Pemilihan Presma sudah selesai, Altha sudah resmi diumumkan sebagai Presma yang baru.
"Sibuk banget semenjak jadi Presma," sindir Seza ke Altha.
"Apa sih, sayang? jangan ngambek gitu dong. Aku sibuk karena mau ada acara nih. Mau ngecamp, camp besar-besaran nih sekampus. Nanti kamu ikut ya," ujar Altha menjelaskan.
Seza menaikkan sebelah alisnya.
"Ngecamp? ngecamp acara apaan? kenapa sekampus pada ngecamp?" tanya Seza yang tak tau apa-apa.
"Ini camping lebih kayak ke pelestarian hutan aja. Menumbuhkan rasa kepedulian para mahasiswa, terutama mahasiswa kampus kita terhadap alam sekitar. Terutama hutan. Hutan itu paru-paru dunia, kalau gak ada hutan bayangin bumi ini bagaimana tanpa paru-paru? bisa ancur lah. Camping peduli lingkungan. Kamu ikut ya, sayang. Harus pokoknya," paksa Altha pada Seza.
"Bukan hanya untuk anak mapala, tapi camping ini tuh untuk seluruh mahasiswa kampus, baik dari jurusan apa aja bisa ikut serta. Acara puncaknya nanti kita menanam pohon di hutan yang bagiannya sudah gundul. Aku juga uda pesan banyak pohon untuk ditanam. Kita jadikan ini sebagai gerakan amal untuk masa depan aja. Amal baik kita menanam pohon dan mencintai lingkungan ini akan berdampak positif di masa depan, jaga dan sayangi bumi tempat kita tinggal itu hal yang wajib." Altha bicara panjang lebar pada Seza.
"Hoamm ... ngantuk aku dengar kamu ngomong," Seza menyenderkan kepalanya pada kaca mobil. Benar saja, Seza ngantuk saat mendengar ucapan Altha yang panjang lebar. Otaknya tak mampu berpikir ke situ. Lebih tepatnya malas, bukan tak mampu.
Altha menoleh, melihat Seza sejenak.
"Kamu kok ngeselin sih, Yang?" tanyanya kesal.
"Sttt ... diem deh, aku malas mikir begituan. Kamu aja yang mikir begituan, aku mah gak mau. Mikirin diri sendiri aja belum bener, apa lagi mikirin sekampus. Itu mah tugas kamu sebagai Presma Aku bantu doa aja deh."
"Mana bisa gitu, Yang. Kita itu harus peduli dengan sekitar kita. Apa lagi lingkungan di mana kita kuliah, kerja, sekolah, ataupun tinggal. Kita ada di dalam bagian itu, jadi kita harus peduli dong, mana bisa gak peduli ter-"
"Stt!! diem!! diem gak?" ancam Seza kesal.
"Diem! malas aku dengerin kamu. Uda deh, nanti kalau kamu cerita gitu terus aku bisa langsung ketiduran nih. Kalau kamu mau cerita gituan sama rekan kamu aja, buka forum diskusi. Aku mah ogah dengerinnya. Capek otak aku kalau mikir begituan," Seza mengeluh pada Altha.
Altha menghela nafasnya. "Yaudah iya aku gak cerita gitu lagi. Tapi kamu ikut ya. Pokoknya kamu harus ikut, ajak Aqila. Ajak teman-teman sekelas kamu. Atau teman-teman kamu lainnya. Aku jamin ini acara seru deh. Gak bakalan nyesel ikut ini."
"Males ah, maksa kamu. Aku gak mau, ngapain ikut begituan, mager banget," tolak Seza mentah-mentah.
"Ihh kok gitu sih? harusnya kamu ikut sama aku, Yang. Kamu harus ikut serta dong. Kalau ada kamu walaupun aku lelah tapi aku pasti bakalan balik semangat. Apa lagi kalau liat senyum manis kamu, bisa langsung hilang lelah aku, Yang. Ikut ya, ya ya ya ... ikut ya, sayang, kamu harus semangati aku, dukung aku di sana," bujuk Altha pada Seza.
Seza menggeleng cepat. "Gak mau, gak mau pokoknya. Enakan tidur di rumah. Ngapain aku capek ikut begituan, gak dapet apa-apa juga," tolak Seza lagi.
