Cinta Mati Sama Seza

1035 Kata
Altha bergegas berjalan menuju ruangan Seza. Dia akan minta maaf pada Seza karena sudah membuat Seza kesal. Altha masuk ke dalam ruangan Seza dengan membawa dua kantong plastik besar yang berisi makanan. Altha tau kalau saat ini Seza sedang istirahat sebelum melanjutkan mata kuliah berikutnya. "Seza mana?" tanya Altha pada Aqila yang sedang berbincang-bincang dengan teman-teman sekelasnya. "Nohh di pojok, lagi tidur kali. Dari tadi gitu aja posisinya," Aqila menunjuk seorang gadis yang duduk di pojok ruangan kelas dengan tangan yang dilipat di atas meja, serta kepala yang telangkup di atasnya. "Thanks," ucap Altha sambil melewati Aqila. Altha berjalan menuju meja Seza. Lalu saat sampai di meja Seza, dia langsung mengelus lembut puncak kepala Seza. "Sayang ...," panggil Altha lembut. Tak ada jawaban dari Seza, bahkan dia tak bergerak sama sekali. "Sayang, bangun. Kamu pasti belum makan kan? ini aku bawain makanan untuk kamu. Makan ya, nanti kamu sakit kalau gak makan." Altha kembali memanggil dengan lembut seraya masih mengelus puncak kepala Seza dengan sayang. Sejak tadi teman-teman Seza melihat aksi Altha itu. Ada yang terbawa perasaan, ada juga yang iri dengan Seza dan Altha. "Jambak aja rambutnya, kalau dielus-elus ya dia keenakan. Mau gue bantuin banguni bocah kebo satu itu?" tawar Aqila geram. Aqila sejak tadi geram melihat Seza yang tak bisa dibangunkan. Altha terkekeh kecil. "Gak usah, biar gue aja. Lagi pula kalau dijambak sakit dong nanti cewek gue, mana bisa gue liat dia kesakitan," jawab Altha dengan senyum manisnya seraya pandangannya yang tak pernah luput dari Seza. "Enak banget sih jadi Seza, si Altha sayang banget kayaknya sama dia," ujar salah satu teman sekelas Seza yang saat ini sedang duduk di samping Aqila. "Kenapa? lo mau jadi pacarnya Altha?" tanya Aqila sewot. "Ya mau lah. Siapa sih yang gak mau jadi pacarnya Altha? uda tampannya kelewat batas, baik, ramah, lucu, perhatian, kaya raya, sayang sama pacar lagi. Kalau gue mah ya mau banget lah jadi pacarnya Altha," jawab teman Aqila. "Ya kalau lo mau, coba aja godain si Altha noh, mumpung si Seza masih tidur. Coba godain. Tertarik gak dia sama lo? siapa tau dia tertarik sama lo, lo kan cantik banget ya, gak kalah cantik sama Seza." Aqila mencoba memanas-manasi temannya itu. "Beneran nih gak apa-apa? entar lo aduin gue ke Seza lagi," balas temannya ragu. "Ya kagak lah. Ya kali gue aduin. Emangnya gue apaan, gue gak tukang ngadu kali." Aqila mencoba meyakinkan temannya itu. Teman Aqila itu langsung tersenyum senang. "Oke. Gue yakin Altha bakalan baper kalau gue godain." Wanita itu setuju, bahkan dia sangat bersemangat. Aqila menahan tawanya sebisa mungkin. "Coba aja lo godain si Altha. Kalau si Altha kepincut, gue sembah dah elonya. Si Altha tuh cinta mati sama Seza, seribu cewek pun godain dia, mana mungkin digubris Altha. Hahaaha ... rasain dah tahan malu," ujar Aqila dalam hati. "Altha ...," panggil teman Aqila. Altha menoleh, lalu menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?" tanya Altha datar. "Yuk makan sama gue aja. Seza gak bisa dibangunin juga kan? gue kasian liat lo, pasti laper kan nungguin Seza yang kebo banget. Makan barengan gue aja," ajak teman Aqila pada Altha. Altha keliatan menampilkan ekspresi bingung. "Lagian teman-teman sekelas gue juga gak akan ember kok