin sudah dibutakan oleh cemburunya yang besar pada Michael. Dan ia menyesali itu untuk sesaat.     Ibarat pepatah mengatakan tak ada asap jika tak ada api. Kalau saja Emma tidak terus bergantung pada Michael, mungkin tidak seperti ini jadinya. Emma telah membuat harga dirinya sebagai suami hancur. Ia terluka namun tak ada yang mengobati. Ia hancur namun tak ada yang menata kembali.     Jangan salahkan sikap Alvin, karena Alvin hanyalah seorang suami yang tidak rela melepas istri yang dicintainya untuk orang lain.     “Jangan pergi, Emm… Aku sayang kamu.” ***     Emma berjalan cepat ke dalam mobil Michael. Dapat Michael lihat bercak air mata itu kembali terlihat sebelum akhirnya Emma menutupnya dengan bedak.     Michael tahu kejadian ini kembali berulang.     “Mike, hari ini aku izin setengah hari ya…”     “Kamu mau ke mana memangnya?”     “Tolong antar aku ke kantor pengacara. Aku akan mengurus berkas perceraian.” Tanpa banyak bicara Michael memutar balik setirnya, menjalankan mobil menuju ke tempat yang diminta Emma. Senyuman tipis itu terbit di bibir Michael. Apa yang ia impikan sebentar lagi akan tercapai.     Sesampainya di kantor Abby, Emma langsung dipersilakan masuk ke dalam ruangan. Abby sedang tidak menangani klien lain jadi ia bisa langsung melayani Emma yang diantar Michael. Tapi Michael langsung berangkat ke kantor untuk mengurus masalah yang belum selesai.     “Bang Abby, gimana berkasku?” Satu kalimat Emma membuat Abby sedikit terkejut.     “Oh ya… aku sudah menerima berkasmu, tapi maaf aku belum sempat proses.”     “Bang, aku sudah nggak tahan lagi dengan Alvin. Tolong segera proses perceraian itu,” ujar Emma memohon.     Abby sudah bisa menebak alasan mengapa Emma terburu-buru untuk bercerai. Ia yakin Emma datang dengan alasan yang klise. Alasan yang selalu diucapkan pasangan yang mengajukan gugatan cerai, kalau bukan masalah keuangan, maka karena sering berkonflik.     Abby tidak habis pikir mengapa orang dengan gampangnya mengajukan gugatan cerai hanya karena masalah-masalah tersebut? Padahal tidak ada masalah dalam relasi yang tidak bisa diselesaikan bukan? Tapi mengapa hampir semua pasangan seolah dengan gegabah mengatakan mereka ingin bercerai sebelum mencoba semua cara?     Seharusnya mereka masih bisa mencoba. Namun rupanya bisa dengan mau itu berbeda. Orang mungkin bisa mencoba memperbaiki tapi lain perkara jika mereka tidak mau memperbaiki. Sekuat apapun bujukan orang lain padanya, jika dirinya sendiri tidak mau maka tidak akan ada yang terjadi.     Abby bersandar pada kursinya.     “Yakin mau cerai? Padahal mengurus cerai itu prosesnya lama lho, Emm. Apa kamu siap?” Abby hanya memastikan dan Emma menyanggupinya. Tidak peduli berapa lama pun prosesnya Emma akan siap, karena ia sudah bertekad bulat.     Abby menghela nafas lalu memajukan duduknya dan mengeluarkan sebuah berkas yang berisi alur proses perceraian di mata hukum pada Emma. Abby pun menjelaskan semuanya di hadapan Emma.     “Aku bertanya sekali lagi karena aku tidak mau setelah proses persidangan ini berakhir, kamu menyesal dengan keputusanmu. Yakin masih mau lanjut?” Lagi Emma menjawab dengan anggukan kepala. Ia sudah muak dengan pernikahannya yang selalu berkonflik. Daripada saling menyakiti lebih baik diakhiri.     “Aku siap, Bang. Lanjutkan saja berkasnya hingga sidang.”     Abby menghela nafasnya. Susah memang menjelaskan pada orang yang terbawa emosi.     “Emm, bukannya aku nggak mau melanjutkan berkasmu ini tapi aku hanya ingin kamu berpikir serius. Asal kamu tahu, perceraian itu nggak akan membawa apa-apa dalam hidupmu. Hatimu tetap terluka dan tidak ada damai. Mungkin iya lega selama beberapa hari, setelahnya kamu akan merasa kosong.     Ada banyak pasangan bercerai yang aku tangani mengatakan menyesal telah bercerai. Tekanan yang akan kamu hadapi setelah bercerai itu lebih besar dibanding saat kamu masih bersama. Kamu yakin siap dengan itu? Banyak orang juga yang depresi lho karena perceraian. Ini bukan perkara mudah.”     