"Ya ampun, Yang. Kamu kok malesan banget sih? kalau kamu tidur aja, gak peduli dengan lingkungan sekitar, mau jadi apa, Yang? ayo dong sayang. Setidaknya demi aku. Yahhh ... mau yah, sayang? aku mohon ...." Altha memohon dengan wajah sedihnya.
"Gak mau, Fandra ... aku gak mau, jangan maksa deh." Seza tetap kekeuh menolak ajakan Altha.
"Di sana banyak cewek-cewek yang ikut serta loh. Apa lagi fans garis keras aku, pasti mereka ikut acara ini. Kamu rela kalau aku digodain sama mereka. Kalau mereka tau kamu gak ikut, mereka pasti makin gencar godain aku. Ya kamu tau sendiri lah, ada kamu aja kadang-kadang mereka masih suka terang-terangan godain aku. Kamu gak takut aku digodain?" tanya Altha seraya menaik turunkan alisnya.
Seza menghela nafasnya pasrah. "Hemm iya-iya aku ikut! terus deh ancamannya begitu, kesel aku jadinya!" jawabnya mesuh-mesuh.
Altha tertawa geli. "Hahaha ... aku bukan ngancam, sayang. Tapi itu emang fakta. Ya kamu tau sendiri kan kebenarannya. Bahkan kamu juga tau kalau tiap hari pasti ada aja yang ngasih aku hadiah, bunga atau sekedar kotak bekal makanan. Aku kan gak bohong, aku juga risih kalau digodain terus. Aku gak suka, aku cuma nyaman sama kamu."
Seza memajukan bibirnya beberapa centimeter. "Heem, iya-iya, aku ikut," putusnya kemudian.
"Yeee!!! makasih, sayang," Altha tersenyum lebar, mengelus tangan Seza dengan lembut.
"Tapi kamu yang ngurusin semuanya ya. Aku mau terima bersih aja. Gak mau repot-repot. Aku gak mau ngurusin barang-barang bawaan aku, pokoknya aku tinggal bawa badan aja maunya," pinta Seza pada Altha.
"Ya Allah, masa cuma packing aja gak mau, Yang. Mana aku tau kamu mau bawa makanan apa, bawa cemilan apa. Kan itu selera kamu, masa aku sih, Yang. Gak mau ah," tolak Altha.
"Yaudah, batal. Aku gak mau ik-"
"Iya-iya, iya aku yang siapin semuanya. Uda kamu tenang aja. Mama aku yang siapin semuanya. Punya aku juga mama yang siapin, kata mama biar aku fokus ke acara aja, soalnya aku sibuk."
"Iih apaan, kok mama kamu sih? gak mau aku ah. Aku maunya kamu yang nyiapin. Jangan mama kamu lah, aneh banget kamu. Nanti kalau mama kamu yang nyiapin, kentara banget kalau aku malesan, bisa diblacklist aku dari list calon mantu," ucap Seza tak terima.
Altha langsung tertawa geli. "Hahaha ... enggak lah, Yang. Mama aku orangnya gampang kok, mama aku juga uda suka sama kamu. Uda nanti mama aku aja yang nyiapin semuanya, kamu tenang aja."
"Iiih, gak mau, Fandra. Gak mau ikut lah kalau mama kamu yang nyiapin," Seza kembali ngambek.
Altha langsung menghela nafasnya. "Iya-iya, aku yang siapin punya kamu. Semuanya aku yang atur. Kamu tinggal terima bersih aja, kamu kan tuan puteri."
"Kamu nyindir aku? kesal sama aku?" tanya Seza dengan nada tak suka.
"Apaan sih, enggak lah. Kan yang aku bilang bener, kamu tuan puteri, aku pangerannya. Aku yang siapin semuanya. Kamu mah taunya bersihnya aja. Apa sih yang gak aku lakuin demi kamu, sayang? apa aja juga aku rela demi kamu," jelas Altha serius.
"Heeemm ... asal bener," balas Seza berdeham.
"Ya bener lah, ya kali gak bener," sahut Altha kemudian. Lalu hening, Altha dan Seza diam, hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.