“Itu artinya … kamu membenarkan ucapanku? Kamu sengaja mengirim orang untuk terus mengikutiku, karena kamu cemburu dan takut aku bersama perempuan lain. Benar, begitu?” ucap Damian tanpa memudarkan senyuman. Ines memalingkan wajah malas, mengembuskan napas panjang. “Sudahlah, aku lapar!” seru wanita dengan kedua tangan mendorong tubuh lelaki tengah lengah di atas tubuhnya. Ines berhasil lolos dan segera berdiri, Damian malah membetulkan posisi di ranjang, memiringkan tubuh dan bersandar pada telapak kanan telah dijadikan siku sebagai tumpuan lebih dulu. “Memakanku akan jauh lebih nikmat. Kamu tidak ingin merasakannya?” goda Damian. “Aku memiliki tubuh yang bagus, kamu pasti suka melihatnya.” Ines sudah berjalan ke arah pintu, tak menghiraukan teriakan dari lelaki yang seolah tidak pern

