Memanfaatkan Demi Keuntungan

1231 Kata
Damian baru kembali ke rumah sekitar pukul 23.15, usai menenggelamkan diri dalam pekerjaan bersama Leon di apartemen Vivian. Wajah terpasang lelah mengiringi ayunan kaki Damian menyisir teras, memijat-mijat tengkuk terasa kaku dengan jemari kanan. Baru juga beberapa langkah lemas diciptakan, Damian terpaksa berhenti seketika melihat adanya sepasang pantofel mengilat di ambang pintu utama. Kepala sedari tadi menunduk untuk mempermudah mengurut tengkuk, terangkat demi mengetahui siapa pemilik sepatu hitam menghalangi langkah. “Kau tidak tahu sudah pukul berapa, sekarang? Apa kau bekerja seperti ruang gawat darurat?” tegur Damian, begitu menangkap wajah Alex. Suara terdengar tidak mengenakkan, enggan dijawab oleh Alex. Dia lebih memilih untuk melewati tubuh suami atasannya, selepas senyum tipis ditunjukkan kilat. “Aku sedang berbicara denganmu, apa kau tuli?!” protes kencang Damian, menoleh pada lelaki yang sudah siap memasuki mobil telah dibukakan pintunya. “Alex Carter ... apa kau benar-benar tuli?” Nama disebutkan kencang nan menekan, berhasil menghentikan kaki kanan Alex menyusul kaki kiri sudah dimasukkan dalam mobil lebih dulu. Dia menoleh, menautkan kedua alis. Damian berbalik tubuh, meletakkan kedua tangan pada pinggang. “Kenapa? Kau terkejut, karena aku mengetahui siapa dirimu?” Alex mengulas senyum, mengamati paras angkuh dari lelaki yang berbicara sembari menaikkan alis kiri. “Haruskah?” santai lelaki tengah memegangi jas hitamnya. “Tapi, aku tidak berpikir demikian.” “Dia memang menyebalkan!” gumam Damian, mengatupkan rapat gigi putih. “Aku tidak meragukan kemampuanmu juga anak buahmu. Jadi, bukan hal aneh saat kau mengetahui lebih cepat identitasku.” Masih saja Alex bernada tenang. Damian mengangguk berulang, melengkungkan bibir ke bawah serta melipat tangan di depan d**a. “Ya, tentu saja. Kau tidak akan pernah tahu, apa yang bisa kami lakukan padamu. Jadi, akan lebih baik kalau kau mulai berhati-hati, dari pada terkejut. Aku bisa mengungkapkan semuanya pada Ines, dan membuatmu dalam bahaya.” Damian berkata santai, sesekali menaikkan kedua pundak menyertai ucapan. Namun, nyatanya Alex tidak terpengaruh untuk mengubah ketenangan dari wajah rupawannya sama sekali, meski dia memahami ada ancaman terselubung dari rangkaian abjad suami atasannya. “Bukankah, aku yang seharusnya mengatakan itu?” balas Alex, memungkas dengan senyum tipis, kemudian memasuki mobil. Tidak menunggu lama untuk kepercayaan Ines itu menyisir halaman, dari kendaraan pribadi yang sudah dibiarkan menyala mesinnya. Damian terkejut, sampai-sampai menurunkan kedua tangan melipat dan membengkakkan pupil mata. “Di—dia mengancamku?!” ujar Damian menunjuk batang hidung sendiri. “Wah, aku tidak bisa mempercayainya. Bagaimana mungkin, ada orang sepertinya dan Ines di bumi ini? Aku benar-benar tidak memiliki harga diri di depan mereka!” Tangan kanan Damian memijat kening, membiarkan tangan lainnya berada pada pinggang. Napas panjang diembuskan olehnya, memejamkan mata dan mulai berbalik memasuki rumah. Tentang Alex, sungguh Damian tidak berhenti dibuat terkejut juga penasaran. Terlebih, setelah identitas sengaja disembunyikan oleh Alex, berhasil dijabarkan rinci oleh Leon. Rasanya, detak jantung Damian siap berhenti dari rutinitas harian, selepas fakta-fakta menyertai didengar hari ini. Bahkan, tentang orang-orang yang telah menjadi perisai terkuat Ines, berdiri di balik tubuhnya dan siap mempertaruhkan nyawa tanpa kira-kira. Damian pun dibuat semakin penasaran, akan siapa diri Ines sebenarnya, hingga memiliki garda terbaik yang terlalu mustahil dijatuhkan dengan mudah. Titah dijatuhkan terhadap Leon serta anak buahnya yang lain, agar terus menggali informasi tentang Ines juga orang-orang dimiliki. Meski, lelaki yang kini mengayunkan langkah menyusuri rumah tersebut tahu, akan risiko mengintai ketika Ines mengetahui perbuatannya. Namun, semua risiko tergambar tidak mampu menyurutkan tekad dari lelaki yang memiliki rasa penasaran begitu besar, terhadap banyak hal. Seperti halnya sekarang, di mana Damian mengayunkan tangan pada pelayan yang tadi menyambut hadirnya, sekedar mencari tahu alasan di balik keberadaan Alex hingga tengah malam. “Saya, Tuan?” santun pelayan membungkuk, menumpuk tangan di depan perut. “Orang