mulutnya. Semuanya aman. Gimana? yuk makan barengan gue aja. Atau kalau lo mau jalan sama gue aja," tawar teman Aqila itu dengan senyum manisnya. Altha langsung memasang wajah tak sukanya. "Apaan sih lo? gue gak suka sama lo. Pacar gue Seza, cuma Seza yang ada di hati gue. Sampai kapan pun itu. Jadi jangan goda-godain gue deh, gak mempan," tolak Altha mentah-mentah. Aqila dan teman-temannya yang lain sudah mati-matian menahan tawa. "Kalau lo laper, nihh gue bawa makanan banyak." Altha langsung memberikan satu kantong plastik besar di meja tempat para wanita berkumpul. "Gue emang sengaja bawain makanan banyak buat dibagiin, itung-itung sedekah. Doain ya, supaya gue dan Seza langgeng. Terjauh dari para penggoda yang meresahkan." Altha tersenyum manis, seolah-olah menyindir dengan halus. "Thanks buat kalian yang uda jadi teman-teman baik cewe gue. Terus jagain Seza ya kalau gak ada gue." Altha berterimakasih. Lalu setelah itu dia kembali ke meja Seza. Aqila tertawa sangat pelan. Lebih tepatnya dia menahan tawanya mati-matian. Melihat Altha menolak temannya dengan mentah-mentah membuat Aqila geli setengah mati. Kalau ada yang bisa godain Altha dan menggantikan Altha di hati Seza, orang itu patut disebut master. "Sayang ... bangun dong, ayo kita makan. Ini kuliah sampe sore, kalau kamu gak makan nnti sakit. Ayo bangun dong." Altha mengguncang tubuh Seza pelan. "Seza, sayang ... bangun dong. Ayo bangun, makan sama aku. Jangan ngambek-ngambek lagi. Aku minta maaf," ucap Altha lembut. Altha menghela nafasnya lelah. Seza tak kunjung bangun juga, padahal dia sudah berusaha keras untuk membangunnya. Altha langsung menarik tubuh Seza yang sedang ada di atas meja. Menariknya pelan supaya duduk tegak. "Eunghh ...," Seza melenguh. "Hoamm ...," Seza juga menguap lebar. "Bangun, sayang. Ayo makan," Altha menggoyang-goyangkan tubuh Seza yang sedang duduk lemas dan tentunya dipegangi oleh Altha di belakangnya. "Apaan sih? aku ngantuk tau. Ngapain bangunin aku? sana-sana pergi. Makan aja sendiri, aku ngantuk," ujar Seza dengan suara khas orang baru bangun tidur. "Kok aku di usir sih, sayang? aku ke sini mau makan bareng kamu. Ayo kita makan," Altha langsung mengambil kantong plastik yang berisi makanannya dengan Seza. "Gak mau ah, aku mau tidur," tolak Seza mentah-mentah. Altha menuangkan air mineral di tangannya, lalu Altha memasukan air itu ke wajah Seza. "Biar gak ngantuk lagi." "Iih apaan sih? ngapain coba? dingin tau!" gerutu Seza kesal. "Biar kamu melek," jawab Altha santai. Altha langsung membuka kotak makanannya. Dia langsung menyendok nasi dengan lauknya, lalu segera menyuapkannya pada Seza. "Ayo makan, buka mulutnya. Aaaa ...," Altha menyodorkan sendok tepat di depan mulut Seza. Seza menggeleng, matanya bengkak karena tidur lama. "Makan, sayang. Aku gak suka kalau kamu gak makan. Makan ya," bujuk Altha lembut. Seza kembali menggeleng, menolak suapan dari Altha. "Kamu mau aku suapin orang lain? kalau mau biar aku pergi," ancam Altha. "Apaan sih!" balas Seza kesal. "Makanya ayo makan, buka mulutnya," perintah Altha lagi. Seza menghela nafasnya pasrah. Akhirnya dia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Altha. "Nahh gitu dong, nurut. Kan makin sayang," Altha tersenyum manis. "Aku sayang banget sama kamu, mana mungkin aku cari cewe lain," sambung Altha kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN