Harga Diri

2279 Kata

Arunika tidak paham apa yang sebenarnya sedang terjadi di kepala Mahadewan. Ia berdiri di hadapan pria itu dengan punggung hampir menempel ke dinding, napas tertahan, telapak tangan mulai dingin, sementara kalimat-kalimat yang baru saja didengarnya masih berputar seperti gema yang memukul kepalanya berkali-kali. Menjulurkan lidah? Membiarkannya menilai bagaimana cara ia berciuman? Semua itu terdengar begitu menghina hingga Arunika nyaris tidak bisa mempercayai bahwa ucapan semacam itu benar-benar keluar dari mulut seorang pria yang di luar sana dipandang terhormat, dingin, berpendidikan, dan memegang kendali atas begitu banyak orang. “Bapak sadar nggak sih sama yang baru Bapak omongin? Saya datang ke sini bukan buat dipermalukan.” Mahadewan justru lebih tidak paham lagi pada dirinya sen

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN