"Sumpah tugas aku banyak banget ih, pusing kepala aku nih ngerjainnya. Tangan aku sakit juga nih nulis," Seza mengeluh, buku-buku dan laptop tertumpuk di hadapannya.
"Memangnya kamu ngerjainnya gak make laptop? ngapain make buku?" tanya Altha.
"Dosennya tuh, kitanya disuruh nulis tangan. Pegel tau," rengek Seza sambil melemaskan jari-jari tangannya.
"Utu utu ututuuu ... kasian banget sih sayang aku. Sini aku bantuin deh." Altha mengelus tangan Seza sebentar, lalu dia mengambil buku-buku Seza.
"Yakin kamu mau bantuin aku?" tanya Seza tak yakin.
"Ya yakin lah, ya kali gak yakin. Tenang aja deh, aku bantuin kamu sampai semuanya selesai. Mana tega aku biarin kamu sendirian ngerjain tugas sebanyak ini." Altha membuka buku Seza, mengambilkan pena dan mulai menyalin yang sudah Seza kerjakan di buku notesnya.
"Enak banget ya, tugas aja dikerjain. Besok-besok coba gak usah cuci baju, siapa tau si Altha mau nyuciin baju lo." Si mulut lemes datang dan langsung mengambil duduk di samping Altha.
Altha memutar bola matanya malas. "Kalau mau nyari ribut mendingan pergi dah. Dari pada gue hajar lo di sini," peringat Altha langsung.
"Siapa sih yang mau cari ribut? gue ke sini mau cari makan, lelah abis ada kelas with dosen killer. Kenapa emangnya? kalian berdua gak mau diganggu dengan kehadiran gue di sini?" tanya Danu.
"Emang!! kita gak mau diganggu sama lo!! iya kan sayang?" Altha meminta pendapat Seza, tapi Seza hanya diam. Seza malas ikut campur, baginya sama sekali tidak penting.
"Uda sana pergi!! malas gue liat lo!! sana-sana!! hushh hushh!!" Altha mengusir Danu.
"Mana mau gue pergi, gue di sini sebagai pelindung buat lo dan Seza. Lo gak tau kalau berdua-duaan itu nanti timbulnya setan?"
"Ya elo setannya!!! dasar setan!!" maki Altha kesal.
Danu diam. Yang dikatakan Altha ada benarnya, ternyata dia salah bicara.
"Tau ahh!! ngomong sama lo kek ngomong sama cicak. Uda diem, kerjain aja tuh apa yang disuruh sama nyonya ratu. Gue gak mau debat sama lo. Gue cuma nunggu mie ayam gue datang!! gue lapar!!" Danu melotot pada Altha.
"Gue gak ada nyuruh Fandra buat ngerjain tugas gue kok," Seza membela diri.
"Tapi di mata orang-orang begitu dahh, mau gimana lagi?" Danu mengedikkan bahunya acuh.
"Maafin ya, sayang. Laki-laki jadi-jadian ini memang gitu, jadi ya maafin aja. Jangan dimasukin ke hati ucapan dia, sayang. Dia ngomongnya juga gak make utek, jadi jangan bawa serius." Altha mewanti-wanti, takut kalau Seza merasa bersalah padanya.
Seza tersenyum samar. "Oke," jawabnya singkat.
"Ini dikerjain besok aja ya. Aqila uda nunggu aku di parkiran, aku mau ke rumah dia soalnya. Makasih udah mau bantuin." Seza mengumpulkan buku-bukunya yang berserakan di atas meja. Dia juga memasukkan laptopnya ke dalam tas.
"Loh, kamu ngapain sih? kok mau pulang tiba-tiba? kenapa? perasaan tadi gak ada bilang kalau mau ke rumah Aqila, masa iya tiba-tiba," tanya Altha curiga.
"Iya, tadi aku lupa bilang sama kamu. Aku baru ingat sekarang, kasian banget tuh si Aqila pasti kelamaan nunggu aku di parkiran. Yaudah aku duluan deh ya." Seza berdiri, membawa barang-barang bawaannya yang sedikit banyak.
"Aku pamit dulu ya, see you," Seza tersenyum singkat, lalu dia langsung pergi meninggalkan Altha.
"Eh Seza!! tunggu, sayang!!" Altha berdiri, ingin mengejar Seza. Tapi Danu langsung mencegah Altha.