gila yang baru saja keluar rumah, apa dia menemaniku istriku seharian? Mereka bersama-sama terus? Di mana? Ruang kerja, ruang tamu, ruang tengah atau ....” Damian tidak melanjutkan, sekeda membatin tentang kamar yang dibuang secepatnya dari pikiran. Wanita berseragam putih di hadapan Damian kebingungan. Mata terangkat beriringan dengan kepala, sekedar berpikir tentang siapa yang dimaksudkan oleh tuannya. Damian menyadari akan sikap asisten rumah tangga istrinya, desis bak ular disuarakan. Pelayan segera mengembalikan perhatian ke lantai, menundukkan kepala. “Ma—maafkan saya, Tuan. Tapi, apakah yang tuan maksud adalah tuan Alex?” “Kau pikir?!” sembur Damian. “Haruskah aku menyebutkan namanya?!” “Ti—tidak, Tuan.” Pelayan berusia tiga puluhan itu gagap. “Tuan Alex memang menemani nyonya dari siang, untuk menjalani pemeriksaan. Beliau kembali setelah perawat datang menggantikan, Tuan.” “Perawat?!” kaget Damian mengerutkan alis. “Iya, Tuan. Tadi siang nyonya kembali dalam keadaan pingsan, untuk itu—“ penjelasan disampaikan terpangkas, tatkala derap langkah merasuki telinga. Ya, Damian memang tidak bersedia mendengarkan lebih banyak, lebih memilih berlari menapaki dua sampai tiga anak tangga sekaligus, demi bisa tiba di kamar istrinya lebih cepat. Pintu ruang pribadi Ines tertutup, dibuka segera oleh Damian tanpa mengetuk atau menyerukan nama lebih dulu. Nanap lelaki itu menelisik ranjang, di mana wanita tadi terlibat keributan dengannya, terbaring dengan selang infus terhubung tangan. Damian berjalan mendekati ranjang, mengacuhkan perawat yang menghampiri dirinya. Sendu ia memperhatikan wajah polos sang istri, menurunkan posisi tubuh di tepi ranjang. Tangan lembut di atas perut diraih Damian, menggenggamnya hangat. “Bagaimana bisa seperti ini? Apa yang sudah terjadi denganmu sebenarnya?” “Nyonya ke—“ perawat berupaya menjawab, dicegah oleh suara berat Damian. “Keluar! Aku tidak bertanya padamu, jadi jangan pernah menjelaskan apa pun!” kelakar lelaki berwajah tegas itu. “Tapi, Tuan. Saya tidak diperbolehkan meninggalkan nyonya.” Bibir perawat bergetar, kelopak mata ditarik ke bawah menghindari tatapan menyeramkan. “Aku bilang keluar!” bentak Damian, mengejutkan perawat sampai pundak terangkat cepat. Wanita telah ditugaskan untuk mengawasi kondisi Ines tersebut, menelan saliva. Sekujur tubuh berubah gemetar, atas suara menggelegar didengarkan. Bahkan, ketegasan mengisi tiap ruangan pun mampu mengundang bulir keringat dingin bermunculan pada wajah. Perawat berusia dua puluh delapan tahun itu, didera kebingungan. Entah titah siapa yang harus dijalankan sekarang, usai Alex memerintah dengan ancaman diselipkan, untuk tidak pernah membiarkan Damian atau siapa pun memasuki kamar tanpa izinnya. Perempuan berkulit putih di dekat pintu tersebut, menggerakkan mata untuk menemukan sesuatu yang bisa memberinya alasan. Akan tetapi, justru isyarat didapatkan dari wanita yang terkejut akan suara memecahkan pendengaran. Ines memang terbangun setelah teriakan Damian, kini mengangguk pada perawat agar ia menuruti titah menggema dalam kamar. “Tidak bisakah kamu berbicara lebih pelan?” tegur Ines, selepas perawat lenyap dari kamarnya. Damian tersentak menoleh. “Ma-maaf. Apa aku membangunkanmu?” ucapnya. “Aku hanya tidak suka saat ada orang yang menjawabku begitu saja, padahal aku tidak bertanya padanya.” “Pergilah ke kamarmu dan beristirahat. Wajahmu terlihat sangat lelah,” tutur Ines seraya membetulkan posisi tubuh lebih nyaman. Damian sigap membantu, meraih bantal dan menumpuk di balik tengkuk sang istri. “Bagian mana yang sakit? Apa kamu tidak nyaman berbaring seperti ini?” “Tidak ada, Damian. Istirahatlah, atau kamu akan jatuh sakit. Perusahaan Xander sangat membutuhkanmu sekarang, jadi kamu harus terus sehat.” Ines berbicara lemas. “Bagaimana denganmu? Apa kamu tidak pernah membutuhkanku?” balas Damian. Tidak ada jawaban dari Ines, Damian pun menurunkan pengamatan ke arah pangkuan. “Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak berniat membuatmu terluka, sampai sakit seperti ini. Aku hanya ingin, agar kamu berusaha ... maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” “Damian, bolehkah kalau aku memanfaatkanmu demi keuntunganku?!” seru Ines, mengejutkan lelaki di dekatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN