Perlahan, Arunika mendengar sayup-sayup suara yang membuat matanya perlahan terbuka. Kemudian tersadar kalau dirinya terlelap di kamar yang bukan miliknya. Dimana ini? Apa yang terjadi? Satu-satunya bangunan mewah dengan kamar d******i warna putih, jendela yang memperlihatkan indahnya Jakarta, maka jelaslah…. Ini apartemen Mahadewan.
Seketika Arunika bangun, tapi kepalanya berdenyut nyeri saat baru juga duduk. “Shhh… sakit banget. Eh, kayaknya luka deh?”
Arunika merasakan ada perban di kening sebelah kirinya. Apa yang terjadi? Hingga pikirannya melayang saat Arunika tidak sengaja menarik handuk Mahadewan saat terpeleset, lalu… “Nggak, jangan bayangin itu. Terus apa yang terjadi ya?”
Ah iya, Arunika ingat dirinya panik, menjerit dan bangun dengan terburu-buru, hingga langkahnya tersandung kaki sendiri dan berakhir kembali jatuh dengan kepala membentur ujung meja. Dan berakhirlah tidak sadarkan diri.
Melihat pakaian yang masih lengkap, Arunika merasa lega dan bisa bernapas dengan baik. Sepertinya Mahadewan tidak seburuk itu, ia menolong Arunika dan bahkan mempersilahkannya untuk meminjam kamar ini.
“Oke, anggap kemarin gak terjadi apa-apa. Aku sama dia belum ngomongin hal penting terkait Noelle ini,” ucapnya pada diri sendiri sebelum akhirnya membuka pintu.
“A-ahh… Dewan ayok kesini! Lagi… anghhh!”
BRUK!
BRAK!
Bersamaan dengan Rinjani yang jatuh di sofa dengan Mahadewan di atasnya, Arunika menutup pintu kamar dengan kuat. Punggungnya bersandar, napasnya tidak teratur. Lagi-lagi kenapa harus dirinya yang melihat adegan tidak senonoh. Walaupun kali ini mereka masih memakai pakaian lengkap, tetap saja itu menjijikan baginya!
“Ck, ganggu aja. Lagian harusnya kamu bawa dia ke klinik terus ditinggalin kan gampang.” Rinjani terdengar menggerutu.
“Masih ada hal yang harus dibicarakan dengannya,” ucap Mahadewan dengan langkah terdengar mendekat di telinga Arunika.
Tok! Tok! Tok! “Buka pintunya, Arunika.” Mahadewan memberi perintah.
Tapi Arunika masih bingung harus merespon bagaimana. Tidak terjadi apa-apa? Tentu saja tidak bisa, apa yang mereka lakukan itu membuatnya trauma. Lalu memarahi mereka supaya tahu tempat? Tidak mungkin, Arunika tahu ia tidak akan pernah menang melawan seorang Jagat.
“Saya tahu kamu sudah bangun. Keluarlah, pembicaraan kemarin belum kita selesaikan.”
“Dorong aja pintunya, Dewan,” ujar Rinjani dengan nada yang masih kesal.
“Arunika, cepat buka pintunya, sa- Rinjani kamu mau apa?”
BRUK! BUGH! Rinjani mendorong pintu dengan kuat, hingga Arunika yang tidak bersiap itu kehilangan tenaganya dan berakhir jatuh tengkurap.
“Apa yang kamu lakukan?!” Mahadewan tampak marah.
“Lagian dia lama banget bukanya. Apa jangan-jangan dia sengaja mau lama-lama disini goda kamu.”
“Keluar sekarang,” perintah Mahadewan pada Rinjani, sembari mendekat pada Arunika dan dengan mudahnya menarik perempuan itu untuk berdiri.
“Tapi aku juga harus mendengar apa yang kalian bicara….,” ucapannya menggantung tatkala melihat tatapan Mahadewan yang tajam. “Oke, fine. Aku keluar sekarang, tapi inget kamu gak boleh halangin aku lagi kalau mau jenguk Noelle.” Perempuan itu mendekat pada Mahadewan dan mengecup pipinya. Arunika berpaling, tapi ia masih bisa merasakan tatapan tajam Rinjani padanya.
Setelah Rinjani keluar dari apartemen, Arunika baru sadar tangan Mahadewan masih pada lengannya, ia segera bergeser cepat dan menatap waspada pria di hadapannya.
“Kamu tidak berfikir saya tertarik pada perempuan dengan daada rata kayak kamu ‘kan?” Tanya pria itu sambil tertawa hambar dan melangkah keluar begitu saja.
Arunika mengejar Mahadewan yang kini terlihat membuat kopi. “Kalian ini sebenarnya pacarana atau bagaimana, Pak? Bukankah akan bagus jika Noelle mengenal Ibu Rinjani sebagai calon Ibunya? Sebagaimana beliau menjadi pasangan Bapak?”
“Dia bukan pasangan saya, kami berhubungan karena saling menguntungkan.”
Arunika kaget. Harusnya hal seperti ini sudah lumrah bukan di Jakarta? “Kenapa tidak mencoba? Saya rasa Ibu Rinjani bisa membuat Noelle nyaman.”
Kali ini Mahadewan tidak langsung membalas, pria itu menatap Arunika dengan tajam. “Noelle pernah bertemu dengan Rinjani, dan ia tidak menyukai perempuan itu. Bukannya kamu mau beasiswa, huh?”
“Tapi saya merasa sangat berdosa menipu Noelle.”
“Cukup damping setiap dia pengobatan, beri semangat. Asal dia sembuh, urusan nanti gampang.”
“Bagaimana dengan orangtua Bapak?”
“Mereka tidak akan tahu tentang kamu. Lagipula mereka sangat sibuk di luar negara.”
Arunika menarik napasnya dalam kemudian menghembuskannya. “Oke, selain terkait beasiswa, beritahu alasan kenapa Bapak mmembatasi pergerakan BEM.”
****
“Saya tahu yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan proposal yang kalian ajukan. Kalian menambahkan nominal pada setiap kegiatan. Apa namanya kalau bukan korupsi? Kenapa menjadi budaya? Kalau kalian butuh uang makan, silahkan tuliskan. Tidak harus menaikan harga, karena itu adalah sebuah kebohongan. Inilah kenapa akademik saya pentingkan daripada kegiatan lainnya, saya perlu mendidik kalian supaya tidak menjadi calon koruptor di masa depan. Dan tentang beasiswa, kalian harus tahu dunia setelah perkuliahan lebih kejam, tidak ada namanya santai. Memangnya harus menunggu nilai turun lebih dari dua kali baru kalian mempertahankan dan belajar?”
Kalimat itu terngiang terus di kepala Arunika. Ternyata Mahadewan mengetahui hal tersebut, bagaimana anak-anak BEM menaikan sebuah harga dalam pengajuan proposal. Memang tidak banyak, mungkin naik sebanyak 20 persen.
Arunika sempat ingin menghentikan hal ini, tapi salah satu senior mengatakan, “Udah budaya kita kayak gitu. Kalau harga gak dinaikin, gimana kita dapat jatah dah? Kan capek, dari mereka gak seberapa.”
Arunika merasa sangat malu saat Mahadewan mengetahui hal ini, terlebih pria itu berencana mengaudit seluruh anggota BEM jika ia memiliki waktu luang. Sebagai ketua BEM, jelas Arunika ingin menghilang saja. Saat tadi bicara pun hanya menunduk.
Pada akhirnya, kegiatan eksternal BEM akan dihentikan dan fokus pada kegiatan yang selaras dengan akademik saja. Tidak ada alasan Arunika complain lagi. setidaknya beasiswa akan dikembalikan pada yang lainnya juga, dan tidak aka nada lagi penurunan nilai.
Namun ada hal yang dikorbankan, tentu saja Arunika akan terjun dalam kebohongan besar, menipu seorang anak kecil manis berusia 5 tahun, Noelle.
“Jangan khawatir, saya akan beri kamu uang jajan juga. Cukup beri dia semangat sampai benar-benar sembuh.”
Bahkan Mahadewan menawari akan membiayai hidup Arunika, tapi Arunika menolak. Ngeri…. Ia takut dimintai imbalan yang lain.
“Kemana saja kamu baru pulang? Tidur dimana semalam?”
Arunika tidak sadar sudah sampai halaman depan kontrakan hingga suara sang Bibi menggelegar di telinga.
“Habis jual diri?”
“Enggak, Bibi. Ada urusan BEM jadi tidur di secretariat.”
“Berani bohong ya kamu! semalam Nisya tanya ke temen kamu, katanya kamu gak ada di sana. Beneran kamu jadi simpanan Om-om ‘kan? Mana duitnya?”
“Bibi ini kenapa? kalau ada masalah diobrolin baik-baik, jangan kayak gini nuduh gak jelas,” ucap Arunika mencoba sabar.
“Mana duit? Bibi butuh duit.”
“Belum ada, kan cookiesnya juga baru dianterin kemarin, Bi. Tapi kedepannya beasiswa aku bakalan balik kok, dan uangnya bisa aku kasih ke Bibi.”
“Jadi sekarang gak ada duit?” sang Bibi tertawa hambar. Kemudian meraih koper yang sudah ada dibalik pintu, lalu melemparkannya ke depan Arunika. “Pergi dari sini. Kamar kamu udah dipake sama Nisya.”
“Tunggu, Bi! Bibi!”
BRUK!
Pintu ditutup sebelum Arunika mendekat. Ia mencoba membuka, tapi pintu terkunci dari dalam. Arunika benar-benar tidak punya uang sepeserpun, kemana harus pergi? “Bi, tolong buka. Aku akan kasih duitnya kalau udah ada. Bi! Tolong buka!”
Tapi yang ada hanya keheningan, mereka tidak peduli sama sekali.