"Mau ke mana sih, lo? ngapain lo kejar dia coba? dia bilang dia mau cepat-cepat ketemu si cewek jadi-jadian itu. Biarin lah mereka, mereka juga butuh waktu berdua. Walaupun uda pacaran sama lo, Seza juga butuh sahabat kali. Masa iya waktunya dia harus sama lo aja. Gak lucu banget," jelas Danu santai.
Altha menatap Danu tajam.
Danu mengerutkan dahinya bingung. "Kenapa sih, lo? apaan? gue punya utang? perasaan kagak dah."
"Ini semua gara-gara lo!!"
"What? gue? gue apaan?" tunjuk Danu pada dirinya dengan wajah bingung.
"Ya gara-gara lo!!! kalau aja mulut lo gak lemes, gak mungkin Seza badmood gitu. Liat hasilnya, dia jadi pergi kan. Itu pasti dia ngerasa bersalah, sakit hati itu pasti dia karena omongan lo!" Altha menyalahkan Danu.
Danu tersenyum kecut. "Yaelahh ... ribet amat hidup lo. Gue perhatiin semenjak pacaran sama Seza hidup lo ribet bener. Buat apa pacaran kalau ribet dan buat tertekan? kalau gue mah uda lebih baik putus aja dah." Danu menyeruput jus jeruk yang baru saja diantar oleh tukang jus kantin.
Altha mengepalkan kedua tangannya kuat. Emosinya benar-benar meradang dibuat Danu.
"Arghh!! untung lo sahabat gue, kalau bukan, uda gue bunuh lo sekarang juga!!" ujar Altha gereget.
Danu menyengir lebar. "Gue tau itu," balasnya santai.
"Dasar mulut lemes!! kebanyakan makan oli ya gini. Dulu bayi orang minum s**u, lah elo minum oli," sungut Altha kesal.
"Enak aja lo, gue minum ASI ya, s**u terbaik di muka bumi. Itu sebabnya gue jadi cerdas gini," bantah Danu tak kau kalah.
"Cerdas apaan? cerdas gosip? cerdas nyindir orang? cerdas ngajakin ribut? ck, rasanya pengen gue tabok deh." Altha tersenyum kecut.
"Coba aja tabok, palingan kita tarung di sini." Danu mengangkat sebelah kakinya.
Altha menatap Danu tajam, menyiratkan emosi yang sedang ia tahan.
"Awas ya lo, sekali lagi lo ngeceng-ngecengin gue sama Seza, sekali lagi Seza marah dan sakit hati karena kata-kata lo, gue potong itu lidah gak berguna lo!!" ancam Altha dengan wajah merah padam menahan amarah.
Danu tertawa kencang. "Hahahaha ... hahah-"
Brakk!!!!
"DIAM!!!!" Altha menggebrak meja emosi.
Altha mendekati Danu, bersiap-siap dengan tangannya yang sudah mengepal kuat.
"Lo!!! elo harus ya!! harus gue kasih pelajaran!!! dasar lemes!!! tukang ngurusin hidup orang!!" Altha mengarahkan tangannya ke wajah Danu, seperti ingin memukul Danu. Tapi saat mendekati wajah Danu, tangannya berhenti bergerak.
Altha diam, Danu menatapnya dengan alis yang diangkat sebelah.
"Kenapa berhenti?" tanya Danu.
"Kalau kesal pukul aja, gue siap jadi pelampiasan lo," tantang Danu pasrah.
"Argggg!!" Altha kembali menarik tangannya.
"Untung lo sahabat gue!!! untung S-A-H-A-B-A-T G-U-E!!!" teriak Altha penuh penekanan.
"Kalau enggak, uda mampus lo di tangan gue!!" lanjut Altha berapi-api.
Altha memang tak pernah bisa memukul Danu hanya untuk melampiaskan amarahnya, baginya Danu sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Jika Danu sakit, maka Altha juga ikut sakit.
"Bajingannn!!! cuihh!!" setelah mengumpat kasar, Altha langsung pergi meninggalkan Danu sendiri.
Danu mengerutkan dahinya bingung. "Dasar bocah gemblong, aneh banget," ujar Danu pelan.
Setelah ditinggal sendirian, Danu dengan santai melanjutkan makannya, dia tak peduli dengan Altha atau Seza yang sedang bad mood, yang penting perut Danu terisi dan cacing-cacing di perutnya tak unjuk rasa lagi.