Tak juga menyurutkan niat Emma, wanita itu kembali mengangguk.     “Aku terima konsekuensinya.” Begitulah Emma, wanita yang berani mengambil resiko. Ia memang bertanggung jawab atas keputusannya, tapi untuk urusan perceraian? Abby tidak yakin.     Jika sudah seperti ini, Abby hanya bisa menjalankan prosedurnya. Tapi, sebagai seorang sahabat bagi pasangan ini Abby merasa harus melakukan sesuatu.     “Oke kalau memang itu maumu. Aku akan lanjutkan berkasmu tapi dengan satu syarat,” kata Abby menantang Emma. Mata Emma membulat. Apapun konsekuensinya ia akan jalankan. Tidak ada pengacara lain yang ia percaya selain Abby.     “Datanglah konseling pada Sarah selama 100 hari.”     Satu kalimat Abby membuat Emma mau tidak mau ikut datang ke kantorku. Hanya, ia tidak tahu jika Alvin sudah lebih dulu datang padaku.     “Jika setelah 100 hari konseling keputusanmu tetap sama, aku akan jalankan berkas ini.”     Emma masih memandang Abby tak percaya. Baru kali ini ada pengacara yang tidak menyukai uang. Biasanya pengacara lain pasti langsung menjalankan gugatan, tapi tidak dengan Abby. Ia malah menahan berkas itu dan itu artinya Abby tidak akan mendapatkan apapun.     “Bang, tapi…”     “Sebagai seorang pengacara, aku akan melakukan tanggung jawabku menjalankan gugatanmu. Tapi aku juga teman kalian dan aku tidak rela rumah tangga temanku berujung pada perceraian. Percayalah padaku kali ini. Lakukan saranku. Aku hanya tidak ingin kamu menyesal dengan keputusanmu.”     Emma menghela nafasnya. Jika memang itu syarat yang harus ia penuhi, maka ia akan menjalaninya walau ia ragu, ia akan berubah pikiran setelahnya. ***     Di sisi lain, gadis kecil dengan rambut panjang tergerai dan bando polkadot merah menghias kepalanya sedang memandang keluar jendela. Memandangi langit biru dan pohon yang bergoyang karena angin. Melupakan semua pelajaran yang harusnya ia serap hari ini. Namun pikirannya tidak fokus. Otak kecilnya memutar semua realita tentang kedua orangtuanya yang ia lihat setiap hari. Hatinya tidak tenang.     Ia terus berpikir apa jadinya jika mereka berpisah? Bukankah selama ini hidup mereka bahagia saat bersama? Mengapa kebahagiaan itu harus dirusak karena pertengkaran? Apakah kedua orangtuanya tidak saling mencintai lagi?     Bianca menghela nafasnya. Saat ia memalingkan wajahnya menatap papan tulis, gurunya sudah ada di hadapannya.     Miss Dessy, wanita muda itu memanggil Bianca ke kantornya. Penasaran dengan murid yang satu ini karena selalu melamun di kelas.     “Bianca, Miss lihat akhir-akhir ini kamu kembali melamun di kelas. Nilai ulanganmu juga menurun. Apa ada masalah?” Dessy mencoba menggali. Tidak ingin menghakimi atau memarahi karena perasaan seorang anak kecil itu rapuh.     Bianca menggeleng. Gadis kecil itu rupanya berusaha menyimpan semuanya sendiri.     Dessy menghela nafasnya. Ia menarik telapak tangan Bianca dan menggenggam tangan mungil itu.     “Bian bisa cerita sama Miss. Mungkin Miss bisa membantu,” kata Dessy dengan ramah. Bianca memandang Dessy dengan ragu-ragu. Melihat tatapan mata lembut dan perhatian seperti itu tiba-tiba saja membuat Bianca menangis. Ia tidak sanggup lagi menyimpan semuanya sendiri. Semuanya terasa berat dan sesak di dalam otak dan hatinya yang mungil.     “Mama Papa Bian mau bercerai Bu! Hiksss….”     Dessy sangat terkejut. Anak sekecil itu harus menerima kenyataan pahit. Perpisahaan kedua orangtua adalah hal terberat yang harus anak kecil itu jalani. Kini ia tahu bagaiman posisi Bianca. Sedih, terluka, kecewa, bahkan mungkin trauma. Dessy hanya bisa memeluk Bianca yang menangis. Di saat seperti ini setidaknya Bianca memiliki seseorang yang mau mengerti kondisinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN