Suasana kamar nomor seratus dua puluh tujuh masih nampak begitu gelap, itu semua karena gorden-gorden kamarnya tak dibuka. Sepasang anak manusia tertidur nyenyak dengan selimut yang membungkus tubuh polos mereka. Baju-baju berserakan di lantai akibat pergulatan semalam, nampaknya mereka berdua sangat lelah sehingga di waktu yang menjelang siang hari ini mereka tak kunjung terjaga dari tidurnya. Hingga seorang gadis yang kini tak lagi gadis karena semalam kegadisannya sudah direnggut oleh suaminya sendiri itu membuka matanya dengan perlahan. Kepalanya terasa begitu berat, ia mencoba memaksa mata yang sebenarnya masih mengantuk itu untuk terbuka. Hingga akhirnya kedua mata itu sukses terbuka. Ia mendesah lega saat melihat sekeliling kamar, di mana kamar ini merupakan kamar yang ia dan Nino

